Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kilas Balik III


__ADS_3

Terlihat seorang wanita duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat, tak lupa sepiring cake vanila kesukaan nya. Nafas Elisa sedikit tercekat, tak menyangka jika mertua nya ada di rumah mereka.


Jorge menggenggam lembut jemari sang istri untuk menyalurkan kekuatan dan rasa sayang.


"Ibu pikir kalian masih akan lama di Indonesia.." tukas wanita itu datar.


"Kami sudah merindukan rumah, bu. Ibu apa kabar? maaf jika ibu datang kami tidak ada di rumah." Bukan Jorge yang menjawab melainkan Elisa. Nada suara Elisa terdengar bergetar gugup.


"Apa kalian hanya akan berdiri saja, kau tidak kasihan pada putramu. Cucu ku butuh segera beristirahat, kalian malah berdiri seperti patung di sana." Elisa dan Jorge terkesiap mendengar kalimat wanita dingin di hadapan mereka. Dari mana sang ibu tau tentang Lukas. Apa adiknya sudah menceritakan nya, padahal Jorge sudah mewanti-wanti agar keberadaan Lukas jangan sampai di ketahui oleh sang ibu. Sementara sampai Lukas benar-benar pulih.


"I..ibu.." lirih Elisa sedikit gugup.


"Bawa kemari cucuku..aku sangat merindukan nya. Kenapa kalian lama sekali pergi, harus nya cucuku tinggal saja. Lihatlah apa yang terjadi padanya, kalian membuat cucuku terluka sampai separah ini." Omel Imelda panjang lebar. Jorge yang masih sedikit linglung, namun tetap mendorong pelan kursi roda sang anak ke arah ibu nya. Meski hati nya ketar ketir.


"Astaga..! sampai separah ini" pekik Imelda menutup mulutnya. "Kau ini bagaimana sih, kenapa tidak menjaga cucuku dengan baik. Lihatlah wajah tampan nya, cucu ku yang malang." ratap Imelda terus mengomel sambil mengelus pelan pipi Lukas. Lukas yang tadinya sedikit canggung kini mulai mencair.


"Aku baik oma, mom menjagaku dengan baik. Aku saja yang terlalu nakal tidak mendengar kan nasihat mommy." Bela Lukas walau dia sendiri tidak tau kronologi kejadian yang menimpanya. Namun hati kecil nya tak rela mendengar sang nenek terus memarahi ibu nya.


Hati Elisa dan Jorge menghangat mendengar pembelaan sang anak.


"Lihatlah, cucuku masih saja membela mu." Keluh sang nenek kesal.


"Kakak ipar?" suara seorang wanita menarik atensi Jorge dan Elisa. Dia adalah Sima, istri dari adik laki-laki Jorge. Wanita yang membuat hati kecil Elisa selalu diliputi rasa iri selama ini. Padahal wanita itu selalu bersikap baik pada nya.


"Sima? kau di sini juga? maaf, maksud ku..."


"Tentu saja kakak ipar, aku menyambut kedatangan keponakan ku yang tampan ini." Potong Sima menghampiri Lukas lalu berjongkok di depan nya.


"Ya ampun, bibi sangat merindukan mu...ah, bibi ingin memeluk mu. Tapi lihat lah balutan perban mumi ini, terlihat sangat mengganggu." Gerutu Sima kesal.


Plak


"Auuwww..!" Sima terpekik kaget saat merasakan tepukan di bahu nya. Rupanya telapak tangan keriput sang mertua yang sudah mendarat cantik di punggungnya.

__ADS_1


"Sakit bu.." keluh Sima pura-pura merajuk. Jika dulu pemandangan ini akan di artikan sebagai ajang pamer keharmonisan menantu dan mertua di mata Elisa. Entah sekarang terlihat biasa saja.


"Enak saja cucu ku di sebut mumi.." sergah Imelda mengomel tak suka.


"Ck! apa ibu tidak lihat, tubuh Lukas di balut begini. Persis sekali, kan?" bela Sima tak mau kalah. Imelda mendelik jengkel pada menantu selengean nya. Sementara Sima malah terkekeh kecil.


"Bibi sudah memasak makanan kesukaan para anak-anak, bibi harap kau menyukai nya. Adik-adik sepupu nya sebentar lagi akan datang. Mereka sedang di jemput oleh paman mu yang tampan kesekolah." Kata Sima menjelaskan walau tanpa di minta, sekaligus menyelipkan kalimat pujian untuk suaminya. Sima rupanya tipe wanita yang sedikit ceriwis, itu pula yang membuat Elisa sering merasa tersisihkan.


"Terimakasih bibi, aku pasti makan banyak. Daddy bilang ingin menjadi pengangguran jika aku sudah besar nanti." Sahut Lukas tersenyum manis ke arah ayah dan ibu nya.


"Ya kau harus makan yang banyak, perusahaan bisa bangkrut jika masih di pegang oleh daddy mu." Imelda menimpali.


"Mom, apa maksudmu ?" sanggah Jorge tak terima.


