
Tahun terlewati, tak terasa kini Rick tengah berdiri di sudut ruangan sambil mengusap sudut mata nya yang berembun. Putri nya Ayank, hari ini akan melangkahi ke tiga kakak nya. Gadis yang dulu semungil boneka kelinci, kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Berprofesi sebagai seorang dokter di rumah sakit keluarga Sudibyo.
Usapan halus di lengan nya membuat atensi pria tampan itu teralih kan. Senyum nya langsung mengembang saat tau siapa yang tengah berdiri di samping nya.
"Kenapa malah menyendiri di sudut saat semua orang tengah menikmati pesta semeriah ini?" Rick hanya tersenyum, dia tak sanggup berkata-kata. Ayank merupakan putri kecil kesayangan nya. Meski yang lain pun sama, hanya saja, Ayank sedikit berbeda.
Seumur hidup nya, gadis itu tak pernah berjauhan dengan kedua orang tua nya. Dan setelah menikah akan pergi bersama sang suami ke Jerman untuk waktu yang tak tentu. Hati Rick masih tak rela untuk melepaskan putri nya pergi jauh dari jangkauan nya.
Terutama saat suami sang anak yang terlihat tak begitu tulus menurut penilaian nya sebagai orang tua. Entah lah, mungkin karena hati nya yang masih belum merelakan.
"Aku baru saja bercengkrama dengan beberapa kolega dan keluarga lain. Sekarang aku hanya ingin menyendiri, tapi jika yang menemani ku adalah bidadari secantik ini. Sungguh aku tidak keberatan." Seloroh Rick tertawa pelan.
Ana menatap manik memerah sang suami, dia tau apa yang pria itu rasakan. Pernikahan putri nya hanya berselang satu bulan setelah acara pertunangan di gelar. Dan itu terkesan terburu-buru bagi mereka sekeluarga. Namun menentang kehendak sang anak, pasti akan melukai hati gadis itu.
"Apa kah ini yang di sebut, kesepian di tengah keramaian?" tanya Ana terkekeh kecil, pandangan nya teralih menatap ke arah pelaminan. Senyum sang anak membuat hati resah nya sedikit terobati. Semoga saja putri nya bahagia selalu. Doa hati Ana lirih.
__ADS_1
"Apa kita perlu menyiapkan satu lagi kamar pengantin sayang? aku seperti nya berniat mengulang malam pengantin kita." Goda Rick menatap penuh rayuan pada sang istri. Ana mencebik, suami nya tak pernah berubah.
"Yang benar saja, aku khawatir kau akan encok besok pagi nya hubby.." ujar Ana meledek.
"Kau meragu kan keperkasaan ku, sayang?" tanya Rick mendekat kan wajah nya pada sang istri. Hingga suara deheman membuat kedua nya serentak menoleh.
"Maaf menyela momen keromantisan kalian" sapa seorang tamu undangan.
Ana tersenyum ramah pada tamu undangan sang anak.
"Tidak masalah, kami hanya sedang mendiskusikan rencana bulan madu kedua. Mungkin kami bisa mencetak satu atau dua lagi boneka Barbie sebagai penghibur di masa tua ini." Ujar Rick merangkul posesif pinggang sang istri. Tak lupa kecupan hangat di kening Ana menambah sensasi panas di kepala sang tamu.
"Karena bagi ku, kami adalah pengantin baru setiap hari nya. Istri ku ini selalu pandai membuat ku lupa pada usia yang seiring waktu berjalan tanpa menunggu. Ah, bagaimana dengan mu Yumna? ku dengar Niko baru saja mengalami kecelakaan tunggal dua bulan yang lalu. Maaf aku belum sempat menjenguk nya, waktu ku sedikit padat belakangan ini. Kau tau? aku sangat antusias mempersiapkan pernikahan putri ku. Rasa nya sesuatu yang sangat membanggakan bisa menjadi orang tua yang berguna." Ucap Rick tersenyum bangga.
