Beloved My Ana

Beloved My Ana
Calon keponakan


__ADS_3

"Boleh saya masuk..?" tanya si tamu berbasa-basi, Ana masih mematung. Antara percaya dan tidak dengan apa yang dia lihat.


"Maaf tuan, aku sedang sendirian. Jadi aku tidak berani memasukkan tamu ke dalam rumah ku. Suami ku masih berkerja, sekali lagi mohon maaf." Ujar Ana tak enak hati, bukan perkara dia sendiri atau tidak. Ana memang tidak siap bertemu dengan pria itu, pria yang menorehkan banyak luka pada kenangan masa kecil nya.


Wajah sendu Sidharta menyiratkan kekecewaan, dia tau putri nya pasti lah sangat membenci nya. Terlebih Lukas sudah pernah mendatangi nya, memperingatkan nya agar menjauhi adik nya. Namun hati kecil nya berontak, tidak bisa kah diri nya mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan nya di masa lalu.


"Sebentar saja nak..." mohon Sidharta mengiba. Mata nya berkaca-kaca, Ana tak tega namun hati nya masih belum berdamai. Bayangan pelarian mereka juga kebakaran yang dia alami di tubuh kecil nya. Masih membekas bagai ukiran yang selalu terpahat rapi di balik punggung nya. Tentu saja dia masih ingat bagaimana rasa sakit nya, tubuh kecil nya di lalap api yang cukup besar.


"Maaf..." ucap Ana tegas. Tangan nya sudah berkeringat di balik pagar besi itu, untung saja pria paruh baya itu tidak melihat nya. Bagaimana tubuh Ana bergetar hebat dan hampir limbung.


"Aku bilang jauhi adik ku brengsek..!"


Bugh


Ana menjerit histeris, saat melihat sang kakak yang entah datang dari mana tiba-tiba sudah memukul sang ayah. Dengan terpaksa Ana membuka pintu pagar dan segera melerai perkelahian sepihak tersebut.


"Kak sudah, aku mohon. Jangan buat diri kakak berdosa karena memukul nya, itu tidak sebanding." Ucap Ana memeluk erat sang kakak dari belakang, Lukas yang bersiap mengayunkan kepalan tangan nya. Menghentikan gerakannya, lalu menoleh pada sang adik yang terisak di balik punggung nya.


Lukas berbalik lalu membawa Ana dalam pelukan nya, usapan lembut dia berikan pada surai tebal adiknya.


"Sshuutttt... maaf kan kakak tidak bisa menahan diri..kakak hanya takut orang tua itu mencelakai mu. Dia sangat menyayangi putri nya, dia pasti bermaksud untuk membalaskan dendam putri nya pada mu." Ucap Lukas menenangkan sang adik. Sidharta bergeming, sakit rasa nya di fitnah oleh orang yang kita sayangi. Sekarang dia merasakan apa yang dulu Sahira rasakan, di fitnah dengan keji dan di siksa dengan brutal. Bahkan anak di kandungan nya pun turut menjadi korban. Dengan lemah pria itu bangun, menatap kedua anak nya yang saling berpelukan. Ingin diri nya masuk ke tengah-tengah pelukan hangat tersebut, namun dia masih punya urat malu.

__ADS_1


"Papa tidak akan menyakiti darah daging papa sendiri demi seonggok sampah, nak." Ujar Sidharta lirih. Ana melerai pelukan nya pada sang kakak lalu menatap pria yang baru saja menyebut diri nya seorang ayah.


"Tapi anda tega ingin melenyap kan adik ku, anak kandung anda sendiri demi sebongkah batu kerikil." Sarkas Lukas telak menubruk ingatan dan relung hati Sidharta, pria paruh baya itu menunduk lemah. Dia kalah telak soal masa lalu.


"Maafkan papa nak...papa sungguh menyesali nya.." Lirih Sidharta dengan suara bergetar, dada nya sesak mendapatkan penolakan langsung dari anak-anak nya.


"Pergilah, jangan mengganggu ketentraman hidup kami lagi. Tanpa mu kami sudah sangat bahagia, jadi tolong jangan lagi di usik. Urus keluarga anda sendiri, istri juga anak kesayangan anda." Usir Lukas tanpa perasaan kemudian menarik pelan pergelangan tangan Ana membawa masuk ke dalam rumah.


Sidharta menatap sendu pintu gerbang yang di tutup kasar oleh putra nya. Sejak kecil Lukas paling tidak dekat dengan nya. Lukas cenderung selalu bermain bersama Sahira hingga adik nya lahir. Tidak heran jika Lukas begitu membenci nya sekarang. Lukas sudah cukup besar untuk memahami betapa kejam nya diri nya dahulu saat menyiksa sang ibu.


