Beloved My Ana

Beloved My Ana
Banjir orderan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Rick sudah siap dengan motor gede nya. Hingga mata nya menatap posisi satu boks yang terikat miris di jok motor nya. Boks yang berisi 20 bungkus nasi kuning di ikat di jok belakang, dan yang berisi 15 bungkus di depan. Tidak di ikat, hanya di taruh saja. Dan Rick harus ekstra menjaga keseimbangan motor nya, agar bisa menopang beban motor sekaligus menahan boks tersebut agar tidak terjatuh.


"Kok bengong, telat loh by?" ujar Ana mengingat kan, saat melihat suami nya masih melamun menatap motor nya. Terbersit di pikiran Ana, jika suami nya berubah pikiran. Mungkin baru terpikir malu ketika akan berangkat, saat melihat muatan yang sedikit mengganggu penampilan macho suami nya.


"Eh? sayang? itu, aku lagi kepikiran, gimana kalau motor ini kita jual saja. Aku berniat untuk membeli motor matic. Muatan nya lebih banyak, jika saja nanti aku dapat orderan dari kantor. Karena aku punya feeling, kita akan kebanjiran orderan nanti nya." Jelas penuh keyakinan pria itu terlihat menimbang-nimbang. Motor itu dia beli setelah dua tahun menabung, namun tidak masalah bagi Rick. Sekarang yang dia fokuskan adalah kendaraan yang bisa memuat banyak barang, bukan sekedar gaya-gayaan.


"Tapi kan sayang, bukan kah ini motor kesayangan mu by?" ujar Ana sedikit keberatan, dia tau bagaimana suami nya menabung untuk membeli motor itu. Itu bukan lah motor baru saat di beli, melainkan milik sepupunya. Baru pakai 3 bulan, sepupu nya sudah merasa bosan dan mengganti nya dengan merk lain. Rick menego harga pada kakak sepupu nya, dan akhirnya kesepakatan terjadi. Rick menguras hampir setengah isi tabungan nya.


"Tapi kalu fungsi nya hanya buat agar terlihat keren, aku sudah tidak butuh lagi. Aku akan selalu keren di mata istri cantik ku ini, benar kan?" Rick menatap penuh puja pada istri nya. Ana tersipu sambil tersenyum manis.


"Tentu saja suami ku paling keren, bahkan pakai sepeda saja terlihat sangat keren dan tampan." Puji Ana tulus sembari mencubit gemas hidung mancung suami nya. Rick bersemu mendengar kalimat pujian dari sang istri.


"Sayang bisa aja muji nya, jadi malas ke kantor kalau begini." Ucap Rick mencium gemas pipi bulat Ana.


"Udah, berangkat sana. Hati-hati di jalan, takut boks nya oleng. Kalau sekiranya agak ribet, mending aku ikut aja gimana ? tar pulang aku naik angkot." Tawar Ana yang baru terpikir kan ke sana. Rick terlihat berpikir, kepala nya menggeleng kuat, Ana sampai di buat heran melihat tingkah lucu suami nya.


"Big no, sayang. Di angkot banyak penumpang nya, bagaimana jika ada pria yang lebih tampan dari ku? tidak, aku tidak mengijinkan!" Tolak Rick tegas.

__ADS_1


Ana menggeleng pelan lalu mengeluarkan nafas panjang. "kalau naik taksi, bagaimana ? kan hanya ada sopir orderan dan penumpang nya saja." tukas Ana mencari solusi lain.


"Tapi bagaimana jika sopir nya ternyata sangat tampan ? atau seorang playboy ? atau? Ahk! tidak sayang, kau di rumah saja. Aku berangkat ya, jangan kemana-mana. Setelah selesai jam kerja ku aku akan langsung pulang, aku usahakan agar tidak ada lembur malam ini. Baik-baik di rumah, nonton, baca buku, bikin kue atau bergosip sama bi Sidah. Itu akan lebih baik, aku juga bisa bekerja dengan hati dan jiwa yang tenang." Setelah berpamitan penuh drama, Rick akhirnya berangkat juga.


Ana dan bi Sidah yang kebetulan akan ke pos depan mengantar pisang goreng, tertawa lucu melihat bagaimana repot nya Rick menopang dua boks yang menjepit nya di tengah-tengah. Boks di belakang Rick mengikuti posisi sadel nya yang miring ke depan.


"Bapak lucu sekali, padahal dulu paling tidak suka di tumpangi orang. Bahkan adik-adik nya pun tidak ada yang berani meski sekedar meminjam untuk berbelanja ke depan komplek." Kekeh bi Sidah berdiri di samping Ana dengan piring berisi beberapa potong pisang goreng.


"Berarti aku beruntung ya, bi? karena menjadi orang pertama yang Rick bonceng." Balas Ana tersenyum senang.


