
Rick masuk ke dalam lobi kantor dengan senyum sejuta rupiah di wajah nya. Semua orang pasti akan berpikir jika diri nya memang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Melihat betapa gigih nya Rick dalam mempromosikan dagangan nya, tanpa merasa sedikit pun malu. Orang-orang tidak akan percaya jika Rick adalah putra sulung dari pemilik perusahaan tersebut.
"Wah! pesanan ku ada tidak nih?" Todong Wuri si resepsionis yang sudah Rick kenal selama 3 tahun ini, dan jelas terlihat jika gadis yang selisih usia 6 tahun dari Rick tersebut, menyimpan ketertarikan pada pria itu.
"Ada dong, mbak Wuri sama yang lain dapat semua. Sesuai pesanan, kan?" Ucap Rick ramah. Pria dengan sejuta pesona itu mulai mengeluarkan satu persatu bungkusan nasi dari boks nya.
"Total nya 80rb, di bonusin serundeng yang banyak sama ceker pedes level santai." Canda Rick setelah selesai menghitung jumlah yang harus di bayar oleh calon pelanggan tetap nya.
"Murah nya kebangetan loh ini, Rick. Di luar mana dapat segini 80rb, di bonusin ceker pula. Sedap banget nih, kesukaan soalnya." Wuri mengendus aroma ceker dari balik plastik pembungkus nya.
"Syukur lah kalo tidak kemahalan, semoga rasa nya tidak mengecewakan." Ucap Rick tersenyum senang. "Aku naik dulu ya, besok kalau mau pesan lagi langsung hubungi aja ke nomor yang tertera di bungkus nasi nya." Lanjut Rick menunjuk tulisan kecil berisi nomor ponsel istri nya. Rick sengaja melakukan itu, agar tidak ada yang iseng menghubungi nya di luar proses transaksi dagangan nya.
"Asyiiapp! Besok pasti pesan lagi nih aku, makasih ya Rick." Balas Wuri tersenyum manis, saking manisnya bisa membuat orang terkena diabet. Namun tidak di mata Rick, senyum istri nya ada yang paling manis yang pernah Rick lihat selain senyum ibu nya.
Rick mengangkat kedua jempol disamping boks, lalu bergegas menuju lift yang kebetulan terbuka. Akan sedikit sulit kalau dalam keadaan tertutup. Dua boks di kedua sisi pinggang nya, akan menyulitkan diri nya untuk memencet tombol elevator tersebut.
Sesampainya di ruangan, rekan kerja nya sudah pada stay di meja masing-masing dengan wajah seperti orang kelaparan.
"Asyiiik...! Punya ku dua ya kemarin.." seru Davin mengingat kan. Pasal nya teman-teman nya sudah menyerbu Rick yang bahkan baru tiba di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Antri kawan-kawan, semau pesanan sesuai permintaan. Jadi tidak akan kurang, ini malah aku bawa lebihan." Rick mengeluarkan satu persatu lalu mulai membuka catatan di buku kecil nya. Seperti seorang guru yang sedang mengabsen murid-murid nya, Rick mulai menyebutkan nama rekan kerja nya satu persatu.
"Wah, di bonusin ceker nih." Seru Davin girang. Yang lain pun tak kalah senang, masing-masing mereka mendapatkan dua ceker pedes manis yang di potong jadi dua bagian.
"Wuihhh serundeng nya mantap, tidak nyangka kau pintar soal masak memasak Rick." Puji Aby mulai melahap nasi kuning nya dengan rakus.
"Semua bumbu istri ku yang bikin, aku hanya berkontribusi dalam membeli bahan nya saja. Kalau rasa nya kurang atau gimana, mohon koreksi dan saran nya. Jangan sungkan untuk berargumen, itu lebih baik dari pada tau nya dari orang lain." Tutur Rick di sela tangan nya yang tengah sibuk menghitung lembar rupiah.
"Ini mah tidak ada yang perlu di koreksi lagi kalo soal rasa, oke semua. Apa lagi ceker pedes manis nya, mantap Joss pedes nya" sambung Vino dengan suara seperti orang yang tengah berkumur.
"Telen Vin, telen." Ucap Yodra mengingat kan. "Tapi bener Rick, ini enak pake banget. Dan yang paling penting porsi sebanyak ini, harga nya murah meriah, bisa hemat uang jajan kalau gini. Tidak minat buka kantin aja sekalian?" saran Yodra kembali menyendok nasi ke mulut nya. Yang lain pun menimpali saran Yodra dengan anggukan dan komentar antusias.
Rick sejenak berpikir, jika diri nya membuka kantin di kantor. Otomatis istri nya juga akan ikut untuk menjaga kantin selama dirinya dalam jam kerja. Mendadak bayangan para pria yang menggoda istri berseliweran di otak Rick. Dengan cepat Rick menggeleng kepala kuat, seisi ruangan menatap heran tingkah Rick yang terlihat seperti orang banyak beban pikiran.
"Kau itu menyaran kan atau nyari masalah denganku sih?" ucap Rick datar. Davin menghentikan kunyahan nya kemudian menatap Rick dengan raut wajah bingung.
"Apa yang salah, aku hanya memuji masakan istri mu." Ucap Davin tanpa tau jika kata-kata nya semakin menyulut api cemburu di ubun-ubun Rick.
