
Rick nampak gelisah di depan sebuah ruangan, ada beberapa orang yang seperti sedang berusaha menenangkan nya.
"Duduk Rick, nanti kau akan kelelahan dan tak ada tenaga untuk menggendong keempat anak mu." Titah Jovan sedikit kesal. Bukan hanya Rick yang mencemaskan Ana. Namun mereka semua pun sama. Namun melihat bagaimana Rick mondar mandir seperti gosokan laundry. Membuat kecemasan mereka bertambah berkali-kali lipat.
"Aku tuh cemas, di! istri ku sedang berjuang melahirkan anak-anak ku di dalam sana. Entah bagaimana kondisi nya sekarang. Empat di, empat!" Rick sedikit meninggi kan suara nya tanpa sadar. Bukan nya bermaksud begitu, namun situasi nya saat ini benar-benar sedang kacau.
"Duduk lah nak, Ana istri mu adalah wanita yang hebat. Lihat lah tadi sebelum dia masuk, Ana begitu tegar." Nasihat Sahira lembut. Bukan nya dia tak cemas, jelas hati nya sangat khawatir sekarang. Putri nya masih sangat muda, dan kini sedang berjuang di meja operasi untuk membawa keempat cucu nya ke dunia.
Akhirnya Rick duduk di samping Lukas, pria itu paling pendiam sejak tadi. Lukas memendam kecemasan nya seorang diri. Dia sangat takut sesuatu terjadi pada sang adik. Dalam diam nya Lukas mengucapkan banyak kalimat permohonan kepada Tuhan, agar memudah kan proses persalinan adik nya.
Klek
Pintu terbuka setelah hampir setengah jam tertutup rapat. Empat orang perawat dengan empat boks bayi di dorong di tangan masing-masing. Senyum Rick melengkung sempurna. Pria muda yang kini sudah resmi menjadi seorang ayah itu beranjak menghampiri boks anak-anak nya dengan perasaan haru.
"Hai anak-anak ayah, terimakasih sudah lahir ke dunia dengan keadaan sehat. Kalian akan menjadi anak-anak hebat nya ayah dan bunda, kami menyayangi kalian nak." Rick berucap dengan nada suara bergetar. Pria itu menangis haru melihat bagaimana keempat makhluk kecil itu menggeliat seperti sedang mencari sesuatu.
"Kami akan membawa mereka ke ruang khusus untuk sekedar observasi saja, selebihnya bayi-bayi bapak sangat sehat. Paru-paru juga jantung nya sudah sangat matang dan kuat. Nanti setelah ibu nya sudah sadar sepenuhnya dan di pindahkan ke ruang rawat, bayi-bayi bapak akan kami antar ke ruangan." Jelas sang dokter sedetail mungkin. Rick mengangguk tanpa menoleh, mata nya masih fokus memindai keempat anaknya satu persatu. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Persis seperti yang selama ini terlihat di layar USG.
Joi dan Elisa memilih ikut ke ruang bayi meski hanya boleh menjaga di raung tunggu, sementara yang lain memilih menunggu Ana selesai dengan segala proses nya di ruang operasi.
"Pak Rick, ada yang ingin kami sampaikan.." sang dokter terlihat ragu, namun harus di sampaikan juga. Pria itu terlihat masih sangat muda, dia khawatir kesiapan mental Rick masih belum mampu menerima kabar kurang baik dari nya.
__ADS_1
"Katakan saja dok..!" desak Rick tak sabar, detak jantung nya mulai bertalu lebih cepat dari keadaan normal. Ada kecemasan terselip dari sorot mata sang dokter, dan itu membuat hati nya tak tenang.
"Ibu Ana mengalami sedikit pendarahan, namun sudah kami atasi. Hanya saja.."
"Hanya saja apa dok?! jangan setengah-setengah kalau bicara..!" sungguh Rick sudah mulai memperlihatkan sikap emosional nya. Membuat sang dokter semakin cemas untuk melanjutkan kalimatnya.
"Rick!" sela Jovan menegur sikap sang anak.
"Ibu Ana mengalami penurunan kesadaran, setelah proses operasi selesai kami akan memindahkan ibu Ana ke ruang ICU untuk memantau perkembangan nya lebih intensif." Jelas sang dokter akhirnya. Ada kelegaan setelah berhasil menyampaikan kalimat mendebarkan tersebut. Bagaimana pun, Rick adalah cicit dari pemilik rumah sakit tempat nya bekerja. Sangat perlu untuk berbicara dalam bahasa yang mudah di cerna.
Lutut Rick serasa tak bertulang begitu pun Lukas, sejak tadi pria itu hanya menyimak di samping Rick tanpa menyela sedikit pun.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, bu" pamit sang dokter dengan nada rendah.
