
Di kantor Rick para karyawan tengah ramai berebut nasi kotak yang Rick bawa. Tak tanggung-tanggung, pria itu membawa satu bak mobil nasi kotak kekantor nya. Tak lain adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang Tuhan berikan pada nya dan sang istri.
"Hei! jangan berebut!" ucap seorang karyawan yang bertugas untuk membagikan nasi kotak tersebut. Diri nya kesal karena terus terdorong kesana kemari oleh karyawan lain.
"Jika kalian masih seperti ibu-ibu berebut sembako, maka nasi kotak ini aku kembali kan saja ke dalam mobil. Jadi semua tidak akan mendapatkan nya, paham?!" Ujar nya penuh ancaman. Suara nya meninggi akibat menahan emosi.
"Yaaah..padahal bukan milik mu loh..!" celetuk seorang wanita dari arah belakang nya. Sontak saja membuat nya menoleh sempurna.
"Apa kau bilang ? coba di ulangi lagi, telinga ku sedikit kurang jelas tadi." Titah nya sambil mengepalkan tanganya. Membuat nyali sang wanita ciut seketika.
"Tidak, kau salah dengar. Aku tidak mengatakan apapun tadi. Benar kan Dre..?" ucap nya panik lalu meminta pembelaan dari teman nya.
"Ayolah, Bil. Kita harus segera kembali bekerja, bagi saja. Dan yang lain tolong mengantri lah yang rapi. Kebiasaan buruk di rumah jangan di bawa ke kantor. Berebut makanan, astaga! memalukan sekali.." Ujar nya penuh penekanan dan hati kesal.
Setelah semua nasi kotak terbagi rata, Bila menghampiri Rick di ruangan nya.
"Aku sudah membagikan nya pada seluruh karyawan. Ini ada lebih nya 10 kotak, mau di bagi pada siapa lagi. Aku ambil satu untuk makan siang ku nanti, lumayan menghemat uang jajan ku." Ujar nya cengengesan.
Bila adalah salah satu kerabat Rick, cucu dari salah satu sahabat keluarga nya. Gadis tomboi tersebut sudah bekerja di sana selama hampir 6 tahun.
"Taruh saja di pantry, barangkali ada yang mau untuk makan siang nanti. Lagipula tidak akan basi, lauk nya sengaja di pisah." Sahut Rick yang masih sibuk mengetik sesuatu di komputer nya. Pria itu hanya menoleh sekali pada kakak sepupu nya. Bila mengendik kan bahu nya, lalu bergegas menuju pantry.
__ADS_1
"Eh? masih ada sisa nya. Aku mau dong lumayan buat makan siang..." Cetus Davin merogoh isi kantong plastik merah di tangan Bila, membuat wanita itu berdecak sebal.
"Kau bisa mengambil nya di pantry nanti, ini berat tau!" ketus wanita itu jengkel, Davin hanya tersenyum cengir memperlihatkan deretan gigi nya yang terlihat semakin menyebal kan di mata Bila.
"Ini bawa sekalian ke pantry, aku mau balik ke ruangan ku." Setelah menyerahkan kantung tersebut pada Davin dan mengambil satu box jatah makan siang nya. Bila berlalu begitu saja dari hadapan Davin.
"Dasar wanita galak, pantas saja dia tidak punya kekasih hingga sekarang." Gerutu nya kesal sambil berjalan kembali menuju pantry. Dia baru saja dari sana untuk mencuci tangan nya, kini harus kembali lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dek, ini susu mu. Kakak juga bawa puding buah mangga, makan lah. Mau kakak suapi tidak?" tawar lukas penuh perhatian.
"Tidak perlu kak, aku bisa makan sendiri. Aku jadi seperti orang sakit kalau terus di layani." Tolak Ana sehalus mungkin tak lupa senyum teduh nya mampu membuat siapa saja luluh seketika.
Ana terharu mendengar penuturan sang kakak, dia masih terlalu kecil waktu itu. Banyak hal telah dia lupakan.
