Beloved My Ana

Beloved My Ana
Terkuak


__ADS_3

"Bangun sayang...hei! buka mata mu yang.." keringat dingin mengucur deras dari tubuh Ana, Rick terlihat panik melihat istrinya terus gelisah dalam tidur nya. Mengigau memanggil nama ibu juga kakak laki-laki nya.


Hoosssh hosshhh


Nafas Ana terengah-engah, tubuh nya bergetar hebat. Rick segera memeluk tubuh istri nya agar sedikit tenang.


"Tenang yaa..ada aku di sini. Atur nafas pelan-pelan.." Bisik Rick terus mengelus lembut bahu sang istri. Ana pasti sedang mengalami mimpi yang sangat buruk, terlihat bagaimana keringat dingin mengucur dari kening sang istri.


"Mau minum dulu.." tawar Rick masih dalam posisi memeluk istrinya. Ana mengangguk pelan walau sebenarnya dia masih ingin di peluk erat oleh suami nya.


Rik mengambil air minum di dalam gelas di atas nakas di samping tempat tidur mereka. Lalu memberikan pada istri nya. Ana meneguk nya hingga tandas. Bukan karena diri nya kehausan, melain kan untuk meredakan perasaan nya yang sedang kacau.


"Terimakasih by...tidur lah lagi, maaf jika aku membuat mu terbangun." Sesal Ana tak enak hati.


"Tidak sayang, aku tidak apa-apa..Aku malah khawatir pada mu. Mimpi mu pasti sangat buruk, sampai kau terus berteriak memanggil nama kak lukas berkali-kali." Sahut Rick menjelaskan. Dia tak masalah tidur nya terganggu, akan lebih masalah jika dirinya tadi tidak cepat bangun. Istri nya seperti orang kehabisan oksigen dengan nafas tersengal-sengal.


"Aku mendapat ingatan masa kecil ku, aku sedikit ingat sekarang. Di mimpi ku tadi, aku melihat bagaimana kejadian dulu. Di mana kakak ikut terseret mobil ke dalam jurang saat akan meraih tanganku dari dalam mobil. Aku ingat bagaimana paman baik hati itu memotong seatbelt ku menggunakan pecahan kaca dengan cepat lalu mendorong ku keluar bersama kakak, sebelum mobil menghantam batu dan meledak. Aku terguling kesisi lain dan baju belakang ku terbakar api akibat percikan dari ledakan itu. Itu kenapa aku punya bekas luka besar di punggung ku." Jelas Ana panjang lebar. Rupanya selama belasan tahun ini Ana kehilangan memori nya.


"Aku ingat saat ada seseorang memukuli tubuh ku untuk memadamkan api yang hampir melahap tubuhku. Kakak, ya itu kakak ku. Di sisa kesadaran ku, kakak bilang akan mencari pertolongan. Aku di tutupi dedaunan di balik batu besar, sementara kakak pergi untuk mencari pertolongan. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Sampai di mana aku menjadi anak dari ayah dan ibu ku." Lanjut Ana terisak di dada bidang suami nya.


Rick terus mengelus punggung sang istri untuk menenangkan nya.


"Mungkin saja mereka menemukan mu sebelum sempat kakak kembali ke sana. Dan akhirnya kalian terpisah, kakak di adopsi oleh keluarga kaya raya. Sementara nasib mu sedikit berbeda." Rick berusaha untuk menimpali dengan bijak alur kejadian yang menimpa sang istri belasan tahun silam.


"Apa orang tua angkat mu tidak pernah menyinggung apa pun soal diri mu selama mereka hidup ?" tanya Rick sedikit penasaran.


Ana menggeleng pelan. "Mereka bahkan memperlakukan ku seperti putri kandung, aku ingat saat pertama kali aku terbangun. Aku berada di kamar kecil di rumah ku yang kau datangi itu. Aku linglung lalu seorang wanita dengan pakaian sederhana masuk sambil menangis haru lalu memeluk ku erat. Ibu mengatakan aku habis sakit parah karena DBD dan malaria, namun mereka tidak punya cukup uang untuk membawa ku berobat. Akhirnya aku hanya di obati dengan ramuan tradisional saja di rumah, kata ibu aku tidak sadar hampir dua minggu. Saat aku bangun, punggung ku terasa ngilu." Papar Ana panjang lebar.

__ADS_1


Rick masih menyimak dengan seksama.


