Beloved My Ana

Beloved My Ana
Suami Idaman


__ADS_3

"Kenapa si tembok es bisa berbicara panjang dengan mu, kenapa dengan yang lain sangat irit sekali mengeluarkan kata" tanya Vino di balut rasa penasaran juga rasa aneh yang menegaskan, jika dirinya tidak suka dengan keakraban yang baru dia lihat barusan.


"Terutama dengan ku. Apa kau memelet nya? dukun mana yang kau pakai, berikan alamat nya padaku." Tuntut Lisa berdiri dari kubikel nya sambil melongo kan kepalanya ke arah Yodra.


"Mana ku tau, mungkin karena ingin mempromosikan dagangan istri nya barangkali. Kalian kan dengar sendiri, jika istri nya menjual nasi kuning dan jajanan pasar." Kilah Yodra yang juga masih terkejut, karena baru pertama kali mendengar kalimat panjang dari mulut tajam Rick


"Kau harus menjaga jarak mu dengan nya, kau tau kan Rick sudah menikah. Kau ingin di sebut pelakor ? tidak kan? Jadi dengar kan aku, umur mu bahkan lebih tua dari nya, jangan terlalu berharap banyak." Kalimat melantur Vino membutnya mendapatkan hadiah gaplokan tumit sepatu 5 cm milik Yodra.


"Auwww! kenapa kau malah menimpuk ku!" kesal Vino mengusap kepalanya, meski tidak lah sakit-sakit amat.


"Dasar manja, suka-suka aku dekat dengan siapa. Bukankah kau bikang aku ini jelek, culun dan juga seperti Dora." Sarkas Yodra membuat Vino langsung kicep, "kembali ke meja mu, bukankah kau mengangumi Li...." Vino kembekap mulut lemes Yodra dengan telapak tangan nya, kemudian melotot tajam.


"Kalian berdua kenapa ?" tanya Rick yang baru saja tiba dari pantry. Sesampai nya di sana, kebetulan ada Lia dan Sany yang sedang mencuci kotak bekal mereka, juga kotak bekal yang tadi Rick kasih. Jadi Lia menawarkan bantuan nya sekalian mencuci kotak bekal Rick. Rick pun tak masalah, 3 tahun mengenal gadis itu sudah seperti adik nya sendiri. Akhirnya Rick hanya fokus mencuci bersih tangannya agar aroma terasi sedikit memudar. Sejak mengenal Ana, Rick lebih sering makan menggunakan tangan langsung. Kecuali jika makanan berkuah.


"Eh? Rick ? tidak apa-apa, kami hanya bercanda. Ya kan, Yoa?" Yodra melongo mendengar panggilan yang menggelitik telinga nya tersebut. Yoa? ada-ada saja.


"Ya Rick, Vino suka sekali bercanda walau aku sedang kesal sekalipun." Balas Yodra melirik sini ke arah Vino, pria itu kembali ke meja nya setelah berhasil membungkam mulut Yodra. Benar memang, dirinya sering berbagi cerita tentang betapa dia mengagumi sosok Lisa. Dan sangat ingin memacari nya, hampir setiap hari Vino berusaha mendekati Lisa. Namun gadis itu tidak pernah peka, atau lebih tepatnya, tidak peduli akan perhatian kecil dari rekan kerjanya itu.


"Besok pagi mau di bawa kan nasi kuning tidak?" Yodra kembali melongo mendengar pertanyaan Rick. "Tenang saja, gratis. Tapi setelah mencobanya dan memesan nya kembali, kau harus membayar nya." Ucap Rick dengan wajah serius.


Yodra segera mengangguk mantap, Vino pun sudah gatal ingin ikut nimbrung, akhirnya buka suara. "Apa aku tidak kau tawari juga Rick ?" tanya Vino akhirnya.


