
Seorang pria paruh baya tengah tersenyum miris merenungi nasib malangnya. Seseorang yang dia percaya untuk memantau kehidupan Ana putri nya, baru saja mengirim kan sebuah video yang memperlihatkan kebahagiaan sang anak bersama keluarga baru nya.
Hati Sidharta sakit, ada banyak penyesalan yang tak mampu dia urai satu persatu. Kata maaf belum kunjung dia dapat kan dari kedua anak nya. Sementara Maura sering mengamuk tak jelas sejak gadis itu mulai membaik dan kini di bawa pulang ke rumah.
Hubungan nya dan Seli sudah berakhir, namun wanita tak tau malu itu menolak untuk meninggalkan rumah tersebut. Bukan nya Sidharta tak mau menyerahkan rumah itu pada Seli, hanya saja di sanalah kedua anak nya lahir dan tumbuh selama beberapa tahun. Ada setitik kenangan yang tak rela dia tinggal kan. Kenangan itulah yang membantu mengobati kerinduan nya pada kedua anak nya.
Tok tok tok
Seorang pria masuk dengan membawa sebuah map berwarna merah di tangan nya. Lalu di serah kan pada sang tuan.
"Saya sudah mengurus semua peralihan aset anda atas nama, tuan dan nona muda. Ini berkas nya, salinan asli nya sudah saya kirim kan ke alamat nona muda. Mengingat tuan muda tinggal di sana selama kehamilan nona muda." Jelas nya lancar.
"Terimakasih banyak Heri, sudah membantu ku mengurus semua kekacauan yang telah aku buat selama ini. Apa kau sudah memisah kan aset 15 persen saham yang aku minta?" Sidharta sejenak menatap sang asisten setia nya dengan wajah serius.
"Sesuai permintaan anda tuan," jawab Heri membuat senyum di bibir Sidharta terbit.
__ADS_1
"Aku harap dengan itu kau bisa membiayai keempat anak mu hingga jenjang pendidikan yang mereka inginkan. Bukan kah kau juga ingin membangun sebuah minimarket untuk menemani hari tua mu bersama Mona? nikmati lah hari-hari mu dengan baik selagi kau masih bisa melihat senyum indah terpatri di wajah keluarga yang kau kasihi. Aku membebaskan mu. Pengabdian mu ku anggap cukup, dan aku sangat berterima kasih atas segala pengorbanan mu selama ini. Bekerja pada ku dengan setia dan patuh. Aku ingin kau menghabiskan banyak waktu mu bersama keluarga tercinta mu." Heri meneteskan air mata mendengar kalimat pemecatan diri nya meski dengan kalimat yang begitu menyentuh hati.
"Kenapa anda memecatku tuan, apa kinerja ku sudah mulai menurun belakangan ini? aku akan memperbaiki kualitas kerja ku jika itu bisa membuat anda mempertimbangkan pria tua ini. Dan ya, aku tidak membutuhkan 15 persen saham itu tuan. Tidak jika aku harus berhenti bekerja, rasanya aku tidak pantas. Itu jumlah yang sangat besar, aku tak bisa menerimanya. Maafkan sikap angkuh ku tuan. Ijinkan aku tetap mengabdi pada anda hingga waktu ku tiba." Ujar Heri terdengar begitu lirih. Hati nya bergemuruh sedih. Kepala nya menunduk menanti tanggapan sang tuan, air matanya tak mau berhenti mengalir.
Sidharta tersenyum simpul, dia tau Heri pasti terkejut dengan keputusan nya. Dan pasti nya juga Heri salah paham akan arti pemecatan nya.
"Duduk lah Heri, dan jangan panggil aku tuan lagi. Aku bukan tuan mu lagi, kau sudah ku bebas kan. Kemarilah, duduk bersama ku. Entah kapan lagi kita bisa duduk bersantai menikmati sore yang indah seperti ini. Bukan kah hidup ini penuh misteri?" Heri segera mengangkat kepalanya saat mendengar kalimat ambigu sang tuan. Hati dan pikiran nya dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab. Sikap tuan nya sedikit berubah belakang ini, apa lagi saat tak kunjung mendapat kata maaf dari kedua anak nya. Tuan nya mulai terlihat putus asa, namun berusaha terlihat biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Padahal hatinya penuh luka dan penyesalan.
"Kemarilah.." ulang Sidharta menepuk sisi sofa di samping nya. Tatapan matanya kosong, seakan tak sedang memandang sesuatu di depan nya. Padahal jelas arah pandangan nya menatap kolam ikan mendiang istri nya. Kolam ikan itu terus dia rawat dengan baik selama ini.
