Beloved My Ana

Beloved My Ana
Ketakutan 2


__ADS_3

Ana duduk di sebuah kursi taman, saat turun dri angkot, Ana berjalan tak tentu arah. Dan berakhir lah diri nya di taman tersebut. Ana tengah merenungi kata-kata Maura, hati nya sakit mendengar kalimat- kalimat menyakitkan tersebut hampir setiap hari. Maura dan gengnya selalu saja mencari celah untuk mengganggu nya, saat Rick tidak ada di samping nya .


"Boleh ikut duduk di sini tidak ?" suara ramah seorang pria membuat Ana mau tak mau menoleh.


"Silahkan" balas Ana tak kalah ramah, lalu bergeser sedikit.


"Kenapa geser? takut aku jangkitin covid ya?" Seloroh nya tertawa pelan membuat sudut bibir Ana terangkat naik.


"Tidak, aku hanya ingin memberikan ruang lebih luas untuk mu duduk." Jelas Ana tak enak hati.


Si pria tertawa renyah "aku bercanda, oya terimakasih sudah berbagi tempat duduk dengan ku." balasnya sembari mengulurkan tangan. "Lucas. Siapa namamu ?" lanjut nya lagi menunggu tangannya di sambut oleh Ana.


Baru saja Ana akan mengulur kan tangan nya, namun telapak tangan lebar seseorang sudah mendahului Ana untuk bersalaman dengan pria tadi.


"Rick, calon suami gadis yang kau ajak berkenalan ini." Ujar Rick dengan suara di tekan, rahangnya mengeras menahan cemburu dan kesal.


Ana melongo, sejak bila Rick mengikuti nya, bukan kah pria itu suka rela melepas kan tautan jemari mereka tadi.


"Oh, hai. Hmmm.. Maaf, tadi aku melihat nya sedang sendirian dan terlihat sedih. Jadi aku berinisiatif untuk menemani nya saja. Maaf" ujar si pria dengan raut wajah tak enak.


"Lain kali jangan mengajak seseorang berkenalan dengan lancang, bisa saja dia adalah kekasih atau bahkan istri seseorang. Kau akan di anggap pria perusak hubungan orang lain." Ucap Rick menatap tajam pria di hadapannya, bisa Rick nilai dari penampilan nya saja. Jika pria di depan nya adalah seorang eksekutif muda. Bisa jadi seorang CEO atau paling tidak memiliki jabatan penting. Sedangkan dirinya, hanya calon mahasiswa dengan pekerja sampingan membantu sang ayah di kantor. Yang gaji nya pasti lah tidak sebanding dengan pria di hadapannya itu. Rick minder, ketakutan nya semakin bertambah. Bagaimana jika seperginya nanti, Ana kembali bertemu dengan pria itu. Bisa jadi mereka akan dekat dan mungkin menjalin hubungan.


Melihat bagaimana luwes nya pria itu mengajak Ana berkenalan, dengan cara yang cukup menyenangkan hati para perempuan.


"Ah ya, maaf sekali lagi." Ujar nya sedikit kikuk, bagaimana tidak, anak SMA mengatakan nya sebagai perusak hubungan orang ? bukankah itu menjatuhkan harga dirinya.


"Aku seperti mengenal mu? apa kau bekerja di bagian foto copy ? aku pernah melihat mu entah di perusahaan mana, sedang mengcopy banyak dokumen. Apa itu bidangmu?" ujarnya menilik informasi yang baru saja terbersit di ingatan nya.

__ADS_1


Rick melirik Ana, ada sedikit rasa malu menyelinap di hati nya pada gadis itu. Ana mengetahui pekerjaan nya hanya sebagai seorang pesuruh.


"Ya, dia bekerja di bagian itu tuan. Kekasih ku ini sangat rajin, bahkan masih sekolah saja, dia sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami berdua." Ana angkat suara untuk membela Rick. Dia sedikit kaget, namun juga bangga, Rick yang dia kenal sebagai anak orang kaya, mau bekerja dari bawah tanpa rasa malu. Ana menggandeng lengan Rick dengan perasaan hangat, pantas saja Rick sering terlihat kelelahan jika pulang bekerja. Seusai sekolah Rick mengantar Ana pulang ke apartemen lalu lanjut bekerja. Pria itu kadang tidak sempat makan siang, hanya membawa bekal yang dia buat dan mengganti baju saja, lalu berangkat lagi.


