Beloved My Ana

Beloved My Ana
Nasihat bijak


__ADS_3

Jovan menikmati pelukan hangat istri nya, hubungan mereka membaik begitu juga dengan putra nya. Bahkan sekarang Jovan sedang gencar-gencarnya meneror sang anak agar mau mengganti kan nya di perusahaan. Niat nya untuk menjadi bodyguard sang istri masih berlaku. Dia ingin pensiun dini, agar bisa mengekori istri nya kemana-mana.


"Eeuugghhh" lenguhan Joi membuat Jovan menoleh, di tepuk nya lagi punggung polos istri nya.


"Jam berapa di?" tanya Joi dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Baru pukul 6 pagi, tidur lah lagi. Mau aku bernyanyi nina bobo, hmmm?" Joi terkekeh geli, lalu mengerat kan pelukan nya. Tubuh nya masih polos, suhu pendingin ruangan sangat dingin menembus kulit nya.


"Didi tidak bersiap? bukan kah hari ini ada meeting para pemegang saham ?" Ucap Joi mengingat kan.


"Jam 9 sayang, aku akan ke kantor pukul 8. Biar bisa bersamaan dengan mu. Apa hari ini ada sidang?" Balas Jovan balik bertanya sambil mengelus rambut tebal istri nya.


"Hanya ada satu sidang, setelah itu mimi ada janji menemani kak Delia melakukan perawatan. Aku heran, kenapa kakak repot-repot melakukan perawatan segala, apa dia tidak sadar, jika setelah pulang dari salon, wajah suami nya akan semakin jelek untuk di tatap meski hanya kebetulan." Celoteh Joi mengomentari sang kakak dan kakak ipar nya.


"Jangan berbicara begitu sayang, aku pun akan sama seperti Zero jika melihat istri ku selalu merawat diri nya, padahal kami sudah cukup mengagumi kecantikan kalian dengan tingkat kebucinan yang akut." Ujar Jovan membela rekan sekelas nya dalam kelas para kaum bucin.


"Kalian cantik tanpa harus melakukan banyak usaha keras untuk mendapatkan kecantikan tambahan. Entah apa yang nenek moyang kalian makan dulu, sampai meninggal kan jejak kecantikan hakiki yang tak tertandingi oleh merk skin care jenis apapun. Aku curiga, jika lelulur kalian dulu, di kutuk agar tidak menua." Komentar Jovan menyimpulkan argumen nya.


Ipar nya sudah berusia 51 tahun, namun masih terlihat seperti wanita 35 tahunan. Bukan kah itu mencengangkan? lalu apa kabar istri nya yang batu berusia 30an, tentu saja jiwa Jovan seperti berlarian setiap saat, ketika mengingat banyak mata yang menatap kagum pada bidadari nya itu.

__ADS_1


"Ck! berlebihan sekali. Belum tentu orang di luar sana menatap kami secantik yang kalian lihat. Bukan kah kalian sendiri yang akan malu, jika kami terlihat buluk di mata orang." Sanggah Joi beringsut duduk, dia harus segera menyelamatkan diri nya sebelum kobra berbisa sang suami mematuk nya lagi.


"Cih, kau saja tidak tau. Hampir di setiap acara yang kita datangi, aku selalu di jadikan kurir pengantar titipan salam untuk mu." Sergah Jovan keceplosan, segera pria itu bangun hendak menuju kamar mandi.


Joi tersenyum lucu melihat tingkah kekanakan suaminya "benar kah? lalu kenapa kau tidak pernah menyampaikan nya padaku, didi sayang." Jovan mencibir melihat respon istri nya.


"Aku tau kau pasti langsung bersemangat saat ada yang selalu memuja mu selain aku" ucap Jovan kesal, lalu meneguk air minum hingga tandas. Tak peduli dengan tubuh polos nya.


Joi beranjak menghampiri sang suami lalu memeluk nya dari belakang, "aku hanya suka saat kau yang mengagumi ku, didi. Aku malah merasa terhina, saat banyak pasang mata yang menatap ku lapar dan penuh damba. Aku milik mu, tidak hanya raga, tapi seluruh hati dan jiwa ku. Jadi jangan mencemaskan mata-mata liar yang selalu menatap ku penuh puja, karena mata dan hati ku hanya akan tertuju pada pria perkasa, tampan dan hebat ini." Ucap Joi mengelus perut kotak-kotak suami nya dengan lembut. Jovan meresapi elusan tangan mulus istri sambil memejamkan kedua matanya.


Tak tahan, pria itu berbalik lalu menyambar bibir manis istri nya yang baru saja menyanjung nya setinggi angkasa.