"Ibu bilang punggung ku terluka terkena api tungku. Aku tersandung dan jatuh terduduk, untung saja ibu cepat menarik ku keluar dari tungku. Itulah kenapa aku punya bekas luka bakar di punggung ku sekarang." Ana mengakhiri kisah nya dengan isak pilu.


Dia telah ingat segala nya sekarang. Berawal kemarin tanpa sengaja, Yodra terpeleset di batu saat mereka bermain di dermaga kecil di ujung pantai. Yodra panik lalu reflek menarik tangan Ana hingga ikut terjatuh bersama nya ke dalam air. Kepala Ana terbentuk batu dan sedikit berdarah. Hampir saja gadis ceroboh itu Rick tenggelam kan ke dasar samudera akibat ulah tak sengaja nya. Jika saja Vino dan yang lain tak segera mengaman kan Yodra.


Ana pingsan hampir satu jam, untuk saja ada klinik di desa yang di bangun oleh mendiang kakek nya Daniel. Dokter yang memeriksa Ana mengatakan Ana hanya mengalami syok ringan, dan akan terbangun sendiri tak lama lagi.


Saat terbangun, Ana seperti orang baru. Dia linglung sesaat. Bayangan tentang kecelakaan dan pelarian mereka membekas di ingatan nya. Ekor mata nya sempat melirik sang ibu di atas tebing, dia melihat dengan jelas orang yang memukul tengkuk sang ibu. Pria yang sama yang pernah bertamu ke rumah mereka sebagai calon suami bibi nya. Atau calon ayah tiri Maura.


"Cukup sayang, jangan memaksa bercerita jika itu menyakiti hatimu. Ayo kembali tidur, besok kita akan kedatangan tamu tak di undang lagi. Kak Lukas akan kemari bersama kekasih baru nya." Ujar Rick mengalihkan pikiran kacau sang istri.


Ana mengangguk pelan walau hati nya masih gundah. Dia ingat pria yang pernah dia temui waktu di rumah mertua nya, adalah ayah kandung nya. Yang dia heran kan, kenapa bisa Maura menjadi anak dari ayah nya.. Dan bibi nya? kenapa bisa menikah dengan sang ayah? Berbagai pertanyaan bergelayut dalam pikiran nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nafas seli tersengal-sengal, wanita itu menatap tajam pada suami nya.


"Apa kau sudah gila! bagaimana bisa kau menyuruh dokter melepaskan alat bantu pernafasan untuk Maura, hah?!" teriak Seli dengan nafas memburu, mata nya memancar kan kilat amarah yang besar.


Sidharta terlihat tenang di kursi kebesaran nya, seolah Seli tidak ada di hadapan nya.


"Apa kau tuli, Sidharta!" seru Seli kemudian, dia kesal karena merasa di abaikan.


"Bagus Seli, kau sudah berani menyebut nama ku dengan lantang." Sahut Sidharta setenang mungkin. "Apa yang kau harapkan? putri mu sudah tak merespon obat apapun yang di berikan pada tubuh nya...lalu kau ingin menyiksanya berapa lama lagi?" lanjut Sidharta menatap datar pada istri nya.


"Kau bedebah, Sidharta! kau lupa, Maura lah yang mengisi kekosongan hati mu saat kau merindukan anak-anak mu yang sudah tiada! Putri ku lah yang menjadi penghibur mu selama belasan tahun ini, begini kah cara mu membalas nya?! Maura juga putri mu, dia ada di urutan paling atas sebagai pewaris mu. Dia tercantum sebagai anak tunggal keluarga ini, anak mu. Suka tidak suka. Anak ku lah pemilik semua harta benda mu. Dan kau bisa ku singkirkan kapan saja aku mau, jadi berbaik perilaku lah pada putri ku!" ucap Seli lantang.

__ADS_1


Sidharta tertawa keras mendengar ucapan konyol Seli.


"Kau sungguh memalukan, Seli. Kau itu hanya sampah yang aku pungut sehingga bisa menjadi seorang nyonya. Dan harta yang kau maksud bukanlah milik ku, tapi milik istri juga anak-anak ku. Aku hanya menumpang saja selama ini, semua aset bergerak maupun tidak bergerak, baik properti atau perusahaan. Semua masih atas nama Sahira. Dan pewaris nya adalah anak-anak kami. Analisa Antarisya dan Lukas Antario." Tukas Sidharta lugas, mata nya menatap dingin ke arah Seli.


