
"Katakan anak siapa yang tengah kau kandung Sahira!!" teriak seorang pria pada wanita yang kini tergugu di lantai sambil memeluk kedua anak nya . Wanita itu menangis terisak tak mampu menjawab pertanyaan konyol sang suami.
"Katakan Sahira! jangan menguji batas kesabaran ku!!" Ulang nya penuh penekanan. Ingin sekali dia menjambak wanita yang di sinyalir telah mengkhianati cinta itu jika tidak ingin membuat kedua akan nya ketakutan.
"Ini anak mu pa, anak siapa lagi. Aku bahkan tidak pernah kemanapun tanpa mu...," isak Sahira menatap suami penuh permohonan.
"Bibi!!! bawa nona dan tuan muda ke kamar." Kedua anak itu menangis histeris saat akan dipisah kan dari sang ibu. Namun kekuatan kedua nya tak mampu melawan kuasa orang dewasa. Anak sulung nya hanya bisa menatap nanar ke arah sang ibu yang kini tengah di jambak kasar oleh sang ayah dari arah tangga.
Pria kecil itu berontak dalam gendongan pria suruhan sang ayah.
"Papa jahat! papa brengsek! aku benci papa, aku benci!!" Teriak nya marah, tangis nya pun pecah saat melihat bagaimana sang ayah membentur kepala ibu nya ke sudut meja kaca dengan keras.
Dalam hati nya dia berjanji akan membalas perbuatan sang ayah, dia benci pria itu. Bahkan menyebut nya ayah pun dia sudah tak sudi lagi.
"Katakan Sahira..apa kau lebih memilih mati dari pada membocorkan pria brengsek yang sudah meniduri mu, hah!!"
"I..ini a..anak mu pa..aku bersumpah demi nyawaku.." suara Sahira melemah, wanita itu hampir tak mampu menyelesaikan kata-katanya. Rasa sakit menjalar di dalam kepala nya seperti di bedah hidup-hidup.
"Dasar wanita ja*l*ang! berani nya kau masih mengelak saat bukti sudah ada di tanganku. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan pada anak sialan mu ini.." cengkraman kuat di perut Sahira membuat wanita itu kembali meringis dengan air mata berburai.
"Hen..ti..kan.. kau akan menyesal telah mempercayai bukti palsu tanpa mencari kebenaran nya terlebih dahulu." Ucap Sahira terbata, mata nya berkunang-kunang pandangan nya mulai mengabur. Menit berikutnya, kesadaran nya telah diambil alih oleh kegelapan.
Hingga saat tersadar, Sahira sudah berada di dalam sebuah gudang yang terlihat mengerikan. Diri nya terikat di sisi besi teralis.
Klek
"Bagus lah kalau kau sudah sadar. Dokter akan kemari untuk mengeluarkan janin sialan itu, aku tak sudi membesar anak hasil perzinahan mu. Kau beruntung aku tidak menceraikan mu atau parah nya membunuh mu. Aku mencintaimu Sahira, kenapa kau tega mengkhianati ku.." ucap nya lirih seperti seorang korban. Sahira terdiam, lidah nya kelu. Otak nya mulai memikirkan untuk bisa melarikan diri dari tempat laknat itu. Lalu bagaimana dengan kedua anak nya.
"Kau diam artinya kau menyadari kesalahan mu." Senyum licik nya terlihat menakutkan. Suara dentuman pintu tertutup dan terkunci dari luar menyadar kan lamunan Sahira.
__ADS_1
"Tidak, mas Sidar tidak boleh membunuh anak ini. Bagaimana bisa dia tega melakukan nya pada darah daging nya sendiri." Guman Sahira terdengar panik sendiri. Mata nya tanpa sengaja melihat botol bekas tidak jauh dari tempat nya terikat. Dengan susah payah payah kaki nya mencoba menjangkau botol tersebut dengan cara menggeser nya sedikit demi sedikit.
Setelah berjuang keras hingga ujung kaki nya keram, Sahira berhasil mendapatkan nya. Di pecah kan nya botol tersebut, lalu menggunakan pecahan kaca itu untuk memotong tali yang mengikat satu tangan nya. Beruntung hanya satu tangan nya saja yang terikat sebelah kanan nya masih di biarkan bebas.
Susah payah Sahira menggesek hingga akhirnya talinya putus. Pergelangan tangan nya memerah, terasa ngilu dan perih. Namun dia abaikan. Dengan ujung pecahan kaca yang meruncing, Sahira menjadi kan sebagai obeng darurat untuk membuka baut pengunci teralis.
Saat berhasil membuka semau, Sahira berhenti sejenak untuk mengatur nafas nya. Dia kelaparan, pikiran nya melayang pada kedua anak nya.
Setelah beristirahat sejenak, Sahira perlahan keluar dari jendela yang mengarah ke arah tembok belakang rumah nya. Saat berjalan beberapa meter suara langkah kaki membuat nya panik. Sahira memutuskan bersembunyi di balik pohon mangga yang cukup besar untuk melindungi tubuh kecil nya.
"Tadi ke sini bang, kok sekarang tidak ada sih..." suara seorang anak balita sedikit merajuk terdengar jelas sampai ke telinga Sahira.
"Risya? nak kau kah itu..." Sahira keluar perlahan dari persembunyiannya lalu segera menghampiri sang anak.
"Mama!" seru kedua anak Sahira kompak.
Sontak kedua nya mengangguk, jika di sulung mengerti konteks ikut pergi yang di maksud oleh sang ibu, berbeda dengan si adik. Di pikiran polos nya, sang ibu akan mengajak mereka hanya sekedar jalan-jalan.