"Boleh, berarti dua ya, coba tanya teman-teman yang lain. Mau tidak, biar sekalian di buat banyak, lauk nya aku kasih double, ayam plus telur utuh satu." Rick mulai mempromosikan nasi kuning buatan istri nya, dia pikir, mungkin akan melayani pembeli dari skala kecil dulu sebelum warung makan sang istri jadi. Dia berencana merekrut karyawan agar ada yang membawa Ana nanti.


Yodra berdiri dari kursinya "teman-teman, mohon pasang telinga baik-baik. Besok, Rick akan mentraktir kita sarapan nasi kuning. Jadi, tidak perlu sarapan pagi dari rumah masing-masing. Tapi lusa nya, jika lidah kalian cocok dengan masakan istri nya. Nah, di mulai dari situ, kalian harus menyisihkan sedikit uang sangu, untuk mulai membayarnya. Yang besok sekaligus promosi, jadi masih di gratis kan dulu." Suara seruan Yodra di sambut antusias oleh rekan setimnya. Satu divisi terdapat 23 orang karyawan.


"Wah! boleh juga nih. Berarti besok tidak perlu beli bubur ayam, lumayan uang buat sarapan untuk dana makan siang. " Seloroh seorang pria bernama Aby. "Makasih sebelumnya ya Rick " ucap nya tulus, meski nasi kuning nya bahkan masih berbentuk beras di rumah Rick.

__ADS_1


"Sama-sama, semoga saja cocok. Jadi kalian bisa pesan sarapan juga makan siang padaku. Istri ku juga pintar membuat masakan Padang, harga nya menyesuaikan. Tidak akan mahal seperti di luar, soal porsi, bisa di lihat besok. Di jamin akan membuat perut tidak hanya sekedar terisi, tapi juga kenyang maksimal." Tukas Rick menggebu-gebu, rekan-rekan nya salut, bagaimana pria dingin dan pendiam itu, bisa begitu bersemangat Ketika mempromosikan dagangan nya tanpa rasa malu atau gengsi.


"Siap, Rick " balas Davin Membuat mereka tertawa begitu oun Rick, kata-kata nya mulai di tiru oleh rekan se divisi nya sekarang.


Tak terasa jam kerja Rick sudah berakhir, pria itu mulai merapikan meja nya.


"Rick?" Lisa berdiri di samping meja Rick dengan sedikit gemetar, bayangan di bentak oleh Rick masih menari di ingatan nya.


"Aku akan pulang, kalau tidak penting jangan membuang waktu ku." Ucap Rick acuh.


"Apa aku tidak kau tawari juga, aku juga ingin mencoba nya. Siapa tau cocok dengan lidahku, aku bisa memesan nya lagi pada mu." Ujar Lisa memberanikan diri, Vino dan Yodra pura-pura tidak melihat juga mendengar. Keduanya sibuk merapikan meja masing-masing.


"Aku tidak pelit, semua akan aku bawakan, termasuk kau walaupun aku tidak suka padamu." Ketus Rick sambil mengancing kembali tas ransel nya.


"Terimakasih" cicit Lisa senang, lalu kembali ke meja nya.


"Aku duluan," pamit Rick pada Yodra dan Vino, keduanya mengangguk sambil mengangkat jempol masing-masing.


Setelah memarkir kan motornya, Rick masuk ke dalam pasar dan berbaur dengan kerumunan orang banyak. Matanya tertuju pada sebuah lapak penjual ayam, bibir nya tersenyum lega.


"Berapa bu?" tanya Rick membolak-balik ayam ditangannya.


"Beli banyak apa satu aja mas?" tanya si penjual mulai memegang kalkulator nya.


"Tergantung harganya, aku perlu banyak untuk membuat nasi kuning." Rick mulai jurus negosiasi.


"Oh, bisa kurang kalau banyak. Satu nya 43rb, kalau minta di potong kan sekalian nambah lagi, jadi 47rb." Jelas si penjual.

