
Genap dua minggu, Ana masih tak merespon obat apapun yang di masukkan ke dalam tubuh nya melalui cairan infus. Rick terlihat sangat kurus, beberapa kali Rick hampir pingsan karena pria itu mengalami dehidrasi berat.
Rick yang gagah dan tampan, kini terlihat sangat jauh berbeda. Kini Rick lebih banyak menggunakan kursi roda untuk keluar masuk ke dalam ruang ICU di mana istri nya di rawat. Pria itu juga tengah menjalani rawat jalan dengan memasukkan cairan infus ke dalam tubuh nya. Hanya itu saja yang bisa mereka lakukan, Rick yang keras kepala bertambah sulit di atur dan sering linglung.
Saat di ajak berbincang, Rick lebih banyak melamun dan kata-kata nya sering kali tidak nyambung. Joi merasa sangat sedih, bahkan Rick sering lupa jika membahas soal anak-anak nya. Pria itu sering bertanya, bayi siapa yang sedang mereka bahas. Hati orang tua mana yang tidak merasa sakit, melihat kondisi kejiwaan anak nya mulai bermasalah.
"Rick..hari ini Ana akan melakukan serangkaian tes kesehatan. Jadi Ana akan di pindah kah sebentar ke ruang Radiologi untuk melakukan pemindaian menyeluruh menggunakan mesin MRI." Ujar Alsy lembut, wanita itu berjongkok di hadapan kursi roda yang di gunakan Rick. (Alsy part_ Golongan Darah Yang Sama).
Rick yang tadi menatap kosong pada benda kotak yang menampilkan grafik di dalam nya, tersentak pelan. Lalu menoleh sejenak, senyum tipis dia berikan untuk sepupu nya itu.
"Kakak bilang apa tadi? maaf, Ana sedang mengajak ku menghitung detak jantung nya yang ada di monitor kecil itu." Alsy meremat sandaran tangan di sisi kiri Rick dengan kuat. Wanita itu berusaha agar tak menangis saat itu juga.
"Lalu, berapa permenit yang sudah kau hitung?" Alsy menimpali dengan wajah serius.
"Banyak..ada banyak! arti nya Ana akan segera bangun. Benar bukan?" Alsy mengangguk samar, apa lagi yang harus dia katakan. Ana sekarat, wanita muda itu kini sedang dalam kondisi kritis. Tidak mungkin dia mengatakan nya pada sang adik. Atau Rick akan memilih mengakhiri hidupnya terlebih dahulu karena tidak sanggup kehilangan.
"Ayo kakak bantu keluar, biar kan perawat melakukan tugas mereka. Mama Jesy(Jeslyn) tidak akan menggaji mereka jika pekerjaan mereka tidak becus." Alsy mendorong pelan kursi roda Rick keluar dari ruang ICU. Tanpa Rick tau, sang kakak tengah menangis di belakang nya.
Setiba di ruang tunggu, para keluarga sudah bersiap untuk mengantar Ana ke ruang radiologi. Semua wajah menampilkan senyum cerah saat Rick keluar. Seolah tak menyimpan rahasia apa pun. Sedangkan Elsye, manajam kan sorot mata nya pada sang anak. Alsy lekas menghapus air mata nya lalu pamit kembali ke ruang ICU.
Di sini lah mereka, sebagian duduk di kursi tunggu sebagian lain berdiri. Sedangkan Rick menatap pintu di mana sang istri ada di dalam ruangan tersebut.
"Mau? ini bibi buat sendiri, sedikit terlalu manis tapi lumayan lah dari pada hambar." Seloroh Elsye mengarah kan mangkuk berisi kue lapis buatan nya. Rick menatap kue lapis tersebut dengan tatapan entah. Itu adalah kue kesukaan sang istri, sudah lama Rick tidak melihat wanita itu makan. Apa wanita itu tidak kelaparan, otak nya mendadak tak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Mau bibi suapi? mau ya..dikit aja, terus review gimana rasa nya. Apa yang kurang.." Rick hanya mengangguk pelan, lalu membuka mulut nya. Pemandangan itu seperti sesuatu yang begitu mahal bagi mereka. Rick hampir tiga hari tidak mengisi perut nya sama sekali. Itulah kenapa pria itu harus di infus.
"Dulu, waktu mimi mu masih kecil...beuuhhhh..! mucil nya minta di tabok tiap hari. Kalo mendiang nenek mu dulu membuat kue beginian, kudu di umpetin mulu sebagian. Karena kalo tidak..yang lain alamat tidak akan kebagian." Cerita Elsye mengenang kelakuan sang adik sepupu ketika masih kecil.
Rick tersenyum sedikit lebih lebar, seolah cerita sang bibi mampu mengusik hati nya. Sementara yang lain berusaha menampilkan wajah penuh senyum, agar cerita Elsye berjalan sesuai alur.
"Terus..?"