Hati Rick berdesir hangat, dia bahagia mendapatkan pembelaan sedemikian rupa dari Ana. Keyakinan nya semakin besar untuk menjadikan gadis itu sebagai pelabuhan pertama dan terakhir nya.


"Kalau begitu kami permisi dulu tuan..." ucapan Rick menggantung.


"Lucas. Lucas Piazon, CEO Piazon group." Ujar Lucas tersenyum bangga, namun tidak membuat hati Rick goyah. Kekuatan nya kini tengah menopang lengannya dengan sangat kokoh, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri.


"Senang berkenalan dengan anda, tuan Muda Piazon. Kalau begitu kami permisi dulu, selamat siang. Semoga hari anda menyenangkan" Rick membawa Ana menuju mobil nya, sepanjang jalan keduanya, tatapan Lucas berfokus pada Ana. Gadis itu menyita perhatian nya sejak dua bulan yang lalu, saat itu dompet nya tertinggal di troli belanjaan di sebuah minimarket. Dan Ana lah yang menemukan nya, lalu menitipkan nya di kasir. Lucas mengetahui itu dari rekaman cctv minimarket tersebut.


Jarang ada orang sejujur itu di masa dewasa ini, dan dia merasa tertarik dengan wajah bulat Ana yang menggemaskan. Hingga diam-diam dia mencari informasi tentang Ana, dan setelah mengetahui detail hidup Ana yang tak mudah. Lucas bertekad untuk mendekati gadis itu lalu menikahi nya. Dia telah jatuh cinta pada pesona sederhana seorang Ana.


Namun informasi yang dia peroleh, membuat nya marah. Ana tinggal bersama seorang remaja. Yang ternyata hanya bekerja sebagai tukang foto copy di perusahaan rekan bisnis nya, Jovan. Tanpa dia tau, jika Rick adalah anak sulung si pria bucin gila tersebut. Dia mulai berpikir untuk mendekati Ana dengan cara lain, dia pikir Ana sama saja seperti gadis lain. Yang mau melakukan apa saja demi lembar-lembar rupiah.


Rick memang meminta agar identitas nya di rahasiakan, untung saja diri nya bukanlah kembar identik dengan Bram. Sehingga kadang orang tidak ngeh, jika mereka kembar.


"Kenapa kau malah bersantai bersama pria lain saat aku kelimpungan mencari mu?" tanya Rick marah namun jarinya tetap di tautkan dengan jari Ana.


"Aku di sana lebih dulu, pria itu baru datang tidak lama sebelum kau datang " Sanggah Ana tak ingin di salah kan. Lagi pula suasana hati nya sedang tidak baik sekarang.


Rick melirik dengan ekor matanya, dia tau Ana jujur. Tadi nya dia ingin Ana duduk di sana sampai hati nya tenang, namun dia malah kecolongan. Hingga akhirnya Rick memutuskan keluar dari mobil sebelum predator itu melahap gadis nya yang polos.


Rick menepikan mobil nya di bahu jalanan sepi, keduanya sudah sangat jauh dari pusat kota. Entah kemana Rick akan membawanya. Ana tidak protes, karena percuma saja pikirnya.


Setelah berpikir sejenak akhirnya Rick membuka suara "baiklah, ayo kita menikah kalau begitu" Ajak nya dengan wajah datar, sungguh lamaran yang sangat tidak manusiawi bukan? tidak ada hal romantis atau kata-kata manis terlontar dari mulut pedas pria itu. Ana melongo mendengar lamaran tak biasa tersebut.

__ADS_1


"Tidak! Sampai kau yakin, akulah wanita yang kau cintai ?" balas Ana menolak tegas. Dia tidak ingin menjalani sesuatu karena sesuatu yang di sebut belas kasihan. Hidu nya sudah cukup sulit, banyak rasa sakit dan kekecewaan dia tanggung dalam hidup susah nya tersebut. Dia tidak ingin menambah daftar kesusahan baru yang seharusnya bisa dia hindari.


Rick menatap netra Ana dengan tatapan sulit di jelaskan.


