Beloved My Ana

Beloved My Ana
Tante Genit


__ADS_3

Sesuai kesepakatan seluruh keluarga, Ana akan di bawa pulang ke rumah. Menjalani perawatan intensif di rumah mereka sendiri dengan beberapa orang perawat yang sudah di siagakan khusus untuk mengontrol kondisi perkembangan Ana. Ada dua dokter yang akan datang setiap hari pagi dan sore hari. Termasuk jika ada panggilan darurat.


"Hati-hati sus, biar saya saja.." Ujar Rick penuh peringatan. Mereka akan mengangkat brankar Ana dari ambulans ke dalam rumah. Lukas segera keluar dari mobil nya untuk membantu Rick mengangkat brankar sang adik.


"Sus, saya saja.." Lukas mengkode pada perawat tersebut agar melepaskan pegangannya. Sang perawat hanya bisa mengangguk patuh.


Sesampai di kamar, semua peralatan medis yang di butuhkan oleh Ana telah tersedia. Mulai dari ranjang khusus pasien, monitor ICU dan lain sebagainya. Mereka membeli semua itu setelah berdiskusi panjang mengenai perkembangan Ana yang tak kunjung membaik.


Seminggu yang lalu, Ana melakukan operasi di bagian kepala nya. Namun pasca operasi, kesadaran Ana semakin menurun. Wanita muda itu bahkan sempat dua kali kehilangan detak jantung nya. Susah payah tim dokter berusaha mengembalikan denyut nadi wanita itu. Bahkan Diantara mereka ada yang hampir kehilangan detak jantung nya sendiri saking tegang nya.


Bukan nya apa-apa, dalam menangani pasien istimewa tersebut. Sang direktur pun turun tangan sendiri. Serasa nyawa mereka berada di ujung kerongkongan.


"Pak, mari perhatikan ini...ini adalah tombol untuk mengatur posisi bed, anda pasti sudah tau. Dan ini selang yang langsung di masukkan langsung ke kantung kemih, ini selang untuk memasukkan makanan untuk menutrisi tubuh pasien. Ini kabel yang terhubung ke monitor ICU. Dan selang ventilator ini untuk membantu pasien seperti ibu Ana tetap mendapatkan oksigen yang cukup. Anda pasti sudah di jelaskan proses nya. Jika masih ada yang ingin anda tanyakan, silahkan bertanya pada perawat jaga nanti." Jelas sang dokter begitu mendetail.


"Saya paham dok, terimakasih. Lagi pula saya akan stay di kamar ini juga...jadi perawat bisa menempati ruang khusus didepan kamar ini." Balas Rick tersenyum ramah.


"Baik kalau begitu, pemeriksaan hari ini sudah selesai. Jika ada perkembangan apapun, segera hubungi kami kembali." Rick hanya mengangguk, Lukas pamit untuk mengantar sang dokter keluar. Sekaligus untuk bertemu dengan para keluarga. Beberapa akan menginap, lalu bergantian dengan keluarga yang lain. Begitu lah rencana yang sudah mereka susun sejak kemarin. Sementara keempat anak Rick ditempatkan di kamar yang terhubung dengan kamar sang ibu di rawat. Itu memudahkan Rick untuk memantau anak-anak nya sekaligus istri nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu begitu cepat, namun tidak bagi Rick dan keempat anak nya. Waktu lima tahun tersebut adalah masa-masa paling sulit untuk dilewati tanpa wanita hebat disamping mereka.


"Bunaa..adek hari ini ada kompetisi balet. Doain adek ya, supaya bisa menang lagi kali ini. Bobo nya jangan lama-lama, nanti ayah di culik sama tante-tante genit. Adek tidak suka...love you buna.." Rick tersenyum simpul sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Pamitan nya udah? ngomong apa sama bunaa, hmm?" Rick masuk lalu menjawil pipi sang anak dengan gemas. Gadis kecil itu terlihat cengengesan memperlihatkan gigi kelinci nya yang lucu.


"Ayank tidak bilang apa-apa.. cuma minta di doain sama bunaa, trus bunaa nya cepet bangun.." manik polos itu menatap Rick dengan tatapan lucu. Rick tak tahan untuk tidak tertawa.

