
Senyum Rick terus mengembang sepanjang perjalanan, tangan nya menggenggam erat jemari Ana seakan takut jika istri nya itu akan kabur dari nya. Tadi mereka ke rumah sakit menggunakan mobil Lukas. Pria itu bersikeras agar Rick membawa mobil nya. Dan dia yang akan menggunakan motor gede milik Rick. Nyata nya, Lukas tidak kemana pun, pria itu nampak gelisah menunggu kepulangan sang adik dari rumah sakit. Beberapa kali Lukas terlihat membuka artikel tentang kehamilan, dia ingin ikut berperan dalam menjaga kesehatan kehamilan adik nya nanti. Hitung-hitung sebagai ganti, karena perpisahan mereka dulu Lukas kehilangan banyak momen dalam pertumbuhan Ana.
"Bi, senyum terus. Tidak kering itu gigi..." tegur Ana, suami nya sudah seperti bintang iklan pasta gigi.
"Tidak, aku sedang sangat bahagia. Akhir nya dalam waktu 8 bulan ke depan, aku akan segera menjadi seorang ayah. Ayah dan bunda, bagus tidak kalau kita di panggil seperti itu?" Ana hanya mengangguk saja, apa pun itu tidak masalah bagi nya.
"Ayang denger tidak kata dokter tadi? ada empat sayang, empat! Ya Tuhan, bahagia nya aku yang. Tidak bisa di urai dengan kata-kata. Mimi pasti bakal nangis Bombay kalo tau cucu nya langsung dapat empat. Keluarga yang lain juga, selain mimi dan mendiang nenek. Sekarang aku yang menerus warisan gen anak kembar terbanyak dalam keluarga..." Rick terus berceloteh riang sesekali mencium gemas punggung tangan Ana. Ana tersenyum haru, hati nya di penuhi banyak kebahagiaan tak terkira. Meski dia pun sedikit cemas, apa kah diri nya mampu menjadi seorang ibu dari empat orang anak sekaligus.
Saat dokter mengatakan ada dua kantung kehamilan di rahim nya, perasaan nya mulai was-was. Apa lagi saat dokter mengatakan jika di masing-masing kantung tersebut, ada dua calon anak mereka tengah bertumbuh dengan sehat.
"Jangan takut ya...kita bisa minta operasi nanti, aku juga khawatir kalau ayang melahirkan normal. Empat bayi bukan perkara mudah, satu saja bisa membuat orang menyerah dan minta di operasi. Apa lagi empat, itu beresiko. Aku tidak mau terjadi apapun sama ayang juga anak-anak kita." Rick rupa nya memahami kegundahan hati sang istri, sejak dari rumah sakit tadi Ana lebih banyak dan hanya sesekali menanggapi perkataan nya.
Ana menoleh pada Rick, dia bersyukur memiliki suami yang sangat peka. Tanpa harus selalu dia mengutarakan isi hati nya secara gamblang setiap saat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Joi nampak heran, saat melihat motor kesayangan sang anak terparkir rapi di garasi. Namun di panggil-panggil tidak ada yang menyahut sama sekali. Pak Tono dan bi Sidah pun tak nampak batang hidung nya.
"Pada kemana nih anak-anak ya.." gumam Joi pada diri nya sendiri, Jovan yang tak sabar segera masuk ke dalam rumah. Namun nihil, ruang tamu kosong melompong tak ada penghuni nya. Biasa nya Ana akan bersantai bersama bi Sidah menyiram tanaman atau sekedar bercerita.
"Pada kemana sih anak-anak ?" omel Jovan pun tak sabar. Tak lama hidung nya mencium aroma khas rendang dari dapur, senyum nya terbit sejuta watt. Dia pikir pasti sang menantu tengah berkutat di dapur, mengingat hobi Ana dalam hal memasak tak ada dua nya.
Kening Jovan mengerut dalam, melihat punggung kokoh seorang pria tengah berkutat di hadapan kompor dengan spatula di tangan nya. Tak lupa terlihat memakai celemek bermotif buah-buahan.
"Khemmm..." deheman Jovan membuat Lukas berbalik kaget.
"Eh..paman, baru tiba? aku sedang memasak rendang daging kebetulan di kulkas ada bumbu masak buatan Ana. Juga acar jadi di toples kaca di kulkas." Jelas Lukas tanpa di minta, tangan nya terus mengaduk masakan nya dengan sesekali menoleh ke arah Jovan. Rasa nya tidak sopan jika berbicara pada orang tua tidak melihat ke arah orang nya langsung.
__ADS_1
"Ana sama Rick mana? motor nya ada di depan tapi di panggil-panggil tidak ada yang menyahut." Tanya Jovan heran.
"Ke rumah sakit tadi pakai mobil ku, paman. Mungkin sebentar lagi pulang, " lanjut Lukas menjelaskan.
"Siapa yang sakit?" seru Joi dari arah ruang keluarga, suara nya begitu nyaring dan terdengar panik. Jovan dan Lukas sampai terjengkit kaget.
"Siapa yang sakit Lukas?" ulang Joi tak sabar. Tatapan nya menghunus ke arah Lukas membuat pria itu bergidik ngeri lalu menatap Jovan.
"Ana pe....."
"Ana? astaga! Bagaimana bisa Rick tidak mengabari kita jika menantu mimi tengah sakit. Anak itu benar-benar keterlaluan sekali, awas saja kalau sampai menantu mimi kenapa-napa. Habis dia mimi jadi kan daging cincang." Omel Joi kesal, Lukas meringis mendengar ancaman wanita cantik itu.
