
"Apa tidak sebaik nya kita memberitahu kan pada Rick, mengenai kondisi istri nya saat ini? Aku khawatir Rick akan mengetahui nya dari salah satu perawat dinas di sana. Tidak semua orang bisa kita tekan untuk tidak mengatakan soal keadaan Ana. Terutama Rick adalah suami nya." Usul Joi setelah mereka baru saja selesai makan siang. Sahira, Elisa dan Delia yang sedang membahas soal resep baru seketika terdiam.
"Aku hanya tak ingin kejiwaan Rick semakin menjadi-jadi. Apa lagi berita tidak baik ini dia dengar dari orang lain. Rick akan berpikir buruk pada kita, terlebih kondisi mental nya yang rikuh. Pikiran dangkal pasti akan mudah menguasai cara pandang nya pada kita semua." Tukas Joi terlihat putus asa. Wajah lelah tergambar jelas di sana. Wanita modis dengan penampilan sempurna di keseharian nya, kini tak nampak polesan apa pun di wajah mulus nya.
Delia menatap nanar sang adik yang kini tengah bersandar di tembok dalam posisi yang tak terlihat baik.
"Mungkin sebaik nya kita mempertimbangkan apa yang Joi katakan. Rick harus tau kondisi Ana yang sebenarnya. Entah bagaimana Rick akan menerima nya, paling tidak kita akan tetap ada di samping nya." Ujar Delia menimpali ucapan sang adik. Dia sudah memikirkan itu sejak beberapa hari lalu, hanya saja kapasitas nya hanyalah bibi bagi Rick. Dan keponakan nya itu masih memiliki orang tua lengkap. Dia tak ingin mengambil peran terlalu jauh melampaui batasan nya.
"Aku ikut saja, jika memang harus di beri tau.. aku tidak masalah. Mungkin memang sebaik nya seperti itu, mungkin dengan begitu Rick bisa lebih legowo dalam menerima kondisi Ana. Rick cukup bijak di keseharian nya, semoga saja kali ini Rick bisa menerima nya dengan baik." Pungkas Sahira setelah terdiam memikirkan akibat apa yang akan di alami oleh sang menantu nanti.
"Mungkin kak Jesy bisa menyampaikan nya, aku tidak sanggup. Kak Jesy sudah biasa menghadapi hal semacam ini, mungkin dia bisa menyampaikan pada Rick dalam bahasa yang mudah di cerna oleh anak itu. Aku tidak bisa, bisa-bisa yang kulakukan hanya menangis ketimbang mengatakan apapun." Ucap Joi terisak pelan. Delia menghampiri sang adik lalu membawa Joi dalam dekapan nya. Keempat wanita itu menangis dalam diam.
Di balik pintu keluar ruang tunggu, sepasang telinga mendengar apa yang telah mereka diskusi kan. Hati nya luluh lantak tak berbentuk. Dia sudah mengetahui keadaan isti nya sejak tiga hari yang lalu..Salah seorang perawat tanpa sengaja telah meninggal berkas medis milik Ana di atas nakas di samping ranjang istri nya. Rick yang awal nya hanya iseng ingin melihat perkembangan apa yang sudah di capai selama hampir dua minggu itu. Membuka lembar demi lembar berkas tersebut.
Dunia nya terasa runtuh seketika, saat membaca keterangan hasil pemeriksaan menyeluruh sang istri. Kanker otak stadium 3. Hancur sudah harapan semu nya, yang mengharap kan sang istri segera terbangun dari tidur lelap nya. Nyata nya kondisi Ana tengah kritis. Dia tak menyalahkan keluarga nya, dia tau seberapa keras keluarga nya berusaha untuk mencari jalan terbaik untuk Ana.
Rick hanya berharap, Ana nya bisa segera terbangun walau sekejap, dan memberikan pelukan hangat pada ke empat anak mereka. Hanya itu saja harapan, dia harap Tuhan berbaik hati pada nya. Jika memang sudah waktunya, dia akan mengikhlaskan walau terasa sakit. Meski entah apa yang akan terjadi pada nya nanti, biar lah itu menjadi rahasia nya dengan sang pencipta.
