
"Nanti kalau ada yang mengejek di sekolah, tidak perlu di tanggapi. menghindar saja, bila perlu saat jam istirahat, berdiam di perpustakaan saja ya.." Ira tak henti-hentinya memberikan ultimatum pada sang anak. Adak kekhawatiran dalam benak nya. Dia takut jika putri nya akan di bully di sekolah, mengingat jika Nura masuk hanya melalui jalur paket A.
"Ya ma..mama tenang saja, Nura tidak akan membuat masalah di sekolah nanti. Nura akan menggunakan jam istirahat untuk belajar di perpustakaan. Agar Nura anak mama yang cantik ini, bisa menjadi anak yang cerdas dan menjadi dokter sesuai impian mama." Seloroh Nura menenangkan hati gundah sang ibu.
Bukan nya Nura tak tau, jika sepanjang malam ibu nya itu tidak benar-benar tidur nyenyak meski matanya terpejam sempurna. Jelas pikiran sang ibu berkelana memikirkan nasib nya di sekolah hari ini.
"Baiklah, mama percaya, lagi pula anak mama ini memang cerdas dan baik. Sudah sana, mas Gamas sudah menunggu di depan. Ini buat jajan, beli sesuatu kalau ingin jangan di tahan-tahan. Kalau lagi ada rejeki beli saja, sesekali tidak masalah." Ira memberikan dua lembar uang lima ribuan pada sang anak. Juga sekotak bekal makan siang.
"Buat mama belanja, ada?" tanya Nura nampak tak enak hati. Sisa sembako yang di berikan Titin tempo hari sudah menipis, dia sedikit khawatir.
"Ada. Udah, kamu tenang saja. Berangkat gih, kasihan mas mu udah nunggu lama." Ira sedikit mendorong lengan sang anak membawa nya ke teras depan. Gamas sudah bersiap di atas motor Yamaha NMax hitam milik nya dengan pakaian dinas pegawai negeri sipil.
Gamas bekerja di kantor bupati di kota kabupaten, yang berjarak kurang lebih 30 menit dari desa mereka. Kebetulan adik nya punya motor sendiri, jadi Gamas menawarkan diri untuk mengajak serta Nura bersama nya. Bukan nya Fitri tak mau membonceng Nura, namun dia juga sudah ada Rahma yang ikut dengan nya sejak mereka SMP. Karena gadis itu tidak memiliki kendaraan sendiri.
"Udah siap dek?" tanya Gamas setelah Nura naik ke boncengan motor nya.
"Udah mas," jawab Nura mulai berpegangan di besi belakang boncengan.
"Pegangan sama mas aja dek, takut tar oleng loh. Megang di jaket mas aja," titah Gamas merasa lucu. Nura malu berpegangan pada nya.
"Ya mas," akhir nya Nura mulai melingkar kan satu tangan nya ke depan, dia memegang ujung jaket Gamas untuk menopang keseimbangan tubuh nya.
Sepanjang perjalanan Nura terus berdoa, agar di sekolah nanti tidak ada masalah apapun. Bayangan ujian yang tinggal 10 bulan lagi, membuat semangat nya semakin membara. Dia merasa beruntung bisa langsung masuk di kelas tiga, meski harus mengikuti ujian ganda. Nura di wajib kan mengikuti ujian kenaikan kelas dari kelas satu ke kelas dua, begitu juga untuk kelas dua ke kelas tiga, karena itu yang menentukan beasiswa nya tetap bertahan. Namun tak masalah bagi nya, Nura sudah belajar ekstra selama satu bulan ini, untuk mengejar ketertinggalan pelajaran kelas satu dan dua SMP.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa kehamilan Ana sudah memasuki bulan ke tujuh, di rumah nya tengah sibuk orang kulu kilir mempersiapkan acara syukuran tujuh bulanan.
"Ana duduk saja sayang, mommy ngeri melihat mu terus mondar mandir seperti gosokan." Ujar Elisa begitu khawatir pada putri nya. Semenjak kabar kehamilan Ana sampai ke telinga nya dan sang suami. Kedua nya langsung memutuskan berangkat ke Indonesia saat itu juga. Meski belum bertemu langsung dengan Ana, namun mereka sudah sering melakukan pertemuan online melalui panggilan video.
"Aku tidak apa-apa mom, aku hanya bosa terus duduk sejak tadi. Bokong ku terasa panas, rasanya badan ku sudah sebesar gajah. Ini membuat ku resah, aku pasti sudah tak terlihat menarik lagi." Keluh Ana dengan mimik wajah sendu.