"Itu namanya nyari masalah, jangan memuji istri ku, aku tidak suka. Puji saja aku, kan aku yang berdagang. CK!" Rick berdecak kesal dengan ketidakpekaan Davin. Aby yang mulai paham situasi mulai menengahi agar suasana tidak mencekam kembali. Rick memiliki mood yang mudah terbakar.
__ADS_1
"Kau ini, bisa tidak mulut dan otak mu sinkron sedikit. Aku juga akan marah kalau kau memuji istri ku di depan ku." Aby mengerlingkan mata nya agar Davin segera sadar, untung saja pria itu segera bangun dari mimpi buruk yang baru akan menghampiri nya.
"Ah ya, hehehee... maafkan aku Rick, aku bercanda. Tapi benar, nasi kuning mu ini yang terenak yang pernah ku makan. Bumbu dan harga nya pas di lidah juga di kantong, benar tidak teman-teman ?" Davin meralat kalimat pujian nya dengan meminta belas kasihan rekan kerja nya agar bersepakat dengan nya.
"Yupz! Aku sampai tidak sabar mau cepat istirahat makan siang, rendang oh rendang." Ucap Vino dramatis sambil memeluk plastik padang miliknya. Yang lain ikut tertawa melihat tingkah konyol Vino. Rick juga ikut terkekeh, dia juga tidak mengerti, kenapa emosi nya cepat sekali terpancing saat ada istri nya di sebut walau sebenarnya itu hal biasa saja.
"Maaf kalau membuat kalian tidak nyaman dengan sikap ku. Aku tidak pandai basa basi, suka aku bilang suka, kalau tidak pun demikian. Aku tidak suka saat istri ku di puji bahkan meski tanpa sengaja di tatap oleh pria lain. Untuk itulah istri ku tidak aku ijin kan kemampuan tanpa pengawasan ku. Mungkin bagi pria lain hal sepele bahkan suatu kebanggaan saat pasangannya di puji oleh pria lain, tapi bagiku itu sebuah masalah besar. Aku cemburu, aku tidak suka." Tegas Rick menggebu-gebu. Membuat seisi ruangan mendadak sunyi, namun tak lama suara tepuk tangan aplous dari Davin membuat suasana kembali cair.
"Aku salut, jarang di masa kini ada suami yang memiliki tingkat proteksi, keposesifan juga perasaan takut saat istri nya di kagumi oleh orang lain. Biasanya para pria akan cenderung lebih suka, jika istri mereka menjadi pusat perhatian dan di kagumi oleh banyak orang. Aku kagum bagaimana kau menjaga hati mu juga martabat istri mu dengan begitu apik." Puji Davin semakin kagum. Tidak hanya menjadi suami siaga, tapi juga memiliki perasaan cinta yang tiada duanya terhadap sang istri.
"Thanks sudah mau memahami ku, maaf jika mood ku sering timbul tenggelam. Harap maklum, aku tidak pandai berkata-kata, itulah sebabnya aku mencintai dan begitu takut kehilangan istri ku." Ucap Rick kembali ke mood yang hangat. Semua memaklumi dan tidak mempermasalahkan nya. Toh setiap orang berhak menentukan sikap nya, jika dia merasa keberatan dan tidak menyukai sesuatu.
"Rick, makasih untuk nasi kuning nya. Katakan pada istri mu, aku sangat menyukai nya." Sela Lisa dari kubikel nya, wanita itu berdiri setengah mendongak ke arah meja Rick. "Minggu depan keponakan ku berulang tahun, aku ingin memesan tumpeng pada istri mu kalau tidak terlalu sibuk." Lanjut Lisa takut-takut, entah kenapa berhadapan dengan Rick membuat jiwa raganya merasa terancam.
Rick terlihat berpikir, hingga akhirnya mengangguk mantap.
"Berapa tingkat, usia berapa, biar lauk nya menyesuaikan. Anak-anak biasanya cenderung tidak terlalu suka makanan yang kaya bumbu." Ujar Rick melunak, Lisa senang bukan main. Dia harus berterima kasih banyak terhadap istri pria itu. Karena meski namanya telah di coret dari list orderan, Rick tetap memberikan satu bungkus untuk nya gratis. Itu adalah titah dari sang istri, begitu lah kata Rick tadi saat memberikan satu bungkus nasi pada nya. Walau dengan cara yang sedikit ketus, tidaklah masalah. Ke depan nya dia berjanji, tidak akan lagi menjadi perempuan gatal yang berusaha menjadi calon pelakor.
"Nanti aku kabarin lagi, nomor ponsel di bungkusan ini milik istri mu?" ujar Lisa memastikan. Dia tak ingin ada masalah lagi dengan Rick, mood pria itu susah di tebak. Diri nya mendadak takut, entah merantau kemana saja rasa takutnya kemarin-kemarin.
__ADS_1
"Itu nomor ponsel istri ku, kalian boleh menghubungi nya jika ingin memesan. Tapi kalau boleh aku sarankan, wanita saja." Tukas Rick to the point.
"Siiaaapp..!" seru mereka bersamaan, lalu tertawa geli. Rick pun ikut tertawa lalu mereka mulai berkutat dengan pekerjaan masing-masing.