"Terimakasih sudah menjagaku sejak aku masih di kandungan mama, aku harap masih bisa bertemu mama walau hanya melihat nya dari jauh. Aku masih mengingat bagaimana sentuhan lembut tangan mama meski hanya samar-samar." Ucap Ana dengan wajah sendu. Ada sejumput kerinduan terpendam dalam relung hati nya.
"Kita akan berusaha untuk mencari keberadaan mama, kakak sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari mama mulai dari titik terakhir tempat kecelakaan kita dulu. Daddy juga sudah meminta anak buah nya untuk membantu mencari jejak mama. Fokus saja pada kehamilan mu, jangan memikirkan hal berat. Tidak baik untuk kesehatan mu dan keponakan kakak. Serah kan semua pada kakak." Terang Lukas menenangkan sang adik. Dia pun sama merindukan ibu mereka, yang kini entah di mana keberadaan nya. Dia yakin jika sang ibu masih lah hidup, terakhir yang dia lihat ibu nya di pukul oleh seseorang walau dia tidak melihat jelas siapa orang nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Seorang wanita tengah duduk di teras belakang rumah nya, sambil memperhatikan anak remaja berusia 14 tahun tengah memetik sayuran.
"Apa segini sudah cukup ma?" tanya nya mengangkat sekeranjang sedang berisi sayur mayur.
"Mama rasa cukup, hari ini kita tidak berjualan. Masuk lah, mama akan membantu mu untuk membersihkan nya." Ujar seorang wanita paruh baya pada anak gadisnya itu.
"Ma?"
"Ya sayang?" jawab sang ibu menoleh sekilas, tangan nya tengah fokus mengiris wortel untuk membuat sup.
"Apakah aku boleh ikut belajar di gedung BPU desa, yang diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak sekolah seperti ku? aku lihat satu minggu ini, anak-anak banyak yang ikut belajar di sana di bimbing oleh kakak-kakak dari kota itu. Apa nama nya, ah ya kakak-kakak KKN." Tanya Nura hati-hati. Dia tak ingin melukai hati sang ibu atas permintaan nya.
Setelah berpikir sejenak akhirnya nya Ira mengijinkan sang anak untuk ikut belajar di sana. Nura memang tidak bersekolah, selain masalah biaya. Nura tak memiliki akta kelahiran saat lahir hingga usia 9 tahun. Saat Nura berusia 9 tahun, bertepatan dengan pergantian kepala desa setempat. Istri dari kepala desa tersebut lah yang bermurah hati, untuk mengurus identitas Ira dan putri nya yang selama ini di anggap ilegal oleh masyarakat setempat.
Ibu Romlah lah yang mengurus serta akta kelahiran Nura dengan status anak ibu. Wanita baik hati itu baru bisa membantu lebih jauh saat suami nya sudah memiliki hak paten di desa tersebut sebagai kepala desa. Selama ini beberapa kali permohonan nya untuk membantu Ira selalu di tolak oleh kades yang lama, dengan alasan Ira bukan penduduk asli di sana. Hanya pendatang yang menumpang. Itulah yang membuat bu Romlah tak bisa berbuat banyak. Dua periode kades tersebut telah usai, kini dia bisa bernafas lega. Banyak bantuan yang dulu tak tersalurkan sebagai mana mestinya, kini melalui kinerja suami juga staf-staf desa yang baru. Bantuan-bantuan tersebut dapat tersalurkan pada yang berhak mendapatkan nya. Begitu juga bagi ira dan Nura.
Nura yang merasa malu untuk sekolah juga karena biaya yang hanya cukup untuk mereka makan sehari-hari. Memilih untuk tidak bersekolah. Gadis itu memilih fokus membantu sang ibu berkebun sayur dan sesekali bekerja di kebun teh dan sawah warga.
Tok tok tok
Ibu dan anak itu saling pandang, lalu Ira mencuci tangan nya untuk membuka pintu.
__ADS_1
"ya sebentar.." seru Ira dari arah dalam.
Klek