
Selesai makan dan jalan-jalan juga berbelanja beberapa kebutuhan di apartemen, Rick dan Ana memutuskan untuk pulang.
"Ini di cuci dulu tidak ?" tanya Rick mengangkat mika yang berisi daging dan ayam.
"Ya, di cuci dulu saja baru di simpan. Jadi tinggal di cuci ulang kalau mau di masak." Ujar Ana masih sibuk mengeluarkan beberapa buah dan sayuran dari kantung belanjaan nya. Semenjak tinggal bersama, Rick mulai mengerti arti hemat yang sesungguhnya. Dimana dia sering melihat bagaimana Ana selalu menyimpan kantung belanjaan, dengan melipat rapi dan di taruh dalam sebuah boks sedang. Dan itu nanti akan di gunakan lagi saat mereka pergi berbelanja.
"Taruh di box container yang mana?" tanya Rick lagi setelah selesai mencuci daging di wastafel.
"Yang ungu, ada dua wadah dalam satu box nya." balas Ana menunjukkan ke arah box yang tersusun rapi di nakas kitchen set.
"Perasaan aku ada beli pakis tadi, kok tidak ada sih. Apa ketinggalan yaa..." gumam Ana terdengar jelas oleh Rick yang tengah memasukkan daging ke dalam box.
"Pakis yang keriting hijau tadi?" Ana mengangguk cepat "tuh di ujung kelindung plastik buah." Tunjuk Rick menggunakan dagu nya.
"Ah ya, kenapa aku bisa tidak lihat." Omel Ana pada diri nya sendiri.
"Malam ini temani aku ke rumah orang tua ku, mau ya?" ajak Rick memohon. Ana menghentikan aktivitas nya, menoleh dalam ke arah Rick.
Terlihat banyak ke khawatiran di matanya, Rick menyadari itu. Namun membiarkan perjodohan konyol itu terjadi, diapun tidak sudi.
"Apa tidak apa-apa, maksud ku...."
"Tidak apa-apa, kalau orang tua ku tidak setuju dengan mu, aku bisa keluar dari keluarga ku. Kita menikah saja, tidak buruk juga menikah muda. Kita bisa buka usaha warung nasi seperti yang kau impikan." Uajr Rick meyakinkan kekasih nya.
__ADS_1
"Ck! nanti orang-orang datang bukan untuk berbelanja, tapi sibuk meminta ku untuk menjadi tukang foto." Sungut Ana kesal sendiri.
Rick terkekeh pelan, kemudian memutar tubuh Ana mengahadap ke arahnya. "Katakan jika kau tidak masalah hidup susah dengan ku nanti, jika saja aku di buang oleh keluarga ku?" ujar Rick dengan wajah serius dan penuh harap. Ana terdiam, bukan karena akan di ajak hidup susah, melainkan tidak tega memisahkan anak dari orang tua nya.
"Tidak suka ya?" ujar Rick tertunduk lesu lalu mendudukkan dirinya di kursi. Pikiran menerawang jauh, jika Ana berpaling dari nya lalu memilih pria yang lebih mapan. Dia tidak yakin akan menjalani hidup nya dengan baik. Perasaan nya begitu kuat, belum lagi kebersamaan mereka telah mematenkan hati dan pikiran hanya tertumpu pada Ana.
Ana menyadari keterdiaman nya telah menimbulkan salah paham, segera menghampiri Rick.
"Aku tidak masalah hidup susah, aku sudah terbiasa dengan hal itu, hanya saja, aku tidak tega membuat mu kehilangan keluarga mu karena aku." Jelas Ana lembut, senyum di bibir Rick kembali terbit. Di raih nya pinggang kecil Ana dan memeluk nya erat. Rick menenggelamkan wajah nya di perut Ana, pikiran nya terbersit sebuah rencana.
"Nana?" Rick mendongak menatap wajah bulat kekasih nya.
"Hmmm? ada apa? berubah pikiran ? tidak apa-apa, kita masih muda, lebih baik berubah pikiran sekarang dari pada terlanjur nanti." ujar Ana menyimpulkan arti tatapan mata sang kekasih.
"Kau ini, mana bisa begitu. Kita masih kecil, mana boleh memikirkan sampai sejauh itu." Balas Ana protes. Wajah cerah Rick seketika berubah menjadi pudar kembali. Rick dan Ana memiliki sifat yang sama, sama-sama gampang salah paham. Berbeda sedikit dengan Ana, karena selain suka menyimpulkan argumen sendiri. Gadis itu juga suka tidak enakan.
