
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Rick dan Ana kini tengah berdiri di depan sebuah papan pengumuman sekolah. Dada Ana berdetak kencang tak karuan, jika saja dia tidak lulus, maka selesai lah sudah nasibnya. Belum lagi rasa tak enak pada bu Wina yang sudah berjuang memasukkan nya ke sekolah elit tersebut.
Rick melirik Ana yang berada di samping nya, dia tau apa yang di pikirkan oleh gadis itu. Ketakutan jika tidak lulus pasti kini tengah menghantui nya. Rick kembali menoleh ke depan, antrian masih berjubel. Mereka ada di bagian belakang. Sebenarnya Rick bisa saja menyingkirkan para siswa yang berdesakan di depan mereka, namun dia sengaja agar bisa berlama-lama bersama Ana.
Bayangan Jerman sudah ada di pelupuk mata, keputusan sang ayah tidak dapat di ganggu gugat. Bahkan ibunya pun sudah menyetujui nya, Rick benar benar kalah argumen. Berserah pada nasib yang akan memisahkan nya dengan gadis yang sangat dia cintai.
Tangan Rick terulur kemudian meraih jemari dingin Ana. Tangan gadis itu berkeringat akibat gugup dan takut. Begitu pula diri nya, dia takut kepergian nya memberi peluang pada pria lain untuk mendekati wanita pujaan hati nya. Memikirkan nya saja membuat kepala Rick berdenyut hebat.
"Jangan takut, kau pasti lulus dengan nilai terbaik." Bisik Rick di telinga Ana, membuat gadis itu reflek menoleh dan tanpa sengaja, bibir nya menempel di bibir Rick. Sejenak keduanya mematung, Ana mengerjab kedua mata nya lalu menarik diri dengan cepat. Sungguh dia merutuki kecerobohan nya. Rasa malu hinggap di hatinya, wajah nya memerah.
Rick pun merasa kan gelayar aneh, itu adalah Ciuman pertama nya walau tidak sengaja. Rasanya manis, dan dia ingin mencobanya lagi dan lagi. Kedua nya sama-sama terdiam, Ana menunduk melihat ujung sepatu baru nya. Selama tinggal bersama Rick, Ana memiliki paling sedikit 5 pasang sepatu sekolah baru. Dan setiap hari Rick mewajibkan nya untuk memakai satu pasang bergantian, besok nya pun begitu. Alasan nya karena dia tidak ingin Ana membuat malu diri nya juga membuat mobil nya kotor oleh sepatu butut Ana. Sungguh alasan yang menyakiti hati, namun begitu lah Rick, caranya memberikan perhatian benar benar jauh dari ekspektasi perempuan.
Setiba giliran mereka, Ana membaca kertas yang di tempel di papan pengumuman dengan teliti. Setelah menemukan namanya, Ana sampai meneteskan air mata. Bagaimana tidak, selain di nyatakan lulus, dia juga mendapat kan predikat juara umum. Tanpa sadar Ana memeluk Rick dengan sangat erat, dan tentu saja di sambut baik oleh pria itu.
Setelah sada dengan apa yang dia lakukan, Ana melerai pelukannya.
"Maaf" cicit Ana tak enak hati juga malu.
"Ck! lain kali jangan suka memeluk orang sembarangan. Kau akan di sangka wanita ganjen kalau begitu" ketus Rick mengarah kan pandangannya ke papan pengumuman. Rick hanya berusaha menutupi rona di wajahnya, juga degub jantung nya yang mendadak berdetak tak normal.
Ana mendengus mendengar ucapan nyelekit hati dari pria menyebalkan itu, namun benar juga, seseorang akan berpikir sama dengan Rick jika dia asal memeluk sembarangan orang.
Sementara Rick kembali merutuki mulut bon cabe level setan nya, lagi-lagi dia membuat gadis kesayangan nya merasa tak nyaman dengan ucapan nya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, aku mau beli sesuatu" ajak Rick kembali meraih jemari Ana yang sudah mulai berisi. Satu bulan kurang lebih tinggal bersama nya, membuat tubuh Ana sedikit lebih berisi. Bagaimana tidak berisi, setiap hari perut gadis itu di jejali banyak makanan enak oleh Rick.
Ana terlihat akan mengatakan sesuatu, namun Rick segera mengalihkan perhatian Ana. Dia tau jika gadis itu pasti akan menuntut kebebasan nya, sesuai yang dia janjikan. Namun Rick masih tidak rela, apa lagi mengingat jika dirinya akan pergi ke negeri orang untuk waktu yang lama.
"Ayo cepat! kenapa kau semakin lelet sekarang" omel Rick terus menarik pelan Ana agar mengikuti langkah nya menuju parkiran.
"Rick?" seruan seorang gadis membuat langkah keduanya terhenti. Rick menoleh walau dengan memasang wajah tak sedap di pandang.
"Kenapa ? aku buru-buru, kalau tidak begitu penting, aku mau pergi sekarang." Ketus Rick tanpa basa-basi. Membuat wajah Maura di tekuk sempurna.
"Aku ingin mengucapkan selamat untuk kelulusan mu, ku dengan dari papa, kau akan melanjutkan kuliah di Jerman. Artinya kita bisa sama-sama berangkat, aku juga akan melanjutkan studi di sana." Ujar Maura bersemangat, walaupun dia kesal melihat tautan jemari kedua nya.