"Benar bu, ibu dan bapak sama-sama beruntung. Saling mencintai, menyayangi, dan melengkapi satu sama lain. Bibi senang bisa bekerja bersama sama bapak dan ibu, betah bibi." Kekeh bi Sidah. Bi Sidah adalah cucu bi Surti (art Reegan Sarah di Novel, "Di Ujung Lelahku!").


"Syukur kalau betah, Ana juga senang ada bibi dan pak Tono di sini. Tidak kesepian lagi kalau Rick bekerja." Terang Ana sumringah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rick menatap puas pada rekan-rekan kerja nya, di mana nasi kuning bawaan nya di makan dengan sangat lahap. Rick dapat membedakan, mana orang yang sekedar karena makan makanan gratis, atau memang benar-benar menyukai nya.

__ADS_1


"Rick! Besok aku pesan nasi kuning satu sama nasi padang satu, lauk nya samaan aja. Nasi Padang nya bumbu rendang, kan?" Tanya Davin memastikan.


"Ya, kalau nasi Padang bumbu rendang. Jadi dua ya, aku mau langsung catet nih soalnya biar tidak lupa." Balas Rick menatap rekan kerja nya.


"Yupz! dua bungkus, buat sarapan sama makan siang," Ucap Davin pasti, Rick mulai mencatat pesanan yang terus berdatangan dari rekan-rekan kerja nya. Hati nya senang bukan kepalang. Sekarang di mengerti arti senyum cerah Ana ketika ada orang yang memesan dagangan nya. Walau hanya dalam jumlah sedikit saja, senyum di bibir istri nya seolah enggan surut. Kini dia pun merasa kan nya. Dia jadi tidak sabar segera melihat pembangunan rumah makan impian istri nya itu.


"Total nya ada 28 pesanan. Fix semua kan? kalau misalkan lauk nya mau di ubah masih bisa sampai jam kerja usai, setelah itu orderan langsung aku keep. Tidak menerima perubahan lagi setelah nya, karena sepulang kerja, aku langsung ke pasar untuk membeli bahan nya." Lisa dan hampir seluruh manusia yang berada di dalam ruangan itu hampir saja tersedak makanan masing-masing.


Bagaimana tidak, pria sekeren, setampan dan segala-galanya seperti Rick. Rela masuk pasar demi berbelanja bahan dagangan nya.


"Jadi kau membeli bahan jualan mu sendiri ? istri mu apa tidak keterlaluan, ma maksud ku. Kau kan sudah lelah bekerja, dan harus mampir untuk berbelanja dalam jumlah banyak. Bukan kah itu merepotkan ?" Celoteh lisa mengemukakan pendapat nya. Yodra memutar bola matanya jengah, selalu saja cari masalah batin nya ikut dongkol dengan argumen rekan kerja nya itu.


"Kenapa kau yang repot, aku bahkan tidak rela jika istri ku berdesakan di pasar. Terkena matahari dan tersenggol pria lain. Lagi pula aku menyukai apa yang aku lakukan, istri ku aku nikahi bukan untuk jadi pembantu. Jadi wajar-wajar saja kalau dia bermanja-manja dengan ku, aku tidak keberatan sama sekali. Kalau kau tidak suka, tidak masalah. Orderan mu aku cancel, beres kan!" ketus Rick dengan nada tak suka. Lalu mencoret nama Lisa di list orderan.


Raut muka Lisa langsung pias "bu bukan begitu maksudku Rick, kau salah paham. Aku hanya merasa iba saja pada mu, tidak bermaksud apa-apa. Tolong jangan batal kan pesanan ku, please ?" Raut wajah memohon Lisa tak di gubris oleh Rick. Suasana mendadak kembali mencekam gara-gara ulah wanita itu. Rick yang irit bicara dan introvert, baru saja membuka diri pada rekan-rekan nya. Namun lihatlah apa yang wanita itu lakukan.


"Dasar perusak suasana!" Ketus Aby jengkel. "Pesanan kami semua tetap jadi ya, Rick. Kau coret dia saja, kami tidak satu server dengan nya." Ucap Aby tak ingin terlibat dengan wanita gatal itu, dia sudah sangat hapal sepak terjang Lisa. 4 Tahun di divisi yang sama, tentu saja dia cukup mengenal baik karakter Lisa.

__ADS_1


"Siap! kalian aman." Pungkas Rick mantap, suasana kembali cerah. Secercah senyum sumringah di wajah Rick yang terus bersinar hari ini. Lebihan 5 bungkus yang dia bawa dia bagi pada satpam juga resepsionis. Makin luas jaringan makin terbuka lebar peluang usaha sang istri, Rick bangga bisa menjadi jembatan bagi istri nya untuk meraih sukses.


__ADS_2