
"Loh, pak guru mu tadi mana dek?" tanya Ana heran.
"Guru siapa kak? itu tadi mas Gamas. Anak pak kades yang selama beberapa bulan ini jadi ojek gratis nya Nura." Ucap gadis itu cengengesan.
"Mungkin pulang nak, tidak enak pamit dia. Makanya langsung pergi saja..." Ana meraih tas ransel milik adik nya. Hanya tas ransel biasa, terlihat sedikit kusam. Barangkali sang adik rajin mencuci nya. Nura melirik arah tatapan sedih sang kakak. Lalu segera meraih tas nya dengan perasaan malu. Dia tak ingin siapapun mengasihani nya, meskipun itu kakak nya sendiri.
"Nura abis ikut acara kemping sekolah, nginap di Jakarta dua hari. Kebetulan mas Gamas juga ada dinas, sudah tiga hari di sini. Hari ini tadi mas Gamas baru selesai ikut semacam seminar gitu. Mau ajak Nura keliling Jakarta, eh Nura malah kepeleset pas turun dari bus. Jadi nya langsung kemari tadi pagi." Cerita gadis itu tersenyum simpul, Lukas melihat ada hal yang salah dari cerita sang adik namun tak ingin menyela.
"Ah ya, sampe lupa. Mama kenapa bisa ada di Jakarta?" tanya Nura heran.
"Mama ikut kelompok menjahit sama bu kades, ada pelatihan di Jakarta. Baru tiba semalam. Sengaja tidak memberi tahu mu, mau buat kejutan. Eh, malah mama yang terkejut waktu denger dari bu kades kalau kamu masuk rumah sakit. Jadinya mama tidak sempat ganti baju langsung Kemari." Sahut Sahira bercerita. Dia tau tatapan kasihan terarah padanya sejak tadi. Meski tidak kentara namun dia menyadari, keluarga nya menyimpan rasa sakit melihat penampilan nya yang memang terlihat menyedih kan.
"O..." jawab Nura membulat kan mulut nya dengan lucu. Lukas menjawil bibir adiknya saking gemas.
"Ih sakit kak..." protes Nura pura-pura marah. Lukas kembali membawa tubuh sang adik kedekapan nya. Rasanya tak rela berjauhan walau hanya sebentar. Lukas tengah memikirkan pria yang bernama Gamas. Dia tau tatapan cemburu pria itu padanya saat dia memeluk sang adik. Dia tak mau adiknya berpacaran dengan pria seumuran dirinya.
Apa lagi mengingat mereka baru saja bertemu. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama sang adik juga Ibu nya. Hati nya tak rela kembali berpisah.
Klek
__ADS_1
Semua mata tertuju ke pintu ruang operasi. Dokter mengatakan jika operasi Sidharta berhasil. Hanya saja stok darah masih kurang satu kantung. Agar kondisi Sidharta benar-benar pulih sempurna.
Nura menawarkan darahnya, usianya hampir 15 tahun, namun Lukas menolak keras. Sehingga mau tak mau Jorge merelakan darah nya meski hatinya masih marah pada pria yang tengah sakit itu. Namun mengingat nyawa keponakan nya sudah terselamatkan. Ego Jorge melunak.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dua Minggu sudah Sidharta betah memejamkan kedua matanya, selama itu pula Sahira dengan setia menjaga nya. Dikarenakan rumah sakit tersebut adalah milik keluarga Rick, maka semua fasilitas yang seharusnya hanya ada di ruang ICU kini dibawa keruang rawat Sidharta.
"Bangun mas... kasihanilah anak-anak, terutama Nura. Putri bungsu mu itu belum pernah kau ajak bermain. Nura sangat ingin kau peluk, kau ajari bermain sepeda. Sampai sekarang Nura tidak bisa mengayuh sepeda. Karena memang kami tidak mampu membelinya. Nura anak yang hebat, meski tidak bersekolah hingga usia 14 tahun. Namun anak itu sangat rajin membantu ku bekerja, dan menjual hasil kebun sayur juga berjualan kue keliling desa. Kau akan bangga pada nya..." Sahira terisak di sisi kanan Sidharta. Menunduk dalam agar tangis nya teredam.