Sidharta melangkah gontai menuju mobil nya, sejak tadi dia mengintai rumah putri nya. Namun hasilnya tidaklah sesuai harapan.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Masih sakit tidak?" tanya Ana setelah kedua nya terdiam cukup lama.


"Tidak. Kakak kan kuat..kakak ini kan supelo na Icia yang cantik dan comel ini." Seloroh Lukas menjawil kedua pipi sang adik, Ana tersipu mendengar ucapan sang kakak. Dulu dirinya masih kecil, sangat sulit berbicara benar. Apa lagi jika sesuatu menggunakan huruf R. Jadilah kakak nya selalu dia sebut supelo na Icia (superhero nya Risya).


"Ishh kakak.. Ana kan jadi malu ih, jangan di ingatin lagi dong.." Rajuk Ana manja, Lukas tergelak melihat tingkah menggemas adik nya. Hidup nya sempurna, menemukan adik yang selama ini dia cari.


"Apa keponakan kakak sudah berkembang biak di dalam lambung kecil mu ini, hmm?.." Ana mendelik mendengar kalimat tanya menyebalkan kakak nya. Sementara Lukas kembali terbahak melihat reaksi kesal adik nya.

__ADS_1


"Emang nya calon anak ku kentang apa, pake tumbuh di lambung." Omel Ana mengerucut kan bibir nya. Lukas kembali menjawil bibir monyong Ana dengan gemas.


"Khemmmm..!" suara deheman penuh peringatan membuat kedua adik kakak itu menoleh. Ana bergegas menghampiri suaminya dengan langkah lebar, sontak membuat Rick gelabakan.


"Sayang! diam di tempat!" seru Rick penuh peringatan. Ana mematung, terdiam di tempatnya dengan gamang. Apa suami nya marah melihat nya bercengkrama dengan sang kakak. Rasa nya tidak mungkin, mengingat jika dia dan Lukas adalah saudara kandung.


"Ya Tuhan...sayang, apa kau mau membahayakan calon anak kita." Tegur Rick dengan nafas terputus-putus, hampir saja jantung nya melompat keluar saat melihat istrinya berlari kecil ke arah nya.


Ana mengerut dahi nya dalam, calon anak? siapa yang hamil? diri nya kah?


"Ngomong apa sih bi, baru pulang kok ngelantur. Mabok angin apa gimana?" tanya Ana terkekeh heran.


"Duduk sini dulu, aku mau cerita sesuatu..." Rick menarik tangan istrinya melewati Lukas begitu saja.


"Dasar adik ipar tak ada etika." Gerutu Lukas kesal karena merasa di abai kan. Rick menulikan telinga nya.


"Nanti malam kita ke dokter abis makan malam, aku mau mastiin sesuatu. Tadi dokter klinik di kantor bilang, kalo aku ngalamin gejala sindrom couvade. Arti nya ayang sekarang sedang hamil, tapi aku yang ngidam. Aku muntah-muntah di kantor sepanjang hari, apa lagi kalau cium aroma parfum orang lain. Semua nya berasa aroma ketek, bikin aku mual." Cerita Rick bersemangat. Mata nya berbinar saat menceritakan kisah menyebalkan nya hari itu. Ana tertegun mendengar kalimat demi kalimat sang suami. Ana belum merasa kan gejala hamil muda, lagi pula dia baru telat 3 hari saja. Dan itu sudah biasa, setiap perempuan punya siklus berbeda-beda. Tergantung tingkat stress masing-masing.


"Kalau hasil nya negatif bagaimana?" tanya Ana ragu-ragu. Dia tak ingin suami nya kecewa.


"Tidak apa-apa, artinya kita hanya perlu berusaha lagi. Jangan terlalu memikirkan nya, kita akan tetap baik-baik saja bahkan jika kita tidak memiliki anak hingga beberapa tahun ke depan. Aku hanya butuh diri mu, anak adalah hadiah Tuhan. Jadi karena anak adalah hadiah, kita hanya perlu menunggu kapan Tuhan akan memberikan nya." Terang Rick menangkup kedua pipi sang istri. Ana tersentuh mendengar ucapan suami nya, hati nya menghangat. Begitu oun Lukas, dia bahagia melihat kebahagiaan sang adik, dsn berharap Ana benar-benar tengah mengandung sekarang. Ibu dan ayah nya akan menjadi orang yang paling bahagia, selain dirinya dan keluarga suami adiknya itu.

__ADS_1


"Kakak doa kan semoga kau benar-benar tengah mengandung calon keponakan kakak." Ujar Lukas menyela situasi romantis tersebut. Ana menoleh pada Lukas dengan senyum manis, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas doa tulus sang kakak.


__ADS_2