Beloved My Ana

Beloved My Ana
Dilema


__ADS_3

Ira merasa sedikit kurang nyaman dengan kehadiran nya, apa lagi datang bersamaan dengan mantan suami nya. Meski Sidharta tak pernah menganggap begitu. Bagi nya Sahira tetap lah istri nya sampai kapan pun, terlebih diri nya tak pernah menyentuh wanita lain.


"Istirahat lah, aku akan menemui anak-anak di luar." Ira merapikan selimut Sidharta, diri nya hendak pamit keluar karena merasa tak enak pada semua orang terlebih pada anak-anak nya.


"Di sini saja, kan aku baru saja keluar dari rumah sakit. Siapa yang akan menemani ku ke toilet jika aku ingin ke sana..," tatapan dari manik penuh permohonan itu membuat hati Sahira dilema.


"Apa kau tidak nyaman berada di dekat ku?" Sidharta bertanya dengan nada rendah yang menyedihkan. Sahira menghela nafas dalam-dalam sebelum menyampaikan apa yang tengah berkecamuk dalam hati nya.


"Aku bukan nya tidak nyaman berada di dekat mu, hanya saja status kita sudah berubah sejak belasan tahun yang lalu. Semua orang tau Seli adalah istri mu, kehadiran ku akan di anggap duri dalam pernikahan kalian. Mengingat kini Seli dan putri nya tengah mendekam di penjara. Itu semakin membuat ku merasa kan beban ini seperti menghimpit dadaku. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa hujatan dari siapapun.." Sahira terisak pelan sambil meremas dada nya kuat.


Bagaimana pun Sidharta dulu adalah suami nya, perpisahan mereka karena di dalangi oleh perbuatan buruk seseorang. Sejati nya hati itu masih lah mencinta, hati itu masih menyimpan rindu. Nakun juga ada luka tersimpan di sana tanpa bisa dia hapus begitu saja.


Sidharta meraih tubuh Sahira penuh penyesalan yang bersarang dalam hati nya.


"Kita akan merubah status ini, kau akan tetap menjadi istri ku sama seperti dulu sebelum aku menjadi kan keluarga ini kacau balau. Dunia harus tau kebenaran nya, kau adalah istri ku satu-satunya. Tidak ada hubungan yang sah tanpa penyatuan dua insan, dan aku tidak pernah menyentuh Seli selama pernikahan kami." Sahira terbelalak mendengar penuturan Sidharta.


"Biasa saja mata nya, ma.." Sidharta menjawil gemas hidung mancung sang istri.


"Sakit mas.." rengek Sahira tanpa sadar lalu segera mengatupkan mulutnya karena merasa malu dengan tingkah nya sendiri. Sedangkan Sidharta tertawa renyah sambil menekan perut nya yang masih di balut perban.

__ADS_1


"Udah mas ketawa nya, perut mu bisa terkoyak. Aku mau keluar sebentar, aku belum bercerita banyak dengan Ana. Masih kangen banget."


"Baik lah, tapi segera lah kembali lagi. Aku mana bisa jika tanpa mu.." akhirnya Sidharta mengalah, dia tak ingin Sahira merasa muak dengan nya. Seperginya Sahira keluar kamar, Sidharta mengusap sudut matanya yang basah.


Jika dulu dirinya menangis dalam diam karena menahan sesak nya penyesalan juga kehilangan. Kini air mata itu adalah lambang kebahagiaan awal yang akan dia rajut kembali. Semoga semesta merestui niat hati nya yang tulus.


"Loh? mama kok keluar? bayi besar mama gimana? sudah tidak rewel lagi?" cerocos Lukas membrondong sang ibu dengan pertanyaan beruntun.


Pluk


Timpukan panas di pundak nya membuat Lukas kaget dan kesal.


"Bertanya lah satu satu...kau membuat mama mu bingung harus menjawab pertanyaan mu yang mana terlebih dahulu." Nasihat sang ayah mengomeli anak nya. Jorge kebetulan akan lewat menuju toilet di samping dapur.