Sementara ada sepasang mata yang berusaha untuk tidak menumpahkan tetesan air dari sana. Dia mendengar semua celoteh sang wanita tercinta sedari awal wanita itu bercerita. Namun Sidharta merasa malu untuk membuka kedua matanya. Dia terbangun sejak beberapa menit sebelum Sahira mulai berkisah tentang putri bungsu nya. Hati nya sakit juga malu. Perlahan tangan Sidharta mengelus pucuk kepala sang mantan istri.
"Ma.. mas.." suara Sahira tercekat di tenggorokan. Lalu beranjak hendak memanggil dokter, Sidharta segera meraih tangan kurus Sahira.
"Disini saja...aku masih merindukan mu.." ujar Sidharta memohon dengan suara lemah. Sahira akhirnya mengangguk dan duduk kembali.
"Mas mau minum?" tanya Sahira yang sedikit canggung dan gugup. Karena Sidharta terus memandangi nya.
"Aku mau bersama mu saja, jangan kemana-mana.." ulang nya memohon.
__ADS_1
"Mau di panggil kan dokter tidak ?" sungguh Sahira seperti remaja yang tengah di mabuk asmara. Kegugupan nya terlihat begitu jelas.
"Tidak usah dulu, aku baik-baik saja. Bisa naikkan sandaran ku sedikit..?" Sahira segera melakukan nya untuk menghalau sedikit rasa grogi yang tengah melanda nya.
"Kau apa kabar? kenapa sampai sekurus ini? apa kau tidak makan dengan baik selama ini? apa sekeras itu hidup mu, sayang? kenapa tidak mencari ku...aku menunggu nu setiap hari tanpa henti. Meski hanya di dalam mimpi pun, aku sudah merasa sangat senang.." Lirih pria itu penuh penyesalan dan rasa bersalah yang besar. Mata nya berembun menahan tangis.
"Aku baik, aku hanya sedang diet saja... terlalu gemuk juga tidak baik, apa lagi di usia ku yang sudah tidak muda lagi. Aku ingin menjaga pola hidup sehat.." kilah Sahira tak ingin membuat suasana mereka semakin mencekam.
Sidharta tau, Sahira hanya berusaha berdalih dan mengalihkan topik. Telapak tangan kasar wanita itu di tambah banyak bekas luka, membuat hati nya sakit luar biasa.
"Jadi namanya Nura ?" dahi Sahira mengernyit. Lalu kemudian menjawab.
"Ya.. Nurani. Hanya itu nama yang ku berikan. Kau boleh menambahnya jika mau..." ucap Sahira pelan. Dia merasa malu, karena dulu Sidharta berkeras jika janin nya adalah hasil perselingkuhan.
Sidharta yang peka segera mengusap pipi tirus itu, "tentu saja aku mau. Nura putri ku juga, nanti setelah aku pulih. Kita akan mengurus semua dokumen mu dan Nura. Aku ingin kita kembali bersama, aku ingin menebus dosa ku. Aku tidak tau sampai kapan sisa usia ku ini.."
"Mas!" potong Sahira tak suka. "Mas akan sehat, ingat mas akan memiliki empat cucu. Harus punya tubuh yang bugar agar bisa bermain bersama mereka nanti. Masalah kita..aku tergantung Nura saja. Dia yang paling banyak terluka diantara kita." Sidharta mengangguk mantap. Dia akan melunak kan hati sang anak dengan sepenuh hati.
Banyak hutang masa lalu yang akan dia bayar lunas ke depan nya nanti. Meski harus mencicil nya seumur hidup, bagi nya tidak lah masalah. Nura nya pantas mendapatkan segala perhatian nya nanti, begitu pun Ana dan lukas.
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