Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kembali


__ADS_3

Dengan gugup dokter itu berjalan menuju ranjang Ana, keringat dingin mulai mengalir dari kepalanya. Bukan perkara takut, namun sudah satu jam, bagaimana bisa? mustahil bukan? satu-satunya kesimpulan mereka adalah, suami wanita tersebut, otw kehilangan kewarasan nya. Begitu lah isi pikiran mereka masing-masing.


"Silahkan dok!" suara Rick mengagetkan sang dokter.


"Ah? ya, sebentar. Sus?" dokter tersebut tak ingin ikut gila sendirian, salah satu perawat itu maju dan memberikan apa yang dokter itu perlukan. Senter untuk memindai retina mata Ana, meski pikiran mereka cukup hanya sekedar formalitas saja. Agar pria calon penghuni rumah sakit jiwa itu tak terus mencecar mereka untuk memeriksa jasad istrinya.


Mata sang dokter menyipit, ketika pupil Ana merespon cahaya senter nya. Bukan nya langsung senang, keringat nya justru semakin deras mengucur. Begitu juga perawat yang berdiri persis disamping sang dokter, kedua nya bertatapan dengan raut wajah sukar.


Berulang-ulang dokter itu mengarah kan senter nya, untuk memastikan jika diri nya pun tidak sedang otw sakit jiwa. Dan detik berikutnya, senter di tangannya terjun bebas mencium ubin, saat mata Ana terbuka lebar.


Perawat pun memekik kaget lalu beringsut memeluk rekan nya tanpa sadar. Dokter itu masih gemetar, berusaha menetralkan getar tubuh nya yang mulai tak terkendali. Bisa-bisa nya dia terserang Tremor dia saat yang tak tepat. Terlalu banyak menonton film horor misteri, membuat otak nya berkelana jauh tanpa bisa di cegah.


Sementara Rick terus mencium seluruh wajah istri nya dengan penuh rasa syukur.


"Akhirnya nya kau bangun sayang, aku tau kau tidak akan tega meninggalkan suami mu yang lemah ini sendirian." Celoteh Rick selesai memberikan banyak Ciuman sayang pada istri nya.


"Dok? periksa istri ku" titah Rick tanpa tau jika Dokter tersebut terserang rasa takut karena melihat sebuah keajaiban di luar nalarnya. Sebegitu kuatkah ikatan perasaan keduanya, hingga bisa menarik kembali sang istri dari kematian nya.


"Hah? ah ya ya, ma maaf" Ujar si dokter gugup, lalu mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksa Ana. Selesai memeriksa, dokter menulis beberapa hal di lembar berkas pasien. Tidak lupa mencoret tulisan status kematian wanita itu, yang bahkan sudah di stempel oleh pihak rumah sakit.


"Kami akan memindahkan ibu Ana ke ruang rawat inap, setelah ini suster akan memasang kan infus nya terlebih dahulu juga memberikan beberapa obat melalui infus." Jelas Dokter tersebut setelah benar-benar yakin akan penglihatan nya, dia tersenyum senang. Senang karena akhirnya pria dihadapannya itu ternyata masih waras. Dan senang karena dirinya pun masih cukup sehat sehat, jiwa maupun mental nya.


"Baik dok, terimakasih. Dan ya, tolong jelaskan pada keluarga ku, jika istri ku baik-baik saja. Agar mereka percaya jika Dokter yang berbicara langsung." Tukas Rick mengucapkan terimakasih juga sekaligus meminta tolong.

__ADS_1


"Baik tuan muda, kalau begitu kami permisi dulu. Bisa berikan minum juga sedikit makanan lunak pada ibu Ana." Setelah berpamitan, dokter dan dua perawat itu keluar dari ruangan Ana.


Ana yang masih lemah, sekaligus linglung dengan keadaan, hanya terdiam. Tubuhnya lemah, untuk menggerakkan tangan dan kaki nya saja dia masih belum mampu.


"Aku senang kau kembali sayang, pasti kau tidak rela jika aku membuka warung makan tanpa mu, kan? Kau pasti cemburu jika aku nanti berfoto dengan ibu-ibu genit yang berbelanja di warung kita." Rick kembali berceloteh, Ana hanya tersenyum simpul. Mulut nya masih terlalu kelu untuk bersuara.


klek


Joi dan Delia masuk, dan melihat bagaimana Rick tengah mencium lembut tangan istrinya. Hati kedua nya menghangat, begitu ajaib nya kuasa Tuhan. Mengembalikan ruh wanita kesayangan Rick tersebut ke dalam jasad nya. Sekuat itu cinta yang ke-dua nya miliki, sehingga takdir pun tak mampu untuk memisahkan mereka.


"Nak?" sapa Joi dengan suara bergetar, padahal sejak di luar, Delia sudah mewanti-wanti agar adik nya dapat menahan diri. Ana pasti belum mengetahui apa yang terjadi pada nya, dia tak ingin menantu adik nya itu merasa kebingungan dengan keadaan.


