
Ana sedikit gugup, pasal nya hari ini dia akan menemui seseorang meski orang yang akan di temui nya belum mengetahui perihal kedatangan nya.
"Apa sayang sudah siap?" tanya Rick memastikan. Dia khawatir sang istri merasa tertekan. Lukas? jangan di tanya, pria itu menolak tegas untuk bertemu apa lagi memaafkan sang ayah. Bahkan dengan tegas melarang Ana menemui ayah mereka. Bagi nya sang ayah tak pantas mendapatkan maaf darinya dan sang adik.
Rick tak dapat memaksa, itu adalah hak hati dan Lukas berhak menentukan sikap nya.
"Aku siap. Aku hanya gugup. Entah lah, by..." sahut Ana ragu. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan nya yang montok. Rick menggenggam nya untuk menyalurkan kekuatan.
"Semua akan baik-baik saja. Percaya pada hati mu sayang.." Ana mengangguk pelan. Ada semacam kecemasan dalam benak nya, bertemu dengan sang ayah dan keluarga baru nya. Yang tak lain adalah orang yang telah membuat nya kehilangan sang ibu tercinta.
Gerbang besar menjulang tinggi di hadapan membuat jantung Ana semakin berdegup kencang. Rick terus menggenggam lembut jemari sang istri.
"Maaf pak, kami ingin bertemu dengan tuan Sidharta. Apa beliau ada di rumah?" tanya Rick ramah pada sang penjaga gerbang. Dari lubang kecil Rick berbicara pada si penjaga yang terlihat ragu.
"Boleh tau dengan siapa ya den, biar saya sampaikan dulu pada tuan besar." Ucapnya terlihat sungkan. Dia tak ingin memasukkan sembarangan orang ke kediaman sang tuan tanpa kejelasan.
"Katakan Rick ingin bertemu," sahut Rick.
Setelah selesai berbicara melalui telepon, penjaga tersebut bergegas membuka pintu gerbang selebar-lebarnya.
Sesampai mobil Rick di halaman, terlihat seorang pelayan tengah berdiri untuk menyambut kedatangan Rick. Sementara Sidharta tampak cemas. Dia takut Rick menyadari jika selama ini dirinya kerap mengintai rumah menantu nya itu diam-diam. Dia khawatir Rick akan memberinya peringatan seperti yang Lukas lakukan.
Tok tok tok
Ketukan pintu ruang kerja nya kembali membuat jantung nya berdetak tak karuan.
klek
"Maaf tuan, tamu anda sudah di ruang tamu. Selain tuan muda Rick..ada.."
"Apa putra ku juga ikut serta? apa wajah nya terlihat sangat marah? dia pasti semakin membenci ku, Marni.." Sidharta nampak pasrah dan putus asa. Marni tercengang mendengar pertanyaan beruntun sang tuan, yang telah memangkas kalimat nya.
"Bukan tuan, di bawah ada nona muda...beliau terlihat sangat cantik, aura keibuan terpancar jelas di wajah teduhnya. Temui lah tuan, nona muda nampak gelisah. Mungkin nona mencemaskan kehadiran nyi akan di tolak." Marni adalah pelayanan terlama yang mengabdi pada keluarga Sidharta. Sehingga dia memiliki sedikit hak lebih dalam menyuarakan pendapat nya.
__ADS_1
Sidharta tercengang, putri nya? Ana kecil nya? oh, hati nya seperti balon, mengambang sempurna saking bahagianya.
"Sungguh, Marni ? putri ku ada di bawah?" tanya nya meyakinkan, kalau-kalau pendengaran nya masih berfungsi dengan baik. Marni hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sidharta bergegas keluar dari ruang kerja nya, rasanya dia ingin melompat ke lantai bawah agar cepat sampai.
Di ujung anak tangga terakhir, Sidharta dapat melihat dengan jelas wajah cantik mendiang istrinya di wajah bulat Ana. Hati nya perih juga bahagia, putri nya yang sangat dia rindukan kini ada di hadapan nya.
"Ana.." ucap nya lirih hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca menahan kerinduan yang begitu dalam. Ana tanpa sadar meremat kuat jemari tangan sang suami. Rick merasakan panas menjalar di buku jari nya, namun berusaha dia tahan. Itulah gunanya sang tangan, menopang beban untuk meringankan kegundahan sang istri tercinta.
"Nak? kalian datang..?" kalimat basa basi itu terlontar begitu saja. Meski bukan itu yang hendak Sidharta katakan.
"Maaf jika kami mengganggu waktu anda, tuan." Ujar Rick ramah, tak ada kemarahan dari nada suara nya. Artinya Rick kemari bukan untuk memperingati nya.
"Ah tidak. Aku tidak sedang sibuk, pria tua ini hanyalah seorang pengangguran yang tak memiliki kesibukan apa pun " Balas Sidharta cepat.
Ekor mata nya melirik ke arah Ana yang terus menunduk. Dia mencoba memahami situasi. Mungkin kah Ana terpaksa datang kemari atas desakan sang suami. Terlihat Rick yang begitu ramah dan bersahabat, mustahil pria muda itu akan melarang Ana bertemu dengan nya.
Ana mengangkat kepalanya setelah mendengar kalimat tanya sang ayah.
"A_aku baik.." Ana pun tak kalah gugup. Momen pertemuan pertama mereka dulu masih belum bisa dia lupa kan.