Tak ingin menambah beban pikiran keluarga nya, Rick memilih berbalik menuju kantin. Sejak mengetahui keadaan Ana yang sebenarnya, Rick mulai sedikit mengatur emosional nya. Pria itu mulai memperhatikan makan nya meski hanya sekedar nya. Dia ingin terlihat sehat dan kuat ketika istri terbangun nanti.
Bugh!
Rick merasakan tubuhnya terjungkal, kondisi fisik nya yang sedikit kurang baik. Membuat tubuh nya mudah sekali terasa ringan dan meleng.
"Hei! pake mata dong kalau jalan..! lorong selebar ini kenapa bisa nabrak sembarangan sih!" Omel si wanita merasa kesal. Bokong nya menyentuh lantai dengan keras.
"Maaf, aku tidak sengaja.." ujar Rick datar. Setelah menepuk bagian belakang celana pendek nya, Rick menatap di gadis kemudian kembali meminta maaf lalu bergegas melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Hei tunggu..! main kabur aja.." gerutu nya kesal.
"Cuma minta maaf doang?" Rick mengerut dahi nya bingung. Memang nya apa lagi? bukan kah sudah seharusnya seperti itu kan? kenapa gadis ini cerewet sekali.
"Lalu kau mau apa nona? aku sedang buru-buru, istri ku sedang ingin makan sesuatu. Jadi jika kau mau minta imbalan katakan saja, aku tak punya banyak waktu." Balas Rick semakin datar.
"Yumna! siapa nama mu? apa benar kau sudah menikah, kau terlihat masih sangat muda. Barangkali kita seumuran..." ucap nya seraya tersenyum lembar, tak lupa uluran tangan nya masih menggantung menunggu sambutan dari Rick.
Rick menatap tangan gadis itu tak bereaksi.
"Tangan ku kotor, aku baru saja membersihkan kotoran anak-anak ku. Belum sempat aku cuci karena terburu-buru, jadi selain ingin berkenalan. Apa lagi yang anda mau nona, aku benar-benar harus pergi." Ucap Rick mulai terlihat tak sabar. Pikiran nya sedang kacau, gadis itu malah menyulut emosi nya saja.
"Kau mau ke kantin, kan? bersamaan saja, kau harus mentraktir ku makan. Anggap saja sebagai imbalan karena kau sudah menabrak ku juga merusak layar ponsel ku." Sahut gadis itu riang, lalu menggoyangkan ponsel di depan wajah Rick.
Rick baru sadar kalau ponsel gadis itu retak, lalu menatap wajah penuh harap itu dengan tatapan tak terbaca.
"Kenapa kau jalan cepat sekali...aku sampai kewalahan mensejajarkan langkah ku dengan mu." Keluh Yumna memberengut kan wajah nya, Rick hanya menoleh sekilas tanpa menanggapi apa pun.
Sesampai mereka di kantin, Rick segera menuju counter makanan. memilih menu apa saja yang ingin dia makan. Rick bahkan tak mengambil sendok yang tersedia di sana, Yumna berinisiatif untuk mengambil nya. Barangkali saja pria itu lupa, saking sibuk menimbun banyak makanan ke piring nya. Begitu lah pikir Yumna.
"Nih..!" Yumna meletakkan sendok dan garpu di pinggir piring Rick. Rick mengangkat nya kemudian menaruh nya diatas tisu yang baru saja dia keluar dari tempat nya. Yumna menatap heran, tak lama mata nya melotot sempurna. Saat melihat cara Rick makan langsung menggunakan tangan.
"Kenapa kau tidak memakai sendok? bukan kah itu jorok?..." tukas Yumna menatap penuh penilaian ke arah tangan Rick yang terus menyuapi diri nya sendiri tanpa peduli pada ocehan gadis di depan nya itu.
