
"Bagaimana kondisi papa saya, dok?" Lukas bertanya dengan nada tak sabar. Dokter menyampaikan jika Sidharta membutuhkan paling tidak dua kantung darah golongan AB+, dan harus segera melakukan operasi darurat. Ginjal Sidharta terkena tusukan ujung pisau yang dilakukan oleh Maura.
"Jadi ginjal tuan Sidharta akan kami bersihkan lagi, bagian yang terkena pisau untuk menghindari komplikasi dan infeksi. Operasi ini akan memakan waktu 4-5 jam. Sebelum itu kami membutuhkan stok darah terlebih dahulu. Paling kurang dua kantung, sisa nya bisa di persiapkan setelah pasien selesai di operasi." Jelas sang dokter sejelas mungkin sebelum mereka melakukan berbagai prosedur pembedahan.
"Apa tidak ada stok di rumah sakit ini?" sela Rick yang tadi ikut menyimak.
"Kebetulan sedang kosong. PMI rumah sakit tentara juga sedang kosong. bisa coba bertanya pada keluarga yang lain, mudahan ada golongan darah yang sama. Kalau bisa segera, karena tidak sembarang darah bisa di pakai sebelum dilakukan pengecekan terlebih dahulu." Sekali lagi sang dokter menjelaskan pada pihak keluarga. Karakter nya yang tenang membuat penjelasan nya mudah untuk dicerna dengan baik meski dalam kondisi yang genting.
"Kak, aku akan menelpon seluruh keluarga ku... kakak coba lah juga menelpon keluarga yang lain.." titah Rick pada kakak ipar nya yang terlihat sangat khawatir.
"Baiklah, kakak akan menelpon beberapa teman dekat kakak dulu.." Kedusnya mulai sibuk dengan ponsel masing-masing, sehingga tidak menyadari jika Ana masih belum kembali dari toilet.
Brukk
"Auuwww!" Ana meringis menahan perut nya. Seorang wanita yang terlihat terburu-buru berjalan di koridor rumah sakit tanpa sengaja menabrak nya. Untung saja wanita itu sigap, meski kini posisi nya yang terhimpit ke lantai untuk menopang tubuh Ana agar tak terhempas.
"Kau tidak apa-apa, nak? maaf kan bibi. Bibi ceroboh dan terburu-buru sehingga tidak melihat mu keluar dari toilet." Sesal nya terlihat sangat cemas.
Deg!
Jantung Ana berkali-kali lipat lebih cepat. Dada nya turun naik menahan gemuruh yang tak dapat di jelaskan.
"Mama.." Gumam Ana pelan namun masih terdengar jelas oleh wanita tersebut.
"Ya..?" sahut wanita itu bingung.
"Mama..Ini Risya ma, Analisa Antarisya. Anak mama!" bibir Ana bergetar saat mengulang kalimat nya. Tangis nya pecah tak terbendung lagi. Sementara Ira mematung tak percaya. Benar kah? batin nya berontak. Bukan kah kedua anaknya sudah tiada bersama mobil yang meledak saat itu. Dia menyaksikan sendiri bagaimana kedua anaknya terpanggang hidup-hidup di bawah curam nya jurang.
__ADS_1
"Ana? dek, astaga! kau membuat kami semua panik. Suami mu sudah hampir membunuh semua orang yang bekerja di rumah sakit ini karena mencari mu tak kunjung ketemu." Lukas datang langsung memeluk sang adik dengan dada berdebar kencang. Ketakutan nya membuat nya hampir saja membunuh sekretaris nya sendiri. Karena di anggap tak becus menjaga sang adik.
"Mama..mama kak.." Lukas menangkup pipi bulat sang adik dengan sayang.
"Ya, mama sudah tenang dek. Jangan di bahas lagi. Kakak tau kamu terguncang dengan apa yang papa alami saat ini. Tapi kita berdoa saja, semoga hasil donor darah teman kakak sehat-sehat saja. Papa hanya ingin melindungi mu dari anak ja*l*ang itu, itu tugasnya sebagai seorang ayah. Sudah sepantasnya. Papa berusaha menebus segala dosanya selama ini pada kita, termasuk mama dan calon adik kita. Sekarang ayo kembali, papa sedang di ruang operasi." Ujar Lukas panjang lebar.
Tanpa dia sadari seorang wanita tengah menahan tangis dan sesak di belakang tubuh nya.
"Lukas? nak?..." Lukas terkesiap. Pria itu mematung saat mendengar suara yang tak asing di telinga nya. Ana masih terisak pelan menatap lurus ke belakang tubuh sang kakak. Lukas mengikuti arah pandangan Ana, hampir saja kedua bola matanya melompat keluar.
Beberapa kali Lukas mengerjab berusaha memastikan apa yang tengah dia lihat.
"Lukas sulung nya mama...kau sudah besar nak..." suara Sahira tercekat. Ternyata kedua anak nya masih hidup. Andai dia kembali ke sana setelah kondisi nya membaik. Mungkin dia akan menemukan keduanya.
"Ma_ma.." Lukas terlihat syok namun juga bahagia. Ternyata feeling nya benar, Ibu masih hidup.
"Ya nak, ini mama.." isak Sahira mengangguk cepat. Lukas meraih tubuh kurus sang ibu yang terlihat jauh dari kesan mewah. Baju nya hanya blouse biasa yang ternyata ada sedikit bolong di pundak nya. Hati Lukas serasa tercubit berkali-kali. Tak lupa sandal selop seperti bahan gabus, yang sudah menipis dan ada benang yang mengikat dua sisi agar tetap menyatu. Celana kulot berbulu mungkin karena terlalu sering dicuci pakai.
