Beloved My Ana

Beloved My Ana
Bau


__ADS_3

Rick berjalan lesu menuju kubikel nya, sudah 3 kali pria itu bolak balik ke toilet untuk memuntahkan isi perut nya. Namun hanya cairan yang keluar, dan itu sukses memancing asam lambung nya naik drastis.


Aby menatap iba ke arah Rick yang terlihat acak-acakan, jika saat datang tadi pria itu terlihat rapi. Kini penampilan nya sedikit berantakan, kening nya berkeringat padahal ruangan tersebut full pendingin ruangan. Wajah pucat Rick membuat Aby merasa sangat prihatin.


"Mau aku buat kan teh hangat?" tawar Aby setelah terdiam menyaksikan penderitaan teman nya itu.


"Jangan mendekat! kau bau..!" seru Rick tanpa tendeng aling. Aby terkesiap mendengar kalimat menohok harga diri nya.


"Ck! kau ini..kalau bicara jangan sembarangan, aku sudah mandi lagi pula aku tidak bau ketek. Parfum ku juga bermerk, enak saja kalau bicara." Kesal Aby mengomel, niat baik nya malah disambut dengan perkataan tak sedap di dengar.


Yodra cekikikan sendiri, begitu juga Lisa. Kedua wanita itu sudah lebih dulu di katai bau oleh Rick saat mereka berpapasan di lobby. Untuk itu mereka lebih memilih naik tangga darurat daripada berurusan dengan pria datar tersebut.


"Kalian semua bau..astaga! apa kalian tidak mandi dengan benar, kalau begini aku bisa mati." keluh Rick masih dengan tuduhan tak mendasar nya, Davin yang baru tiba dari pantry dengan langkah percaya diri menuju ke arah Rick membawa teh jahe buatan nya. Lebih tepat nya berkat bantuan Lia si Office Girl.


"Nih! di minum sampe abis, ini resep eyang uyut ku dari tasik. Teh jahe madu buatan Davin siap di santap. Silah kan jangan sungkan-sungkan..." Ucap Davin masih dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sementara yang lain mulai menghitung mundur, menunggu saat di mana letusan bon cabe meluncur dari mulut Rick.

__ADS_1


"Bisa tidak kau jauh-jauh sedikit, aku mual mencium aroma tubuh mu. Kau bau ketek!" Davin mengerjab beberapa kali, berusaha mencerna situasi juga pendengaran nya. Sementara yang lain mulai meledak kan tawa jahanam. Davin beringsut mundur kemudian mencium aroma ketek nya sendiri. Wangi. Satu kata mutlak tak ada dua nya. Bagaimana bisa Rick menyebut nya bau ketek dengan begitu lantang. Apa hidung pria itu mulai rusak. Davin mendengus kesal.


"Kau seperti nya harus melakukan medical check up, kunjungi lah dokter THT. Indera penciuman mu seperti nya mulai bermasalah." Celetuk Davin menyarankan. Pria itu masih kesal karena di katai bau ketek tanpa sebab yang jelas.


"Kau ini, begitu saja marah. Kami semua juga di katai bau oleh Rick, biasa saja tuh. Harus nya kau senang, sebentar lagi kau akan segera di panggil paman." Celoteh Lisa dari kubikel nya. Wanita itu berbicara sembari tertawa di tahan. Melihat reaksi Davin juga kalimat laknat Rick, tentu akan membuat siapa saja merasa kan perasaan nano nano.


"Apa hubungannya bau ketek dengan panggilan paman. Kau juga seperti nya harus pergi ke dokter ahli jiwa, kata-kata mu sama sekali tak nyambung." Ketus Davin kembali duduk di kursi nya, tidak lupa gelas teh jahe resep nenek moyang nya dia bawa serta.


"Kenapa kau bawa kembali, apa kau mau buruk siku? minuman itu sudah kau berikan pada ku tadi. Kemari kan..." Ucap Rick memerintah seenak jidat. Davin menghela nafas panjang, kesabaran nya seperti nya sedang di uji hari ini. Dengan langkah malas Davin mendekati meja Rick, sontak membuat Rick menutup hidung nya dengan dua masker sekaligus. Davin berdecih melihat reaksi berlebihan dari Rick.