"Permisi tuan, nona...silahkan di santap, maaf jika rasa nya tidak sesuai selera." Marni si kepala pelayan, berusaha memberikan pelayanan terbaiknya untuk sang nona muda. Ada kerinduan membuncah di hatinya, bagaimana pun dulu. Kedua tangan nya juga pernah ikut andil dalam merawat kedua anak majikan nya. Sudut mata keriput nya berkabut, ada gejolak ingin merengkuh tubuh sang nona. Namun Marni cukup tau diri, untuk tak mendahului kesempatan sang tuan.
"Makasih bi," balas Ana ramah, netra nya terus menatap manik wanita tua itu dengan perasaan yang tak asing.
"Silahkan di nikmati...papa.. maksud saya, saya tidak tau apa yang kalian sukai." Sidharta semakin di buat salah tingkah. Merutuki kecerobohan nya, Sidharta berusaha bersikap tenang.
"Pa_pa apa kabar?"
Deg!
Kalimat ajaib Ana mampu membuat hati Sidharta melambung setinggi angkasa. Di tatapnya netra sang anak begitu dalam. Kalimat tanya sederhana namun memiliki makna yang dalam. Telah mengaduk-aduk perasaan nya.
__ADS_1
"Pa_pa baik. Bagaimana kabar mu, nak? apa cu_cu pa_pa sehat?" ada kecanggungan di setiap kata nya. Namun hati nya terlalu bahagia. Sehingga berniat memangkas jarak kecanggungan diantara mereka.
"Baik, mereka baik." Sahut Ana mulai melunak. Rasa gugupnya berkurang saat melihat embun pagi yang bersarang di manik memerah sang ayah. Hati nya terenyuh perih. Terlihat begitu banyak beban di netra yang tak lagi sebening masa muda itu.
"Mereka ? apa anak mu kembar?" senyum dibibir Sidharta mulai mengembang sempurna. Dia sungguh merasa diberkati.
"Empat. Mereka kembar empat, Quadruplet." Kali ini Rick yang menyahut. Pria itu nampak sangat bersemangat dan penuh kebanggaan memamerkan jumlah anak-anak nya di dalam rahim sang istri.
Sidharta sampai menegak kan tubuh nya, kebahagiaan nya kini semakin berlipat ganda. Ingin sekali dia merengkuh tubuh sang anak dengan perut besarnya. Namun keberanian nya belum sampai ke sana.
"Apa papa tak ingin memeluk ku?" Pertanyaan Ana bagai air sejuk yang menyirami hatinya yang gersang. Sontak saja Sidharta beranjak dari duduk nya, segera menyongsong sang anak di seberang meja tamu.
"Tentu saja ingin, sangat sangat ingin..." ujar Sidharta lirih. Kini dia telah berdiri di hadapan sang anak yang masih duduk.
Ana beranjak bangun dibantu oleh sang suami, Sidharta ngilu melihat pergerakan sulit sang anak.
"Duduk saja tidak apa-apa, papa ngeri melihat mu bergerak seperti itu." Sidharta nampak cemas melihat tubuh putri nya yang nampak tak seimbang dengan perut besarnya.
"Tidak apa-apa, Dokter mengatakan aku harus banyak bergerak." Sahut Ana tersenyum lembut. Sidharta meraih tubuh sang anak perlahan, takut-takut kalau akan menyakitkan keempat cucunya di dalam perut putri nya.
Pelukan hangat dan elusan lembut di kepala Ana, mampu membuat desiran hebat di hati Ana. Kerinduan yang tanpa sadar dia pendam kini telah bertemu tuan nya. Dia merindukan sang ayah, sangat. Namun ego nya meninggi melebihi gunung Everest.
"Papa bahagia bisa memeluk mu lagi nak," Sidharta berusaha menahan isak nya agar sang anak tak ikut menangis. Namun tangis kencang Ana malah menguar lebih dulu. Hati nya pedih.
"Shuutttt...ibu hamil tidak boleh cengang. Nanti anak-anak mu akan mentertawai ibu mereka, hmm." Seloroh Sidharta tertawa pelan, meski air matanya pun sama deras nya di balik punggung lebar sang anak. Rick menyodorkan sekotak tisu, sebelum melerai pelukan nya. Sidharta menghapus air mata nya hingga kering.
"Duduk di sini dekat papa. Kau harus mencoba kue buatan bi Marni. Dulu kau sering diam-diam memakan nya meski sudah di larang." Pipi Ana merona mendengar kalimat sang ayah. Senakal itu kah dia waktu kecil. Kakaknya pun sering mengatakan jika waktu kecil, dirinya sering membuat ulah. Dan sang kakak lah yang selalu menjadi tameng.
"Apa istriku ini sangat mucil waktu kecil dulu pa.." tanya Rick berusaha mencair suasana canggung diantara mereka.
"Ishh.. mana ada..benar kan pa.." rengek Ana tanpa sadar. Sidharta terkekeh kecil melihat tingkah manja sang anak. Putri nya itu hampir tak pernah bertingkah manja karena tuntutan hidup yang keras.
"Tentu saja benar.." sahut seseorang sebelum Sidharta sempat menjawab. Semua mata tertuju ke arah nya dengan tatapan yang entah.
__ADS_1