"Risya sayang... kemari lah.." satu tangan Sahira terulur pada anak tengah nya. Mereka bertiga berpelukan di tepi lorong depan toilet dengan penuh rasa haru. Pertemuan tak di sengaja yang mampu mengiris hati ketiganya.
"Mama?" suara seorang gadis yang kini tengah di gandeng oleh seorang pria dengan baju dinas, mengalihkan atensi ketiga nya.
"Nura? nak, kemari lah...kenalkan, ini kakak kakak mu...mama baru tau jika mereka berdua selamat dari kecelakaan waktu itu..ayo sini.." Sahira menarik pelan lengan sang anak menuju kursi panjang. Lukas dan Ana menyusul dari belakang begitu juga Gamas.
"Bukan kah mama bilang mereka ikut meledak bersama mobil waktu itu ?" tanya gadis itu ragu, lalu menatap Lukas dan Ana bergantian. Lukas yang peka langsung mendekati adiknya. Dipegangnya bahu Nura dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Pakaian sang adik tak kalah membuat hati nya miris. Sendal jepit, celana kain sepanjang betis dengan bekas jahitan disisi kirinya. Baju kaos bola, dan bando hitam kusam yang terlihat mengelupas.
__ADS_1
Lukas segera meraih tubuh adiknya dengan perasaan sakit. Sesulit itu kah kehidupan yang dijalani ibu dan adiknya selama belasan tahun ini. Dia merasa tak berguna sebagai seorang anak sulung.
"Maaf kan kakak yang baru menemukan kalian..mulai sekarang kita akan bersama lagi. Lihatlah, wanita besar ini adalah kakakmu juga. Dia sedikit rakus, tapi hatinya selembut kapas. Dia persis seperti mama." Ana mencebik sebal merasa telah dihina oleh sang kakak. Sahira terkekeh dalam sisa tangisnya begitu pun Nura.
"Peluk kakak juga dong.." Ana merentangkan kedua tangan nya, meski ragu akan menekan perut besar sang kakak. Nura tetap maju untuk memeluk kakak perempuan nya. Kedua nya kembali menangis haru.
"Ma..papa sekarang sedang kritis.. hari ini harusnya menjadi pertemuan pertama kami yang mengharukan. Tapi anak wanita ja*l*ang itu berusaha menyakiti Ana. Namun papa yang berusaha untuk melindungi Ana malah terkena tusukan pisau yang cukup dalam. Stok darah di rumah sakit kosong, namun ada teman Lukas yang mau mendonorkan darah nya untuk papa. Hanya saja masih menunggu hasil tes kesehatan nya dulu. Mama mau melihat papa.."Tawar Lukas pelan. Dia tau luka yang di torehkan oleh sang ayah sangat fatal.
"Mama mau nak, dimana papa mu sekarang nak...mama ingin melihat nya.." Lukas tersenyum, hati ibu nya memang sangat baik.
"Apa Nura mau lihat papa juga, dek..." Lukas bertanya meski merupakan sebuah ajakan tak langsung.
Nura mengangguk walau ragu.
"Ya ampun sayang...kau hampir membuat ku membakar rumah sakit ini.." Rick memeluk Ana dengan wajah pucat pasi. Kecemasan nya menjadi luar biasa mana kala Lukas pun tak kunjung kembali
"Mereka ?" Rick bertanya dengan wajah heran.
"Ini mama ku, by. Dan ini adik ku Nura. Apa hubby ingat waktu aku cerita kalau saat kejadian itu mama tengah mengandung adikku." Terang Ana mengingat kan sang suami.
"Rick ma, suami nya Ana. Maaf jika aku menikahi anak cantik mama ini tanpa meminta izin dari mama terlebih dahulu. Aku terlalu takut wanita besar ini meninggal ku. Jadi aku harus segera mengikat nya agar tak lari." Sahira tersenyum lembut mendengar celotehan perkenalan sang menantu yang tak biasa. Cenderung menjelaskan bagaimana pria itu begitu mencintai sang anak dengan sepenuh hati.
"Sahira?" wanita itu menoleh dan melihat pria yang tak asing baginya. Pria yang sangat menyayangi dengan hati luar biasa.
"Kak Jorge..." matanya sudah hampir melepaskan bulir bening. Jorge berjalan menuju sang adik sepupu dengan sedikit tergesa. Lalu memeluk erat wanita itu dengan penuh kerinduan.
"Kenapa lama sekali baru terlihat..kakak sangat merindukan mu.." Mereka terakhir bertemu saat Sahira menikah, oleh karena itu dia tidak menyangka jika Lukas adalah anak dari sang adik tersayang.
__ADS_1
"Aku hanya berdiam di gubuk sederhana ku kak, tidak kemana-mana." Jelas Sahira terkekeh perih. Jorge menangkup pipi tirus itu dengan hati yang miris. Bisa Jorge tebak jika kehidupan sang adik tidak lah baik-baik saja.
Pertemuan keluarga tak disengaja itu penuh tangis mengharu biru. Sepenggal kisah mereka bagi meski hanya sekelumit. Namun mampu membuat air mata tak mau berhenti mengalir. Lukas terus memeluk sang adik tanpa peduli kehadiran Gamas disana. Pria itu sedikit merasa tak enak hati jika menyela. Akhirnya memilih pergi setelah meletakkan tas ransel milik Nura diatas kursi.