Beloved My Ana

Beloved My Ana
Layak Mendapatkan piala Oscar


__ADS_3

Sudah 3 minggu sejak Ana pulang dari rumah sakit, kondisi nya sudah lebih baik. Luka di perut nya pun sudah mengering sempurna di bagian luar nya. Sementara kondisi Lucas juga semakin membaik, Ana belum di ijinkan Rick untuk menjenguk nya.


Ana mencemaskan kondisi kakak nya, sejak dia tau jika Lucas adalah kakak nya, Ana sangat senang. Pantas saja perasaan nya berbeda saat menatap mata coklat Lucas yang sama persis dengan nya.


"Hari ini mau mampir ke rumah sakit lagi, by?" tanya Ana sambil memasangkan dasi suami nya.


"Hmmm... mau menitipkan makanan lagi?" balas Rick lembut sembari merapikan anak rambut istri nya.


"Ya, aku menitip kan kue dan makan siang untuk kakak. Dia pasti bosan makan makanan rumah sakit. Apa kak Sena masih di rumah sakit merawat kak Lucas ?" tanya Ana lagi, Sena merawat Lucas atas permintaan Rick. Sejak pria itu koma hingga terbangun sampai sekarang. Walau awal nya gadis itu menolak, namun bujukan keluarga lain nya membuat nya mau tak mau melakukan nya.


"Masih, apa kau ingin menitipkan makanan untuk nya juga? aku akan bilang pada bibi, jangan terlalu lelah. Aku tak ingin kau sakit, aku ingin segera menanam benih ku di perut mu. Aku tidak sabar menjadi seorang ayah," nasihat Rick dengan wajah berbinar, bayangan akan menjadi seorang ayah selalu menghantui nya setiap hari. Rasa nya sudah tidak sabar, namun mengingat kondisi istri nya, Rick tidak pernah memaksa. Sebagai pria normal yang sudah menikah, tentu saja Rick tersiksa. Namun memaksakan kehendak, dia merasa menjadi pria brengsek. Dia masih bisa menggunakan cara lain untuk memuaskan hasrat nya, tanpa harus membuat istri nya tertekan.


Sementara wajah Ana merona mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Rick.


"Seminggu lagi, hubby bisa menabur benih unggul. Aku juga sudah siap menjadi seorang ibu, rumah kita pasti akan ceria dengan suara tangisan bayi. Aku juga tidak sabar" balas Ana membayangkan bagaimana keseharian nya nanti merawat bayi nya.


"Aku masih sabar sayang, dua minggu lagi juga tidak masalah. Tapi kalau kau bilang masih seminggu lagi, ya aku bisa apa jika kau memaksa. Aku pasti menyambut nya dengan suka cita." Kelakar Rick mencium gemas pipi istri nya yang mulai terlihat bulat. Ana melotot mendengar ucapan suaminya.


"Aku tidak memaksa, ya" kesal Ana manja seraya mencubit gemas perut suami nya. Rick mengaduh lalu memeluk sayang istri nya. Hidup nya sudah sempurna, apa lagi yang dia cari. Bisa di bayang kan bagaimana nasib nya jika Ana nya tidak kembali, Rick sudah berpikir akan mengakhiri hidup nya sesaat setelah sang istri di kebumikan. Tuhan mengasihi nya, tidak ingin Rick melakukan dosa dalam hidup nya, lantaran hati nya terluka karena kehilangan sang istri.


"Ayo kita sarapan," ajak Rick merangkul bahu Ana menuju lantai bawah, ada bi Sidah sedang menata meja makan. Wanita 30an itu tersenyum menyambut majikan nya, kemudian berlalu menuju dapur.

__ADS_1


"makan yang banyak sayang, aku meminta bibi membuat kan sup jagung manis untuk mu. Agar luka dalam mu lekas pulih sempurna." ucap Rick penuh perhatian, pria itu menyendok kan kuah sup serta isi nya ke piring sang istri. Tidak lupa ayam yang sudah Rick pesan untuk di iris-iris tipis untuk istri nya.


"Ini terlalu banyak, by." Protes Ana, namun tak di hiraukan oleh Rick. Melihat Ana makan banyak membuat nya bersemangat untuk bekerja, dia punya alasan untuk bekerja keras agar bisa memberikan nutrisi yang cukup bagi istri nya. Begitu lah pikir Rick, cukup sederhana namun penuh makna.


"Kau harus makan banyak, nanti lambung mu akan mulai terbiasa dengan porsi makan seperti ini. Aku tidak ingin menimbun uang tapi Istri ku tidak terpenuhi kebutuhan nya. Aku pun punya stimulus untuk bekerja keras, aku punya istri dan tak lama lagi, aku akan punya banyak anak. Aku tak ingin kau keteteran dengan tubuh kecil mu itu, mengejar anak kita kesana kemari. Jadi menurut lah pada suami mu ini, mengerti sayang?" Ana terharu mendengar kalimat panjang penuh perhatian suami nya. Lalu mengangguk pelan, jika dia menjawab, sudah bisa di pastikan, air matanya pun ikut berbicara.