"Mimi?" Rick menoleh dan menatap senang pada ibunya "lihat Ana ku, istri kembali. Sekarang mimi percaya kan? Ana tidak akan mungkin meninggalkan Rick sendirian dengan mimpi indah kami." Ujar Rick dengan mata berkaca-kaca. Joi hanya mengangguk pelan, lalu mendekati ranjang Ana. Ana tersenyum lembut ke arah mertua nya.


Joi mencium kening Ana begitu lembut, seolah takut kulit mulus Ana lecet karena sentuhan nya.


"Kami merindukan nasi kuning buatanmu, papi Zero bilang, tidak sabar ingin makan dadar gulung gula merah yang kau buat." Seloroh Delia mencairkan suasana, suara langkah kaki menarik perhatian mereka. Jovan dan Zero ikut masuk begitu juga keluarga yang lain, ada Debya juga Jeslyn.


"Hai nak, senang kau kembali pulang. Segera lah pulih, suami mu ini sangat susah di kendalikan jika bukan kau yang menjinakkan nya." Kekeh Zero membuat tawa mereka mengisi ruangan tersebut.


"Maaf, kami ingin memasang infus ibu Ana" ujar seorang perawat wanita, kedua nya masuk dengan mendorong meja dorong berisi keperluan medis diatasnya.


"Kau jangan ikut menyentuh istri ku" ujar Rick memperingat kan, hingga tangan perawat pria itu menggantung tak jadi mengoles alkohol di punggung tangan Ana. Dengan kikuk pria itu memberikan kapas alkohol itu pada rekan nya. Selesai memasang infus dan memasukkan obat sesuai indikasi yang di perlukan, kedua pamit Keluar.

__ADS_1


"Lihatlah, buah jatuh tak jauh dari pokok nya" ejek Zero tak sadar diri, Jovan mendelik ke arah ipar nya yang sedang hilang ingatan tersebut.


"Diamlah kalian berdua" tegur Delia menatap kedua pria bucin akut tersebut. Kedua nya langsung kicep tak lagi bersuara.


"Permisi bu, kami akan memindahkan ibu Ana ke ruang rawat inap" sela seorang perawat wanita, di belakang Joi.


"Ah, ya silahkan." Rick mengambil tempat dikepala istri nya, sementara perawat di ujung kaki Ana. Mereka menuju elevator untuk mencapai ruangan perawatan Ana dilantai atas.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Ini ada bubur, makan ini dulu ya. Nanti kalau sudah baikan, kita bisa makan lalapan dengan sedikit sambal penyet tempe seperti biasa." Bujuk Rick lembut, tangan nya terus mengaduk bubur agar lekas dingin. Ada suwiran ayam yang di buat sekecil mungkin agar istri nya tak lelah mengunyah, begitu lah pikirnya.


"Tidak apa-apa, ini saja cukup." Rick mulai menyuapi istri nya dengan telaten, sesekali mengelap mulut Ana. Semua mata tertuju pada pasangan pengantin baru tersebut.


"Sayang?" Jovan memberanikan diri untuk menyapa istri nya, rasa nya sangat tersiksa, sudah seminggu Joi tidak pernah berbicara dengan nya. Wanita itu sibuk mengurus pernikahan putra mereka, dan dia menyesal tidak menghadiri pernikahan anak sulung nya itu.


"Hmmm?" balas Joi acuh, mata nya masih fokus pada anak dan menantu nya.


"Didi kangen di suapin mimi kaya gitu, didi tidak makan dengan benar selama mimi sibuk" Ujar Jovan sendu. Joi menghela nafas panjang, lalu menoleh pada suaminya.


"Yang suruh jadi orang keras kepala itu Siapa ?" tanya Joi sarkastik, Jovan di buat tak bisa menjawab.


"Ya maaf, didi nyesel, didi juga sedih tidak bisa hadir menyaksikan pernikahan anak kita. Didi malu datang, didi kan tidak di undang " ujar Jovan merendahkan suaranya di akhir kalimat sambil menunduk lesu.

__ADS_1


Rick yang mendengar kalimat sang ayah menoleh sekilas, rasa kesal di hati nya masihlah ada. Namun memusuhi orang tua nya, dia pun tak bisa, mengingat bagaimana menyesal nya sang ayah atas kejadian yang terjadi. Namun bibir nya masih bungkam untuk sekedar menyapa ayahnya, bukan perkara gengsi, dia ingin ayahnya belajar menghargai keputusan dan pilihan anak-anak nya.


Agar ke depan nya nanti, tidak ada lagi kasus seperti ini. Tidak selamanya perjodohan berjalan baik, maka sebaiknya biarkan anak-anak yang memilih pasangan hidup mereka masing-masing.


__ADS_2