
Rick masih terduduk lesu sambil memeluk jasad istrinya, pikiran nya kosong. Bagaimana bisa Tuhan begitu kejam pada nya. Tidak ada kah sedikit belas kasihan untuk nya, mereka baru menikah hitungan jam yang lalu. Dan kini, istri nya sudah pergi untuk selama nya.
"Rick sayang? Perawat akan memandikan Ana, ijin kan mereka melakukan tugas nya, nak." Bujuk Joi kesekian kali nya, sudah hampir satu jam berlalu sejak Ana di nyatakan meninggal. Rick tidak membiar kan siapa pun menyentuh istri nya. Pria itu mengatakan jika Ana nya hanya sedang tertidur, dan tidak boleh ada yang mengganggu tidur nyenyak sang istri.
"Shuutttt.. bisa kah mimi diam, Ana sedang beristirahat. Suara mimi bisa membuat nya terganggu" ujar Rick sedikit marah, hati Joi sakit melihat mental anak nya yang mulai sedikit terganggu. Air mata nya mengalir deras tak kuasa menahan perih, Joi berbalik keluar dan duduk dalam posisi berjongkok. Jovan menghampiri sang istri ingin memeluk nya, namun Joi menepis tangan kekar suami nya. Mata nya menatap penuh amarah, seperti Rick, Joi pun melimpah kan semua yang terjadi pada suami nya.
Jovan tak tau harus berbuat apa lagi, kedua orang yang di sayangi nya kini menolak kehadiran nya. Sakit memang, namun ini juga karena kesalahannya. Pundak Jovan berguncang menahan tangis, sementara keluarga yang lain sibuk mengurus kepulangan jasad Ana dan urusan lain nya. Sebagian sudah di rumah mengurus beberapa hal, untuk menyambut jenazah gadis yang baru saja menyandang gelar seorang istri itu.
Zero menepuk bahu Jovan pelan, rasa nya masih tak percaya, baru saja tadi pagi diri nya dan keluarga menghadiri pernikahan keponakan nya. Dan kini mereka tengah di landa duka, karena sang pengantin pria telah di tinggal pergi untuk selama nya, oleh pengantin wanitanya.
Jovan mendongak, Zero mengangguk pelan, menjelaskan jika semua nya sudah siap. Jovan kembali menatap istri nya yang masih menenggelam kan wajah nya di kedua lutut nya.
Sementara di dalam, Rick sudah seperti orang kehilangan akal sehat nya. Pria itu terus mengoceh pada jazad istrinya.
__ADS_1
"Gimana sayang, setuju tidak? aku sudah merancang kamar di samping kamar kita sebagai kamar anak-anak kita nanti. Ada pintu penghubung nya juga, jadi kau tidak perlu repot-repot keluar kamar kalau mau menyusui anak kita. Aku janji akan meluangkan banyak waktu untuk kalian, membantu mu mengurus anak kita agar kau tidak cape sendiri. Oh ya, kau bilang akan membuat menu baru untuk usaha mu nanti. Kita bahkan belum mencari lahan yang cocok untuk membuat warung makan impian mu. Bagaimana jika dekat area sekolah, pasti ramai. Selain anak sekolah, orang tua nya juga pasti mampir untuk membeli nasi kuning buatan mu. Rasa nya enak, pasti mereka akan sering-sering berbelanja. Aku akan menyediakan layanan foro gratis dengan ku, asal berbelanja minimal 30 rb saja. Kau setuju tidak? hanya berfoto, dan hanya untuk sekali foto." Oceh Rick panjang lebar.
Jovan yang hendak masuk merasakan sakit luarbiasa dalam hati nya. Bagaimana jika diri nya yang kehilangan sang istri, mungkin dia akan sama gila nya dengan sang anak. Kini rasa bersalah di hati nya semakin menjadi-jadi.
"Nak, kasihan Ana. Biar kan perawat mengurus nya" bujuk Jovan namun tak di gubris oleh Rick. Pria itu sibuk berceloteh tentang rancangan masa depan nya dan Ana tanpa peduli apapun.
