
Satu Minggu sejak menghadiri ulang tahun keponakan Lisa, wanita itu kini semakin intens menghubungi Ana melalui pesan singkat. Rick bahkan sampai cemburu, bagaimana tidak, Lisa begitu perhatian pada istri nya dan itu membuat nya merasa tidak nyaman.
"Yang.. Udahan dong chat nya, senyum terus apa tidak capek." Keluh Rick memeluk posesif pinggang kecil istri nya.
"Ya bentar, ini aku mau balas dulu baru udahan.." Ana melirik sekilas pada suami nya yang terlihat cemberut.
"Jangan cemburu, ini perempuan loh by. Tau tidak? aku tuh merasa punya kakak perempuan sekarang. Kak Lisa sangat perhatian pada ku, dia juga akan berkunjung kemari saat libur kerja nanti." Papar Ana panjang lebar, wajah sumringah sang istri membuat Rick tak tega.
Dia sadar istri nya tidak pernah memiliki teman berbagi cerita selain diri nya.
"Apa aja yang di di bahas sampe senyum terus kaya gini, hmmm?.." tanya Rick penasaran sambil mencubit pelan hidung minimalis sang istri.
"Seputar masalah perempuan saja, menu masakan baru di YouTube, juga alat masak keluaran terbaru. Coba lihat gambar yang di kirim kak Lisa, lucu ya... kata nya sih lagi promo, tapi kok masih mahal banget ya.." ujar Ana memamerkan kan teflon set yang di kirim oleh Lisa.
"Bagus, warnanya netral. Beli aja yang kalau suka, gaji suami mu masih cukup kalau hanya untuk beli itu mah. Lebih malah..." sambung Rick menimpali. Ana selalu melihat harga ketimbang kualitas sebuah produk, karena terbiasa mengirit pengeluaran, membuat nya selalu berhati-hati dalam menggunakan setiap sen hasil kerja suami nya..
"Apa tidak kemahalan.." balas Ana terlihat ragu, bayangan uang 1 juta keluar dari rekening untuk membeli peralatan masak tersebut. Membuat jiwa hemat nya meronta-ronta.
"Tidak, itu udah murah. Mimi saja pernah beli yang harga nya 5 jutaan. Itu mah belum apa-apa, pesan aja takut tar malah kehabisan. Sini aku tanyain..." Rick mengambil ponsel di tangan istri nya kemudian menekan nomor ponsel Lisa.
"Ya dek, gimana suka tidak..?" suara Lisa terdengar bersemangat di ujung telepon.
"Ini aku, Rick. Kalau masih ada pilih kan yang warna ungu tua yang tadi kau kirim di chat. Oya, spatula silikon nya juga sekalian, tapi yang awet panas. Jangan yang abal-abal." Sahut Rick membuat Lisa mendengus di seberang sana.
"Kau ini, tidak bisa kah menyapa ramah dulu orang yang kau telpon. Dasar tidak sopan.." kesal Lisa mengomel kesal.
"CK! pesan kan apa yang aku sebut kan tadi, dan ya lihat ini sudah pukul berapa? Istri ku butuh istirahat, jangan mengirim kan pesan lagi." Tutt
Lisa melongo mendengar suara panggilan di putus secara sepihak oleh Rick.
__ADS_1
"Dasar adik ipar tidak punya akhlak, awas saja nanti. Saat waktu nya tiba akan ku buat kau dengan suka rela memanggil ku kakak ipar." Lisa tertawa geli saat membayangkan diri nya hampir saja menjadi pelakor dalam rumah tangga adik nya sendiri.
flashback
"Ma, pa, kenalin ini teman-teman Lisa. Kemarin Lisa undang tidak masalah kan?" Lisa menghampiri kedua paruh baya yang baru datang dari taman belakang. Kemudian bergelayut manja dilengah kokoh sang ayah.
"Tentu saja tidak masalah, ajak teman-teman mu ke taman belakang. Sekarang giliran anak-anak yang melanjutkan pesta mereka di dalam rumah." Ujar sang ayah tersenyum ramah.
"Oya, aku kenalin dulu
Ini Davin, ini Aby, trus ini Vino dan yang ini Yodra. Nah kedua tamu spesial yang sudah membuat kan pesanan nasi tumpeng nya, ini namanya Rick dan ini istri nya, Ana." Lisa memperkenalkan teman-teman nya satu persatu.
Wanita itu tengah menanti reaksi sang ayah, saat melihat Ana. Untuk itu dia sengaja memperkenalkan Ana paling akhir.
Jordy menatap wajah Ana tak berkedip, wajah itu mengingat kan nya pada seseorang yang sudah sangat dia rindukan. Tanpa terasa kaki nya melangkah mendekati di mana Ana berdiri.
"Siapa nama mu tadi, nak?" tanya Jordy terus menatap lekas wajah Ana. Membuat Rick sedikit tidak nyaman.
"Ana saja? maksud om, nama belakang keluarga mu.." ralat Jordy cepat. Melihat wajah bingung Ana semakin membuat nya ingin sekali memeluk gadis itu.
"Analisa Antarisya om.." jawab Ana sedikit kikuk karena terus di tatap sedemikian rupa.
"Maaf om, om membuat istri saya merasa kurang nyaman." Sela Rick mulai tak sabar. Lisa yang menyadari mood Rick gampang terpancing, segera menghampiri sang ayah.
"Pa..kami mau ke taman belakang saja ya.." Lisa mengode ke arah sang ibu agar membantu nya. Risma yang peka segera mengajak sang suami dari sana.
