
Genap seminggu sejak Ana melahirkan keempat bayi nya, wanita muda itu masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Rick mulai memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda. Seluruh keluarga mulai mencemaskan keadaan mental Rick yang terlihat sedikit tertekan.
Pria itu kerap mengigau dari tidur nya yang padahal tidak lah nyenyak. Karena Rick sering tertidur dalam kondisi duduk. Pria itu sering menolak untuk berbaring dengan alasan takut tertidur, Ana pasti akan mencari nya nanti jika tak melihat nya sering-sering masuk ke ruang ICU.
"Bagaimana kondisi menantu saya dok? sudah satu minggu namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Bagaimana hasil laboratorium tiga hari yang lalu, kenapa masih belum ada hasil yang di dapat?" desak Jovan frustasi.
"Kami mengambil sampel darah nona Ana untuk pengecekan menyeluruh, tuan Jovan. Hasil nya akan keluar paling cepat empat hari, paling tidak satu minggu. Bersabarlah tuan, kami sedang mengusahakan hasil terbaik dari tes labor tersebut agar tak melewati apa pun." Terang sang dokter menjelaskan dengan tenang. Walau diri nya sedikit gentar mengingat pasien nya adalah cicit menantu dari pemilik rumah sakit tersebut.
Jovan meraup wajah penuh keputusasaan. Putra nya tidak bisa menunggu selama itu, atau Rick akan benar-benar berakhir di rumah sakit jiwa.
"Perlu kah aku membeli alat yang lebih canggih agar hasil nya bisa lebih cepat? selain mencemas kan keadaan menantu ku.. kondisi kejiwaan putra ku juga sedang di pertaruh kan di situasi ini.." Jovan tergugu, tak peduli akan harga diri nya lagi. Kondisi anak menantu nya benar-benar membuat nya kehilangan ego dan sikap tegas nya.
Klek
Dokter Wahyu menatap ke arah pintu yang di buka tanpa di ketuk tersebut. Dia tersenyum melihat wanita paruh baya namun terlihat masih sangat cantik itu, yang tengah berdiri di ambang pintu ruangan nya. Sang juru selamat telah datang.
"Silah kan masuk dokter Jeslyn.." ucap nya penuh keramahan. Tadi dia sudah bingung menghadapi Jovan yang selama dua hari ini terus mendesak nya untuk mempercepat hasil pemeriksaan laboratorium Ana.
"Dek?" Jovan mengangkat kepala nya memperlihatkan tampang lusuh. Sejak tadi pria itu menelungkup kan wajah nya di permukaan meja dokter Wahyu.
__ADS_1
"Kak..? bagaimana menurut kakak jika aku memesan satu alat yang bisa mempercepat hasil pemeriksaan laboratorium Ana. Putra keluarga kita itu sudah mulai memperlihatkan gejala gangguan mental yang jelas. Rick sering tersenyum dan berbicara sendiri sejak dua hari lalu. Aku tidak sanggup melihat nya kak...hati ku...sakit.." Jeslyn mengusap sudut mata nya. Kalimat sang adik ipar terdengar begitu lirih dan putus asa. Kata sakit itu dia ucapkan begitu lemah namun sangat dalam.
Jeslyn melangkah lalu berdiri persis di hadapan Jovan tengah menunduk kan kepala nya. Bahu pria itu sedikit terguncang. Dokter Wahyu dengan sigap memberikan satu kursi lagi untuk Jeslyn.
"Tidak perlu, hasil nya sudah keluar.. rumah sakit kita punya alat yang cukup canggih. Hanya saja memang butuh waktu lebih dari sehari dua hari untuk menunggu hasil nya keluar. Terlebih jika sampel itu masuk belakangan dari sampel lain, tentu tetap akan di kerjakan sesuai prosedur yang berlaku. Maaf jika keterlambatan ini rupa nya berpengaruh besar pada mental Rick. Sekarang siap kan hati mu, ada hal yang lebih penting yang harus kau simak dengan baik." Jeslyn membuka amplop putih berlogo rumah sakit tersebut. Mendadak perasaan Jovan menjadi tak karuan.
"Kakak sudah melihat hasil nya tadi... sekarang kakak akan memperlihatkan pada mu. Jadi tolong untuk memperhatikan setiap kalimat nya dengan teliti." Jeslyn memberikan lembaran yang masih terlipat rapi tersebut pada Jovan. Dengan tangan sedikit gemetar Jovan menerima nya. Perlahan tangan nya membuka lembaran lipat dua bolak balik tersebut.
Mata nya mencoba membaca dengan seksama, setiap tulisan tangan hasil laboratorium sang menantu.
Beberapa saat kemudian, Jovan melorot kan tubuh nya ke lantai dingin itu dengan air mata yang mengalir deras. Isakan nya kini mulai terdengar seperti sebuah raungan kecil. Jeslyn menurun tubuh nya lalu memeluk tubuh berguncang adik ipar nya. Hati nya pun sama perih nya. Ana menantu keluarga mereka, pertama keluarga besar itu menderita kanker otak stadium 3. Dan itu lah yang menyebab kan kenapa ibu muda tersebut tidak kunjung terbangun dari tidur panjang nya.
Kondisi tumor otak yang sudah beregenerasi menjadi kanker ganas tersebut memperparah kondisi kesehatan Ana.