"Ya sudah, ayo kita lewat pintu belakang saja. Lewat perkampungan. Abang ada duit tidak?" tanya Sahira menatap putra sulung nya dengan tatapan tak enak hati.. Bagaimana bisa diri nya mengharapkan uang sang anak.
"Ada ma, ini di kantong." Ya, tadi dia berniat membelikan beberapa coklat juga jepit rambut untuk sang adik di minimarket depan komplek mereka.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang..." ajak Sahira menuju pintu pagar belakang.
"Bagaimana bisa kalian kecolongan, hah! wanita itu sudah menculik anak-anak ku.. cari mereka sampai dapat, pastikan anak-anak ku baik-baik saja!" teriak Sidharta di liputi amarah. Kemarahan nya memuncak saat kedua anak nya pun ikut di bawa pergi oleh sang istri.
"Mas.. sabar. Mbak Sahira pasti akan di temukan, anak-anak pasti baik-baik saja." Ujar Seli mengelus lengan Sidharta memberikan perhatian nya.
"Aku tidak masalah jika Sahira mau pergi, tapi jangan kedua anak ku juga. Mereka darah daging ku!" Ucap Sidharta menggertak kan gigi nya. Pria itu sedang dalam mode singa, membuat Seli sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Ya sudah, tunggu saja kabar anak buah mu mas. Semoga saja mereka menemukan anak-anak dengan cepat. Aku ke bawah dulu, tadi Maura aku tidur kan di kamar tamu. Kalau mas butuh sesuatu, tlp saja ke kamar ku." Setelah mengucapkan kalimat penuh perhatian nya, Seli bergegas keluar dari ruang kerja Sidharta. Melihat Sidharta sedang dalam emosi yang tidak baik, jiwa nya pun ketar ketir.
"Kenapa harus seperti ini Sahira...kau hanya perlu menggugurkan janin sialan itu, kenapa harus pergi membawa anak-anak ku juga. Aku masih mencintaimu andai kau menjadi penurut seperti biasa nya." Ucap Sidharta lirih. Pria itu mengusap kasar wajah nya.
Sementara mobil taksi yang di tumpangi oleh Sahira di kejar-kejar oleh dua mobil berwarna hitam. Membuat wanita itu ketakutan luar biasa, untung saja sopir taksi tersebut ada orang baik yang sudah mengenal nya meski tidak terlalu dekat.
"Bu, kita akan berhenti setelah tikungan depan. Pasti kan ibu dan anak-anak segera keluar sesaat setelah aku menghentikan mobil ku. Lalu bersembunyi nya lah jangan sampai keluar sebelum situasi aman." Titah sang sopir tanpa jeda. Sahira hanya mengangguk walau pikiran nya berkecamuk.
Sesuai perintah, Sahira segera keluar dari mobil saat si sopir menghentikan mobilnya. Namun posisi Risya yang masih terikat seatbelt, menyulitkan Sahira bergerak cepat. Melihat kesulitan Sahira sang sopir menyuruh kedua lebih dulu turun ke area jurang dan bersembunyi di sana. Sementara diri nya berusaha melepaskan seatbelt Risya yang mendadak macet akibat ditarik tergesa-gesa oleh Sahira.
Tak lama sebuah mobil hitam menabrak mobil si sopir yang di dalam nya, masih terdapat sang sopir dan Risya. Mobil berguling ke tepi jurang dalam keadaan terbalik. Sahira memekik saat melihat kejadian tersebut dari balik batu besar. Saat ingin keluar, mobil itu kembali di terjang hingga akhirnya berguling ke dalam jurang
Tanpa Sahira sadari, jika putra sulung nya ikut terseret oleh mobil tersebut.
Saat akan keluar dari persembunyiannya, Sahira tidak melihat jika sang putra menggapai tangan mungil sang adik yang terlihat keluar dari balik jendela kaca mobil yang pecah. Hingga akhirnya kedua anak nya ikut terguling dalam jurang bersama mobil yang kini meledak di bawah sana.
Sahira berteriak histeris saat melihat kejadian naas itu, lutut nya lemas seketika. Namun pukulan keras di pundak nya membuat kesadaran Sahira lenyap bersama abu kedua anak nya.
"Apa kau bilang! tidak, tidak, tidak mungkin anak-anak ku sudah tiada! kau pasti sedang mengerjai ku kan!! anak-anak ku baik-baik saja, kan?? ayo katakan mereka baik-baik saja!!" Sidharta meraung memanggil nama kedua anak nya. Tubuhnya jatuh lemas ke lantai untuk meratapi anak-anak nya.
"Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke dalam jurang dan langsung meledak seketika sesaat setelah sampai di dasar jurang. Polisi dan tim SAR sudah di turunkan, hanya ada bangkai mobil yang terbakar habis. Juga beberapa potongan tulang rapuh dan...."
"Cukup! hentikan! apa kalian tidak lihat jika kakak ipar ku tengah berduka atas kehilangan keluarganya. Tidak perlu sampai sedetail itu menjelaskan nya." Sela Seli berteriak marah.
"Maaf bu, kami hanya ingin menyampaikan hasil penemuan kami." Ujar seorang polisi merasa bersalah.
"Ya sudah, kalian pergilah dulu. Biarkan kakak iparku merasa tenang terlebih dahulu. Sisa urusannya akan di urus oleh pengacara keluarga." Tegas Seli tak ingin di bantah. Wanita itu layaknya nyonya rumah di sana.
"Baik kalau begitu kami permisi dulu.." ujar seorang polisi pamit undur diri.
__ADS_1