"Kau yang memulai nya sayang, ayo kita akhiri di bawah guyuran shower di dalam sana. Kamar mandi kita pasti merindukan suara des*ahan mu dan decapan yang kita ciptakan." Lirih Jovan di ujung telinga Joi, membuat Joi menyesal telah membangun king kobra tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, hari ini aku akan pulang sedikit terlambat. Ada rapat pemegang saham, aku akan membantu Bram mengerjakan beberapa hal di kantor. Agar anak itu siap untuk menggantikan posisi didi di perusahaan, dan aku terbebas dari teror menakutkan didi yang hampir setiap hari membuat kepala ku pusing." Ucap Rick sedikit berkeluh kesah sambil mengelus pipi istri yang tengah mengancing kan kemeja nya.


"Tidak apa-apa, ada bibi yang akan menemani ku sementara kau belum pulang, by. Apa hari ini tidak perlu ku siapkan bekal makan siang ?" tanya Ana memastikan. Selama mereka menikah dan di kembali pulih, Rick selalu meminta di buatkan bekal makan siang untuk nya.

__ADS_1


"Tetap harus sayang, kau tau aku tidak akan makan dengan benar saat bukan masakan mu yang ku makan." Rick mendaratkan ciuman di kening istrinya dengan gemas. "Aku tidak sabar ingin memakan mu, kau sudah sehat, tapi pekerjaan ku yang banyak. Mengesal kan sekali. Andai tidak ingin terus di teror didi, aku tidak ingin repot-repot keluar masuk ruang direktur untuk membantu anak nakal itu." Oceh Rick kesal. Dia memang sudah tidak di bagian poto kopy lagi, dia di angkat ke bagian staf administrasi. Dia suka bekerja di balik meja tanpa terlibat langsung di lapangan. Bertemu banyak orang membuat nya kurang nyaman, apa lagi menjadi pusat perhatian.


Namun sayang, semenjak diri nya naik kelas dari pekerjaan nya kemarin, ada saja para wanita yang terus memberi nya perhatian berupa makan siang atau makanan ringan. Walau tak pernah dia gubris, namun dia khawatir akan membuat perasaan istri nya ikut terganggu.


"Jangan begitu, dia adik mu juga. Bantulah supaya Bram mampu mengampu tugasnya dengan benar dan penuh tanggung jawab." Nasihat Ana bijak.


"Siap nyonya, oya, sudah cek gaji pertama ku sayang? itu gaji pertama ku saat sudah bukan lagi seorang pesuruh, suami mu ini sudah pakai dasi dan jas sekarang. Gaji nya pasti sedikit lebih banyak dari yang kemarin." Ujar Rick bangga, dia bangga karena bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri.


"Aku belum sempat mengeceknya, aku kan tidak pernah keluar rumah, bagaimana bisa tau," ucap Ana tanpa sengaja telah menyentil hati kecil Rick, dia tidak sadar telah mengurung istri nya di dalam rumah setiap hari.


"Maaf" cicit Rick merasa bersalah.


"Eh? kenapa minta maaf, kan aku yang belum mengecek nya harus nya aku yang minta maaf" balas Ana polos. Ingin sekali Rick menggigit bibir mungil istri nya yang polos itu.


"Bukan itu, maaf karena tidak membebaskan mu keluar rumah. Aku khawatir kau kenapa-napa, juga bertemu CEO tampan di luar sana. Aku pasti kalah saing, aku takut." Lirih Rick di ujung kalimat nya.


"Astaga! aku pikir apa." kekeh Ana tak habis pikir, seharusnya dialah yang berpikir dangkal seperti itu. Rick tampan, kaya dan segala-galanya, apa lah dia yang hanya beruntung karena dipilih mati-matian oleh pria itu. "Jangan berpikir terlalu jauh, by. Aku bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk merusak kebahagiaan kita, rumah tangga kita. Dan aku tidak merasa terkekang, aku suka di rumah. Memasak dan menunggu mu pulang bekerja, adalah hal yang selalu membuat hati ku berbunga-bunga. Aku mencintaimu my hubby, dengan seluruh hidup ku." Lanjut Ana tak bosan meyakinkan suami nya yang terkadang sering merasa insecure tanpa sebab tersebut. Padahal yang memujanya tak terhitung jumlahnya.


"Terimakasih sayang, aku janji Setelah pekerjaan ku sedikit longgar, aku akan mengajak mu berlibur ke pantai. Kita akan menginap di villa kakek Justin, kau pasti akan menyukai nya. Sekaligus aku ingin memproduksi benih ku di sana. Mungkin saja kita bisa seberuntung mendiang nenek, langsung mendapat anak kembar yang banyak " Seloroh Rick mengunyel gemas wajah istri nya hingga belepotan.

__ADS_1


"Ishhh, habby. Lihat nih, kan jadi liuran." Omel Ana walau sebenarnya dia tidak lah marah, Rick terkekeh pelan dan mengelap wajah Ana menggunakan telapak tangan besar nya.


"Ayo kita sarapan, aku ingin segera menyiapkan bekal makan siang mu." Ajak Ana menggandeng mesra lengan kokoh suaminya. Rick mengeratkan belitan lengan istri nya, hatinya semakin berbunga-bunga setiap kali di perlakukan hangat, dan mendengar ungkapan cinta dari bibir mungil sang istri.


__ADS_2