"Ini, habis kan dengan gelas nya sekalian." Ketus Davin kemudian kembali ke meja nya. Air mukanya sungguh tak enak di lihat.


"Yang ikhlas, nanti aku bisa tersedak kalau kau terus mengomel. Kalau tidak ikhlas ya sudah, ambil kembali. Aku bisa minum di rumah nanti, buatan istri ku jauh lebih enak dari ini." Rick menggeser gelas dengan sedikit kasar, rupa nya gerutuan Davin membuat Rick sedikit sensitif. Semua mata saling beradu pandang, sikap Rick memang sedikit aneh belakang ini. Pria itu mudah tersinggung dan suka mengomel panjang. Sungguh seperti bukan Rick saja.


"Ck! minum saja, aku hanya sedang mengomel pada cicak cicak di dinding.. diam-diam berharap. Bukan pada mu.." Jelas Davin berdecak sebal, kenapa jadi dia yang membujuk pria itu. Bukan kah dia yang memulai perang duluan.

__ADS_1


Rick bergeming, namun ekor mata nya sesekali melirik ke arah gelas. Yodra diam memperhatikan, tak tahan lagi, gadis itu berpura-pura akan menghabiskan minuman tersebut.


"Seperti nya kalian tidak ada yang menginginkan minuman ini, aku saja ya. Aku sedikit kembung soalnya." Dengan gaya seolah akan meraih gelas dari meja Rick. Yodra mengulur kan tangan nya untuk mengambil gelas tersebut. Namun Rick dengan sigap meraih nya terlebih dahulu.


"Ini punya ku, kau buat saja sendiri." Ketus Rick segera meneguk teh jahe madu buatan Davin itu. Tak ada yang berani tertawa, cukup ngakak dalam hati masing-masing saja begitu lah pikir mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bu, tadi bapak pesan. Menu makan malam nanti bapak mau di buatkan sayur santan nangka, ayam goreng sama sambal terasi. Tapi nangka abis, bibi ke pasar dulu. Barangkali ibu ada titipan, biar bibik sekalian belikan." Tanya bi Sidah pada majikan nya. Ana tengah mencuci tomat, cabai dan kawan-kawan. Wanita itu tertegun mendengar pesan sang suami, bukan nya Rick tidak suka nangka. Kenapa tiba-tiba sekali, aneh pikir nya heran.


"Tidak ada bi, hati-hati aja. Tapi kalo masih buka, aku pengen di belikan wade pasar aja. Dadar gulung isi apa aja, kue isi kelapa sama bingka kentang kalau ada. Beli aja banyak, buat bibi sama pak Tono juga. Rick pasti mau, biar di sisain di kulkas." Bi sidah mencatat semua pesanan majikan ke dalam buku kecil catatan belanja milik nya. Setelah semua semua siap, kantung belanjaan sudah terselip rapi dalam dompet belanja nya. Bi sidah berangkat bersama pak Tono. Kini tinggal lah Ana seorang diri.


Ana terlihat tengah berpikir untuk membuat kan bumbu kuning untuk sayur nangka nanti.


Ting tong

__ADS_1


Suara bell dari arah gerbang rumah nya berbunyi, Ana ingat jika pak Tono sedang ke pasar bersama bi Sidah. Maka segera diri nya bergegas menuju pintu depan, dengan masih menggunakan celemek Ana sedikit berlari menuju gerbang yang berjarak sekitar 50 meter dari teras rumah nya.


"Maaf cari siapa ya.." tanya Ana dari balik pagar, ada celah kecil yang sengaja di buat untuk melihat siapa yang bertamu ke rumah mereka. Ana hanya nampak punggung seseorang, jadi dia sedikit ragu untuk langsung membuka pintu pagar. Seorang pria paruh baya menoleh ke sumber suara, senyum nya terbit saat melihat sang tuan rumah. Berbeda dengan Ana, wajah nya menunjukkan reaksi syok.


__ADS_2