__ADS_1


"Ya sudah, adek duluan keluar ya.. sekarang giliran ayah yang pamit sama bunaa. Oke princess?" Ayank, panggilan gadis kecil itu pun mengangguk patuh. Kaki kecil nya melangkah keluar dengan gaya seorang balerina, berjinjit jinjit membuat Rick semakin gemas melihat nya.


"Lihat putri kita sayang...si mungil yang dulu paling kalem, kini sudah menjadi seorang balerina cilik yang hebat. Ini kompetisi balet kedua nya...doain ya, supaya princess kita menang." Rick menggenggam tangan kurus pucat sang istri dengan hati miris.


Lima tahun, lima tahun Rick mempertahankan sang istri dengan segala macam alat bantu kehidupan. Meski beberapa kali wanita itu hampir menyerah pada kehidupan nya. Rick tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan nya.


"Andai bunda bisa menyaksikan nya langsung, Ayank pasti akan sangat senang." Helaan nafas berat Rick terasa seperti terhimpit batu besar.


"Cepat bangun yaa...ayah kangen, anak-anak pengen main sama bunda mereka. Terutama Ayank, menjadi satu-satunya anak perempuan. Gadis kecil kita itu sering merasa kesepian. I love you istri cantik ku.. jangan nakal ya, ayah tinggal. Hembusan ini harus tetap bertahan, ayah tidak akan lama. Setelah kompetisi Ayank selesai, kami akan segera pulang." Begitu lah keseharian Rick.


Setiap akan berangkat bekerja, atau kemana pun. Tak lupa pria itu pamit pada sang istri tercinta. Rick kini sedikit lebih sibuk. Sebagai seorang CEO, tentu beban pekerjaan nya tidak ringan. Perusahaan sang mertua telah di serah kan pada nya, meski awalnya menolak. Namun mengingat Lukas juga memiliki perusahaan sendiri, tidak enak bagi Rick menolak keinginan sang mertua.


"Yah?"


"Hmmm?"


"Niat tidak sih jawabnya..." gerutu gadis kecil yang posisi duduk nya sudah mutlak berada disamping sang ayah di kursi depan. Sementara ketiga kakak nya duduk dibelakang.


"Ada apa hmmm?"


"Sekretaris ayah itu kenapa harus tante-tante genit itu sih? Ayank tidak menyukai nya, tante itu selalu memperhatikan ayah sampai tak berkedip. Ingin sekali Ayank colok kedua matanya menggunakan tusuk sate, biar kapok." Rick tak tahan lagi, tawa renyah nya meledak mendengar curahan hati sang anak bungsu.


Bukan mau nya Rick untuk menerima wanita menyebalkan itu menjadi sekretaris nya. Namun wanita itu adalah titipan sang ayah mertua. Karena ayah dari sekretaris nya itu adalah sahabat lama sang mertua. Rick cukup tau menjaga batasan nya. Dia memang terlihat kesepian secara kasat mata. Mungkin juga terlihat sebagai pria butuh belaian, mengingat sang istri yang tak bisa melayani nya sebagai mana layaknya seorang istri. Namun kehidupan Rick tidak lah kesepian. Haus belaian? dia masih sanggup memenuhi kebutuhan kelakian nya dengan cara nya sendiri. Dan itu tidak masalah bagi nya, terpuaskan oleh sentuhan wanita atau belaian tangannya sendiri. Sama-sama mampu mengantarnya pada puncak kenikmatan.


"Tante genit itu punya nama sayang, namanya tante genit Yumna." Kelakar Rick kembali tertawa, saat melihat bibir mungil sang anak semakin mengerucut kesal.


"Ayah sampe ingat begitu namanya! curiga aku tuh, ayah sudah tidak sayang lagi sama bunaa.." tuduh sang anak bersedekap dada lalu membuang pandangannya keluar jendela. Gadis kecil itu sangat sensitif jika menyangkut sang ayah. Tidak ada celah bagi para wanita untuk mendekati ayah nya.

__ADS_1


"Astaga sayang. Ayah tidak begitu, tante itu kan sekretaris ayah. Masa ya ayah tidak tau nama nya, kan lucu. Lagi pula ide kakek yang menempatkan tante itu menjadi sekretaris ayah, ayah tidak enak menolak kakek." Jelas Rick berusaha agar sang anak mengerti.


Dia tau jika Yumna selalu saja mencari celah untuk lebih dekat dengan nya. Wanita yang tak sengaja dia tabrak lima tahun yang lalu, kini menjadi sekretaris sejak dua tahun yang lalu. Mengganti sekretaris nya yang lama.