Elisa tersenyum mendengar keluhan sang anak, dia mengerti bagaimana seorang wanita hamil sering merasa insecure dengan perubahan bentuk tubuh mereka. Itu terjadi pada ipar bar-bar nya setiap kali wanita itu hamil.
"Dengar sayang, apa kau tau..puncak kecantikan seorang wanita adalah di saat dia mengalami perubahan bentuk tubuh ketika dia mengandung. Kau cantik, lihat lah bagaimana suami mu memperlakukan mu layak nya seorang ratu. Jangan merasa rendah diri, tidak ada yang salah pada tubuh mu. Justru kecantikan mu semakin memancar sempurna." Ungkap Elisa membelai pipi bulat putri kesayangan nya.
Kehadiran Ana sebagai adik kandung Lukas menambah kesempurnaan rumah tangga nya bersama sang suami. Mereka bahkan rela meninggalkan kehidupan mereka di Swiss demi bisa selalu dekat dengan Ana dan Lukas.
Walau awal nya dia menerima Lukas atas desakan sang anak bungsu, yang bahkan mengancam akan pergi bersama sang kakak jika diri nya tidak bisa menerima Lukas ketika kakak nya itu kembali pulang. Namun kini, rasa sayang itu tumbuh sempurna tanpa paksaan siapa pun. Pun dengan Ana, rasa sayang nya lahir bahkan baru pertama kali nya dia menatap manik coklat Ana. Struktur wajah yang semakin menguatkan rasa sayang nya, Ana adalah duplikat seseorang yang sangat dia sayangi.
"Mommy mu benar sayang, kau cantik bahkan semakin cantik setiap hari nya." Sela Joi menghampiri ibu dan anak yang tengah duduk di sofa ruang tengah tersebut.
"Kau tau, dulu mimi punya badan yang jauh lebih besar dari mu. Padahal mimi hanya membawa tiga bibit kecebong, apa lagi kau yang membawa empat." Ana tertawa renyah mendengar selorohan ibu mertua nya. Sementara Jovan mendengus kesal, anak-anak bibit unggul nya di sebut benih kecebong.
"Sayang, lihat apa yang daddy bawa..." Jorge terlihat bersemangat membawa sebuah nampan berisi beberapa jenis kudapan tradisional buatan sang ibu.
Mata Ana berbinar secercah mentari, saat melihat makanan kesukaan nya.
__ADS_1
"Wuuaaa... pasti oma yang membuat nya, kan?" tanya Ana dengan air liur yang hampir menetes.
"Benar. Dan lihat lah siapa yang sudah mencuri hasil kerja ku." Sambar sang oma yang rupa nya menyusul sang anak laknat dari dapur. Jorge meringis mendengar suara lantang sang ibu.
"Aku hanya membantu membawakan nya, bu." Elak Jorge membela diri. Delikan sang ibu membuat nya langsung bungkam.
"Coba lah, oma sengaja membuat banyak. Rick bilang kau sangat menyukai jajanan pasar. Jadi oma membuat mya khusus untuk mu, juga acara syukuran tujuh bulanan mu." Tekan sang oma dengan nada suara terdengar tengah menyindir.
Tangan-tangan yang kini akan mengambil kue tersebut, dengan sigap tertarik sempurna ke sisi masing-masing pemilik nya.
Rupanya para insan di sana telah lebih dulu ambil start, sebelum Ana sempat memakan nya barang satu pun.
Elisa meringis memamerkan gigi rapi nya pada sang mertua, sementara Joi dan Jovan berpura-pura tak tau apa-apa. Padahal kedua nya juga sudah gatal ingin segera mencicipi jajanan tersebut.
"Makan lah nak, sebelum kue mu di kerubungi semut sepuluh jari." Tangan keriput wanita itu mengelus perut bulat Ana.
"Anak-anak mu sangat sehat, jaga mereka dengan naik. Makan saja apa yang ingin kau makan, selama itu sehat dan tak membahayakan janin mu. Orang hamil tak baik menahan-nahan apa yang dia mau. Selama oma sini apa yang ingin kau makan, oma akan buatkan. Jadi jangan pernah merasa sungkan. kau cucu oma, dan ini adalah cicit-cicit oma." Terang Imelda menangkup pipi Ana dengan penuh kasih sayang.
Selama kehamilan Ana, begitu banyak cinta dan perhatian tak putus-putus dari anggota keluarga. Mereka bergantian bahkan sesekali menginap bersamaan di rumah mereka. Meski kadang para pria harus rela tidur terpisah dengan istri masing-masing, dan berdesakan di ruang keluarga dengan menggelar ambal untuk alas tidur. Namun membuat hubungan kekeluargaan mereka semakin erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1