
"Tapi kak...aku sudah besar. Masa aku masih harus tidur sama kakak terus sih. Malu nanti kalau teman-teman ku tau. Aku tidur di kamar yang dibelakang itu saja ya..nyaman, ada kipas angin nya juga. Dulu dirumah didesa, kamar ku sama mama hanya seukuran 2x3 meter saja dan itu berdua, belum lemari. Aku betah aja kak. Apa lagi kamar belakang itu gede, ada kipas sama ranjang empuk juga." Lukas menggeleng pelan. Adiknya itu kelewat sederhana.
Selama tinggal di Jakarta, mereka tinggal di rumah Rick. Lukas ngotot agar sang adik tidur dengan nya. Nura sedikit risih, karena mereka juga baru bertemu. Andai Lukas adalah perempuan, mungkin tidak lah masalah.
"Big no! itu kamar pembantu dek, ngerti tidak sih ini kalo di bilangin..." ujar Lukas gemas seraya menjawil hidung sang adik.
"Lah, terus.?apa bedanya kalo kamar pembantu..kan sama-sama kamar kak?" sungguh Nura tak mengerti konsep penempatan kamar bagi orang kaya.
"Udah deh, nurut sama kakak.. setelah kamar di samping di renovasi, baru boleh pindah. No debat! sekarang ayo turun sarapan, kau bisa terlambat ke sekolah jika terus berdebat dengan kakak." Nura menghempas nafas pasrah.Kakaknya sulit sekali di bantah. Termasuk kepindahan nya yang mendadak menjelang ujian kelulusan tiba. Tentu saja para guru sangat menyayangkan. Nura sudah dua kali mengharumkan nama sekolah selama dirinya menjadi siswa di sekolah lamanya.
Namun Lukas tak bisa berkompromi lagi, dia ingin adiknya ikut dengan nya ke kota. Terutama memisahkan sang adik dari si Gamas Gamas itu. Dia takut adik nya kadung jatuh cinta dan sulit berpisah dari pria lapuk itu. Ah, sungguh Lukas tak sadar diri.
"Pasti abis debat soal kamar lagi..." Ana menebak setelah melihat raut wajah kesal sang adik.
"Masa aku tidak boleh tidur dekat kamar bi Sidah sama mba Santi sih kak..kan sama-sama kamar." adu Nura dengan bibir berlipat.
"Ini bibir pengen dikasih cabai kayanya.. hobby bener ngadu." Celetuk Lukas mencolek selai strawberry dibibir maju sang adik.
__ADS_1
"Ishhh kakak...usil banget sih.." Ana terkekeh melihat pemandangan baru tersebut. Sudah tiga minggu ini rumah bertambah anggota nya. Dan dia sangat bahagia. Sedangkan sang ibu belum pernah pulang sama sekali. Ayahnya bahkan uring-uringan meski Sahira hanya meninggalkan nya untuk mandi dan buang air. Pria paruh baya itu seperti remaja yang terserang penyakit cinta monyet.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Ingat yaa... kalau sudah pulang langsung hubungi kakak. Jangan si Gamas Gamas itu yang malah di hubungi.." Ujar Lukas sewot. Nura mencebik, dia hanya sekedar bertukar kabar. Mumpung kini dirinya sudah memiliki ponsel sendiri, dan mulai tau cara menggunakan nya. Begitu pun sang ibu, yang butuh kesabaran ekstra bagi Lukas untuk mengajari wanita kesayangan nya itu menggunakan handphone.
Belasan tahun tak pernah memakai benda canggih itu, membuat Sahira benar-benar gaptek total.
"Ini sangu mu...beli makanan enak, jangan sampai nyisa lagi. Awas saja nanti kakak akan periksa tas mu." Ancam Lukas kesal. Sudah dua Minggu bersekolah di sekolah elit pilihan Rick, Nura hampir tak pernah belanja. Sehingga uang jajan nya menumpuk di dalam dompet butut milik nya di dalam tas. Dompet yang hampir saja Lukas buang saking kesal nya. Namun Nura mengatakan jika itu adalah hadiah ulang tahun dari sang ibu saat dirinya berumur 10 tahun. Artinya sudah hampir 5 tahun dompet tersebut Nura gunakan. Pantas saja sudah tak terlihat seperti dompet. Benang nya sudah berseliweran,, juga bekas jahitan dimana-mana.
Namun Lukas tetap membeli dompet baru beberapa buah, yang lama itu dia masukkan dalam kotak kaca dan kini di taruh di kamar nya. Pasti sang ibu mengumpulkan uang untuk itu dengan bekerja keras pikirnya sedih.
"Ya beli apa kek, traktir teman atau apa..asal jangan teman cowok ya.. anak Jakarta itu Playboy semua..."
"Termasuk kakak dong... pantas kakak keduluan kak Ana." Nura terkikik geli saat melihat ekspresi pias di wajah sang kakak.
"Enak saja..! Kakak ini setia ya..." sanggah Lukas tak terima.
__ADS_1
"Setiap tikungan ada.. gitu ya kak.." Sahut Nura cekikikan.
"Wah! ni anak udah berani ledekin kakak nya yaa.." Lukas menjulurkan tangannya untuk menggelitik sang adik di samping nya.
"Ampun kak...ampuunn..." kikik Nura tertawa geli.
"Makanya..jangan berani ledekin kakak.." mobil Lukas melaju pelan menuju sekolah sang adik. Sementara keduanya terlibat obrolan ngalor ngidul. Nura mulai terbuka pada kakak-kakak nya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Gimana rasanya tinggal di tempat ini? aku harap makanan nya sesuai porsi dan selera. Mengingat ruangan kalian bukan lah ruang VVIP. Aku khawatir makanan nya tidak cukup memanjakan lidah mu dan ibu mu." Nafas Maura memburu, kepalan tangan nya semakin kuat. Sayang kedua tangan nya di borgol. Jika tidak, ingin sekali dia mencakar wajah pria yang sudah membuat nya kehilangan harapan sebagai seorang wanita.
"Cuihhh!" Rick mengusap pipinya yang terkena ludah Maura dengan tenang. Heri segera memberikan tisu basah juga sprei alkohol untuk mensterilkan tangan Rick. Pria itu beralih profesi sebagai asisten Rick untuk sementara.
"Kau seperti ludah ini Maura. Menjijikkan!" ucap Rick tersenyum miring. "Bahkan organ tubuh mu mungkin tidak akan laku jika di jual. Kau dan ibu mu benar-benar sampah. Tempat ini masih terlalu bagus untuk kalian tempati. Tapi ini cukup dulu, jika kau masih bertingkah. Aku akan suka rela memberikan tempat terbaik untuk mu. Tempat yang lebih buruk dari pada neraka." Seringai iblis Rick membuat Maura bergidik ngeri. Rick yang dia kenal kini terlihat berbeda di hadapan nya.
"Baik-baik lah di dalam sini..aku kemari hanya ingin melihat bagaimana hidup mu bagai di dalam neraka. Berhati-hati lah pada mereka di dalam sana, ku dengar para wanita itu bahkan lebih menakutkan dari pada pria." Rick kembali menyeringai. Kemudian beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
"Pak Heri, seperti aku sudah terlalu lama berada di sini. Istri tercinta ku pasti sudah sangat merindukan suami tampan nya ini. Apa pak Heri mau menyampaikan sepatah dua patah kata pada nona muda...Maura.." senyum penuh ledekan terarah sempurna hingga menohok harga diri Maura.
Wanita itu menahan gejolak kemarahan juga rasa malu nya. Kalimat Rick berhasil mengoyak harga diri nya hingga tak berbentuk.