Sahira terisak dalam pelukan suami nya, ya mereka sudah menikah lagi satu bulan yang lalu. Sidharta berusaha menenangkan sang istri meski hati nya pun tak baik-baik saja. Jovan terdiam mencerna keadaan, lalu berusaha menelpon beberapa keluarga untuk menyampaikan berita bahagia akan kelahiran cucu-cucu nya. Sekaligus berita tak mengenakan tentang Ana sang menantu kesayangan. Permata keluarga mereka.
Satu jam berlalu, di sini lah Rick. Menggenggam tangan pucat sang istri yang terasa sangat dingin di genggaman tangan nya. Rick menangis tanpa suara, hanya air mata yang mewakili betapa hancur nya perasaan nya saat ini. Di sisi lain hati nya terselip kebahagiaan atas kelahiran keempat anak nya. Namun di sudut lain menyimpan perih yang tak terelakkan. Ana nya koma, tentu saja hati nya ikut terluka.
"Cepat bangun bun...ayah sama anak-anak tidak sabar mau bermain bersama bunda. Jangan tidur terlalu lama, kasihani ayah..kami tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa bunda.." air matanya mengalir begitu deras, isakan kecil nya dia redam di telapak tangan dingin sang istri. Sungguh ini di luar ekspektasi nya.
"Pak, jam besuk sudah habis.." ucap seorang perawat berhati-hati, bagaimana pun ada beberapa pasien lain di dalam sana. Dan mengingat ada beberapa keluarga dari pasien-pasien tersebut yang juga ingin membesuk. Maka mau tak mau sang perawat harus sedikit memberanikan diri untuk menegur sang cicit pemilik rumah sakit.
__ADS_1
Rick menatap jam yang menggantung di dinding di ruangan itu. Setelah pamit pada sang istri, Rick berjalan keluar ruang tunggu dengan langkah gontai. Di sana ada beberapa keluarga nya yang sedang duduk lesehan di atas karpet. Kapasitas kursi yang tidak mencukupi jumlah keluarga pasien, tak menyurut kan tekad mereka untuk menjaga Ana meski harus duduk di lantai dingin itu.
"Ana gimana Rick..?" tanya Delia mewakili rasa penasaran keluarga yang lain.
"Masih seperti saat keluar dari ruang operasi tadi, mi." Rick duduk di karpet lalu bersandar lemah di tembok. Kepala nya menunduk dalam di antara kedua kaki nya.
Zero menyodorkan segelas teh hangat untuk sang keponakan. Rick menyambut nya meski lidah nya terasa sangat pahit untuk menelan apapun sekarang.
"Berdoa saja, Ana wanita hebat. Lihat lah, dia mampu menjaga keempat anak kalian dengan sangat baik. Tadi papi baru saja menengok anak-anak mu, mereka anteng, tidak rewel sama sekali. Mungkin tau, jika ayah dan bunda nya masih belum bisa nengok." Kekeh Zero meski terasa tawar.
Tangan nya terulur menyerahkan ponselnya, terlihat empat bayi mungil yang tengah menggeliat sambil meminum susu formula.
"Ini si cantik ?" tanya Rick pada sang paman sambil menunjuk bayi yang paling pendiam di antara saudara nya.
"Ya, si cantik kita. Dia yang paling bungsu, tapi paling banyak ngalah pada kakak-kakak nya. Selama di sana dia sama sekali tidak pernah rewel kata perawat yang menjaga nya. Anak mu ini persis Ana, tenang dan lebih kalem." Rick tersenyum simpul, benar Ana nya memang pribadi yang tenang.
"Tidak pengen nengok si kembar dulu?" Jeslyn angkat suara. Rick menggeleng pelan. Entah apa maksudnya.
"Aku akan menengok mereka nanti saja, aku takut aku tak bisa meninggalkan mereka walau sedetik. Aku mau fokus sama Ana dulu saja, titip anak-anak ku ya ma, mi, bu.." Delia, Debya dan Jeslyn mengangguk samar. Rick terlihat putus asa, mereka tau betapa Rick sangat mencintai Ana istri nya melebihi apapun. Mereka sepakat untuk membagi waktu, sebagian untuk berjaga di ruang tunggu bayi, dan sebagian lagi stand by untuk berjaga di ruang tunggu ICU. Kondisi Ana memang memprihatinkan, namun kondisi mental Rick jauh lebih mengkhawatirkan.
Mereka takut terjadi sesuatu yang tak di Ingin kan pada Ana. Dan Rick akan menjadi orang pertama yang harus mereka tangani. Jika tidak, bisa di pastikan mereka harus menyiapkan dua pemakaman sekaligus. Cinta Rick pada Ana sudah melekat bagai daging dan tulang. Tak ada yang dapat memisahkan keduanya bahkan maut sekalipun.
__ADS_1