"Pa.. kita cek makanan dulu yuk, takut nya ada yang kurang atau apa. Anak-anak juga udah pada heboh tuh pasti lagi berebut permen coklat." Kekeh Risma mencair kan suasana lalu menggandeng lengan sang suami menuju ruang makan.
"Papa tidak apa-apa ? mungkin nama nya saja yang sama. Namanya dunia ini luas, nama orang bisa saja kebetulan sama dengan nama orang yang kita kenal." Hibur sang istri terlihat mengkhawatirkan kondisi kesehatan suaminya. Kehilangan adik juga keponakan nya, membuat Jordy seperti kehilangan separuh jiwa nya.
__ADS_1
"Tapi wajah nya, Ris. Sangat mirip sekali dengan Sahira ku, persis sekali dengan Sahira sewaktu umur segitu. Kau pasti tidak lupa kan, bagaimana wajah adik ku itu." Ucap Jordy bergetar, wajah nya terlihat sangat sendu saat memikirkan saudari perempuan satu-satunya.
"Ya mama tau, udah nanti kita cari tau tentang gadis itu. Jika benar dia adalah putri dari Sahira adik papa. Arti nya Anand juga pasti baik-baik saja, dan semoga saja Sahira juga ada bersama dengan mereka. Kita akan lebih mudah menemukan keberadaan mereka." Ucap Risma terus menyemangati sang suami. Jordy mengangguk pelan, hati nya sangat yakin jika gadis itu adalah keponakan nya.
Sejak hari itu Lisa begitu intens menghubungi Ana, meski awal nya sekedar basa-basi untuk memesan nasi kuning atau kue. Walau Rick masih sering mempertanyakan sikap ayah Lisa yang membuat nya penasaran. Lisa selalu menjawab, jika wajah Ana mirip dengan bibi nya. Adik perempuan sang ayah yang sudah lama menghilang. Rick pun mempercayai nya karena penjelasan Lisa yang terlihat meyakinkan.
flashback end
"Yang.. lusa kita berangkat ke pulau kakek Justin. Apa kau sudah menyiap kan apa saja yang akan kita bawa?" tanya Rick setelah mereka berbaring di ranjang dengan posisi Rick memeluk Ana seperti bayi dalam dekapan ibu nya.
"Sudah..tapi tidak banyak, mimi bilang di sana sudah banyak barang yang bisa kita gunakan untuk sehari-hari. Aku hanya membawa beberapa lembar baju rumah juga untuk ke pantai. Mami Delia juga bilang itu pulau pribadi, jadi tidak akan ada yang masuk ke sana untuk berlibur selain anak cucu pemilik pulau. Jadi bebas kalau mau berkemah atau sekedar berenang. Aku tidak sabar mau pakai bikini yang di kasih kak Lisa dua hari yang lalu." Sahut Ana dengan wajah berbinar, sambil mengelus rambut ikal nan Lebat suaminya.
Rick yang mendengar itu langsung terkesiap, namun sedetik kemudian dia tersenyum senang. Dia harus berterima kasih pada calon pelakor tak jadi itu. Karena pakaian minim akhlak tersebut akan menambah kesan romantis acara bulan madu nya.
"Ya Mimi sama mami benar, itu pulau pribadi. Dulu menurut cerita yang aku dengar, pulau itu hadiah oleh kakek Justin untuk nenek. Mereka tinggal di sana dalam pelarian untuk menenangkan diri. Jadi, paman Jesen, Jevier dan bibi Jeje lahir di sana. Kalau Mami Delia sama bibi Debya lahir di sini, termasuk Mimi." Jelas Rick menjelaskan secara singkat seluk beluk kisah yang pernah dia dengar dari sang ibu.
"Bobo yuk, aku takut khilaf kalau tiduran kaya gini." Ujar Rick mendongak, Ana tersenyum geli melihat wajah memerah sang suami. Padahal diri nya tidak keberatan jika suaminya melakukan nya, toh itu sudah hak nya. Dan lagi kesehatan nya sudah pulih benar.
"Ya sudah ayo bobok, aku Elus kaya biasa nya." Balas Ana mengalah, mata nya belum mengantuk tapi dia pun kasihan jika suami nya terus-menerus menahan hasrat nya.
Pikiran nya menerawang pada sang kakak, sejak pulang dari rumah sakit mereka baru bertemu 3 kali. Sang kakak pergi ke Swiss untuk waktu yang tak tentu, perusahaan orang tua angkat nya tengah bermasalah di sana. Sebagai anak yang mengerti balas Budi, Lucas ingin memberikan bakti nya dengan sepenuh hati. Walau terasa berat meninggalkan sang adik yang baru saja di ketahui nya.
Drrtt drrtt
Ana meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan ucapan selamat malam seperti malam-malam yang lalu.
..."Selamat malam bidadari nya kakak, mimpi yang indah. God bless you, lil' sister 😚🥰🤍" Ana tersenyum membaca pesan singkat dari sang kakak lalu membalas nya....
"Selamat siang menjelang sore kakak ku yang tampan, semoga lekas bertemu jodoh terbaik yah kakak ku sayang🤪 Miss you🥰🥰" send.
__ADS_1
Dia tau pasti kakak nya sedang merenggut membaca pesan balasan dari nya. Mata nya mulai sayu apa lagi mendengar dengkuran halus suaminya. Di letakkan nya kembali ponsel ke atas naka di samping tempat tidur, lalu menyusul sang suami ke dalam mimpi indah.