Beloved My Ana

Beloved My Ana
Akhirnya Bangun


__ADS_3

Rick berusaha mengumpulkan kesadaran nya. Mata nya bahkan tak berkedip sejak tadi. Pemandangan di depan nya sungguh sebuah keajaiban yang sayang untuk di lewat kan.


"Bunaa..!" seru ke tiga bocah laki-laki itu bersamaan. Langkah kecil mereka di arah kah menuju brankar sang ibu dengan sedikit berlari.


"Hei kiddos.! Bunaa baru saja sadar, tolong jangan membuat nya syok. Oke.." Nasihat Lukas pada ketiga keponakan nya.


Rean mendengus tak suka mendengar perkataan sang paman.


"Bunaa..apa bunaa tidak merindukan kami..." ujar Rean dengan wajah berkaca-kaca. Lukas mencibir melihat reaksi lebay sang keponakan.


"Dasar drama king.."! cebik Lukas. Rean menaiki ranjang ibu nya dan mengelus pipi tirus sang ibu penuh kerinduan.


"Bunaa kapan bangun? kenapa tidak langsung menelpon agar kami segera pulang? apa bunaa tidak merindukan anak-anak bunaa yang tampan dan cantik ini..." Ana berkedip menatap wajah tampan sang anak dengan perasaan penuh keharuan.


"Maaf..." hanya satu kata yang terucap dari mulut Ana, lidah nya masih kelu untuk berucap banyak.


"Bunda..?" Rick yang sejak tadi merasa terabaikan kini sudah berdiri di samping ranjang sang istri. Mata nya sudah memerah menahan tangis.


"Hai..." ucap Ana serupa sebuah bisikan. Rick memeluk tubuh kurus istri nya dengan hati yang sangat bahagia. Terlampau bahagia, hingga tak sadar posisi nya hampir saja membuat sang anak terjengkang. Untung saja Lukas dengan sigap menangkap si bocah narsis tersebut, sebelum mencium ubin. Bisa di bayangkan bagaimana marah nya Rean saat wajah tampan nya cidera.


"Ayah durhaka..!" gerutu Rean kesal. Sementara Ayank masih betah duduk di sisi lain ibu nya, dengan Sena di belakang nya.


"Bunda kapan bangun, hmm?" Rick menciumi wajah sang istri tanpa melewati seinci pun. Sungguh kerinduan nya sudah sangat memuncak.


"Ana bangun 1 setengah jam yang lalu, saat itu perawat jaga mendengar ada suara benda jatuh. Padahal mereka baru saja mengganti cairan juga memasukkan beberapa obat. Saat kembali, mereka melihat tangan Ana seperti menggapai-gapai sesuatu. Dan itu membuat oximeter di jari telunjuk Ana terjatuh ke lantai." Jelas Lukas panjang lebar. Rick kembali meraup tubuh sang istri ke pelukan nya.


"Terimakasih sudah bangun..kami semua kangen sama bunda. Terutama Ayank. Princess kita satu-satunya ini selalu mendoa kan bunda setiap hari tanpa Alfa." Cerita Rick dengan sedikit kekehan mengingat sang anak yang masih ngambek pada nya, perkara masalah di ruang pertunjukan balet tadi.


Ayank membuang pandangan, dia masih tak ingin menatap pada ayah nya.


"Kami mau di peluk juga dong...kok cuma ayah doang..." protes Ilian mencebik kesal. Sejak tadi bocah itu terlihat sudah tak sabar berdiri di belakang Rick.


Ana mengurai pelukan nya lalu menoleh ke belakang sang suami. Makhluk kecil yang serupa tapi tak sama itu tengah memperlihatkan wajah kesal. Ana mengukir senyum manis. Lalu menjulurkan tangan nya pada sang anak.

__ADS_1


Ilian, Rean dan Dean bergegas menyingkirkan sang ayah membuat pria itu tak suka. Dia mulai berpikir, ke depan nya akan banyak saingan dalam memperebutkan perhatian sang istri tercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Joi, Elisa, Sahira dan para wanita lain nya baru saja selesai menjenguk Ana. Kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga bersama yang lain nya. Ada yang kurang kali ini, karena Jeslyn tidak ada di sana. Wanita itu telah berpulang di usia nya yang ke 59 tahun, setahun yang lalu. Sungguh duka tersebut membuat seluruh keluarga merasa kehilangan yang amat sangat.


"Jadi mau masak apa buat makan malam?" sela Joi di tengah-tengah perbincangan mereka.


"Aku sih ngikut, aku kebagian buat kudapan aja. Tidak apa-apa, Ana pasti kangen banget makan makanan begituan. Andai oma nya masih ada, pasti sudah sejak tadi sibuk di dapur meracik apa pun yang akan dia suguhkan untuk cucu tercinta nya." Sahut Elisa panjang. Mengenang sang mertua yang sudah di panggil pulang tiga tahun yang lalu. Arti nya dua tahun setelah Ana koma.


Banyak hal yang di lewati Ana selama masa koma nya. Pernikahan sang kakak juga kelahiran keponakan nya. Termasuk kehilangan beberapa orang terkasih dalam keluarga nya.


"Ya..aku juga jadi kangen mama.." ungkap Sahira mengejang sang bibi yang sudah seperti ibu bagi nya.


"Gimana kalo mbak buat rendang, aku mau buat kare sama ayam goreng lengkuas." Usul Joi.


