Beloved My Ana

Beloved My Ana
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Ana mengerjabkan kedua mata nya, menelisik setiap sudut kamar tidur yang nampak sangat asing di penglihatan nya. Gadis itu mendudukkan dirinya, berusaha untuk mencerna situasi. Benar memang, itu bukan kamar Rick yang biasa dia tempati selama di apartemen.


Klek


Rick keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang nya, pemandangan yang sudah tak aneh lagi bagi Ana. Rick yang cuek membuat nya tak lagi menghiraukan penampakan Pria itu saat keluar dari kamar mandi.


"Pagi sayang, nyenyak banget tidur nya ya?" sapa Rick menghampiri Ana lalu mencium kening gadis kecil nya.


"Ini di mana?" tanya Ana masih bingung dengan keadaan.


"Oh ini, di rumah. Rumah kita, nanti aku akan mengajak mu berkeliling." Jawab Rick enteng. Ana berusaha mencerna perkataan Rick yang terdengar ambigu.


"Rumah kita Siapa ?" tanya Ana penasaran. Sejak kapan mereka atau tepatnya dirinya, sejak kapan diri nya punya rumah.


"Mandi lah dulu, pakaian mu sudah ada di lemari semua. Di dalam sana" tunjuk Rick ke sebuah pintu yang tidak terlihat seperti lemari bagi Ana.


Dengan wajah penuh kebingungan, Ana beranjak lalu meraih handuk yang di sodorkan oleh Rick pada nya. Apa mungkin dia mabuk angin semalam, sampai mengigau di pagi hari. Ana pusing sendiri memikirkan di mana dia berada sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ana celingukan mencari keberadaan Rick, tak lama suara pintu kamar terbuka. Rick masuk dengan membawa nampan di tangan nya.


"Ayo sarapan dulu, aku memesan bubur ayam sama pak lek gerobak yang lewat di depan rumah kita." Jelas Rick tanpa di minta, dia tau Ana masih bingung dengan keberadaan mereka sekarang ini.


"Sebenar nya kita ini di mana sih?" telisik Ana menatap Rick dengan intens.

__ADS_1


"Makan dulu, baru aku jelaskan nanti. Ayo, buka mulut mu" Rick bukan nya menjawab, malah mengarah kan sendok ke mulut Ana yang terlihat cemberut. Sekuat tenaga Rick menahan tawa nya agar tidak pecah.


"Menyebal kan" sungut Ana kesal.


"Makan yang benar, nanti kau bisa tersedak" Rick mencubit gemas hidung mungil Ana.


"Kau tidak makan juga? ini banyak sekali, rasa nya juga enak. Aku suka" puji Ana sambil mengangguk-angguk pelan.


"Kalau suka nanti kita bisa langganan. Setiap hari pak lek nya mutar dalam kompleks sini sampai jam 9 pagi." Rick menyuapi diri nya sendiri, dia pun penasaran dengan rasa nya. Aroma nya memang menggugah selera.


"Ya, enak. Aku juga suka, nanti kau bisa membeli ini aja untuk kita sarapan kalau tidak sempat masak. Rombong nya bersih, cara penyajian nya juga higenis. Beliau pakai sarung tangan plastik juga sendok untuk mengisi perintilannya." Jelas Rick memuji cara kerja penjual bubur ayam tersebut. Mereka makan dengan lahap, jam memang sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mata Ana berbinar saat melihat kolam renang, meski tidak lah besar bagi Rick. Namun bagi Ana, sudah lebih dari cukup.


"Ini juga rumah mu. Aku membeli nya atas namamu, jadi semua ini milik mu. Aku hanya menumpang saja, maka nya kau harus setia padaku. Kalau kau meninggalkanku, aku mau pulang ke mana lagi. Rumah ku pulang dimana kau tinggal." Ungkap Rick merapikan anak rambut Ana yang di terbang kan angin.