"Terus ni yaa...mimi mu itu suka ngilang dari rumah, pergi mancing sama teman-teman nya ke sungai. Naik sampan kecil punyaan eyang Kakung (ujang). Nenek mu dulu sampe di buat migren tiap hari." Cerita berlanjut, tanpa terasa. Kue lapis buatan Elsye, ludes tak bersisa. Sejati nya Rick memanglah merasa kan lapar, hanya saja mengingat kondisi sang istri yang tidak ada perubahan sama sekali. Itu lah yang membuat Rick melupakan rasa nyeri di lambung nya.
Satu jam berlalu kini Ana sudah di kembali kan lagi ke ruang ICU. Semua orang harap-harap cemas menunggu hasil yang masih dua hari lagi.
"Mama yakin mau ke rumah sakit lagi hari ini? mending mama di rumah aja deh, hari ini biar aku sama Nura saja yang ke sana. Mama istirahat saja, papa juga. Sekalian berdua menikmati waktu berdua sambil mengenang masa muda. Kan pasti kangen sama momen-momen di mana papa lagi bucin-bucin nya sama mama." Seloroh Lukas menghibur kedua orang tua nya.
Dia tau ibu nya jarang makan dengan benar belakangan ini mengingat kondisi Ana yang semakin melemah.
"Iyyuuuuh...sadar usia pa.." tegur si bungsu mengingat kan. Sidharta mendelik tak suka.
"Papa masih muda ya, masih bugar gini kaya baru umur 35an. Enak aja.." protes Sidharta tak terima.
Nura mencebik, Lukas mencibir. Kedua adik kakak itu sangat cocok, selalu saja membully sang ayah dengan suka hati.
"Spaaddaaaa..! Any body home?!.." suara cempreng tersebut membuat Nura dan Lukas Saling bertatapan kemudian menghela nafas panjang. Satu lagi biang rusuh telah datang.
__ADS_1
"Waah! pada ngapain nih? diskusi aktualisasi ekonomi keluarga apa gimana?" Lukas memutar bola mata malas. Sepupu nya itu sangat menyebal kan. Sayang sekali dia menyayangi nya, jika tidak sudah dia tenggelam kan wanita itu ke dalam gayung.
"Bibi kok murung gini sih, padahal aku baru mau nyampein kabar wuarbiasahh..!" Ucap Lisa dengan wajah berbinar.
"Paling cuma mau bilang, hari ini aku berhasil rebus air dan tidak gosong lagi. Ya kan? udah ketebak!" Sahut Nura sok tau. Lisa memicingkan mata nya tajam.
"Sok tau!" ketus wanita itu kesal.
"Tarraaa..!!" Lisa membuka toples persegi panjang yang berisi beberapa biji donat. Dengan bermacam aneka topping yang menggoda selera.
"Bibi cobain deh. Ini resep dari bibi lo, jadi aku optimis rasa nya bakal muantaafff.." Pamer Lisa dengan bangga, Sahira mengambil satu lalu menggigit kecil. Ada kekhawatiran sang keponakan masih salah dalam membedakan mana garam mana gula.
Setelah mengunyah beberapa saat, Sahira sejenak terdiam. Mata nya menatap manik penuh harap akan pujian di wajah Lisa.
"Enak...cuma..."
"Dah aku tebak, pasti asin lagi kan ma..atau bantet terus keras kaya ngunyah batu kali." Sambar Nura semakin yakin meledek sang kakak. Lisa terlihat mulai tak lagi bersemangat.
"Ishhh! kau ini..ini enak, rasanya saja yang harus di sesuaikan dengan usia kami yang sudah tak muda lagi ini. Terlalu manis seperti yang buat." Goda Sahira mengerling pada sang keponakan yang terlihat malu-malu namun haus akan pujian. "Lain kali Takaran nya di kurangi lagi ya, ini udah pas banget. Empuk, menul-menul kaya pipi nya Nura. Ya tidak, sayang?" Kini giliran Lisa yang terbahak, Nura paling benci saat orang mengatakan pipi nya bulat atau sejenis nya.
Nura mengerucut kan bibir nya sepanjang jalan tol.
"Mama nyebelin ih.." kesal gadis itu kemudian bergelayut manja di lengan sang ayah, Sidharta terkekeh sembari mengelus sayang rambut panjang sang anak.
__ADS_1
Di balik canda tawa mereka, semua orang masing-masing berusaha untuk menutupi keresahan hati. Ada nyawa yang tengah tertatih-tatih bertaruh melawan maut. Dan yang bisa mereka lakukan hanyalah mendoakan wanita malang itu setiap saat, saling menghibur dan menguatkan tanpa memperlihatkan sisi rapuh pada diri mereka.
Keluarga adalah tempat terbaik untuk bersandar, karena mereka tidak akan menghitung perhatian dan kasih sayang dengan sejumlah imbalan.