Jovan kembali keluar, meminta tolong pada Zero dan yang lain nya untuk membujuk putra nya.
"Ana paman, Ana! Ana bangun! Ana bangun! Lihat lah, dia meminta minum, mimi, berikan air minum, istri ku kehausan karena terlalu lama tertidur. Mana? paman, air minum paman. Mana, istri ku haus?" Oceh Rick tanpa jeda, Joi semakin menangis keras di pelukan Delia. Zero merangkul paksa Rick ke dalam pelukan nya. Dia tau keponakan nya sedang sangat terguncang sekarang.
"Rick, jangan begini nak, kasihan istri mu. Ikhlas kan, paman tau ini sulit. Tidak ada pria waras yang merelakan istri nya pergi begitu saja, tanpa menyimpan kesedihan yang mendalam. Tapi jangan begini, kendali kan diri mu." Nasihat Zero memeluk erat keponakan nya, sementara Rick terus berontak dalam pelukan sang paman.
"paman, lepas kan! Istri ku sendirian di dalam, aku hanya meminta air, kalau tidak ada ya sudah!" Rick mendorong keras tubuh paman hingga pelukan Zero terlepas, lalu kembali berlari ke dalam ruangan di mana Ana berada.
__ADS_1
Mereka menyusul Rick, takut pria itu nekat melakukan hal yang tidak tidak di dalam sana. Namun saat mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, mata mereka hampir melompat keluar. Bagaimana tidak, Rick kini tengah mendudukkan Ana dan memakai kan istri nya jas yang masih dia pakai sejak tadi siang.
"Rick apa yang kau lakukan, nak. Hentikan, jangan seperti ini. Kasihanilah kami nak, kami juga turut kehilangan sama sepertimu. Jangan siksa batin kedua orang tua mu, sadar lah." Delia meraung sambil memeluk sang adik, sementara Joi sudah tidak sanggup berkata apapun lagi. Zero merangkul erat pundak Jovan, sementara yang lain yang baru masuk hanya terdiam. Andai posisi mereka di tukar, jika tidak gila karena kehilangan orang yang paling di cintai? Itu bukan lah manusia, begitu lah pikir mereka. Rick tertekan, stress dengan keadaan, menerima kenyataan dengan begitu mudah? jelas tidak mungkin bisa.
Rick membaringkan kembali istri nya setelah mencium kening Ana, lalu menoleh pada keluarga nya.
"Ana ku sudah bangun, coba lihatlah, dia hanya sedang kelelahan. Aku sudah menghubungi dokter tadi, tunggu saja jika kalian tidak percaya." Jelas Rick dengan wajah berbinar.
Ya, sebelum keluar tadi, Rick menekan tombol darurat di samping brankar istri nya.
"Permisi," Suara seorang dokter menyela situasi tegang tersebut mengalihkan perhatian mereka. "Bisa tunggu di luar dulu, suami pasien silahkan jika ingin di dalam." Ujar dokter itu ramah, beberapa orang perawat ikut serta bersama nya untuk memeriksa pasien yang berhasil menggempar kan seisi rumah sakit tersebut. Karena suami nya sama sekali tidak terima jika sang istri sudah dinyatakan meninggal dunia. Dan mereka terpaksa membiarkan jasad wanita itu berdiam di ruangan itu sampai suami nya sendiri, yang meminta agar jenazah istri nya di urus. Dan dia berharap sekarang lah waktu nya, mengingat sudah satu jam setelah wanita itu tiada.
"Dok, silahkan periksa istri ku. Tadi dia baru saja terbangun, sekarang mungkin kembali tertidur. Istri ku haus, namun kami tidak ada yang memiliki air minum. Mungkin dia kelelahan, coba periksa lah." Oceh Rick panjang lebar, dokter itu hampir saja terkena stroke mendengar ocehan Rick. Begitu juga para perawat di sana, jantung mereka di ajak maraton tiba-tiba tanpa pemanasan terlebih dahulu. Tentu saja syok berat.
__ADS_1