Beloved My Ana

Beloved My Ana
Tes DNA


__ADS_3

Hampir 20 menit Ana sampai ke rumah sakit, langkah kecilnya dia bawa berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Dio sampai kewalahan mengejar pengantin baru itu.


"Kak pelan-pelan saja, kakak bisa jatuh kalau terus berlari." Tegur Dio menasehati (Dio cucu dari Dion adik Dean kakak dari Daniel kakek Rick).


"Bagaimana bisa pelan, seseorang sedang membutuhkan kakak untuk bertahan hidup." Balas Ana masih tetap berlari kecil. Entah kenapa kepanikan nya terasa berbeda, ada ketakutan di hatinya jika Lucas kenapa-kenapa.


Dio hanya menghela nafas lelah, dari parkiran cukup jauh, dan dia harus terus mensejajarkan langkah nya agar bisa mencapai ipar keras kepala nya itu.


Sesampai di depan sebuah ruangan, Rick menyambut Ana dengan antusias.


"Kita bisa mulai prosedur nya sekarang" sela Alsy pada pasangan suami-istri baru tersebut.


"Baik kak, lakukan apa saja yang diperlukan" ujar Ana segera. Ana kemudian di bawa keruangan khusus untuk mengecek kesehatan nya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Dek? ini, isi perut mu dulu. Ana sebentar lagi bangun, tadi sengaja diberikan obat tidur agar pikiran nya tidak kacau. Kau makanlah dulu, menjaga istri mu butuh tubuh yang sehat dan bugar. Apa lagi kau itu pengantin baru" seloroh Arsel mencairkan suasana. Dia tau Rick mencemaskan istrinya. Juga memikirkan kondisi pria yang sudah menyelamatkan nyawa Ana.


"Kau bisa aja kak, terimakasih" Rick menyambut kotak makan yang diberikan oleh Arsel( cucu Aldo dan Narsih)


"Pria itu punya banyak kecocokan genetik dengan istri mu, apa Alsy sudah mengatakan nya?" Arsel membuka suara, Rick menghentikan sendok yang akan mendarat di dalam mulutnya. Keningnya mengerut dalam, berusaha mencerna perkataan kakak sepupu nya.


"Maksud nya bagaimana kak?" tanya Rick penasaran lalu meletakkan kembali sendok nya.


"Ada kemungkinan istri mu memiliki hubungan kekerabatan dengan pria itu, siapa namanya tadi?"

__ADS_1


"Lucas, Lucas Piazon. CEO Piazon group." jawab Rick cepat.


"Ya, pria itu punya semacam keterikatan dengan Ana. Kau tau jika golongan darah yang mereka punya sangatlah langka. Dan keduanya memiliki nya, bukan kah itu kebetulan yang aneh. Mata coklat terang yang sama, struktur wajah yang nyaris mirip, hanya berbeda versi. Itu hanya penilaian ku, tidak perlu memikirkan nya. Fokus saja pada istri mu, kakak ke ruangan dulu. Hubungi kakak jika kau memerlukan sesuatu." Arsel menepuk pelan pundak adik sepupu nya.


"Apa bisa kita melakukan tes DNA ?" pertanyaan Rick yang tiba-tiba, menghentikan langkah Arsel. Sudut bibir tertarik sebelum akhirnya pria itu menoleh kebelakang.


"Bisa. Jika kau menginginkan nya, Ana tidak perlu kau beri tau. Situasi sekarang ini sudah membuat nya syok berat, ditambah kenyataan lain. Aku khawatir mental nya tidak lah sekuat yang terlihat." Nasihat Arsel bijak. Rick mengangguk mantap, benar, istri nya tidak perlu tau dulu sampai hasil nya keluar.


Namun memikirkan orang yang begitu mudah mengorbankan diri Nya untuk orang yang hanya di kenal nya sepintas. Rasanya sangat mustahil di masa sekarang ini.


"Kalau begitu kakak akan menyuruh seseorang untuk mengambil sampel darah Ana, mumpung dia masih belum sadar. Hasilnya akan lebih cepat daripada menggunakan rambut." Terang Arsel menjelaskan.


