Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kilas Balik I


__ADS_3

Suasana villa semakin ramai, kehadiran lukas dan kekasih nya telah menambah kericuhan villa tersebut.


"Kakak kenapa lama sekali baru kembali," rajuk Ana dengan wajah merengut.


Lukas terkekeh kecil melihat tingkah manja sang adik, dan dia menyukai nya. Lukas segera mengurai pelukan mereka bukan karena tak suka, namun melihat tatapan membunuh adik ipar nya. Dia cukup tau diri, Rick tengah di landa badai cemburu setingkat tornado.


"Maaf kan kakak. Ah ya, kakak membelikan mu oleh-oleh, daddy dan mommy juga mengirimkan banyak hadiah untuk mu. Mereka akan kemari saat menjelang natal. Kau tau, mom sangat antusias saat aku bercerita tentang mu. Dia seperti baru mendengar pembacaan surat warisan. Seperti nya aku akan tersingkir nanti" ujar Lukas terkekeh kecil, ibu nya sangat antusias mendengar cerita nya tentang Ana. Wanita itu bahkan sangat menyesal tidak memeriksa ke bawah jurang saat itu, andai dia turun mungkin Ana juga akan menjadi putri nya.


flashback


Seorang wanita tengah menatap murung pemandangan dari balik kaca jendela mobil. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sudah dua kali proses bayi tabung yang mereka lakukan gagal..Si wanita sudah benar-benar frustasi dan menyerah. Bahkan menyarankan agar suami nya menikah lagi agar mendapatkan keturunan. Namun di tentang tegas oleh sang suami. Bagi Jorge Piazon, tidak ada namanya dua wanita dalam pernikahan nya. Pria itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dengan bangga. Elisa adalah cinta mati nya, dia sudah bersumpah di hadapan Tuhan, jika dia akan mencintai wanita itu beserta segala kekurangan nya.


"Jangan terlalu di pikirkan, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih indah untuk kita. Percaya lah pada kekuatan doa, tidak ada sesuatu yang mustahil terjadi tanpa kehendak Nya. Aku menikahi mu bukan untuk ku jadikan tempat beternak anak. Jadi, berhenti lah menyarankan hal bodoh itu padaku. Aku tidak bisa menduakan hati ku hanya karena ingin mendapatkan keturunan. Itu tidak masuk akal bagi ku..!" Tegas Jorge untuk kesekian kali nya.


Elisa bergeming, tatapan nya masih kosong


Namun dari jarak tak jauh dari pandangan nya, mata nya menangkap sosok anak laki-laki tengah berlari tertatih di bahu jalan. Dan seperti orang yang tengah terluka, terlihat dari baju nya yang memperlihatkan noda darah cukup banyak.


"Honey! berhenti! berhenti lah sebentar..!" pekik Elisa tiba-tiba, Jorge mengerem laju mobil nya hingga mengeluarkan decitan keras.


"Astaga..sayang..! apa kau tau, kau bisa membuat kita berdua mati konyol..." ujar Jorge mengusap dada nya. Namun Elisa tidak menghiraukan, wanita itu turun tergesa dari mobil kemudian berlari ke arah berlawanan. Jorge menatap arah istri nya berlari melalui kaca spion mobil. Dahi nya mengerut dalam melihat seorang anak laki-laki terhuyung-huyung di jalanan di belakang mobil mereka. Padahal tadi dia tidak melihat nya saat melintas di sana.


Jorge ikut turun dari mobil lalu menghampiri istri nya yang terlihat syok, mendapati anak itu mengalami luka lecet cukup banyak di tangan, kaki, juga sebelah wajah nya.


Jorge meringis ngeri melihat nya, "angkat dia ke mobil sayang, anak ini butuh pertolongan. Dia keluar dari dalam hutan itu tadi saat kita melintas. Bisa jadi dia korban penculikan." Elisa berbicara cepat dengan nada sangat khawatir.

__ADS_1


"Sini, biar aku menggendong nya.." Jorge meraih tubuh anak itu dan membawanya ke dalam mobil. Jorge bergerak cepat menuju rumah sakit terdekat.


"Bagaimana dengan putra saya dokter?" Jorge sedikit terkesiap mendengar kalimat tanya istri nya, namun tetap diam menanti jawaban si dokter. Saat sampai di rumah sakit tadi, kondisi anak laki-laki itu kritis karena kehilangan darah yang lumayan banyak dari luka robek di bahu nya.


"Putra anda sedang kami observasi, jika sudah siuman bisa di rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya. Ah ya, ini kalung putra anda, maaf kami lancang melepas nya. Tadi kami melakukan Rontgen, jadi terpaksa harus kami lepas. " Jelas dokter tersebut tak enak hati, tangan nya terulur menyerahkan kalung liontin yang terlihat sangat mahal tersebut.


Elisa lebih dulu meraih nya sebelum tangan sang suami mencapai nya.


"Tidak apa-apa dokter, terimakasih banyak..boleh kah kami menunggu nya di dalam. Aku sangat mencemaskan putra ku.." mohon Elisa dengan wajah memelas. Dokter hanya mengangguk tanda tidak masalah. Kedua nya masuk dan menemani si anak di ruang rawat observasi.


