
Pagi di rumah Rick selalu saja ricuh, ke empat anak nya selalu saja punya selera yang berbeda-beda dalam menentukan jenis sarapan yang mereka ingin kan.
"Oke, oke.. bagaimana kalau semua sarapan dengan menu yang sama hari ini? bunaa sedikit lelah semalam, banyak drakula di kamar bunaa dan itu membuat bunaa kesulitan untuk tidur nyenyak." Rick spontan tersedak butiran nasi goreng buatan sang istri.. Drakula versi Ana adalah diri nya.
"Sayang?" ujar Rick penuh penekanan. Ana hanya mengedipkan sebelah mata nya menatap sang suami. Rick pun tak bisa berbuat apa-apa, hati nya luluh lantah jika sudah melihat tingkah sang istri yang menggoda seperti itu.
"Tapi aku ingin nasi kuning bunaa...," rengek Ayank melipat bibir nya merajuk. Nasi goreng di piring nya terus dia aduk hingga sedikit berhamburan di permukaan meja.
"Ck! makan saja sarapan mu, atau kita bisa terlambat karena mu." Tegur Ilian jengkel.
"ck! aku bahkan tak merengek pada mu kak...bunaa..." rengekan itu masih terus berlanjut. Ana hanya bisa menghela nafas panjang, salah nya juga bangun terlambat pagi ini. Semua karena sang suami yang tiada henti menggempur nya semalaman suntuk.
"Baik lah, begini saja...bunaa akan menghubungi restoran untuk menyiapkan bekal nasi kuning untuk Ayank, bagaimana?" tawar Ana memberikan solusi. Karena jika tidak, alamat anak-anak nya yang lain pun akan ikut terlambat turun ke sekolah.
"Oke! makasih bunaa..!" seru Ayank kegirangan, Ilian mencebik melihat tingkah manja sang adik yang semakin menjadi semenjak ibu mereka pulih.
"Adek kaya nya perlu segera di kasih adik lagi deh bun. Agar Ayank bisa mulai untuk mandiri. Kalah dengan adik Zian, masih bayi tapi tidak serewel Ayank." Cetus Ilian tiba-tiba. Sejenak Ana tertegun, dia belum mendapatkan tamu rutin nya bulan ini.. Tatapan nya terarah pada sang suami yang terlihat santai memakan sarapan nya penuh hikmat.
,"Ehmmm, apa kalian sudah siap? ayo, nanti kita tidak sempat mampir untuk mengambil sarapan mu." Ana terlihat sibuk mengabsen bekal anak-anak nya ke dalam tas bekal.
"Sayang? kenapa dari tadi diam terus hmmm?" Rick mengelus rambut tebal istri nya dengan sayang.
"Sadar tidak kalau bulan ini, bunda belum kedatangan tamu bulanan?" pancing Ana menelisik wajah tenang suami nya. Anak nya bungsu nya baru berusia 7 bulan, yang benar saja jika diri nya kembali mengandung. Tubuh nya pun masih menyisakan lemak-lemak jahat yang belum hilang sempurna.
__ADS_1
"Memang nya kenapa, toh kalau isi kan suami nya ada. Takut amat sih bun, santai aja lah. Ayah bakal tanggung jawab kok..." kelakar Rick berhasil mendapatkan cubitan gemas dari istri nya.
"Bukan masalah tanggung jawab, Zian baru berusia 7 bulan yah. Ya ampun, tidak bisa di bayang kan gimana dia bakal tersisih nanti nya." Ujar Ana sedikit cemas.
Rick mengusap pipi sang istri yang masih bulat, dia sangat menyukai nya.
"Udah tidak apa-apa, Zian juga sudah MPASI kan? jadi tidak masalah kalau berhenti asi. Yang penting makan nya banyak dan susu nya lancarkan. Tidak masalah, kita memberi nya adik lagi. Ayah jadi makin semangat kerja kalau bunda hamil lagi." Ujar Rick menenang kan hati gundah istri nya dengan kata-kata lembut.