"Sidhar bagaimana?" Jorge mulai membuka pembicaraan dengan adik sepupu kesayangan nya itu.


"Sudah kak, hanya masih nyeri saja karena bekas luka nya belum sembuh sempurna." Terang Sahira pada Jorge.


Jorge menatap manik sang adik penuh kasih, kerinduan nya tak pernah habis. Wanita yang nampak lebih tua dari nya itu sudah mengalami banyak rintangan dalam hidup nya.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan kalian? maksud kakak, kau berhak menentukan bagaimana hubungan kalian akan di jalani. Jika masih tersimpan rasa di sana, maka kakak akan merestui hubungan kalian kembali. Jangan selalu memendam apa pun seorang diri.. Belajar lah untuk berbagi, kami adalah keluarga mu." Sahira terpekur di tempat nya tak tau harus mengatakan apa.


Jauh dalam hati nya, rasa itu masih utuh. Namun dia tak ingin mengambil keputusan yang membuat anak-anak nya tak nyaman. Terutama Nura putri bungsu nya. Nura lah yang paling berhak menentukan kemana hubungan nya dengan Sidharta akan di bawa. Dia akan mengikuti nya saja, asal kan tidak melukai hati anak-anak nya.


"Pikir kan lah, setelah kau menemukan jawaban hati mu. Berdiskusi lah dengan kami.." Jorge meninggalkan sang adik dalam diam nya. Ada ketidak relaan jika Sahira kembali pada Sidharta, namun dia juga tak memiliki hak untuk itu.


Ana yang tanpa sengaja mendengar kan percakapan antara sang paman dengan ibu nya terdiam di tempatnya. Dia tau seberapa ingin sang ibu bersatu dengan ayah mereka. Namun ada hal lain yang sedang ibu nya pertimbangan. Siapa lagi jika bukan Nura adik nya. Ana menetralkan perasaan nya yang mulai ikut mellow, lalu menghampiri sang ibu dengan wajah sumringah.


"Aku nyariin tadi, rupa nya mama di sini. Ana pengen makan di suapi mama, boleh?" Sahira mengangguk cepat, Nura mungkin hidup dalam kekurangan selama ini. Namun tidak dengan kasih sayang dan perhatian nya.. Sementara Ana, Ana nya hidup dalam kekurangan juga tak mendapat kan kasih sayang, dan perlindungan selama dua tahun setelah orang tua angkat nya berpulang.


Jelas Ana jauh lebih sulit kehidupan nya, berjualan juga bersekolah. Pasti tidak mudah. Berbeda dengan Lukas, sejak kejadian naas itu. Putra nya itu cukup beruntung, karena di besar kan dengan kasih sayang. Dan orang yang kebetulan adalah keluarga kandung nya sendiri.


"Papa tidur ma?" tanya Ana di sela makan nya.


"Ya, tadi abis makan obat kata nya ngantuk." Dusta Sahira menatap lembut ke arah putri nya. Ana hanya membulat kan mulut tanda mengerti.


"Tidak lama lagi mama akan menjadi nenek, rasa nya sudah tak sabar." Satu tangannya mengelus lembut perut sang anak dengan sayang.


"Aku juga ma, rasa nya pengen cepat-cepat mereka lahir. Sekaligus deg-degan juga, apa bisa Ana jadi ibu dari empat bayi sekaligus." Ujar Ana penuh kecemasan yang terlihat jelas di wajah bulat nya.

__ADS_1


"Anak mama pasti bisa, lagi pula ada mama. Mama akan menemanimu juga mengurus keempat anak mu. Jangan pakai jasa baby sitter, mama masih sanggup jika hanya merawat keempat cucu mama. Jadi jangan mencemaskan apapun." Ana berkaca-kaca menatap sendu wajah teduh yang menenangkan di hadapan nya itu.


"Makasih ma, makasih sudah kembali lagi dalam hidup Ana..." Ana sangat jarang menangis, namun semenjak pertemuan ny dengan kedua orang tua nya. Ana menjadi sangat cengeng.


__ADS_2