Beloved My Ana

Beloved My Ana
Keputusan Tegas


__ADS_3

"Jadi bagaimana dengan pembicaraan kita tempo hari pak Jovan ? maaf jika saya terkesan menuntut, hanya saja janji tetaplah janji. Putri saya juga sudah menerima dan berharap lebih pada perjodohan ini. Saya tidak ingin mengecewakan nya, Maura putri saya satu-satunya." Ujar Sidarta mengawali pembicaraan mereka.


Jovan terlihat memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia sampai kan. Agar putranya bisa di ajak bekerja sama dengan baik kali ini.


"Baik pak Sidarta, saya tau saya sudah terlanjur berjanji, hanya saja semua terserah pada putra saya Rick. Karena dia lah nanti yang akan menjalani hubungan itu, kita sebagai orang tua hanya mendukung nya saja. Bukan begitu kan pak ?" Jovan membalikkan pertanyaan menjebak pada rekan bisnis nya itu.


Sidarta menoleh ke arah Rick yang terus menggenggam jemari tangan Ana, ingin marah namun kapasitas nya belum sampai ke sana.


"Bagaimana nak, Rick ? anak om sudah setuju dengan perjodohan ini, hanya tinggal kau saja. Om harap kau mau menerima nya, mengingat om dan ayah mu adalah teman dekat selain rekan dalam berbisnis. Besar harapan om kau mau memikirkan nya, Maura tidak kurang satu apapun. Cobalah pertimbangan niat baik om dan ayah mu ini." Ekor matanya melirik Ana yang sedang menggigit bibir nya. Ada gelayar aneh menyelinap ke relung hatinya, kontur wajah gadis itu mengingat kan nya pada seseorang.


"Maaf om, saya tidak bisa. Bahkan untuk memikirkan nya saja, saya tidak ingin. Hati saya sudah terpaut dalam pada gadis di samping saya ini. Dari tahun awal kenal Maura, saya tidak merasa kan sedikit pun ketertarikan pada nya


Jadi, daripada nanti nya kami saling menyakiti, lebih baik saya tegaskan dari awal. Saya tidak bisa, sekali lagi, maaf kan saya." Ujar Rick tegas, tidak ada keraguan juga rasa takut dari nada biacaranya.


Wajah kedua orang tua Maura pias menahan malu, begitu pun Maura. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


"Tidak bisakah kau memberikan ku kesempatan, Rick. Apa yang kurang dari ku, apa yang harus ku perbaiki. Katakan agar aku bisa merubahnya" Isak Maura di pelukan sang ibu.


"Pikirkan lagi nak, kasihan putri tante. Dia sebanding dengan mu, apa kurangnya Maura. Kenapa kau tega menyakiti hati putri ku yang baik ini" Lirih Sely menatap sendu ke arah Rick.


Bukannya iba, Rick terkekeh pelan, sebanding ? sejauh itukah pemikiran orang-orang dihadapan nya ini. Astaga! kekuasaan telah merenggut habis hati nurani para makhluk fana ini.


"Maaf tante, anak tante sempurna. Hanya saja kesempurnaan nya bukan untuk ku. Aku tidak ingin menyakiti nya lebih jauh dengan berpura-pura menerima perjodohan ini. Aku tidak bisa menyakiti hati Ana, gadis yang aku kejar cinta nya dengan susah payah. Aku tidak ingin menukar nya dengan kekuasaan, harta juga tahta." Jelas Rick dengan suara lugas.

__ADS_1


Joi menyimak setiap kalimat bijak putranya dengan tatapan bangga. Berbeda dengan Jovan, dia merasa Rick sudah jauh di luar kendali nya.


"Bersikap lah yang sopan, Rick!" seru sang ayah tak terima. "Om Sidarta berniat baik dengan menjodohkan mu dengan Maura. Bukan berniat menukarkan mu dengan bisnis. Maura mencintai mu sejak lama, hargilailah sedikit saja." Kesal Jovan sedikit meninggi kan suaranya. Tangan lembut sang istri kembali membuat nya sadar. Namun gengsi Jovan siapa yang tidak tau.


"Maaf di, sikap ku tergantung bagaimana seseorang bersikap padaku lebih dulu. Jika sudah tidak ada yang ingin di bahas lagi, kami ingin pamit pulang. Selamat malam semua nya, permisi" langkah Rick Kembali terhenti.


"Kau pikir didi tidak tau jika kau membawa gadis itu tinggal bersama mu!" Seru Jovan lantang.


"Dan kau, jika kau adalah gadis baik-baik, kau tidak akan mau tinggal berdua dengan seorang pria apalagi tanpa pengawasan orang tua. Jadi maaf, kau tidak mendapatkan empati ku sebagai calon menantu idaman jika kau ingin tau." Lanjut Jovan meninggikan suara nya hingga membuat tubuh Ana bergetar hebat. Sejak kecil dia tidak pernah di bentak atau di kasari oleh kedua orang tua nya.