"Aku tau aku masih belum memiliki pekerjaan tetap dan mapan, tapi jika hanya memberikan mu makan di tambah satu dua anak lagi. Aku masih sanggup, aku juga menabung hasil kerja ku selama ini meski tidak lah sebanyak pria di taman itu. Dari segi penampilan saja aku sudah kalah, apalagi penghasilan." Rajuk Rick panjang lebar, Ana menghela nafas panjang. Rick salah menangkap maksud nya, itu lah yang terjadi.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya takut kita tidak siap, usia kita masih sangat muda. Mengasuh seorang anak butuh kesiapan mental yang cukup. Aku tak ingin nanti kita melampiaskan rasa kesal kita pada makhluk tak berdosa itu. Bukan soal kau memiliki banyak penghasilan atau tidak. Selama ini aku merasa selalu tercukupi, kau ini pria muda yang bertanggung jawab. Terimakasih banyak, hanya saja aku takut kesiapan mentalitas kita yang belum bisa berjalan beriringan dengan niat hati." Ana menjelaskan dengan senyum selembut sutra, dia tidak ingin Rick selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.
Rick sempurna untuk nya, selama tinggal bersama, Rick selalu memperhatikan segala kebutuhan nya dengan begitu mendetail. Seperti hari ini, Rick lah yang memasukkan kebutuhan wanita ke dalam troli belanjaan mereka. Dia sendiri sampai lupa, membeli barang keramat untuk persiapan bulanan para wanita tersebut. namun Rick mengingat sampai hal sekecil apapun itu.
Rick dan Ana saling menatap, pikiran mereka cukup sederhana. Namun masih butuh sedikit penyesuaian.
__ADS_1
"Terimakasih, aku senang kau berpikir sampai sejauh itu. Hanya saja, aku sudah siap menjadi seorang ayah jika memang kita di takdir kan memiliki nya di usia ini. Mungkin dengan begitu, aku bisa bekerja lebih giat lagi, karena penyemangat hidup ku bertambah banyak." Ujar Rick tersenyum manis, garis lesung pipi nya semakin membuat pesona Rick bertambah berkali-kali lipat. Ana membelai pipi Rick yang selama ini hanya bisa dia lakukan ketika pria itu tidur.
Rick memejamkan kedua matanya, meresapi sentuhan lembut telapak tangan Ana. Dia sangat menyukai nya, dia tau Ana sering melakukan nya saat dirinya tertidur. Meski sebenarnya, Rick sangat peka terhadap sentuhan. Namun Rick selalu pura-pura tidur, agar Ana tidak malu.
Ana ibarat pengobat dari rasa lelahnya, setiap hari dia habis kan selain untuk bersekolah, juga untuk bekerja hingga malam jika terpaksa harus lembur.
"Bukankah kau bilang akan ke rumah orang tua mu? kenapa tidak bersiap sekarang, sudah hampir pukul 7." Ujar Ana mengingat kan. Rick melirik pergelangan tangan nya, rasa tak karuan kembali menyeruak dalam hati nya.
"Ikut ya?" mohon Rick dengan tatapan mengiba, hati Ana bimbang.
"Jangan takut, jika mereka tidak menerima mu dengan baik. Kita akan langsung pulang saja, aku ingin menukar mobil ku sekalian." Lanjut Rick lagi. Dia memang berniat ke rumah besar, selain untuk membicarakan soal pendidikan nya, dia juga ingin membahas soal Ana.
"Baiklah. Ayo kita bersiap dulu, masuk lah duluan. Aku ingin menyimpan ini di kulkas" ujar Ana akhirnya mengalah.
"Siap sayang" Rick beranjak dengan senyum sejuta watt.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang? apa pun yang kau pakai selalu cocok. Berhenti lah terus mengganti dress mu, kita akan terlambat. Apa kau ingin membuat kesan buruk di mata calon mertua mu, dengan datang terlambat ? mereka akan menilai mu dari sana, sayang. Ayo, bersiap lah. Mama tunggu di bawah." Titah Sely pada putri nya.
"Ya ma, aku ganti satu dress lagi ya." Cengir nya mengangkat dua jarinya.
Sely hanya menggeleng kepala melihat tingkah putri kesayangan nya.
__ADS_1
"Yang ini juga bagus, tapi yang ini lebih seksi. Rick pasti akan langsung terpesona saat melihat ku, lihat saja nanti. Setelah aku berhasil masuk dalam kehidupan mu, akan ku kendali kan semua nya dalam genggaman tangan ku." Ucap Maura penuh percaya diri, gadis itu menatap pantulan nya di cermin dengan senyum licik.