"Boleh deh, yang lain masih pada belanja... sekalian nitip beli kelapa parut tiga buah besar." Pesan Sahira pada Elisa yang terlihat tengah menelpon bi sidah yang sedang ke pasar bersama Debya.


Di sini lah para wanita heboh itu berkutat. Meski dapur Rick tidak lah besar namun terasa pas untuk mereka selalu berkumpul. Tidak ada jarak yang memisah kan, itu lah kenapa mereka menyukai melakukan perkumpulan di sana.


"Lagi mikirin apa sih, sampe garam lupa di tarok.." Delia tergelak memegangi perutnya menahan tawa.


"Aku meleng mbak, biasa faktor U.." ujar Elisa menimpali dengan wajah cengengesan.


"Sini, biar aku yang naruh garam. Kali aja udah tapi belum berasa, tar malah bapak-bapak pada ngeluh ke asinan. Tekanan semua bisa berabe dunia persilatan." Ujar Joi masih tertawa renyah.


"Ini lapis nya udah di pakein gula kan mbak? kali aja lupa atau salah, tau nya naruh MSG..." Wanita itu mencomotnya satu potong kue lapis di piring saji.


"Wah...!" semua mata tertuju pada nya menanti kelanjutan respon wanita itu.


"Ini enak mah, manis kaya yang buat..." sontak membuat nya mendapatkan pelototan tajam dari para wanita yang kesal mendengar kalimat nyeleneh Elisa.


Begitu lah keseruan keluarga tersebut dalam menyambut kembali nya Ana ke tengah-tengah mereka. Lima tahun hanya bisa melihat wanita muda itu terbaring lemah tak berdaya. Dengan alat topang kehidupan yang sehari-hari menempel indah di tubuh kurus nya.

__ADS_1


Babak baru kehidupan Ana dan Rick beserta keempat anak nya pun di mulai. Kehadiran pengganggu rumah tangga nya membuat kisah mereka sedikit berbeda. Namun berkat pawang ajaib berupa bocah-bocah berkelakuan ajib tersebut. Pernikahan mereka senantiasa terselamatkan dari berbagai misi jahat seseorang.


"Bunaa lihat piala ini..ini punya Ayank juga. Medali sama piagam ini juga... Ayank hebat ya..." puji gadis kecil itu pada diri nya sendiri. Ana tersenyum simpul, mengelus rambut tebal sang anak dengan sayang.


"Ya..anak bunaa semua nya hebat. Ayah hebat sudah mendidik kalian dengan baik.." Ana menatap manik Rick yang terus terarah pada nya sejak tadi. Kelima makhluk fana tersebut tak mau beranjak barang sejenak dari ranjang nya.


"Tapi ayah genit bunaa.." iris mata Rick melebar sempurna mendengar kalimat nyelekit sang anak.


"Eh! ayah tidak begitu ya..!" sanggah Rick tak terima, wajah nya menyiratkan kepanikan luar biasa.


"Memang ayah genit nya gimana? sama siapa sih?" Ana memperlihatkan wajah serius nya menanggapi ucapan sang anak.


"Tidak bun, mana ada... Ayank lagi kesal sama ayah makanya ngaco gitu.." Bela Rick ketakutan. Padahal Ana tidak bermaksud menanggapi sang anak dengan serius.


"Ada tante cantik di kantor ayah, sering keruangan ayah.. lihat-lihatin ayah sampe matanya tidak berkedip sama sekali..ayah sampe hapal loh namanya.." si kecil semakin memanasi suasana. Wajah Rick pias ketakutan semakin menjadi.


"Bang? tolongin ayah dong..." rengek Rick pada putra sulung nya.


"Namanya Yumna bun, ya kan yah..?" oh, sungguh Rick ingin melakban mulut lemes anak-anak nya. Rean tersenyum miring mengejek sang ayah.


"Tidak ada bun, Yumna tu sekretaris ayah dia...".


"Nah kan! ayah sampe fasih banget nyebut nama Tante genit itu.." Lanjut Ayank kembali menyulut api.


"Ya Tuhaaann...apa dosa ku.." lirih Rick terlihat putus asa. Pria itu menelungkup kan wajah nya di kaki sang istri saking merasa sangat bersalah juga takut. Ana terkekeh kecil melihat tingkah para kesayangan nya yang saling melempar umpan.


"Dengar kan, ayah bilang kalau tante itu hanya sekretaris ayah di kantor. Jadi anak-anak bunaa tidak boleh membuat opini sendiri. Ayah kan tampan dan baik, wajar saja jika banyak orang yang menyukai ayah. Yang penting ayah hanya sayang dan cinta sama bunaa .... paham.." Nasihat Ana lembut pada keempat anak nya. Sedikit banyak dia mulai mengerti, jika Ayank tipe anak yang tidak suka ayah nya di dekati oleh wanita lain. .


Rick mengangkat kepalanya menatap penuh binar pada sang istri.


"Bunda percaya sama ayah kan?" ucap nya antusias.


Ana mengangguk pelan.

__ADS_1


"Makasih sayang. kalau bunda sudah bisa di ajak keluar, nanti bunda yang temani ayah di kantor seharian. Ayah suka bete kalo banyak pekerjaan." Keempat bocah tersebut mencibir mendengar kalimat bucin sang ayah dengan berbagai ekspresi.


__ADS_2