
Sudah 4 hari setelah Ana kembali terbangun dari tidur yang membuat jiwa raga Rick terguncang. Hari ini Ana sudah di perboleh kan untuk pulang. Rick sangat senang, akhirnya istri nya bisa kembali ke rumah impian mereka.
"Biar aku saja sayang, kau duduk lah." Rick terlihat ngeri melihat Ana ikut membantu nya menyimpan beberapa barang ke dalam tas.
"Aku tidak apa-apa, lagi pula dokter bilang aku harus banyak bergerak ringan agar luka ku lekas pulih." Kilah Ana yang tak betah hanya duduk diam melihat suami nya sibuk sendiri.
Beberapa hari ini, Rick lah yang mengurus nya penuh. Tak satu pun perawat di ijin kan membersihkan tubuh istri nya, meski Ana tidak lah masalah. Justru dia senang, bagaimana pun itu tugas mereka. Meski Rick adalah suami nya, namun Rick belum pernah melihat sisi tubuh nya yang paling dia jaga tersebut. Namun apa daya, Rick yang keras kepala tak bisa di bantah.
"Dokter itu mana tau apa yang kau rasa kan, sayang. Jangan dengar kan dia, memang nya dia siapa berani menyuruh mu beraktivitas padahal kau masih sakit." Oceh Rick marah pada dokter yang dia anggap sok tau itu. Ana menarik nafas dalam-dalam, sabar. Batin nya berbisik pelan.
Klek
Bram masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, "apa tangan mu sudah cacat? ketuk dulu pintu nya jika mau masuk!" ketus Rick dengan nada tak sedap di pendengaran.
"Kau ini kak, selalu saja mulut mu seperti bon cabe." Keluh Bram duduk di samping kakak ipar nya. "Kakak cantik sekali hari ini, ini sweater pilihan ku kemarin. Aku sudah yakin pasti pas di badan kakak. Bilang terimakasih dulu pada adik ipar mu yang penuh perhatian ini, kak." Pinta Bram sekena liur nya. Namun yang membuat Rick meradang adalah kalimat pujian sang adik yang terdengar menentang nya.
"Kau itu ke sini cari mati ya?" ujar Rick penuh penekanan.
Bram pura-pura tak paham "memang nya aku sakit apa? sampai cari mati segala" ujar nya terlihat polos seperti balita tanpa dosa.
Plakk
Geplakan di kepala nya membuat Bram mengeram kesal pada kakak nya.
"Kasar sekali, kak lihat lah, jika dia berani menyakiti mu, berpindah hati lah kepada ku. Aku juga tidak kalah tampan dari nya." Ucap Bram sekenanya kemudian berpindah tempat duduk ke ranjang.
Ana hanya menggeleng melihat tingkah laku kedua bersaudara itu, hampir tak ada yang percaya, jika kedua nya saudara kembar.
"Jangan dengar kan dia sayang. Aku berkali-kali lipat lebih baik dari nya, lagi pula aku tidak mungkin menyakiti mu. Kau itu nafas hidup ku, bagaimana bisa aku membuat mu terluka." Ujar Rick berjongkok di depan pangkuan Ana.
__ADS_1
"Ya, kau pria terbaik, suami ku yang hebat calon ayah anak-anak kita yang luar biasa. Sekarang berkemas lah, aku sudah merindukan rumah kita." Ujar Ana mengelus rahang kokoh suami nya, Rick meresapi sentuhan lembut tangan istrinya.
"Khemmm... Apa AC ini rusak ya, kenapa ruangan ini jadi tiba-tiba gerah sekali. Huuuhhhhh!" Bram mengipas wajah nya dengan secarik kertas seolah ruangan itu benar-benar panas. Rick memutar mata nya jengah melihat tingkah adik nya.
"Ayo sayang, pakai ini dulu untuk turun ke bawah" Rick mendorong kursi roda ke arah istri nya lalu mengangkat Ana naik, meski Ana menolak nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Rick, sudah banyak keluarga menunggu kedatangan kedua nya. Delia bersaudara turut hadir, begitu pula kerabat keluarga itu. Makanan sudah tersusun rapi di meja makan yang di buat seperti prasmanan.
"Mami, ini aku boleh makan tidak?" Ujar Zuly menunjuk kan daging rendang di dalam wadah. Ludah nya sudah berkali-kali dia teguk.
"Nanti lagi, kau sudah memakan banyak rendang di belakang tadi. Jangan kira mami tidak tau, Zuly." Tekan Delia menatap horor pada putri nya.
"Ishh mami, tidak asyik." Rajuk nya berlalu meninggal kan sang ibu.
"Zuly kenapa dek?" tanya Jeslyn yang baru tiba membawa mangkuk kaca berisi acar.
"Itu turunan mu dek, kau lupa? sering menyembunyikan daging rendang dalam kotak bekal dan menyimpan nya dalam laci nakas di kamar mu." Ucap Jeslyn mengingat kan sang adik akan kebiasaan buruk nya waktu kecil.
"Ishh kakak, itu kan sudah lama sekali Kenapa masih di ingat sih." Kali ini giliran Delia yang merajuk manja pada kakak nya. Jeslyn tertawa renyah, usianya sudah 56 tahun, bercanda dengan adik-adik nya adalah hiburan tersendiri bagi nya. Dia bersyukur anak cucu nya akur dan saling menyayangi sesama saudara dan kerabat mereka. Sesuai pesan mendiang ayahnya, agar mereka saling mengunjungi satu sama lain. Karena ikatan terbentuk dari sana, keakraban mengikat hubungan mereka menjadi sebuah keluarga yang harmonis.
