
Lima hari sejak Ana koma, wanita muda itu seolah tak ingin terbangun dari mimpi indah nya. Sementara Rick terlihat begitu putus asa. Selama lima hari itu pula, Rick tak pernah menemui keempat anaknya.
Alasan nya selalu sama, dia takut meninggalkan Ana walau sejenak. Dia takut wanita itu akan meninggal kan nya saat dia tak ada di samping Ana. Seluruh keluarga serta sahabat keluarga itu bergantian menjaga Rick dan bayi mereka meski hanya di ruang tunggu. Kondisi Rick lebih memprihatinkan, pria itu nampak sangat kurus hanya dalam waktu lima hari. Terhitung hanya beberapa kali saja, Rick mengisi perut nya hanya untuk sekedar membuat lambung nya tetap bekerja normal.
Terlihat beberapa kali Rick menelan pil pereda nyeri dan obat lambung. Tidak ada makanan yang bisa mengenyangkan bagi nya di saat kondisi sang istri masih belum ada perubahan. Sehari yang lalu dokter melakukan beberapa tes, untuk mencari penyebab koma nya Ana yang menurut mereka bukan hanya di sebab kan pendarahan. Karena jika hanya pendarahan, kesadaran nya sudah pulih sehari atau maksimal dua hari setelah proses transfusi di lakukan. Mereka mencurigai ada penyebab lain, dan untuk memastikan nya mereka butuh beberapa sampel dari wanita itu.
"Makan lah! kau sudah terlihat seperti zombie. Ana pasti akan langsung berlari saat pertama kali melihat mu. Syukur-syukur jika dia berlari ke arah ku, aku akan menangkap nya dengan hati penuh suka cita." Seloroh Arsel sembari menyerah kan piring yang sudah dia isi dengan berbagai aneka makanan. Terutama rendang dan acar. Makanan kesukaan sang adik sepupu. (Arsel part TES DNA, cucunya Aldo Narsih).
"Jika kau berani menyentuh Ana ku meski tanpa sengaja. Akan aku mutilasi kedua tangan mu kak, jadi jauh kan khayalan mu. Ana terlalu tinggi untuk kau gapai. Dia milikku!" tegas Rick menatap tajam pada sang sepupu.
Gluk!
Arsel menelan daging rendang yang kini terasa seperti lengkuas tanpa mengunyah, dengan susah payah. Tatapan Rick sangat mengerikan.
"Ck! kau ini..aku hanya bercanda, adik ipar mana mungkin mau dengan ku. Kau tampan dari ku, maka nya kau yang lebih dulu menikah. Seharusnya kau ku kenakan denda karena melangkahi ku, itu adalah aturan nya. Paling tidak makan gratis di rumah makan mu selama dua tahun. Kan lumayan aku bisa menabung biaya hidup selama itu." sanggah Arsel mencair kan suasana. Sebelum tanduk rusa di kepala Rick mulai bercabang seribu.
"Kau boleh makan di sana sepuas mu.." mata Arsel berbinar secercah mentari pagi.
__ADS_1
"Benarkah? wah! kau adik yang sangat pengertian sekali. Besok aku akan mulai rutin mengunjungi rumah makan mu itu." Ujar Arsel dengan senyuman sejuta watt tak tertutupi.
"Setelah dua tahun kemudian, kau harus membayar nya. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Aku sudah sangat baik telah memberimu utangan selama itu, tanpa bunga sedikit pun. Jadi tolong perhatikan porsi makan mu nanti, kalau tidak istri ku bisa bangkrut." Kletak!
Hampir saja rahang Arsel terjatuh ke lantai marmer di bawah nya. Kalimat Rick sempat membuat nya melambung tinggi, lalu tiba-tiba membuat nya kembali ke dasar bumi tanpa perasaan.