Rick langsung meraih Ana dalam pelukannya, matanya melirik tajam pada sang ayah. Andai saja, andai itu bukan ayahnya, sudah Rick beri pelajaran tak terlupakan.


"Jika Didi tidak menyukai nya, tidak harus merendahkan nya juga! Apa didi lupa siapa didi di masa lalu? dengan atau tanpa restu didi, kami akan tetap bersama. Tidak peduli aku menjadi gembel sekali pun, Ana akan menjadi pelabuhan terakhir tempat ku pulang." Tegas Rick dengan rahang mengeras, kedua tangannya mengepal kuat di balik punggung Ana.


"Pergilah nak, restu mimi selalu bersamamu" sela Joi di tengah ketegangan, mulut Maura dan Sely menganga lebar mendengar keputusan Joi yang menurut mereka hanya sepihak.


"Makasih mi, kami permisi dulu. Selamat malam" Rick menggiring pelan tubuh Ana yang masih sedikit bergetar. Sesampainya di halaman depan Motor nya sudah di siapkan oleh penjaga rumah atas permintaan nya juga.


"Naik motor tidak apa-apa, kan?" tanya Rick, dia melirik dress yang di pakai oleh Ana.


"Tidak masalah, aku bisa duduk seperti biasa nya." Ujar Ana tersenyum lembut.


"Baiklah, ayo!" Rick menaiki motor nya di ikuti oleh Ana di belakang.

__ADS_1


"Peluk kekasih mu ini, kita akan pergi ke suatu tempat yang agak sedikit jauh." Rick menarik tangan Ana agar memeluk nya erat.


"Memang nya kita mau kemana? ini sudah malam, kenapa tidak besok saja?"


"Harus malam ini" balas Rick sedikit berteriak agar Ana bisa mendengar suara nya dengan jelas.


"Terserah kau saja, aku mengantuk. Bangun kan aku jika sudah sampai." Ana memeluk erat tubuh kekar Rick, membuat sudut bibir Rick tertarik sempurna. Satu tangan nya di gunakan untuk menopang kedua tangan Ana.


Hampir 45 menit perjalanan, motor Rick terparkir di halaman sebuah rumah minimalis dua lantai.


"Sayang? Nana?" Namun Ana yang terlanjur terlelap tidak merespon panggilan Rick. Diperjalanan tadi, Rick berhenti untuk mengikat jaket nya di pinggang Ana hingga ke perutnya. Agar gadis itu tidak oleng jika satu tangannya dia gunakan untuk memegang stang motor.


Rick melepaskan ikatan jaketnya, lalu turun perlahan dengan masih menopang tubuh Ana. Setelah berhasil turun, Rick mengangkat tubuh Ana membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.


Rick menghela nafas panjang, tubuh kecil Ana lumayan berat di angkat hingga ke lantai dua.


Setelah membersihkan tubuh nya, Rick menaiki ranjang. Ditatapnya wajah teduh Ana yang selalu mampu menenangkan hati nya. Bahkan jika harus kehilangan seluruh aset yang dia miliki selama ini, Rick tidak jadi masalah. Asal Ana selalu bersama nya, itu sudah lebih dari cukup.


Diam-diam Rick menabung sejak kelas 3 SMP, 70 persen dari uang saku nya, dia simpan dalam tabungan. Rick jarang jajan, hanya jika teman-teman laknatnya membajak isi kantong nya saja. Maka uang saku nya bisa terpakai habis untuk satu hari itu.


Rumah yang dia beli sekarang tidak pernah terpikirkan oleh Rick sebelum mengenal Ana. Namun mindset Rick berubah semenjak mengenal gadis itu. Tabungan nya selama ini dia belikan rumah itu, dan sisanya akan dia jadikan modal usaha untuk Ana. Dia yakin gadis itu tidak akan mau hanya diam berpangku tangan. Orang tua nya pun tidak mengetahui soal rumah dan tabungannya selama ini.


Rick membelai pipi bulat Ana dengan penuh kasih sayang. "Berjanjilah jangan pernah meninggalkan ku dan berpaling pada pria lain. Aku bisa gila tanpamu. Temani aku sukses, temani aku merangkak naik keatas, semua yang aku perjuangan, hanya agar bisa tetap bersamamu. I love you gadis kesayangan ku, calon istri dan ibu anak-anak ku." Ciuman kening sebagai ucapan selamat malam, menjadi pengantar tidur bagi Rick.

__ADS_1


Malam itu, Rick tidur dalam suasana hati yang begitu tentram. Gadis nya kini tengah tertidur pulas di pelukan nya, hari esok adalah awal baru bagi nya untuk memperjuangkan masa depan mereka. Dia harap Ana nya akan selalu setia hingga akhir, karena terlalu mencintai gadis itu, Rick sampai tidak menemukan celah sedikitpun, untuk memikirkan bagaimana cara menemukan pengganti yang lebih baik dari Ana. Gadis sederhana nya.


__ADS_2