"Mobil pengantin baru telah tiba di gerbang utama!" seru para remaja yang bertugas memantau pergerakan di gerbang utama rumah Rick. Seruan itu segera membuat mereka bersiap di posisi masing-masing.
Jovan terlihat gugup, padahal hanya menyambut putra dan menantu nya saja. Namun seperti akan menghadapi sidang pidana. Joi mengelus pundak suami nya agar kembali tenang.
"Rick sudah memaafkan didi, jangan terlalu memperlihatkan ketegangan. Nanti malah jadi canggung" nasihat Joi pada suami nya. Jovan mengangguk mantap, berkali-kali pria itu menghela nafas panjang untuk menetral kan perasaan nya.
"Selamat datang kembali.!!" seru seisi rumah membuat Ana speechless, tak menyangka akan di sambut sedemikian rupa oleh keluarga suami nya, Air matanya sampai menetas, sanking bahagia nya.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah sayang, senang kau sudah kembali pulang. Kami merindukan mu" ujar Joi memeluk pelan menantu nya. Jovan maju untuk menyapa menantu yang sempat dia tolak kehadiran nya.
"Terimakasih sudah kembali pulang, didi senang kau baik-baik saja. Berbahagia lah selalu menyertai kalian" ucap Jovan tulus, mata nya berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat sederhana namun penuh makna tersebut.
"Terimakasih sudah menyambut Ana pulang dengan semeriah ini, dan terimakasih banyak atas doa tulus didi." Balas Ana dengan suara bergetar menahan tangisnya. Jovan meraih tubuh kecil Ana memeluk nya pelan karena takut menyakiti menantunya. Jovan mengusap rambut Ana dengan sayang, dia menyesal telah berpikir buruk pada Ana.
"Maaf kan kebodohan didi, nak. Didi menyesali nya, sangat." Ucap Jovan lalu mencium pucuk kepala menantu nya.
"Didi tidak salah, orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka, didi pasti juga begitu. Aku tidak apa-apa, Rick juga. Ya kan sayang?" Rick hendak protes, namun mendengar kalimat ajaib istri nya membuat pria itu hanya bisa mengangguk kan kepalanya tanda setuju.
Acara penyambutan berjalan lancar dan meriah, suara gaduh bersahutan sampai ke taman belakang. Hingga sore hari ada beberapa yang masih tinggal, diantara nya Delia dan Jeslyn serta keluarga masing-masing.
"Mi, aku mau bawa Ana istirahat ke atas dulu." Ana hendak protes karena tak enak hati meninggalkan keluarga suami nya, namun Joi segera menengahi.
"Istirahat lah nak, kau butuh banyak istirahat. Nanti bibi akan mengantar kan makanan ke kamar kalian." Ujar Joi lembut, Ana hanya mengangguk pelan walau tak enak hati.
"Kamar kita kenapa berubah begini ?" ujar Ana mengomentari perabot yang semakin bertambah di dalam kamar mereka, juga warna catnya yang sedikit berbeda.
"Aku menambah kan beberapa perabot, juga memajang beberapa pigura, termasuk pigura besar itu" Rick menunjukkan poto pengantin besar mereka yang terpajang indah di atas kepala ranjang. Ana menatap takjub poto pernikahan mereka.
"Bagus, aku suka. Semua nya aku suka, terimakasih" Ucap Ana menatap suami nya.
"Aku senang kau menyukai nya, kemarin warna nya hanya kesukaan ku saja. Sekarang ada warna kesukaan mu juga, kamar calon anak kita di sebelah sana. Yang ada pintu penghubung itu" tunjuk nya ke arah pintu yang tertutup.
Ana tertegun, sejauh itu suami nya menyiapkan segalanya. "Terimakasih sudah mencintai ku"
"Jangan berterimakasih sayang, ini sudah seharusnya aku lakukan. Aku ingin kau bahagia bersama ku, dan terus mencintai ku sepanjang hidup mu." Rick ikut duduk di samping istri lalu mendekap tubuh kurus Ana, padahal baru saja istri nya itu mulai berisi. Sekarang sudah mulai tirus lagi akibat kejadian kemarin.
"Aku mana bisa meninggalkan mu, aku juga mencintaimu, sangat. Mari jangan saling berjanji, tapi mari kita saling mencintai dan menjaga perasaan kita agar tidak mudah berpaling. Ku dengar menjaga keutuhan rumah tangga itu sedikit rumit, jadi jika kau sudah mulai bosan pada ku, jangan meninggalkan ku, tapi ajaklah aku ke salon, agar aku bisa secantik ekspektasi mu." Ujar Ana terdengar bercanda namun memiliki makna yang dalam.
__ADS_1
"Baiklah sayang, mari kita saling menjaga mulai sekarang. Jaga hati, jaga pikiran, jangan memikirkan pria lain selain diri ku. Paham " balas Rick tak kalah serius. Kedua nya menautkan jari untuk mengukuhkan janji saling menjaga tersebut.
Hidup kadang seperti bermain bola, tendangan paling kuat lah, yang mampu meruntuhkan pertahanan kiper. Begitu pun kehidupan, yang berjuang paling keraslah yang bisa bertahan hingga akhir.