"Kenapa kau mengatakan jika dia putra kita, honey. Bagaimana jika ada orang yang mengenalinya, bisa jadi kita di sangka komplotan penculik anak ini." Ungkap sang suami setelah lama terdiam.


"Tidak! dia putra ku, putra kita


Jorge mendesah pasrah, akhirnya hanya mengangguk tanda setuju. Elisa memeluk erat suaminya sebagai ungkapan rasa terima kasih nya. Jorge hanya khawatir saat anak itu terbangun, maka pasti akan mencari kedua orang tuanya. Dilihat dari kalung liontin yang dikenakan nya, anak itu pasti berasal dari keluarga tak biasa. Berlian yang melekat di bandul liontin itu adalah berlian lanka. Artinya harga nya tentu saja tidak main-main.


Bisa jadi anak itu di culik untuk sebuah tebusan yang mahal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eeughhhhh..." lenguhan kecil itu membuat Elisa tersentak kaget. Segera wanita itu menekan tombol darurat di samping ranjang putranya.


"Sayang..? akhirnya kau bangun juga, mommy sangat merindukan mu." Ucap Elisa mencium sebelah wajah anak nya yang tidak terluka.


"Mommy?" tanya anak itu dengan wajah bingung, terlihat linglung dengan hal baru yang dia dengar dan lihat. Wajah Elisa memucat, dia khawatir Lukas akan histeris dan menyangka dirinya adalah seorang penculik.

__ADS_1


"Aku putra mu? siapa nama ku mom, kenapa aku tak ingat apapun..." desah nya sambil meringis. Elisa tersenyum lega, anggap saja dia jahat karena memanfaatkan situasi anak itu.


Klek


"Dokter, tolong periksa putraku. Lukas sedikit meringis seperti nya ada luka nya yang masih terasa sakit." Todong Elisa pada dokter yang baru saja masuk. Ya, nama itu mereka pakai sesuai apa yang tertulis di bandul kalung yang lukas kenakan. Sudah 9 hari lukas terbaring tak sadarkan diri, kini diri nya tengah di rawat di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura. Dua hari di rawat di rumah sakit yang pertama datangi, mereka bertolak membawa Lukas ke Singapura.


Kini Elisa berada di ruang sang dokter, untuk mendengarkan penjelasan mengenai perkembangan kesehatan sang anak. "Tuan muda sudah dalam kondisi stabil, luka nya sedang dalam proses pemulihan. Jadi memang akan sedikit nyeri jika bergerak. Keseluruhan nya baik, hanya saja..." Kata-kata dokter itu menggantung.


"Hanya saja apa dok?" desak Elisa tak sabar.


"Tuan muda mengalami amnesia Retrograde. Kehilangan separuh memori atau bisa keseluruhan, namun ini bersifat sementara. Pasien bisa saja kembali mengingat sewaktu-waktu dalam kurun yang tidak bisa di prediksi. Namun selebihnya kondisi tuan muda sangat baik, hanya tunggu pemulihan nya saja. Dan itu bisa di lakukan dengan cara rawat jalan." Jelas sang Dokter panjang lebar. Elisa hanya mengangguk pelan, ada kecemasan dalam hati nya. Bagaimana jika Lukas mengingat dalam waktu dekat, dia belum siap kehilangan putra nya itu.


"Terimakasih dokter, kalau begitu saya akan mengurus kepulangan putra saya hari ini juga. Kami akan kembali ke negara kami, dan melanjutkan pengobatan rawat jalan nya di sana." Putus Elisa membuat dokter sangat terkejut.


"Bukan harus hari ini juga nyonya, walau kondisi nya sudah membaik. Tetap harus kami pantau satu dua hari ke depan." Ungkap sang dokter mengira Elisa salah menangkap penjelasan nya tadi.


"Saya mengerti dok, hanya saja kami sudah terlalu lama pergi. Dan putra ku mengalami kecelakaan disini, sementara di negara ku. Aku punya seorang batita menunggu kami pulang segera." Dusta Elisa dengan wajah muram. Sang Dokter hanya bisa terdiam, kemudian mengangguk pelan. Mengingat jika suami wanita ini adalah salah satu pemilik saham terbesar di RS tersebut, sang dokter akhirnya menyetujui.


"Baiklah, aku akan meresepkan obat sebagai bekal kepulangan kalian. Mungkin sedikit sore, mengingat ini sangat mendadak." Tukas sang dokter pasrah.


"Tidak masalah, terimakasih banyak dokter."Elisa keluar dari ruangan sang dokter dengan raut wajah tak terbaca. Tangan nya tengah mengetik kan sesuatu di layar ponsel nya.


Sepanjang koridor menuju ruang rawat Lukas, pikiran Elisa berkecamuk. Selain memikirkan Lukas, Elisa terlupa sejenak dengan ibu mertua nya. Wanita tua itu akan menjadi sandungan bagi nya untuk membawa Lukas pulang.


Drrttt drrttt drrttt

__ADS_1


__ADS_2