Ana melongo mendengar pengakuan Rick, benar kah? kenapa harus memakai nama nya segala, tidak kah itu berlebihan menurut nya.


"Kenapa bukan nama mu saja? bagaimana jika aku khilaf dan menjual nya nanti, kau pasti akan marah padaku. Lagi pula kita tidak bisa terus selama nya tinggal bersama seperti ini, kau sudah berjanji akan membiarkan ku pulang kalau sudah selesai pengumuman kelulusan." Rick terkesiap, dia belum menjelaskan rencana masa depan nya dengan Ana. Dan kini gadis itu meminta pulang ? Tidak bisa! Rick tidak mau.


"Kau ini, kenapa selalu merusak suasana." Dengus Rick kesal lalu membawa Ana duduk di kursi di samping kolam renang. Setelah Ana duduk Rick berjongkok lalu meraih kedua tangan Ana. Tatapan mata sayu nya menjelaskan, jika dia sedang di landa kecemasan sekarang.


"Ada yang ingin aku beritahu padamu, jangan menyela ku sampai aku menyelesai kan kalimat ku. Kau mengerti?" Ana hanya mengangguk pelan, dia pun penasaran dengan apa yang akan Rick bicara kan. Akan kah pria itu menyudahi hubungan mereka sehingga memberikan kompensasi berupa rumah tersebut. Mendadak hati nya tak rela, dia sudah sangat nyaman bersama Rick. Hati nya pun sudah sepenuhnya terisi oleh pria itu, perpisahan pasti akan melukai hati nya.

__ADS_1


"Dengar, kau tau mimi sudah merestui hubungan kita. Hanya tinggal didi saja, tapi aku tidak peduli. Bahkan jika mimi pun tak merestui hubungan kita, aku tidak akan menyerah untuk terus bersama mu. Aku ingin melanjutkan kuliah ku di sini saja, aku masih punya sedikit tabungan. Kurasa itu cukup untuk membiayai hidup kita hingga setahun kedepan tanpa pekerjaan. Tapi aku tetap akan mencari pekerjaan yang bisa ku kerjakan sepulang kuliah. Kau jika ingin kuliah juga, boleh kah aku sedikit bernegosiasi ? Bagaimana jika kau kuliah tahun depan saja? bukan apa-apa, keuangan kita belum stabil sekarang. Aku juga ingin kau kuliah, setelah aku mengumpul kan cukup uang, kau bisa mendaftar tahun berikut nya. Bagaimana ?" mata Ana berkaca-kaca, bukan karena sedih tak bisa kuliah, namun hatinya terharu oleh pikiran panjang Rick, yang memikirkan segala nya hingga sejauh itu.


"Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk kuliah, kau tau impian ku sangat sederhana. Aku ingin punya usaha sendiri, membuka warung makan kecil-kecilan juga berjualan kue. Tidak masalah untuk ku, hanya saja...." Ana nampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya yang akan terkesan memaksa Rick memberikan status yang jelas pada nya.


"Hanya saja apa? katakan padaku, aku ingin kita mulai terbuka untuk apapun yang kita hadapi kedepannya nanti." Ujar Rick lembut.


"Hanya saja, kita belum memiliki status yang jelas untuk tinggal bersama. Apa lagi di daerah perumahan, akan sangat berbeda kalau di apartemen. Orang tidak akan sibuk menilai hubungan orang lain." Tukas Ana akhirnya. Dia merasa malu, karena secara tidak langsung sudah mendesak Rick.


Rick tersenyum manis melihat wajah merona kekasihnya, dia tau Ana tengah malu setelah menyampaikan maksud nya.


"Itu juga yang ingin aku katakan pada mu. Aku ingin kita mengurus pernikahan kita ke gereja, hari ini. Aku sudah menelpon mimi, dan mimi pun sudah menyetujui nya. Semua berkas yang kita butuhkan sudah aku urus seminggu yang lalu. Kau ingat saat aku meminta surat baptis mu? aku sedang mengurus semua persyaratan untuk pernikahan kita." Terang Rick menjelaskan segala kesiapan yang mereka perlukan. Ana tertegun mendengar penuturan Rick, lagi-lagi diri nya kecolongan. Rick selalu berada dua langkah dari pikiran nya.