Heri berjalan pelan lalau duduk di samping sang tuan dengan canggung, jika biasa nya dia akan lebih memilih untuk berdiri saja. Namun kini ada perasaan yang tak bisa dia jabar kan. Ada kesedihan tak berbentuk dalam hati nya. Yang entah karena apa.
Kini yang dia lihat, hanya ada gelayut mendung bersarang di wajah yang mulai menua sama seperti nya itu. Hati nya pun merasakan sakit, tuan nya sudah seperti seorang kakak laki-laki bagi nya.
"Nyonya pasti senang melihat anda merawat peninggalan nya dengan baik, tuan." Kalimat sederhana itu mampu menyentil hati Sidharta. Andai dia bisa mengontrol emosi nya, andai dia tidak termakan hasutan Seli, andai dia mencari kebenaran sebelum melakukan semua kesalahan itu. Mungkin hari ini dia tengah duduk bersantai bersama sang istri dan kedua anak nya, menikmati sore yang indah dengan segelas kopi dan beberapa jenis kudapan.
__ADS_1
Kata andai memang selalu menjadi pilihan terakhir, ketika sesuatu itu sudah tak mungkin lagi bisa di gapai. Sidharta menghela nafas panjang, ada goresan tak mampu tersembuhkan dalam hati nya. Goresan yang dia buat sendiri, dan sayang nya tak bisa dia obati lagi.
"Kau masih bisa mengunjungi ku kapan pun kau ada waktu. Aku tidak memecatmu, aku hanya ingin kau beristirahat dari pekerjaan melelahkan ini. Kita sudah sama-sama berumur, Heri. Seharusnya di usia kita ini, kita hanya duduk manis di rumah bersama keluarga. Bukan nya berkeliaran di jalan pagi dan sore hari. Usia ini bukan usia produktif untuk seseorang seusia kita, tapi raga dan pikiran kita masih di paksa untuk tetap berpikir berat." Sidharta menyusut tetesan air matanya yang mengalir tanpa diminta.
"Temani Mona dengan lebih banyak waktu. Kadang istri itu tidak hanya butuh nafkah yang bisa habis, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Waktu itu berharga, karena itu kita tidak bisa membeli nya dengan harta. Jangan menjadi tua seperti ku, dalam kesendirian ini aku merasa seperti tubuh tak bernyawa. Raga ku bergerak bebas tapi jiwa ku masih terkunci dalam memori lama. Jika kelak sesuatu terjadi pada ku, aku sudah bisa tenang. Tolong sesekali pantau anak-anak juga cucu ku kelak saat aku sudah di panggil pulang. Jangan katakan apapun pada mereka tentang ku, apa yang menimpa ku nanti, anggap saja sebagai sebuah hukuman dari perbuatan buruk ku di masa lalu. Apa kau percaya, jika karma itu tidak selalu menunggu di neraka? kini aku sudah mengalami nya. Hidup dalam penyesalan tak berujung adalah karma yang sesungguhnya. Dan itu menyakitkan."
Heri bergeming, ada kecemasan besar saat berusaha menelaah kalimat demi kalimat sang tuan. Seolah apa yang tuan nya sampai kan, adalah kata-kata perpisahan.
"Apa anda sehat tuan?" entah dari mana kalimat tanya itu berasal, yang jelas Heri hanya spontan melontarkan pertanyaan tersebut.
"Tentu saja. Aku rajin berolahraga.." kekeh nya terasa lain di telinga Heri.
"Apa anda tidak berniat untuk mendatangi kediaman nona Ana lagi tuan, besok acara tujuh bulanan nona muda. Mungkin saja hati nona sudah terketuk untuk menerima anda." Bujuk Heri, tak sekali dua kali Heri melakukan nya. Namun sang tuan tetap kukuh menolak. Sidharta tak ingin kehadiran nya mengganggu ketentraman sang anak.
"Biar kan saja Heri, aku sudah cukup senang bisa melihat anak-anak ku melalui video yang dikirim oleh Santi. Mereka terlihat sangat bahagia tanpa gangguan dari ku lagi. Kehadiran ku hanya akan menjadi duri dalam kebahagiaan mereka."
__ADS_1
Obrolan itu berlanjut hingga malam tiba. Meski Heri lebih banyak diam dan menyimak dengan hati yang tak karuan. Perasaan nya mendadak berkecamuk, kemungkinan-kemungkinan yang dia takut kan mulai merasuki otak nya.
Keduanya terlihat seperti dua orang kakak beradik yang tengah mencurahkan isi hati masing-masing. Meski sang kakak yang terlihat lebih banyak berceloteh, sang adik hanya berperan sebagai pendengar yang baik dan sesekali menimpali jika dirasa pendapat nya perlu disuarakan.