Beloved My Ana

Beloved My Ana
Kepergian


__ADS_3

"Ana, menantuku yang malang. Apa kau tidak merasakan keterikatan dengan nya. Maksud ku, tidak adakah bagian dari wajahnya yang mengingatkan mu pada seseorang di masa lalu?" Napas Sidharta tercekat mendengar kalimat penuh makna dari mulut Joi.


"Ah ya, berapa lama kau bekerja sama dengan perusahaan Piazon group ? apa kau tidak merasa familiar dengan wajah pria muda itu? Kau harus menelisik dengan jelas wajah keduanya nanti." Lanjut Joi tersenyum miring.


"Ah bodoh nya aku, kenapa aku bisa lupa. Jika kedua nya kini tengah berada di ujung maut. Semoga saja sesal mu belum terlambat, tuan Sidharta. Aku permisi, menantuku butuh dukungan dan doa dari ku sebagai orang tua nya. Kasihan sekali putri ku itu, yatim piatu yang malang." Joi mengakhiri kalimat penuh sindiran nya dengan seringai mengejek.


Sidharta kehabisan kata-kata, pikiran nya melayang pada kejadian belasan tahun lalu. Mungkin kah? lalu kenapa kedua nya bisa terpisah ? banyak tanya mengganggu pikirannya. Benar kah keduanya adalah orang yang dia cari-cari selama ini ? Anak-anak nya, anak kandung nya.


"Pak, istri anda siuman." Ujar seorang perawat membuyarkan lamunan Sidharta.


"Ah? ya, terimakasih sudah memberitahu." Sidharta menghampiri ruangan sang istri, Sely masih sesegukan. Menangisi nasib putri nya.


"Lakukan sesuatu pa, Laporkan mereka ke polisi. Jangan diam saja, lebih baik gadis itu yang mati. Aku tidak rela jika anakku yang pergi. Maura ku sangat berharga, tidak peduli dia seorang pembunuh sekalipun. Aku tidak peduli." Raung Sely memukul-mukul dada suaminya. Sidharta bergeming, tidak tau harus berbuat apa.


Kenyataan yang baru saja dia ketahui membuat nya tak bisa berkutik, jika benar Ana dan Lucas adalah anak-anak nya. Maka dia telah menjadi orang tua paling berdosa di muka bumi ini. Secara tak langsung, diri nya ikut andil mengantar kan kedua nya ke pembaringan ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Maura... Maura kita pa.. kasihan sekali dia.. Pria mana yang mau menerima kekurangan anak kita nanti.." Sely kembali tergugu. Tubuh nya lemah karena terlalu banyak menangis.


"Kita tidak bisa menuntut Rick, karena perbuatan Maura sudah di luar batas. Maura membuat nyawa dua orang nyaris melayang, dan entah bagaimana keadaan mereka sekarang. Jika Maura baik-baik saja, maka bukan di sini tempatnya sekarang. Melainkan penjara." Tegas Sidharta lugas.


"Jadi papa membela mereka dari pada anak kita sendiri ? begitu ? biarkan saja mereka mati, aku tidak peduli, anak ku tidak salah! Seharusnya gadis itu tidak merampas Rick dari Maura, maka tidak akan Begini cerita nya. Ini semua gara-gara gadis kampung sialan itu!" Seru nya melotot marah pada suami nya.


"Inilah didikan mu selama ini, sehingga Maura selalu melakukan apapun yang dia sukai tanpa peduli pada perasaan orang lain. Kita tidak bisa memaksa Rick memilih Maura, lihat saja sekarang. Bayangkan jika Rick terpaksa memilih Maura, bisa jadi anak kita sudah dalam peti mati karena perbuatan Rick. Sadarlah, Rick tidak mencintai Maura, bahkan menyukai sebagai teman pun tidak. Berhenti terus menyalahkan orang lain, aku muak dengan sikap keras kepala kalian berdua!" Balas Sidharta tak kalah kesal. Nafasnya tersengal-sengal saking emosi nya.


"Kau menyalahkan ku? bagaimana bisa, Maura juga anakmu. Kita sama-sama mendidik nya, kenapa hanya didikan ku saja yang salah! lalu bagaimana dengan didikan mu selama ini ? apa sudah benar, hah?" teriak Sely mulai hilang kendali.