Wahyu salut melihat kerukunan keluarga itu, mulai dari keluarga inti hingga hubungan dengan para sahabat yang turun temurun tak pernah lekang oleh waktu.
"Ini garis Tuhan, dek... Ana adalah wanita muda yang hebat dan kuat. Sejak kehamilan nya, Ana tak pernah menunjukkan gejala apapun. Bahkan sekedar sakit ringan pun tidak, Ana melewati masa kehamilan nya dengan tubuh yang bugar dan sehat. Kali ini pun Ana pasti bisa melewati nya, kakak akan menghubungi beberapa dokter kenalan kakak dari luar. Tolong sampai kan berita ini pada Rick dengan nada yang mudah dia cerna. Jika tidak memungkinkan, Rick lebih baik tidak perlu kita beri tau terlebih dahulu. Atau kejiwaan nya akan semakin terguncang." Ungkap Jeslyn mengusap pelan bahu bergetar Jovan.
"Kakak sudah menyuruh perawat mengambil sampel pada keempat bayi Ana. Sekedar menjaga kemungkinan saja, feeling kakak mereka cukup sehat. Penyakit Ana bukan kondisi penyakit menular, hanya saja untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak kita inginkan." Lanjut Jeslyn menenangkan adik ipar nya.
__ADS_1
"Joi pasti akan sangat sedih... Ana adalah menantu kesayangan nya. Terutama Sahira juga Elisa.. Mereka bertiga adalah wanita yang teramat sangat menyayangi Ana. Apa jadi nya jika berita buruk ini sampai ke telinga ketiga nya. Aku tak sanggup sekedar membayangkan bagaimana reaksi mereka menerima nya. Pasti ini tidak akan mudah di terima kak...aku harus bagaimana.." Oh hati, dokter Wahyu kini benar-benar menangis. Pertahanan nya luluh lantak tak bersisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sini lah Jovan, duduk lesehan di karpet ruang tunggu ICU. Sekembalinya dari ruangan dokter Wahyu, Jovan sempat kan membersihkan wajah sembab nya. Namun Joi yang peka dapat melihat gurat tekanan di wajah sang suami. Namun memilih diam dan menunggu.
"Ada yang mau aku sampai kan..tolong untuk di pahami, jangan ada yang memberikan reaksi berlebihan." Ekor matanya melirik daun pintu ruang ICU sesaat. Joi terus memperhatikan suami nya hingga tak berkedip. Rick sedang berada di dalam sana, menjaga Ana dengan cara nya sendiri. Berceloteh dan sesekali tertawa tak jelas. Sungguh kondisi yang menyayat hati untuk di lihat.
"Ana kita.." Jovan meremat amplop di tangan nya menahan sesak. "Ana kita.. menderita kanker otak stadium 3..." Duarrr!!
Bagai tersengat listrik jutaan volt, tubuh semua orang di sana menegang sempurna. Jantung mereka seakan berhenti berdetak, nafas seolah tercekat di kerongkongan masing-masing. Berita itu bagai tumpahan minyak, yang menyulut api semakin berkobar. Kondisi Ana yang masih koma saja membuat hati mereka risau, kini di tambah dengan kondisi kesehatan Ana lain nya. Sungguh mereka sulit menerima nya.
Sahira tergugu dalam pelukan Sidharta, Elisa pun sama. Joi? wanita itu masih mematung tak bereaksi, Jovan bergeser lalu meraih tubuh sang istri ke dalam dekapan nya. Terasa tubuh Joi berguncang hebat di dada nya yang mulai terasa basah oleh air mata wanita kesayangan nya itu.
"Kak Jeslyn sedang mengupayakan pengobatan terbaik bagi Ana, berdoa saja agar Tuhan berbaik hati pada keluarga kita. Ana wanita yang hebat dan baik, tidak ada cela sedikit pun. Tuhan pun pasti akan berpikir ulang untuk mengambil nya dari kita, terutama Rick dan keempat anak mereka. Tolong kuat lah, Rick butuh kita semua terlihat tegar untuk membuat nya tetap waras, hmmm?" Sungguh Jovan begitu pandai merangkai kalimat menenangkan, walau tak ada yang mampu menyelami dasar hati nya yang paling dalam. Jovan lebih terluka saat mengatakan kalimat tersebut.
"Stadium 3 di! stadium 3! bagaimana bisa mimi mampu terlihat baik-baik saja..." isakan tertahan Joi membuat sayatan di hati Jovan semakin bertambah.
"Ya..didi tau.. sangat! Tapi percaya lah, tidak ada cobaan yang tidak ada jalan keluar nya. Kita akan mencari hingga ke ujung dunia sekalipun, dokter terbaik yang bisa menyembuhkan permata hati keluarga kita. Percaya lah, tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan..Jangan meragukan kuasanya sayang, itu tidak baik...kita butuh keyakinan agar kita bisa lebih tegar menghadapi situasi ini bersama-sama." Entah bagaimana di situasi seperti ini, Joi yang biasa nya lebih bijak dan tenang kini justru memperlihatkan sisi lemah nya yang terlihat sangat rapuh.
__ADS_1
∆Promosi Novel baru, jika berkenan, mampir yaah! Beri dukungan, Like+Favorit, vote dan hadiah juga boleh deh🙏🤗😘