
"Wah..! seperti nya enak nih!" seru Davin saat memasuki area dapur di mana meja makan di gabung kan jadi satu tempat di sana.
"Yang tidak bantu berkontribusi di dapur sama sekali harap tau diri. Istriku udah cape-cape masak sendiri, harap porsi nya juga porsi sadar malu jangan malu-maluin." Ketus Rick menyambut kehebohan Davin. Wajah davin berubah masam, namun tidak membuat nya ambil hati. Tersinggung sama dengan kelaparan, begitu lah pikir nya. Aturan Rick tidak perlu di turuti, tidak juga untuk di tentang. Cukup diam, semua aman.
"Ya elah aku bantu biar cuma motongin sayuran. Kejam banget bapak satu ini.." protes Yodra tak terima.
"Tetap aja, istri ku yang masak semua nya.." sahut Rick tak mau kalah.
"Udah ih, pada duduk gih. Kita ini pada mau makan bukan sidang, skip dulu argumen kalian." Sela Ana menengahi situasi. Sementara Lisa, Vino dan Aby acuh seolah tak dengar. Ketiga nya bahkan sudah mengisi piring masing-masing dengan nasi dan perintilan nya.
"Yang masak duduk aja belum, situ tamu udah pada nyuri start duluan." Omel Rick masih dongkol.
"Udah by, duduk sini.." Ana menegur suami nya yang terlihat uring-uringan sejak sore.
"Segini cukup ?" tanya Ana setelah memasukkan dua centong nasi ke piring suami nya.
"Udah yang.. lauknya banyakin di piring ayang, soalnya kita lagi kedatangan tamu yang keliatan nya pada maruk semua." Cetus Rick tersenyum manis pada sang istri, namun tidak dengan kata-kata yang keluar dari mulut nya. Pahit semua.
Para tamu tak di undang itu hanya melengos pura-pura tidak dengar. Asal kan kampung tengah terisi sempurna, mau sepahit pare pun ucapan sang tuan rumah. Bodo amat.
Ana hanya menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum geli. Rupanya Rick benar-benar sedang berada di mode yang sulit untuk di ajak berdamai dengan keadaan.
Setelah makan malam ala anak asrama, kini mereka tengah duduk santai menatap pantai gelap, namun masih terlihat samar di sinari cahaya redup dari langit malam. Manner yang di terapkan oleh Rick cukup membuat mereka kenyang seketika, meski baru saja menelan dua sendok makan nasi. Setiap suara decapan kunyahan juga denting sendok, pasti langsung menjadi bahan teguran. Rick benar-benar mencerminkan sosok suster asrama yang galak dan tegas.
__ADS_1
"Pria blesteran yang ada di foto pengantin di ruang keluarga tadi...apa dia kakek pertama mu Rick?" tanya Aby mulai dalam mode kepo maksimal.
"Ya, dia kakek pertama ku. Namanya kakek Justin." Jawab Rick singkat sambil memain kan jemari sang istri.
"Keren!" puji Davin tersenyum penuh kekaguman sembari mengacung kan kedua jempol.
"Jangan kau tiru, level mu belum sampai ke arah sana." Sela Aby tersenyum meledek. Davin berdecak sebal menatap teman nya.
"Aku sedang dalam tahap pendekatan dengan anak baru di divisi keuangan. Nama nya Bela, baru di terima 1 bulan yang lalu. Anak nya terlihat sederhana dan sedikit pendiam, belum tau asli nya bagaimana. Masih sebatas bertukar pesan saja, doi selalu menolak kalau di antar jemput." Curhat Davin senyum-senyum sendiri.
"Mungkin sudah punya pacar atau suami, kau jangan jadi pebinor. Kenapa tidak si Wati saja, teman nya Rick yang sering kau suruh buatan kopi. Anak nya juga sederhana, cantik, manis dan tidak banyak tingkah. Ya tidak Rick..." Lisa mengode pria datar itu dengan kedipan mata berharap Rick bisa di ajak bekerja sama kali ini.
