Beloved My Ana

Beloved My Ana
Pawang Rick


__ADS_3

Selesai pertunjukan balet anak bungsu nya, kini Rick mengemudi menuju arah pulang.


"Kok Ayank nya ayah banyak diem sih? Padahal tadi juara loh, harus nya kan seneng. Bisa di tunjukin sama bunaa.." Rick berusaha mencair kan suasana. Dia dapat merasakan perubahan sang anak, yang seperti berusaha menghindari percakapan dengan nya.


Ayank membuang pandangan nya keluar jendela mobil, kekesalan di hati bocah Lima tahun tersebut rupa nya masih sangat besar.


"Adek Ayank kenapa yah?" kepo si sulung yang kini tengah menjulur kan kepala nya di antara sang adik dan sang ayah. Rick menaikkan bahu nya tanda tak tau.


"Adek Ayank kenapa, hmm? cerita sama abang, apa ada temen yang ledekin Ayank di belakang panggung tadi... Coba wajah cantik, imut dan lucu nya di tengokin ke abang sebentar dong.." Rayu sang kakak membuat wajah Ayank merona. Dengan gaya malu-malu, Ayank menoleh pada sang kakak.


"Nah! gini kan cantik.." puji sang kakak menoel hidung minimalis adik nya.


"Adek Ayank kenapa murung, lagi kesel sama siapa...Ceritain ke abang ganteng ini, nanti biar abang tonjok orang yang sudah bikin adek cantik nya abang ini murung." Bujuk sang kakak dengan gaya narsis seperti biasanya. Ilian mencebik dari kursi belakang. Ilian adalah anak nomor dua, si jahil namun penyayang.


"Ck! berisik! Maen game pake tangan, telinga nya tidak usah ikut nguping. Tar bintilan baru kapok!" ketus Rean kesal pada adik nya.


"Bisa diem tidak! ganggu konsentrasi aja..!" Protes Dean si anak ke tiga. Bocah tersebut penggemar game online, namun meski begitu. Anak-anak Rick dan Ana tersebut sangat rajin belajar. Dan nilai mereka selalu yang terbaik di kelasnya.


Kini giliran Ilian dan Rean yang mencebik kesal. Dean paling tidak suka jika ada orang berisik di dekat nya saat dia tengah serius bermain game.


"Ayank kenapa sih yah? ayah ada buat kesal Ayank nih pasti, maka nya Ayank ngambek..." Tuduh Ilian menatap tajam sang ayah dari kursi belakang. Melalui kaca spion dapat Rick lihat bagaimana mata tajam itu menatap nya penuh selidik.

__ADS_1


"Ck! mana ada begitu. Ayah loh baru nanya ini, maka nya ayah juga heran." Sanggah Rick apa adanya.


"Adek Ayank kenapa sayang. Ngadu sama abang Lian, biar abang beri pelajaran udah berani bikin bibir mungil adek abang ini manyun lima meter." Bug! Rean menimpuk sang adik menggunakan plastik tisu. Mata nya melotot kesal, bukan nya membuat adik mereka senang malah membuat bibir Ayank memanjang hingga sepuluh meter.


"Cerita sama abang Rean aja, mau di belikan es krim dulu tidak princess nya abang yang cantik ini..." Rayu Rean membujuk adik nya yang terlihat semakin merengut kesal.


"Alah! bilang aja abang yang kepengen.. Ayank kan tidak suka manis!" Cibir Dean tanpa menoleh. Mata nya masih fokus pada handphone di tangan nya.


"Nama nya juga usaha...kalo tidak bisa bantu bujuk Ayank, mending diam deh." Kesal Rean yang merasa rencana nya terancam gagal.


"Ayank mau es krim vanilla sama cake vanila kesukaan bunaa..kan Ayank sayang sama bunaa, Ayank tidak akan menggantikan bunaa di hati Ayank." Kalimat penuh sindiran tersebut berhasil membuat Rick tersadar. Mungkin saja sang anak sempat melihat Yumna duduk disampingnya tadi. Pria itu menghela nafas panjang. Rupa nya itu lah duduk masalah nya.