Entah sindiran atau memang ungkapan hati yang sesungguh nya, namun kalimat Rick seperti tengah menyindir di telinga Yumna. Wanita itu seperti tak pernah ada kapok nya mengusik kehidupan Rick dan Ana. Meski tak pernah sekali pun usaha nya berhasil.
__ADS_1
"Suami ku sudah membaik, hanya saja masih harus menjalani serangkaian fisioterapi untuk memulihkan kekuatan kaki nya. Selebihnya baik-baik saja, termasuk keuangan perusahaan yang sempat memburuk karena ulah seseorang." Rick tersenyum samar. Dia tau Yumna tengah menyindir nya namun dia tak peduli. Dia hanya melakukan sesuai porsi nya, siapa yang menabur beling maka bersiaplah untuk terluka. Rick tidak bodoh sehingga tidak mempersiap kan zirah untuk melindungi diri nya.
"Ku harap suami mu segera membaik dan pulih seperti sedia kala. Sampaikan salam hangat dan sejumput doa ku untuk nya. Kata kan aku dan beberapa rekan menanti nya kembali bergabung di proyek kerja sama kami. Sepi rasanya, tanpa ocehan seorang pembual seperti suami mu." Telak! Rick benar-benar memukul harga diri Yumna hingga remuk redam.
Mulut pria itu semakin lanteh saja meski usia nya tak lagi muda. Yumna menahan gatal di kepalan tangan nya agar tak menonjok mulut berbisa milik pria di hadapan nya itu. Heran saja, kenapa dulu dia sampai merelakan harga dirinya terinjak-injak demi mendapatkan perhatian Rick. Kini dia menyesali nya, dia lebih ingin membunuh pria itu ketimbang menjadikan nya seorang pendamping.
"Ah Yumna, silahkan nikmati hidangan sederhana di sana. Semoga sesuai selera mu, dan nikmati pesta nya juga. Sayang, kau lupa ingin menunjukkan sesuatu pada ku? aku ingin melihat nya sekarang." Ujar Ana mengalih kan pembicaraan.
Yumna meninggalkan pasangan suami istri paling menyebal kan di dunia ini menurut versinya. Hati nya kesal, marah dan entah apa lagi. Jika saja dia bisa melenyapkan kedua manusia yang sudah membuat hidup nya porak poranda, akan dia lakukan dengan senang hati.
"Kenapa selalu saja berdebat jika bertemu, ingat usia kita tak lagi muda. Ada saat nya mengalah walau tak salah, diam walau hati tak senang. Semua ada waktu nya masing-masing untuk di tunjuk kan, hmmm.." ujar Ana lembut. Dia tau bagaimana sepak terjang Yumna dan suami nya untuk menghancurkan perusahaan keluarga mereka.
Mereka berdua bersepakat dalam sebuah pernikahan agar bisa bersatu untuk menggoyahkan pertahanan seorang Rick. Sayang sekali usaha mereka selalu menuai kegagalan. Dan semakin mengesalkan saat pernikahan yang merupakan sebuah kesepakatan simbiosis mutualisme, malah menghasilkan anak yang tak di inginkan. Yumna merasa Rick dan Ana lah yang yang telah menyebabkan nya terjerembab dalam keadaan tak mengenakan itu.
"Aku hanya tak suka melihat wanita ular itu berada di sekitar ku, entah siapa yang mengundang nya datang. Sungguh meresah kan. Aku berpikiran buruk melihat kehadiran nya di sini." Sahut Rick dengan raut wajah waspada.
__ADS_1
Mengingat betapa sering nya Yumna membuat kekacauan untuk keluarga nya, membuat Rick selalu berpikir buruk pada wanita itu.
"Kita lihat saja nanti, jika dia melakukan hal yang tak baik. Bunda sendiri yang akan menghadapi nya, hmmm?" Rick mengangguk mantap, istri nya selalu tau cara menghadapi wanita sejenis Yumna.