Namun sayang, Rick yang pada dasar nya menyebalkan. Sangat susah di ajak berkompromi.
"Suami mu rese dek, masih betah? kalau tidak katakan saja padaku, akan membantu mu kabur dari nya." Perkataan Lisa telah menyulut percikan api di kepala Rick.
"Awas saja kalau kau berani melakukan nya, aku akan membakar rumah mu, memenggal kepala mu dan akan aku taruh di depan pagar rumah ku." Ucap Rick dengan wajah mengeras, kelima teman nya bergidik ngeri dengan ancaman yang terlihat tidak main-main tersebut.
Lisa tersenyum kikuk menahan takut, Rick kembali ke mode singa. Sentil sedikit, siap di cabik-cabik.
"Aku bercanda saja, yaelah.." sahut Lisa mengusap tengkuk nya yang sedikit meremang. Lalu melirik teman-teman nya yang tak kalah pucat dari nya.
"Suami ku bercanda saja kak, jangan tegang begitu." Sela Ana mencair kan suasana. Kemudian mereka mukai membahas hal lain yang bisa menjauh kan mereka dari peti mati. Tinggal satu rumah dengan pria bucin seperti Rick, seperti tinggal di rumah jagal. Salah-salah bertindak dan berucap, bisa-bisa kepala, kaki, tangan otw pemotongan.
__ADS_1
Kini Rick dan Ana sudah berada di dalam kamar, begitu pun para tamu laknat menurut versi Rick.
"Yang?" Rick terlihat misuh-misuh memain kan tali baju tidur istri nya. Malam itu Ana tidur dengan gaun tidur tali spaghetti berwarna maroon. Sangat kontras dengan kulit nya yang putih mulus.
"Kenapa by?" tanya Ana pura-pura tidak mengerti kode alam yang di tunjuk kan oleh suami nya. Dia hanya bingung, bagaimana cara memulai nya.
"Boleh tidak?" ucap Rick dengan suara sedikit serak. Hidung Rick di gosok pelan ke dada Ana, membuat Ana sedikit kurang nyaman.
Dengan gugup Ana mengangguk dan mengatakan iya, Rick mendongak menatap sang sang istri untuk memastikan.
"Perut nya sudah tidak sakit lagi?" tanya Rick khawatir. Ana menggeleng pelan, Rick tersenyum senang.
Perlahan Rick mulai melakukan tugas pertama nya sebagai seorang suami seutuhnya, sebagai seorang pemula, Rick hanya mengandalkan insting lelaki nya saja. Ciuman hangat sebagai permulaan malam penuh kasih sayang tersebut. Penyatuan dua insan yang saling mencintai.
Rick melakukan perlahan, dia tak ingin terburu-buru. Dia ingin menikmati momen malam pertama yang penuh kesan tanpa bisa terlupakan bersama sang istri.
"Sakit?" tanya Rick dengan deru nafas yang tak teratur, Ana hanya mengangguk pelan. Wajah keduanya sama-sama memerah, beribu gejolak memenuhi hati pasangan suami istri tersebut.
Setelah pergulatan penuh peluh dan cinta, Rick mencium dalam kening sang istri dengan sayang.
"Makasih yang, sudah menjaganya untuk ku. I love you so much and more than everything.." ucap Rick dengan nafas tersengal-sengal. Kedua nya baru saja mencapai puncak nirwana biduk rumah tangga yang sesungguhnya. Menyelami kedalaman hati dan ketulusan masing-masing, menilik kekurangan dan kelebihan tanpa terkecuali.
Rick menarik Ana dalam dekapan nya, jika biasanya setiap malam Ana lah yang melakukan nya. Tidak malam ini, dan seterusnya. Rick lah yang akan menyiapkan bahu dan lengan kokoh sebagai sandaran sang istri.
__ADS_1