Seli sedikit terkejut mendengar fakta itu, namun buru-buru merubah ekspresi wajah nya. Tangan nya mengepal kuat, tatapan nyalang dia lontarkan pada sang suami.


"Aku tau kau tidak tulus pada ku, aku pun tau apa tujuan mu mau menikahi ku hingga menjebak ku pada saat aku mabuk. Aku sadar jika aku tidak pernah meniduri malam itu, namun aku terlalu putus asa karena kehilangan ku. Akhirnya tanpa banyak drama, aku mengajak mu menikah. Aku pikir aku bisa sedikit mengobati luka hati ku dengan kehadiran mu dan Maura. Tapi semakin hari aku semakin merasa aku telah salah memutuskan keputusan dalam hidup ku." Sidharta tersenyum sinis ke arah Seli.


"Kau tau alasan ku tak pernah menggauli mu bahkan saat kita sudah menikah sekalipun...aku telah memutuskan untuk melakukan membuat kejantanan ku tak berfungsi lagi. Aku tak ingin menyentuh wanita manapun, apa lagi sampai membuat nya mengandung anak ku. Karena istri ku tak akan pernah tergantikan, begitu juga dengan anak-anak ku. Walau hati ku masih sakit dengan pengkhianatan Sahira, namun aku tetap tidak rela, jika ada wanita lain menjamah tubuh ku." Sidharta menarik nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak saat mengingat kebodohan nya.


"Kini aku sadar, istri ku tidak pernah berselingkuh. Foto-foto itu adalah hasilnya rekayasa. Namun terlalu sempurna hingga otak dangkal ku tak lagi bisa berpikir dengan baik. Kau cerdas, kau manfaat kan kebaikan Sahira pada mu. Kau menikam sahabat baik mu agar bisa merebut tahta nya, suami nya dan segala kepunyaan nya!" Suara Sidharta bergetar, hati nya sakit saat mengetahui semua fakta. Ternyata Seli lah dalang dari semua penderitaan nya. Seli lah akar dari kehancuran rumah tangga nya, Seli pula lah yang membuat nya nyaris gila karena kehilangan. Lalu datang bak malaikat penolong di saat diri nya rapuh dan butuh sandaran. Sungguh licik memang, namun salah nya juga telah memberikan celah bagi seorang pengkhianat masuk ke dalam lingkup hidup nya.


Seli menegang saat mendengar penuturan panjang Sidharta, suami nya sudah tau segalanya. Dia merasa terancam dan cemas. Semua dia korbankan akan sia-sia. Bahkan pria yang dia manfaat kan pun sudah dia lenyap kan, sesaat setelah misi nya berhasil di lancar kan oleh pria yang dia janjikan sebuah ikatan.


"Rupa nya kau sudah tau segalanya, jadi tidak perlu lagi aku berpura-pura sekarang. Aku ingin kau menanda tangani surat pengalihan hak waris ke tangan putri ku. Jika tidak, maka kau akan tau akibat nya berani bermain-main dengan ku. Dan ya, katakan pada dokter sialan itu agar tidak melepaskan alat topang kehidupan dari tubuh Maura." Seli keluar dengan membanting pintu ruang kerja Sidharta.


Sidharta tersenyum sukar, pria paruh baya itu tertawa hambar. Inilah akibat nya jika tidak pernah menaruh kepercayaan penuh pada pasangan. Hingga kotoran kecil yang seharusnya bisa di bersihkan hanya dengan cara mengelap nya saja. Malah dia siram dengan minyak lalu membakarnya hingga tak bersisa.


klek


Sang sekretaris masuk dengan wajah takut-takut, dia paham situasi yang terjadi di dalam ruangan itu pasti tidak lah baik. Terlihat dari raut wajah tak terbaca sang atasan.


"Ada apa Nurma?"


"Hanya ingin mengingatkan anda, jika siang ini anda ada janji temu dengan seorang klien di restoran Jepang xxxx." Jelas Nurma tak berani menatap sang bos.


"Ah, bagaimana bisa aku lupa...kau juga ikut, Ridwan sedang mewakili ku bertemu dengan klien lain." Pungkas Sidharta. Nurma hanya mengangguk paham, lalu bergegas keluar. Dia harus menghubungi kekasih nya untuk membatalkan janji makan siang mereka.

__ADS_1


__ADS_2