"Ck! apa kau mendadak bisu.." kesal nya karena tidak di tanggapi sama sekali. Yumna diam-diam menatap kagum pada pria yang sudah memanah jantung nya tepat sasaran pada pandangan pertama. Gadis itu mengeluarkan ponsel nya untuk mengabadikan momen Mereka, meski layar nya retak namun terekam jelas potret keduanya.
"Aku sudah selesai, aku akan membayar makanan nya. Ponsel mu sebentar lagi tiba, seseorang akan mengantar nya kemari. Jadi jangan kemana-mana dulu..." Ucap Rick datar lalu beranjak dari kursi nya. Yumna rupa nya masih belum rela jika Rick secepat itu pergi, segera menahan tangan Rick.
__ADS_1
"Aku belum tau nama mu, bukan kah aku sudah memberitahu kan nama ku. Rasa nya tidak adil jika hanya kau saja yang tau nama ku." Kilah nya berusaha mengulur waktu lebih lama.
"Aku bahkan tak ingat siapa nama mu..." kletak, hampir saja rahang Yumna terjun bebas dari tempat nya. Sungguh memalukan, di saat kepercayaan diri nya terlalu tinggi pria itu bahkan lupa sekedar mengingat nama nya.
"Yumna! jadi siapa nama mu.." ulang nya lagi meski sedikit kesal.
"Rick! Kalau begitu aku sudah boleh pergi, kan? istri ku tak ada yang menjaganya dan aku mengulur waktu ku di sini." Pias. Itulah ekspresi wajah Yumna sekarang. Rick terlalu terus terang berucap tanpa memikirkan perasaan nya.
"Baiklah, maaf jika aku membuat mu tak nyaman." Ujar nya dengan wajah sendu. Rick menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka makan, tanpa peduli wajah penuh kekecewaan gadis yang baru dikenal tersebut.
Yumna menatap punggung lebar Rick dengan tatapan penuh damba.
"Aku akan memudarkan kesetiaan mu itu, Rick. Kita lihat saja, seberapa kuat kau bertahan terhadap godaan ku." Yumna menyeringai penuh rencana. Hingga kehadiran seseorang membuat nya tersentak.
"Nona ada yang memesan ponsel, dari toko handphone xxxxx dan di suruh mengantar ponsel ini ke kantin rumah sakit. Tidak ada nama pemesan, hanya saja kami diberikan clue warna pakaian yang anda pakai. Apa benar anda sedang memesan sebuah handphone." Jelas pria itu ramah.
Yumna alih-alih menjawab, pikiran nya menerawang jauh. Dia merasa bangga, Rick memperhatikan pakaian hingga sedetail itu. Barangkali saja pria itu juga memperhatikan bagian lain nya juga, yang menonjol dari tubuh sintal nya. Senyum penuh kemenangan tercetak jelas di bibir nya.
"Mbak?" tegur di pria merasa di abaikan.
"Hah? oh maaf kan aku, ya benar. Ponsel ku rusak tadi, jadi kekasih ku yang memesan nya. Terimakasih banyak, apa kau masih menyimpan chat dari kekasih ku. Bukan apa-apa, aku hanya ingin melihat bagaimana kekasih ku sangat perhatian. Padahal aku sudah melarang nya untuk mengganti nya, hanya retak layar nya saja." Kekeh nya berusaha menutupi kegugupannya.
"Seperti nya masih nona, sebentar saya cek dulu." Setelah menemukan chat dari Rick, pria itu menunjukkan nya pada Yumna.
Dengan gesit Yumna meraih ponsel si pria, lalu menghapal nomor Rick dengan cepat. Karena nomor ponsel tersebut sangat mudah untuk di ingat, Yumna segera mengembalikan nya.
"Terimakasih, ponselnya aku terima. Nanti aku akan memberitahu kan pada kekasih ku jika barang nya sudah sampai." Yumna tersenyum ramah. Kemudian segera mengetik kan nomor Rick di ponsel nya.
__ADS_1
"Kita lihat saja, apa godaan ku mampu kau hindari jika aku sudah beraksi." Gumam nya pelan.