"Ada lagi mas?" tanya pelayanan toko kue tersebut tersenyum ramah. Pesona Rick memang selalu membuat siapa saja langsung terpanah.


"Ini aja cukup tante, ayah jangan di pandangi sampe meleleh begitu..Bunda lagi ngintip dari kaca jendela mobil hitam itu, bunda galak. Jadi jangan coba-coba berurusan sama bunda kami, yang terakhir kemarin saja. Sampe sekarang tidak ada kabar nya, lenyap kaya abu." Si pelayan tersenyum kaku, bocah Lima tahun itu berhasil membuat bulu nya merinding ketakutan.


Rick mengatup kan bibir nya menahan tawa. Anak-anak nya bagai pawang untuk diri nya, itu lah alasan mengapa Rick tidak punya celah untuk di dekati oleh siapapun.


"Makasih mbak.." ucap Rick tersenyum ramah. Para pegawai toko tersebut masing-masing berbisik, menggumam kan bisikan pujian pada pria yang selalu mereka anggap duda tersebut. Karena selama bertahun-tahun, Rick tak pernah membawa wanita mana pun setiap kali berkunjung ke toko tersebut.


"Abang jahil banget sih..mbak nya sampe pucat ketakutan gitu.." tegur Rick tersenyum kecil.

__ADS_1


Rean melebarkan senyuman devil nya.


"Itu adalah usaha untuk mempertahankan dan mengamankan posisi bunaa di hati ayah. Jadi jangan coba-coba untuk mencari pengganti bunaa, atau ayah..." Rean mengarah kan posisi tangan yang memperagakan kata tamat pada sang ayah. Rick tertawaan renyah, bukan sekali dua kali diri nya di ancam oleh anak-anak nya. Namun tak membuat nya ambil hati.


Dia mengerti ketakutan keempat anaknya, dia pun tak berniat untuk menggantikan posisi Ana dari hidup nya. Istri nya masih hidup, cukup itu yang dia tau. Dan dia tak mau yang lain lagi.


"Baik lah jagoan, ayah akan ingat ini dengan baik. Jadi jangan ragu kan ayah, oke?" Rean mengangguk mantap, mata nya menatap ke arah sang adik yang masih belum seceria biasa nya. Rean memang narsis diantara saudara nya, namun paling perhatian dan pemikir.


"Nanti piala nya mau di taruh di mana lagi dek?" sela Rean membuyarkan lamunan sang adik. Ayank terlihat berpikir sejenak.


"Taruh di rak samping ranjang bunaa aja, medali nya sekalian." Ucap gadis kecil itu terlihat bersemangat. Rean menarik sudut bibir nya senang.


"Nanti abang bantu susun ya, biar rapi." Tangan nya terulur mengelus kepala sang adik dengan sayang. Rick tersenyum penuh haru, mata nya memanas menahan air bening itu agar tak jatuh.


Sesampai mereka di rumah, Ayank lebih dulu keluar. Gadis kecil itu berlari kecil menuju teras rumah, sementara Rick masih mengeluarkan belanjaan anak-anak nya. Tidak lupa piala dan medali milik si bungsu kesayangan nya.


Suara teriakan histeris Ayank memancing Rick dan ketiga saudara nya berlari sekencang mungkin dari arah luar. Nafas Rick tak beraturan, saat tiba di kamar di mana sang istri di rawat. Sementara ketiga bocah itu menatap tak berkedip ke arah ranjang. Mulut mereka sedikit terbuka karena menyaksikan hal tak terduga di hadapan mereka.


Rick masih berjongkok menetral kan alur nafasnya. Setelah di rasa netral, pria itu mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan. Hampir saja rahang Rick jatuh dari tempat nya, pemandangan di hadapan nya hampir membuat tubuh nya limbung.


Hingga sebuah suara menyadarkan Rick dari lamunan nya.

__ADS_1


__ADS_2