"Nanti kita cek dulu ya, mungkin saja telat. Bunda belakang ini sering bolak-balik restoran, mana bawa Zian, pasti lelah nya dobel.," ujar Rick kembali menenang kan sang istri.
"Belum, lagi pula malam nya ayah nya juga ikut memberi andil rasa lelah yang tidak kalah melelahkan." Potong Ana menyindir. Rick tergelak kencang. Itu benar, siapa suruh istri nya membuat nya candu.
"Bunda itu candu nya ayah, jadi salah kan saja bunda sendiri. Kenapa selalu terlihat menggoda setiap hari." Elak Rick berseloroh sembari mencubit gemas pipi istri nya.
Sesampai di lobby kantor, seperti biasa Rick akan menggandeng lengan sang istri hingga tiba di ruangan nya.
"Pak CEO semakin bersinar kaya mentari tengah hari ya.."
"Benar, semenjak bu Ana pulih, hampir setiap hari selalu di ajak ke kantor...salut banget ada suami yang se setia pak CEO.."
"Padahal bu Yumna selalu berusaha menggoda pak Rick selama ini, tapi lost... mental beliau dengan pemandangan seindah ini.." banyak selentingan kata-kata pujian terdengar hingga ke telinga Rick dan Ana.
"Wah! seperti nya anda begitu di kagumi di kantor ini pak Rick." Goda Ana meledek sang suami.
__ADS_1
"Benar sayang, tapi pusat perhatian ku hanya tertuju padamu. Anggap saja mereka sebagai support sistem bagi ku untuk berusaha mempertahankan kesetiaan ku hingga akhir. Kau pun harus mengagumi suami mu ini, setia selama bertahun-tahun itu tak mudah. Terlebih aku pria normal, tapi lihat lah, suami mu ini juara dalam hal kesetiaan." Puji Rick pada diri nya sendiri dengan bangga.
Ana mengangguk setuju, Rick memang tak ada dua nya. Lima tahun waktu yang tak sebentar namun pria itu mampu menahan hasrat nya dengan cara nya sendiri.
"Pagi cantik.." sapa Ana pada sekretaris baru suami nya.
"Pagi juga ibu yang cantik nya berlipat-lipat lebih cantik..." balas Nuri tersenyum ramah. Wanita berjilbab itu selalu menyukai pasangan tersebut. Ana sangat baik pada nya, itu membuat nya sering merasa sungkan untuk menolak apa pun yang wanita itu berikan.
"Kau temani istri ku di dalam, biar meeting nanti aku saja yang menghandle nya. Penuhi kebutuhan istri ku dan buat dia nyaman." Titah Rick merupakan hal mutlak bagi Nuri. Dan dia selalu senang hati melakukan nya.
"Baik pak, akan saya laksanakan semua perintah bapak." Balas Nuri mengangguk pelan.
"Sayang, aku langsung ke ruang meeting dulu ya..jika butuh sesuatu, katakan saja pada Nuri."
"Baik lah pak CEO, pergilah. Nuri akan menjagaku dengan baik dan memenuhi segala yang aku butuhkan." Usir Ana pada suami nya.
"Beri aku suntikan suplemen.." Rick memajukan wajahnya, Nuri segera berpaling dan merapikan mejanya yang sudah rapi.
Setelah berpamitan barulah Rick meninggalkan pintu ruangan nya. Dia tak masuk, karena berkas meeting ada di meja Nuri sang sekretaris.
"Maaf ya Nuri, sudah membuat mu tak nyaman." Ujar Ana tak enak hati. Dia tau Nuri gadis yang Solehah, pemandangan tadi pasti sedikit mengganggu pandangan sang sekretaris.
"Tidak apa-apa bu, saya senang melihat keharmonisan ibu dan bapak. Saya doakan langgeng hingga maut berkehendak." Doa Nuri tulus.
__ADS_1
"Amin. Terimakasih Nuri. Ayo masuk, dan pesan kan beberapa makanan ringan dari restoran. Aku sedang ingin makan-makan cepat saji sekarang." Ujar Ana bersemangat, wanita itu membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Nuri masuk. Hingga membuat Nuri merasa tak enak hati di buat nya, sedangkan Ana terlihat santai saja.