__ADS_1


"Aku ambil 5, yang ini yang sudah aku pilih. Nanti aku motong sendiri, langsung bungkus aja." Bukan nya apa, Rick ingin membuat potongan yang sesuai selera nya, dia tak ingin jika terlalu kecil, atau juga terlalu besar. Namanya juga bisnis, begitu lah pikirnya.


"Ini mas, totalnya jadi 215rb." Ucap si penjual menyerahkan plastik berisi ayam ke arah Rick.


Setelah membayar, Rick kembali masuk ke dalam pasar namun sebelum itu, dia menitipkan belanjaan pada penjual ayam tadi. Dia ingin membeli beberapa bahan untuk bumbu, karena sering membantu Ana di dapur, Rick tau semua jenis bumbu yang di butuhkan untuk membuat nasi kuning tersebut.


Sementara di rumah, Ana terlihat gelisah. Ana melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah enam, namun belum ada tanda-tanda suaminya pulang. Biasanya Rick akan menelpon nya segera setelah tau akan lembur.


"Kenapa bu? gelisah nunggu bapak ya?" goda art tersebut. Ana tersipu mendengar ucapan art nya.


"Bapak pasti terjebak macet, kalau sore pasti ramai. Orang-orang yang baru pulang bekerja, membludak di jalan kaya orang demo." Seloroh nya menghibur sang majikan.


tak lama suara deruman motor terdengar di halaman, Ana dan art nya segera menyongsong suara tersebut. Ana mengernyit dahinya melihat ada dus di ikat di motor suaminya, di depan nya ada plastik merah yang di alasi dengan potongan kardus di bawahnya. Segera Ana dan art nya melangkah mendekati motor Rick.


"Borong pak," ucap art tersebut membantu menurunkan plastik merah dari motor Rick. "Mau ada acara apa gimana, pak?" lanjutnya kepo, melihat banyak ayam di dalam plastik tersebut.


"Ada acara?" tanya Ana lembut.


"Tidak, buat bikin nasi kuning. Besok aku akan membawa nya ke kantor, kebetulan semenjak aku naik ke jabatan sekarang. Belum ada traktir teman-teman, juga rekan kerja se divisi" Ana mengangguk paham lalu membantu membuka ikatan tali yang membelit kardus.


"Biar aku aja sayang, bi, yang itu berat minta tolong pak Tono saja." Tono segera menghampiri setelah di panggil oleh bi Sidah.


"Buat posri berapa orang, by?" tanya Ana yang sudah mulai meracik bahan untuk membuat bumbu, sementara Rick baru saja selesai memotong ayam di bantu oleh bi Sidah di belakang.


"Satu divisi ada 23 orang, teman-teman dibelakang ada 7 orang. Jadi ada 30 orang, tapi aku mau lebihkan, takut ada yang ikut nimbrung tidak enak kalau pas-pasan." Jelas Rick sambil mengangkat satu dandang sedang yang sudah di isi air dan saringannya. Ana lebih suka jika telurnya nya di kukus dari pada di rebus.


"Ayam nya cuktuo tidak ?" tanya Ana khawatir. Selama ini dia hanya mampu membuat nasi kuning dengan lauk telur, jadi sedikit sulit memprediksi berapa ekor ayam untuk berapa bungkus nasi kuning.

__ADS_1


"Cukup sayang, ada banyak. 50 bungkus juga masih dapat. Itu mie nya mau di rebus sekalian tidak?" Rick nampak begitu bersemangat, Joi yang tadi akan menyapa anak menantu nya yang tengah berkutat di dapur menghentikan langkahnya. Begitu juga Jovan, kedua nya saling menatap satu sama lain. Joi tersenyum bahagia, melihat bagaimana Rick rela berkutat di dapur juga amis nya ayam, demi membantu sang istri.


Putranya benar-benar sudah berubah total, menjadi suami idaman yang sangat cekatan.


__ADS_2