"Sungguh ? lalu bagaimana jika ayahmu tetap menolak pernikahan kita?" balas Ana cemas.


"Kita menikah cukup di hadiri oleh mimi dan ke delapan adikku. Jika didi masih menolak mu, itu masalah nya sendiri. Aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi. Jadi tidak perlu mencemaskan apapun lagi, aku akan menjadi suami dan ayah siaga untuk mu dan anak-anak kita nanti." Pungkas Rick meyakinkan kekasih nya.


"Baiklah. Lalu, apa boleh aku memulai usaha kuliner yang aku impikan ? Aku punya sedikit tabungan, seperti nya cukup. Aku ingin menyewa tanah kosongan saja, lalu membangun kios kecil dari bahan tripleks seperti warung tetangga ku dulu." Ana menatap Rick penuh harap agar di ijinkan kembali berjualan, namun sekarang dia ingin mandiri, tidak lagi menitipkan jualan nya di kios orang lain.


"Boleh, tentu saja boleh. Uangmu simpan saja untuk kebutuhan mendesak kita nanti, kita pakai uang di tabungan ku saja. Sengaja aku simpan untuk mu, aku tau kau sangat suka berjualan. Uang kuliah ku sudah aku sisihkan sendiri. Dan itu cukup sampai 2-3 semester. Oh ya, ini" Rick merogoh dompet nya lalu mengeluarkan kartu ATM dari sana.


"Mulai sekarang kau yang menyimpan nya, kau yang mengelola keuangan kita. Aku hanya bertugas untuk mencari kan mu nafkah, agar kau dan anak-anak kita nanti tidak kekurangan apapun. Simpan ya, pin nya tanggal lahir mu. Dan ini, ini yang akan aku pegang, isinya untuk biaya kuliah ku. Jika tahun depan keuangan kita sudah membaik, di sini juga akan terisi untuk biaya kuliah mu. Kau menyimpan tabungan mu di celengan, bukan? kita bisa ke bank besok untuk membuka rekening baru untuk mu. Tidak usah pakai ATM, aku tidak mau kau diam-diam mengambil uangmu untuk mencukupi kebutuhan kita nanti. Aku yang akan berusaha keras untuk mencukupi semua yang kita butuhkan. Kau cukup fokus pada usaha mu saja, dan uang nya langsung di simpan di tabungan mu." Papar Rick panjang lebar.


Hati Ana menghangat, air matanya kembali mengalir. Demi apapun dia tidak pernah meminta pada Tuhan untuk di kirim kan seorang pria seperti Rick. Namun Tuhan sungguh baik padanya. Di balik kesulitan hidup nya, Rick hadir bagai mata air di Padang pasir.


"Terimakasih... terimakasih banyak sudah memilihku, dan mencintai ku sedemikian besarnya. Aku tidak tau kebaikan mana yang pernah aku atau orang tua ku lakukan di masa lalu, sehingga aku begitu mudah mendapatkan hadiah terindah ini. Aku mencintaimu Rick, sangat." Ucap Ana dengan tangis bahagia. Rick memeluk Ana, dia pun tak habis bersyukur kepada Tuhan. Karena jika bukan Ana, mungkin sampai hari ini, dirinya belum menemukan belahan jiwa nya.

__ADS_1


Dan bisa jadi pula, dia akan menerima perjodohan meskipun terpaksa. Hanya agar ayah nya tidak terus meneror hidup nya. Dan dia semakin mengerti arti kalimat, 'Semua kan indah pada waktu nya' dan lihat lah. Hidup nya lebih dari indah namun juga sempurna.


__ADS_2