"Baik kak, lakukan dengan cepat, aku ingin tau ada hubungan apa istri ku dengan Lucas." Ujar Rick menyetujui.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Tapi kami ini juga salah satu sahabat keluarga pemilik rumah sakit ini, bagaimana bisa kalian bersikap seperti ini." Teriak Sidharta marah juga malu, karena di perlakukan seperti pengemis.


"Maaf pak, kami mendapatkan perintah seperti itu, hanya kerabat khusus dengan kartu besuk khusus yang di perbolehkan untuk masuk. Jadi sekali lagi maaf kan kami" ujar perawat itu menjelaskan dengan sabar. Meski hati nya juga dongkol, di teriaki oleh paruh baya yang tidak dia kenal.


"Dasar anj*ing penjilat! awas saja, kalian akan menyesal telah memperlakukan kami seperti ini. Menantu keluarga pemilik rumah sakit ini adalah temanku." Ancam nya menunjukkan telunjuk nya lada masing-masing wajah perawat dan sekuriti di sana. Setelah keduanya berlalu, mereka menghela nafas lega.


"Seperti menghadapi pasien sakratul maut saja, menyusahkan!" omel seorang perawat dengan wajah kesal.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


"Mau makan nak? mimi ada bawa makanan kesukaan mu, ada rendang daging juga acar mentimun. Ada pucuk ubi rebus juga, mau mimi suapi?" tawar Joi lembut. Ana baru terbangun, dosis obat tidur nya tidak lah kuat. Hanya saja Ana terlalu lelah, sehingga dia tertidur melewati batas pemberian obatnya.


"Rick mana mi?" Ana membalas dengan pertanyaan lain, karena saat bangun Rick tidak ada di samping nya.


"Rick sedang menjenguk Lucas, tadi dia pamit sebentar saat mimi datang dan berpesan agar saat istri nya bangun. Mimi harus memberikan makan yang banyak." Seloroh Joi membuat Ana tersenyum malu.


"Makasih mi, maaf jadi merepotkan semua orang." Ujar Ana tak enak hati.


"Tidak ada yang di repotkan, kita ini keluarga, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sudah mengurus segala termasuk penembakan itu. Semoga pelaku segera di temukan, sekarang ayo makan dulu. Rick bisa marah sama Mimi kalau istri cantik nya belum makan." Kekeh Joi di akhir kalimat nya.


"Aku makan sendiri saja mi, aku sudah tidak pusing lagi. Ini bagaimana cara menaikkan nya ya?" tanya Ana bingung bagaimana cara menaikkan sandaran brankar nya.


"Begini, kau hanya perlu menekan tombol ini saja. Nah, begini. Apa sudah cukup?" ajar Joi mempraktekkan cara nya.


"Sudah mi, makasih banyak "


"Ya sudah makan lah yang banyak, mimi mau ke luar sebentar. Tadi mimi menitip kan ponsel mimi pada Arsel untuk menelpon kerabat yang masih ada dirumah membereskan semua perlengkapan pernikahan kalian." Ujar Joi hendak pamit.


"Baik mi, tidak apa-apa."


"Ya sudah mimi keluar dulu, makan yang banyak. Kau butuh banyak makan setelah donor darah." Joi kembali mengingat kan menantu nya. Ana hanya mengangguk pelan, dia pun sangat lapar.


Sepergi nya Joi, Ana memakan makanan nya dengan lahap. Perut nya keroncong, karena saat subuh hanya terisi sedikit makanan sebelum dirinya di dandani. ini sudah sore, tentu saja perutnya meronta minta di isi.


Klek

__ADS_1


Ana mendongak melihat siapa yang datang, sendok terjatuh dari tangan nya saat melihat sosok yang menyeringai mengerikan pada nya. Wajah penuh amarah Maura membuat Ana sedikit waspada, apa lagi seringai aneh gadis itu membuat nya was-was.


__ADS_2