"Belum tau, aku masih belum mengatakan nya pada seseorang. Aku bisa berangkat sendiri, kau juga begitu. Kita pergi melanjutkan pendidikan, bukan liburan. Jadi tidak perlu janjian." Pungkas Rick kemudian berbalik, namun ucapan Maura mau tak mau membuat Rick kembali menoleh.
"Baru akan? lagi pula aku tidak akan menyetujui nya, aku juga tidak menyukai mu. Jadi jangan berharap terlalu berlebihan, ayah ku bukan tipe yang suka memaksa kan kehendak soal jodoh anak-anaknya. Beliau bukan orang yang kolot, yang merelakan kebahagiaan anak-anak nya di renggut demi sebuah jalinan bisnis." Ujar Rick lantang, dia tidak ingin Ana menelan mentah-mentah apa yang dia dengar. Gadis itu sangat perasa dan mendengar hal itu, pasti akan membuat Ana menjaga jarak dengan nya.
"Aku akan tetap menerima perjodohan itu, lagi pula om Jovan sudah setuju. Suka tidak suka, aku adalah calon tunangan mu, Rick!" balas Maura tak kalah lantang, dia tidak rela di permalukan demi gadis kampungan seperti Ana, yang tidak ada apa-apa nya.
"Dan ya, jika kau masih punya malu, menjauhlah dari calon suami ku. Kau hanya lintah, yang mengejar kekayaan Rick saja. Dasar tidak tau malu, kau pikir aku tidak tau, jika selama sebulan ini. Kau tinggal di apartemen Rick. Apa kau segitu tidak punya harga diri hah? Sampai menawarkan tubuhmu pada calon suami wanita lain." Teriak Maura dengan suara penuh amarah, dia puas melihat wajah pias Ana. Dia yakin Ana tengah menahan malu sekarang, karena mereka kini sedang menjadi bahan tontonan para siswa lain.
Gigi Rick bergemeletuk menahan marah, jika orang yang mengatai Ana adalah seorang pria, maka dia pasti kan, akan meremukkan mulut nya tanpa ampun. Sayang nya, Rick tidak di ajarkan menjadi kurang ajar pada perempuan.
Ana berusaha menahan sesak di dadanya , ini sudah ke sekian kalinya dirinya di permalukan sebagai wanita penggoda. Karena hampir sekolah tau, jika Ana tinggal bersama dengan Rick. Pikiran buruk pun memenuhi otak mereka, di tambah oleh fitnahan Maura. Maka semakin jadilah pikiran jelek tersebut.
__ADS_1
Ana melepaskan tautan jari mereka, kemudian berlari menuju gerbang sekolah. Kebetulan angkot Lewat dan segera Ana masuk. Rick menatap kepergian Ana tanpa mencegah nya, tatapan nya datar dan sulit di jabarkan.
Bughh
"Aauww!!" pekik seorang gadis menutup hidung nya yang mulai berlumuran darah. Cairan merah tersebut mengalir deras tanpa bisa di tahan. Teriakan histeris nya menggema di area parkiran, Rick menatap dingin tanpa berniat sekalipun untuk menolong.
Malah pria itu menyeringai puas, kedua matanya bersitatap dengan seseorang lalu tersenyum penuh makna.
Seolah mengatakan, 'terimkasih sudah mewakili ku'. Rick segera menuju mobilnya, dia harus menjelaskan pada Ana, sebelum gadis itu benar benar menjauh dari kehidupan nya. Dengan kecepatan penuh, Rick berusaha mengejar angkot yang membawa gadis pujaan nya. Namun saat berhasil menghentikan angkot tersebut, Ana ternyata sudah turun dan pergi entah kemana.
Rick berkali-kali memukul kemudi mobilnya, hati nya kesal, marah dan ketakutan. Belum kelar urusan nya untuk bernegosiasi soal kelanjutan pendidikan nya, kini harus menghadapi masalah baru.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Rick meraih ponsel nya di dasbor, di lihat nya id pemanggil. Ayahnya, tumben batin Rick bergumam.
"Ya di, apa apa?" tanya Rick to the point. Jovan berdecak kesal mendengar sapaan tak menyenangkan putranya.
"Beri salam dulu kalau orang tua menelpon, dasar tidak sopan. Pulang ke rumah malam ini, mimi merindukan mu. Sudah hampir sebulan kau tidak pulang, adik-adik mu sudah pada dewasa selama kau tinggalkan. Yang paling kecil sudah bisa mencari makan dan uang sendiri, jadi kau tidak akan repot lagi ikut mengurus mereka." Oceh Jovan asal tanpa jeda. Rick memutar bola matanya, dia tau ayahnya pasti kesal. Karena selama dia tidak di rumah, otomatis waktu bermesraan dengan sang ibu berkurang. Biasanya, Rick lah yang paling bisa di andalkan untuk menangani adik-adik nya.
"Ya aku akan pulang, sekalian mau berbicara penting dengan didi." Balas Rick singkat dan padat.
"Jika membahas soal kuliah mu, tidak ada tawar menawar. Harga mati! No debat!" Tukas Jovan tak mua memberi kan celah.
__ADS_1
"Ck! bukan! kebiasaan asal menuduh" Rick memutuskan sambungan tanpa mendengar kalimat balasan sang ayah, sudah bisa di pastikan bagaimana reaksi Jovan di seberang sana. Rick ingin mencari Ana di sisa hari nya sebelum pulang ke mansion.