Rick paham akan situasi istri nya tak lagi bertanya apapun, kedua nya makan dengan lahap. Rick yang selama ini tidak suka makan banyak, kini mengubah mindset nya. Dia hanya perlu olahraga jika di rasa bobot tubuh nya mulai merangkak naik, namun istri nya, tidak lah masalah mau sebesar apapun wanita itu nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Auwww auwww auwww.. kau ini kenapa kasar sekali, lihat lah ulah mu. Luka ku pasti kembali terbuka" omel Lucas pada wanita yang baru saja mengganti baju nya.


"Kan sakit, kau saja yang tidak merasa." Sanggah Lucas tak mau kalah.


"Untuk apa aku merasakan, yang terluka kan kau, bukan aku. Repot sekali mengurus mu, seperti mengurus balita saja." Lanjut Sena kembali mengomel, wanita itu duduk bersandar di sofa, berusaha menenangkan hati nya. Merawat Lucas menguras banyak energi baik dalam diri nya.


Klek


Rick masuk dengan dua paper bag di tangan nya, kening nya mengerut heran. Saat melihat dua insan yang tak saling berbicara, dan sibuk menampilkan wajah tak enak di pandang.


"Kalian kenapa ? apa ada yang masalah dengan hasil kesehatan mu hari ini kak?" Rick mulai terbiasa memanggil kakak pada Lucas, Lucas pun senang, terlebih kini telah bertemu dan dekat dengan sang adik yang selama ini dia cari.

__ADS_1


"Dia mau mencelakai ku, mengganti baju ku sudah seperti orang menempa besi. Kasar sekali" adu Lucas pada adik ipar nya, Sena memutar mata nya jengah.


"Dasar bayi! begitu saja mengadu, tidak malu sama umur." Ketus Sena sedikit sentimentil. Rick juga sepupu nya, harus nya dia yang mengadu karena dia perempuan. Nah! Lucas? dasar pria cemen batin nya mengumpat kesal.


"Kakak ini, bersikap lah seperti seorang wanita. Sudah saat nya kau memikirkan tentang pasangan hidup, orang akan mengira kau belok jika terus bersikap kasar pada pria." Tegur Rick menasehati kakak sepupu nya.


"Kau sudah seperti mami sama papi saja, efek sudah menikah, kau jadi semakin tua dari umur mu." Sarkas Sena menatap kesal pada adik nya.


Rick hanya menggeleng kepala nya, kakaknya berubah saat pernikahan nya batal. Calon pengantin prianya tewas, saat dalam perjalanan menuju hotel di mana pernikahan mereka di gelar. Sena yang ceria dan penuh kasih, berubah dingin dan tak tersentuh. Terlebih kecelakaan itu di sabotase oleh seseorang yang sampai saat ini belum bisa di tindak oleh hukum. Kurang nya bukti, membuat penyelidikan terpaksa di hentikan. Sena menganggap tak seorang pun yang bisa memahami hati nya selain Andres. Sepergi nya Andres, hidup nya hanya seputar restoran yang mereka bangun berdua. Hanya itu kenangan Andres dalam hidup nya, dia tidak butuh yang lain lagi. Termasuk pengganti kekasih nya.


"Ini, Ana menitipkan kue juga untuk makan siang. Panas kan saja nanti jika ingin makan, aku tidak bisa lama, aku ada janji sama orang yang punya lahan kemarin. Aku tidak sabar untuk membangun warung makan impian istri ku, pasti dia sangat senang." Ujar Rick setengah berkhayal akan reaksi sang istri nanti, saat melihat warung impian nya sudah di bangun.


"Kau masih ingin membuka warung makan itu?, kenapa tidak langsung restoran atau cafe saja?" tanya Sena heran.


"Ana ingin memulai usaha nya dari bawah terlebih dahulu, lagi pula, Ana tidak tau jika lahan nya sudah aku beli. Biar kan dia tau nanti saja, aku bisa berdalih jika pemilik nya membutuhkan uang mendesak. Ana ku sangat sensitif, aku tak ingin dia kepikiran berapa banyak uang yang aku keluar kan untuk membuka kan warung untuk nya." Jelas Rick panjang lebar, Sena menatap kagum pada adik nya. Pemikiran Rick layak mendapatkan piala Oscar. Kedewasaan nya terbentuk tanpa siapa pun yang membentuk nya, banyak nya adik yang dia miliki membuat nya mampu berpikir panjang. Menabung dan bekerja sebagai tukang poto copy di perusahaan sang ayah, membuat nya mampu mengumpulkan pundi-pundi walau tidak lah besar.


Uang jajan nya pun hampir jarang dia gunakan, uang itu akan mengendap dalam rekening nya tanpa dia sentuh jika tidak mendesak. Paman nya saja seusia Rick bahkan tidak memiliki tabungan mandiri, kakek dan neneknya harus ekstra memberikan uang saku pada paman nya agar cukup untuk sebulan.


Sampai di hukum menjadi seorang guru pun, paman Jovan nya hampir tak memiliki sepeser pun uang jika tidak meneror ibu nya.


"Itu bagus, belajar lah mandiri sampai tak seorang pun akan berkata di kemudian hari, jika kesuksesan kalian berasal dari belas kasihan orang tua atau bantuan siapapun." Sela Lucas memberikan semangat pada adik ipar nya. Rick tersenyum bangga, setelah berbasa-basi, Rick pamit pergi.

__ADS_1


__ADS_2