"Benar kan? kau sering membatalkan kerja sama hanya karena calon rekan bisnis mu seorang wanita." Tembak sang ibu tepat sasaran. Jorge terdiam tak bisa lagi mengelak.


Dia melakukan itu agar istri nya tidak berpikir macam-macam, sebesar itu rasa cinta Jorge pada Elisa. Elisa seketika merasa bersalah.


"Spadaaa..!" suara cempreng seorang gadis dari arah pintu depan mengalihkan atensi mereka semua.


"Ah oma, tidak asyik ih.." Aura sejenak menatap Lukas, lalu tiba-tiba menghampiri nya dengan wajah ceria.


"Ya ampun! lihat lah dirimu kak, kau seperti mumi Yunani." Celoteh gadis 9 tahun tersebut tanpa filter.


Imelda melempar gulungan tisu yang sudah dia isi dengan cake di dalam nya.


"Oma!" seru Aura tak terima, rambut indah nya di lempari oleh sang nenek.


"Makanya mulut mu kau sekolah kan juga. Dan bersikap lah seperti anak gadis normal.." Imelda berdecak sebal melihat gaya sang cucu. Pakainnya sudah seperti koboi.


"Sudah, sudah. Aku lapar, istri ku yang cantik ini sudah masak banyak dan tentu saja lezat. Mari kita makan dulu, berdebat juga butuh energi bukan?" sela Jesen menengahi perdebatan sang ibu dan anak perempuan nya.


"Hai jagoan, senang kau kembali. Aura butuh teman bermain basket dan balap gokart." Jesen menyapa sang keponakan dengan begitu akrab.

__ADS_1


"Sungguh ? kalau begitu tunggu lah mumi ini sembuh dulu.." kelakar Lukas mulai mencair dengan suasana keluarga nya. Semua tertawa mendengar ucapan Lukas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara canda tawa terdengar menggema di ruang keluarga rumah Jorge, yang selama ini hanya terisi canda tawa dirinya dan sang istri.


"Benarkah? jika aku sudah pulih, maukah paman mengajariku?" pinta Lukas antusias. Jesen bercerita tentang bengkel milik nya pada Lukas, membuat remaja itu bersemangat.


"Tentu saja, kau bisa merakit apa saja di bengkel paman. Tentu saja jika ayah mu yang pemarah ini menyetujui nya." Tukas Jesen menggoda sang kakak. Hubungan mereka sebenarnya baik-baik saja, hanya saja sedikit merenggang ketika sudah berkumpul keluarga. Banyak keluarga yang seeing kali membandingkan Sima dan Elisa. Dan itu lah yang membuat hubungan Sima dan Elisa sedikit kurang harmonis. Elisa merasa posisi nya tidak pernah tentram, selama diri nya belum memberikan keturunan untuk keluarga piazon.


Padahal Sima pun sebenarnya tidak suka dengan mulut lemes keluarga mertua nya itu. Namun melihat bagaimana Elisa menanggapi perkataan pedas tersebut, Sima pun turut diam. Tak ingin menyela, dan itu di salah artikan oleh Elisa


Elisa merasa Sima di atas awan dan senang melihat nya menjadi bahan pergunjingan keluarga mertua nya. Faktanya tidak lah seperti itu.


"Terserah Lukas saja, hanya saja tidak sampai putraku pulih sempurna." Pungkas Jorge tak bisa di bantah.


"Malam ini oma akan menginap ?" tanya Lukas menatap sang nenek penuh harap.


Imelda mengangguk walau tadi nya dia berniat pulang bersama putra bungsu nya. Namun melihat wajah memohon Lukas membuat nya tak tega.


"Kalau oma menginap, aku juga menginap." Sela Aura ikut menimpali.


"Kau besok sekolah, jadi pulang lah ke rumah mu." Ucap sang nenek setengah mengusir.


"Ishh oma ini kejam sekali, Lukas pasti merindukan adiknya yang cantik ini. , Benar tidak, kak?" Aura mulai mencari dukungan. Lukas tersenyum pada adik sepupu nya, kemudian mengangguk pelan.


Dia bingung untuk menimpali, diri nya tak tau apa kebiasaan mereka sebelum nya.


"Dasar tukang memaksa. Tidak ada sopir yang bisa mengantarkan mu ke sekolah, lagi pula bagaimana dengan pakaian mu." Imelda bukan tak suka jika cucu perempuan nya ikut menginap. Namun dia ingin lebih mengenal cucu laki-laki nya tersebut. Ada hal yang lain saat bertatap dengan mata coklat Lukas, seolah tak asing di ingatan nya. Ada bayangan yang familiar saat melihat netra coklat bening tersebut.


"Oma mu benar, Aura. Kau bisa menginap saat akhir pekan nanti." Jesen pun ikut membujuk putri nya, dia tau sang ibu butuh waktu untuk lebih dekat dan mengenal cucu baru nya.


Dengan raut wajah terpaksa, Aura menurut pada ucapan sang ayah.

__ADS_1


flashback end


__ADS_2