"Awas ya kalau ayah suka sama tante genit itu...Ayank bakal kasih tau bunaa.." ancam si anak dengan wajah serius. Tatapan tajamnya terasa mengintimidasi pada sang ayah. Rick hanya mengangguk seraya mengelus rambut sang anak yang sudah terikat rapi dengan pita berwarna biru muda.


Suasana gedung di mana kompetisi balet di selenggarakan tampak ramai.


Rick mengambil tempat duduk paling depan sesuai yang sudan ditunjukkan oleh panitia pada nya. Bersama ketiga anak nya, Rick mulai serius memperhatikan anak-anak yang mulai maju satu persatu untuk menunjukkan kebolehannya. Hingga dia tidak sadar seorang wanita telah duduk persis di samping nya.


"Serius amat Rick..." tegur nya sok akrab. Rick terkesiap, kemudian menoleh.


"Loh? kenapa kau bisa ada disini? siapa yang kau temani, apa keponakan mu ada yang ikut dalam kompetisi?" tanya Rick heran, belum lagi wanita itu memanggil nya dengan sebutan nama saja. Rasa nya terlalu aneh bagi Rick.


"Aku datang untuk memberikan dukungan untuk Ayank. Jadi waktu di depan tadi, aku mengatakan jika aku adalah ibu nya. Tidak apa-apa kan, Rick ? lagipula Ayank pasti senang, ada sosok wanita yang mendampingi nya selain ayah nya saja." Jelas Yumna lancang dan penuh percaya diri. Rick mengepal tangan nya menahan kesal, andai membuat keributan tidak berpengaruh pada kompetisi sang anak. Ingin sekali Rick memberikan tamparan kuat pada wanita lancang itu.


"Putri ku tidak butuh ibu pengganti. Ayank masih punya ibu kandung. Jadi kau tidak perlu melakukan sesuatu untuk anak ku, pergilah. Kehadiran mu malah akan membuat konsentrasi anak ku terganggu. Ayank tidak suka melihat ku duduk di dekat wanita lain selain ibu nya." Usir Rick tanpa basa basi. Yumna berusaha menahan emosi nya.


"Tapi yang berada disini aku Rick, bukan istri penyakitan mu itu.." Sanggah Yumna tak mau kalah. Sungguh kesabaran Rick benar-benar di uji sekarang.


"Jaga bicaramu, jika sekali lagi kau mengatakan sesuatu tentang istri ku. Kau akan menyesali pernah mengenal pria seperti ku! Camkan itu!" desis Rick mengeram penuh emosi. Yumna sampai bergidik ngeri melihat perubahan Rick yang menakutkan.


Selama ini Rick selalu diam saja meski diri nya jelas memperlihatkan ketertarikan nya. Dia pikir Rick juga menginginkan nya. Hanya saja tak enak pada mertua nya selaku pemilik perusahaan. Untuk itu lah dia semakin berharap lebih. Namun melihat reaksi penolakan Rick pada nya, membuat nyali nya semakin tertantang.


"Aku akan berusaha menyingkirkan posisi istri mu dari hati mu ini, Rick. Kau juga tertarik padaku meski belum menggunakan perasaan. Namun secara sek*s*ual, kau pasti butuh sentuhan ku kelak. Lihat saja, setelah kau dengan suka rela datang padaku. Maka kau akan langsung terikat padaku selamanya. Bahkan anak-anak mu itu akan kau lupa kan dari ingatan mu." Ucap Yumna tak kalah sengit. Jari nya bahkan menunjuk ke dada Rick dengan tak sopan.


Rick menarik bibir nya melihat keberanian Yumna.

__ADS_1


"Pergilah, kehadiran mu tidak dibutuhkan!" Usir Rick sekali lagi, sementara di ujung panggung sepasang mata berembun melihat interaksi Rick dan Yumna yang terlihat seperti orang yang tengah berciuman. Meski sebenarnya tidak demikian. Namun posisinya yang menoleh kesamping dan Yumna juga tengah menatap Rick. Jadilah terlihat seperti yang dilihat nya saat ini.


"Awas saja kalau bunaa bangun..ayah akan dihukum seberat-beratnya." Kaki kecil nya menghentak lantai dengan wajah penuh amarah.


__ADS_2