"Tidak sakit bibi, Ana hanya melakukan pemeriksaan saja." Jelas Lukas, dia tak ingin timbul kesalahan pahaman akibat penjelasan nya. Namun Joi yang sudah kadung panik terus menelpon Rick juga Ana secara bergantian.
"Ni anak kebiasaan banget, fungsi nya handphone itu buat apa sih..!" gerutu Joi kesal.
Lukas mematikan kompor nya lalu menatap ke arah Jovan yang hanya bengong melihat istrinya mondar-mandir tidak jelas.
"Mereka mungkin sedang melakukan pemeriksaan, jadi ponsel nya tidak di angkat atau mungkin juga sudah di jalan. Rick kan paling tidak suka mengangkat telpon kalau lagi berkendara..." terang Jovan menenangkan hati sang istri tercinta.
"Tuan nyonya ?" sapa bi Sidah yang baru pulang dari pasar, kedua tangan nya penuh dengan dua kantung belanjaan. Pak tono menyusul dari belakang setelah memarkir kan motor matic nya di garasi.
"Bibi kenapa tidak bilang kalau Ana sakit?" semprot Joi membuat wanita itu terkesiap. Pasal nya tadi majikannya itu baik-baik saja ketika dia tinggal kan.
"Maaf nyonya, tadi waktu bibi ke pasar ibu baik-baik saja. Mungkin baru saja setelah bibi pergi," ujar nya takut-takut. dan merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga sang majikan dengan baik.
Lukas hanya bisa menghela nafas panjang, wanita itu sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan nya.
__ADS_1
Suara deru mobil terparkir membuat Joi berlari kecil menuju teras rumah.
"Ana sayang? kamu sakit apa hmmm? apa Rick tidak bisa menjaga mu dengan baik, tinggal dengan mimi saja ya..." todong Joi beruntun, Ana yang baru keluar dari mobil di buat linglung bingung.
"Mimi apa-apaan sih, Ana harus segera istirahat malah di todong banyak pertanyaan." Omel Rick pada sang ibu, Joi menggandeng lengan menantu nya sebelum Rick sempat mengambil alih istri nya. Pria itu mendengus dari arah belakang melihat bagaimana posesif nya sang ibu pada istri nya.
"Duduk sini, sekarang ayo cerita sama mimi. Ana sakit apa hmmm? kenapa tidak bilang sama mimi?" lanjut Joi duduk di samping sang menantu kesayangan.
"Ana tidak sakit mi, kami hanya melakukan pemeriksaan kehamilan saja untuk memastikan mungkin saja Ana tengah hamil. Karena aku mengalami gejala sindrom couved kata dokter di klinik kantor." Jelas Rick mewakili sang istri untuk menjawab pertanyaan ibu nya.
Joi sejenak terdiam begitu pula Jovan, sementara Lukas hanya menunggu informasi selanjutnya.
Selanjutnya, suara teriakan antusias Joi memenuhi ruang tamu tersebut.
"Ya Tuhan..! terimakasih..mimi bakal jadi oma muda yang Keceh abis. Jadi gimana, positif kan?" binar bahagia di mata Joi membuat Ana bernafas lega. Lega karena diri nya benar-benar hamil, dengan begitu dia tidak akan mematahkan kebahagiaan sang mertua.
"Positif mi, 3 minggu. Rick bakal jadi ayah dari empat orang bayi lucu nanti." Lagi-lagi Rick yang menyahut dengan penuh semangat. Joi menganga mendengar kabar membahagiakan tersebut lalu memeluk erat menantu nya.
"Mulai sekarang tidak udah pergi ke rumah makan lagi. Kalau pun harus ke sana nanti mimi temani, kalau Rick sedang bekerja. Sudah beli susu hamil, vitamin nya ada di tebus tidak?" Joi begitu antusias, menjadi seorang nenek adalah impian setiap orang tua. Dia sangat bahagia.
"Sudah semua mi, susu, vitamin, buah dan sayur sudah istri akan selalu tercukupi. Aku tidak akan lalai mimi tenang saja." Ujar Rick panjang lebar.
"Selamat ya bu, bibik ikut bahagia. Semoga ibu sehat-sehat selalu sama dedek bayi nya, di lancarkan sampai proses nya nanti tiba." Doa bi Sidah tulus.
"Makasih bi atas doa nya," sahut Ana tersenyum haru.
"Selamat dek, kakak juga akan selalu menjaga mu. Mulai sekarang kakak akan tinggal di sini selama kehamilan mu. Dan ya, jangan lagi kemanapun naik motor. Itu berbahaya." Tegas Lukas tak ingin di bantah, Rick pun tak keberatan. Dan di benarkan oleh Jovan. Sejak lama dia sudah menyuruh Rick menggunakan mobil saja. Namun anak nya keras kepala, sama seperti nya.
__ADS_1
"Selamat untuk mu nak, didi doa kan semoga kau dan cucu didi senantiasa di lindungi. Mimi dan didi akan sering-sering menginap di sini nanti." Sambung Jovan yang juga tengah merasakan kebahagiaan di hatinya. Benar kata orang, jika sudah menyangkut cucu. Maka akan berbeda rasanya. Kasih sayang tumbuh besar tanpa bisa di cegah, rasa nya sangat luar biasa berlipat-lipat.
"Makasih kak, mimi juga didi. Ana senang berada di tengah-tengah keluarga yang menyayangi Ana dengan tulus." Ucap Ana dengan mata berkaca-kaca. Diri nya merasa sangat beruntung, belasan tahun hidup dalam kekurangan ekonomi. Berjuang begitu keras demi bisa sekolah dan makan yang layak. Kini semua terbayar lunas. Kebahagiaan memang datang menunggu waktu yang tepat, dan kini lah waktu yang tepat bagi nya untuk meraih semua puncak kebahagiaannya itu.