Arsel mencebik kesal, harapan untuk menghemat gaji nya kini pupus sudah. Ternyata sikap perhitungan seorang Rick bukan hanya kabar burung. Semenjak remaja, Rick selalu menjaga pengeluaran nya jika memang tidak perlu. Untuk itulah tidak heran, di usia nya yang belum genap 20 tahun. Pria itu sudah memiliki nominal yang cukup mencengangkan di rekening pribadi nya. Selain pekerja keras, Rick juga sangat keras menahan diri untuk tidak menghambur kan hasil jerih payahnya. Jadi jangan heran jika Rick tidak pernah memiliki kekasih. Wanita mana yang mau dengan pria sepelit Rick? Hanya Ana, namun beda nya Rick sangat royal pada wanita itu.
Mungkin itu lah yang di sebut jodoh. Jodoh adalah cerminan diri. Ana yang selalu menghargai setiap lembar rupiah yang dia dapat kan dari hasil berjualan nya. Dan Rick yang tak suka mengeluarkan uang untuk kepentingan yang tidak mendesak. Keduanya memiliki sifat dasar yang sama. Sama-sama mencintai hasil kerja keras masing-masing.
"Dasar pelit!" desis Arsel kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang gadis tengah meringkuk dengan tubuh menggigil. Ada beberapa luka lebam di beberapa bagian tubuh nya. Terlebih di area sensitif nya.
flashback
__ADS_1
Terdengar derit meja di sebuah ruangan kepala penjara. Di iringi suara lain yang mengoyak telinga para jomblower di luar ruangan tersebut. Seorang gadis muda tengah beradu perkakas, dengan seorang pria bertubuh gempal di atas meja kerja.
Suara erangan tertahan sang pria yang nampak begitu menikmati penyatuan mereka, membuat suasana menjadi semakin memanas. Tangan besar nya terus meremat bokong sang gadis dengan keras. Sementara kepala nya menunduk untuk menikmati balon kendor si gadis. Entah sudah berapa banyak orang yang menikmati nya. Meski kondisi satu kaki nya yang masih belum bisa berjalan sempurna, namun aura kecantikan nya masih mampu membuat para buaya lapar mata.
"Ouucghh... sayang..kau nikmat.." racau nya terus menghentak keras perabot nya hingga terasa mentok. Butuh usaha keras untuk mencapai titik terdalam mengingat perut nya yang lebih mendominasi. Belum lagi perabotan nya yang di bawah ukuran standar kelakian. Namun beruntung dia kini tengah menggempur seorang wanita muda yang meski sudah tak bersegel, namun masih mampu menjepit milik nya cukup keras.
"Paaakk..aku mau..sampai lagi.." racau si gadis di sela gencatan senjata yang makin kencang di bawah sana.
"Bersama.. sayang.. ouch fuc*k you baby..! haah hah hah!" Lahar nya lagi-lagi menyembur tak bersisa di dalam liang seng*gama Maura. Peluh bercucuran dari tubuh kedua nya meski ruang tersebut memiliki pendingin ruangan.
"Kau hebat..sayang..aku selalu menyukai permainan mu." Puji nya memberikan kecupan di wajah berkeringat Maura. Gadis itu nampak terengah-engah dengan dada naik turun.
"Aku capek..!" cetus Maura. Satu jam permainan, pria itu memang lebih banyak mendominasi. Mengingat kondisi kaki nya yang sulit untuk melakukan banyak atraksi dan gaya. Dia hanya mengikuti alur permainan pria tambun tersebut.
Maura melakukan hal itu semata agar mendapatkan perlakuan berbeda dari tahanan lain nya. Dia pun bebas memilih makanan yang dia inginkan. Juga memiliki akses bebas menggunakan ponsel di sel nya. Namun siapa sangka, perbuatan penuh ambisi itu mengantar nya pada rasa sakit yang teramat sangat.
Brakk!
__ADS_1
Pintu ruangan tersebut terbuka dengan cara paksa. Mata keduanya terbelalak saat melihat siapa yang datang. Si pria segera menarik diri, sejak tadi penyatuan mereka belum terlepas. Bahkan milik si pria sudah mulai menegak kembali. Akibat ulah Maura yang dengan sengaja menjepit perkakas si pria dengan milik nya. Apalagi kalau bukan demi sangu tambahan.