"Aku akan ke Jerman selama kurun waktu yang tidak sebentar. Aku takut kau berpaling dariku, aku tau sikapku, caraku dan semua perlakuan ku padamu tidak menyenangkan. Tapi beginilah aku, aku tidak suka basa basi. Saat aku tidak suka, maka akan langsung aku katakan. Maaf karena tidak pernah memberikan pujian untuk masakan lezatmu setiap hari, untuk perhatian mu pada ku, untuk segala sikap penurut mu." Rick menghela nafas panjang, ini pertama kali dia berbicara panjang, ternyata cukup melelahkan.


"Aku mencintaimu, awalnya aku tertarik pada kegigihan mu. Namun ketertarikan itu berubah menjadi rasa suka, lalu kemudian beralih menjadi rasa cinta. Aku semakin terikat padamu, aku mengikat mu dengan cara yang licik. Aku sadar, tapi aku tidak pandai merayu dan berkata manis. Aku bukan tuan Lucas yang gampang tebar pesona itu. Aku ini terlalu kaku juga menyebalkan, aku sadar. Tapi aku tulus padamu, aku bisa saja merusakmu dengan cara tidak terhormat. Tapi cintaku lebih besar dari ego ku untuk memiliki mu."


"Jadi, ayo kita menikah. Ikutlah bersama ku ke Jerman, aku bisa bekerja sepulang kuliah, kau cukup di rumah memasak untuk ku juga kuliah. Aku ingin bersama mu terus, memikirkan kau tinggak jauh dari ku. Aku sudah hampir masuk rehabilitas kejiwaan." Ujar Rick panjang lebar, terlihat pria itu seperti orang yang sedang menahan beban pikiran yang rumit.


Hati Ana tersentuh, tidak dia sangka, pria dingin, kaku dan pemarah itu menyimpan cinta yang dalam untuk nya.


"Aku... tidak tau.. Rick.. kita sangat berbeda, aku ini hanya akan menjadi benalu untuk m...." kalimat Ana terpotong oleh bungkaman bibir Rick, keduanya sama-sama amatir. Namun Rick belajar cepat mengikuti naluri nya, berbeda dengan Ana. Meskipun mulai terlarut dalam ciuman hangat Rick, tetap saja dia masih belum bisa mengikuti naluri nya.


Nafas keduanya tersengal, Rick mengelap sisa salivanya di bibir Ana. Dia menempelkan kening nya dengan kening Ana, nafasnya masih sedikit memburu.


"Maaf" ujar Rick pelan "menikah lah dengan ku, aku tidak bisa jauh dari mu. Aku bisa menghuni rumah sakit jiwa ketimbang mejadi penghuni kampus." Ana mendengus mendengar ucapan Rick, wajah merona malu.


"Mau ya?" desak Rick penuh harap "tapi tidak ada resepsi, tidak apa-apa kan? aku ingin pernikahan ku aku sendiri yang membiayai nya. Dengan uang hasil kerja keras ku tanpa bantuan orang tua. Kau tidak keberatan bukan?" lanjut Rick lagi dengan tatapan mengiba. Seolah Ana sudah menyetuji untuk menikah dengan nya.


"Ck! kau suka sekaligus memaksa, siapa juga yang mau menikah dengan mu" elak Ana dengan wajah yang semakin memerah sempurna. Rick tersenyum lebar, untuk pertama kalinya bagi Ana. Membuat gadis itu terpana, sampai tak berkedip.


Cupp


Ana melotot saat bibir Rick kbali mengecup bibir nya. "Isshhh dasar mesum" ujar Ana menahan malu.


Rick terkekeh pelan melihat reaksi malu-malu kekasih nya "tapi suka kan?" goda Rick, sungguh seperti bukan dirinya saja.

__ADS_1


"Mana ada seperti itu" bantah Ana kesal "ayo pulang, aku lapar." Ujar Ana mengalihkan topik pembicaraan mereka. Rick kembali mengecup, namum kali ini dia mengecup kening Ana dalam dan penuh perasaan.


"Kita makan di luar saja, sekalian merayakan kelulusan dan hari jadian." Ujar Rick mulai mengemudi kan mobilnya. Hati keduanya di liputi kebahagiaan, Ana yang menyangka perasaan nya bertepuk sebelah tangan. Kini bisa bernafas lega. Rick pun demikian. Kini dia bisa lega, karena tinggal meminta restu pada kedua orangtuanya saja.


__ADS_2