Kini pikiran nya berfokus pada Ana dan Lucas, entah kenapa dia merasa kan perasaan tidak enak menerpa hatinya. Sepanjang jalan menuju ruangan dimana keduanya berada, tak henti-hentinya Sidharta menguntai banyak doa.


Dari ujung lorong, Sidharta melihat bagaimana Rick terduduk lemas dalam pelukan ibu nya. Perasaan cemas mukai merasuki pikiran nya. Akan kah salah satu nya? tidak dia tidak siap, tidak saat dia bahkan belum bertemu kata dengan keduanya. Langkahnya dipercepat, hatinya semakin teriris saat mendengar tangis pilu Rick memanggil-manggil nama istrinya.


"Sabar sayang, Tuhan tidak ingin Ana menderita lebih lama dalam rasa sakit nya. Jangan seperti ini, Ana tidak akan suka melihat mu meratapi nya." Bujuk Joi dalam isak nya, hatinya pun sama sakit nya. Baru saja dia berbincang dengan menantu nya. Baru saja putra nya mengucapkan sumpah setia pada wanita muda itu. Kini takdir sudah memisahkan mereka.

__ADS_1


Air mata Sidharta mengalir tanpa bisa dia tahan, tubuh nya limbung. Tidak mungkin ? Jovan yang menyadari kehadiran Sidharta menghampiri pria itu.


"Kau tidak apa-apa, tuan Sidharta ? jika ingin membahas soal putri mu, maaf, kami sudah menyerahkan semua pada pengacara keluarga. kau bisa menghubungi nya, menantu ku telah pergi. Dan aku sangat menyesali kebodohanku. Aku bodoh karena menolak gadis baik-baik untuk mendampingi putraku, kini Tuhan sudah mengambil nya kembali. Anakku di hukum karena dosa ku, aku menyesal" Jovan tak lagi dapat menahan kesedihannya, pria itu menangis. Sejak tadi Rick menolak kehadiran nya, bahkan menoleh pada nya pun. anak nya tak sudi. Hati nya sakit. Namun dia juga malu pada diri nya sendiri, andai perjodohan konyol itu tidak pernah terjadi. Mungkin kejadian buruk ini tidak akan menimpa keluarga nya, terutama putra nya.


"Apa dia.. gadis itu.. apa.. dia..?" pertanyaan Sidharta tercekat di tenggorokan. Tak mampu melanjutkan kalimat yang akan menyakiti hati nya sendiri.


"Menantu ku pergi, dia pergi karena putri mu. Kau memelihara seorang psikopat dalam keluarga mu, sementara anak kandung mu hidup dalam keadaan yang sulit. Kau puas sekarang! lihat lah, satu anak mu masih bertaruh nyawa di dalam sana! Mungkin kau akan senang jika kedua nya tiada, kau bebas menggunakan harta benda Sahira bersama istri mu yang serakah itu!" Teriakan penuh amarah Joi menggema di lorong rumah sakit, semua mata tertuju padanya termasuk Rick dan Jovan.


Putri siapa yang Joi maksud ? Ana? bagaimana bisa? Berbagai pertanyaan bergelayut dalam benak mereka semua. Sidharta menjatuhkan tubuhnya ke lantai, menangisi kepergian putri nya untuk kedua kalinya. Kini putra nya pun tak baik-baik saja. Pria paruh baya itu memukul-mukul dada nya yang terasa sesak.


15 tahun mencari, saat putra putri nya sudah di depan mata. Dia malah mengantar kan kedua nya pada maut.


"Air mata mu tidak di perlukan di sini! Pergilah tuan, aku masih menghargai mu sebagai orang tua, jika tidak, aku akan menghajar mu seperti yang ku lakukan pada putri kebanggaan mu itu!" Usir Rick menekan setiap kata dalam kalimat nya. Hati Sidharta sakit mendengar nya namun saat ini dia tidak punya kuasa untuk menentang Rick. Bahkan jika benar terbukti Ana adalah putri nya, dia terlambat, tanggung jawab Ana telah berpindah ke pundak pria muda itu.


Dengan gontai Sidharta pergi dari sana, membawa seribu luka yang tak akan pernah terobati. Langkahnya tak tentu arah, pikiran nya kosong. Sahira nya? dimana kah wanita itu berada. Apakah kecelakaan 15 tahun lalu telah memisahkan kedua anak nya? lalu bagaimana dengan istri nya, di mana Sahira nya berada?

__ADS_1


__ADS_2