Beloved My Ana

Beloved My Ana
none 2


__ADS_3

Sebulan sudah sejak acara bulan madu rasa liburan keluarga, Rick mulai sibuk dengan aktivitas kantor nya. Begitu pun dengan Ana, kesibukan nya semakin bertambah saat rumah makan impian nya sudah jadi dan mulai berjalan. Dengan dua orang karyawan yang membantu nya.


"Mbak, pengunjung kita semakin hari semakin banyak ya.." ucap Bimo di sela-sela rehat nya, pria setengah jadi itu terlihat menyeka keringat nya padahal rumah makan Ana meski tak ada pendingin ruangan. Namun terpasang blower juga kipas angin.


"Ya mbak, Putri sering kewalahan nanganin pelanggan. Apa lagi kalo pelanggan nya banyak mau nya, tapi minta paket menu ekonomi. Kesel banget kalo sudah kaya gitu." Sambung Putri tanpa sadar telah berkeluh kesah pada bos nya.


"Eh, anu mbak... maksud nya Putri tuh.." gadis itu gelabakan sambil menggaruk tengkuknya, belum lagi tatapan tajam yang di berikan oleh Bimo pada nya.


Ana terkekeh geli melihat tingkah kedua karyawan nya. "Udah Bim, tidak apa-apa. Aku juga kepikiran buat nambah karyawan lagi, kalau kalian ada teman yang mau bekerja di sini, boleh di hubungi aja." Ucap Ana membuat bibir Putri tersenyum lebar. Bimo mencibir melihat reaksi teman sepekerjaan nya itu.


"Aku ada mbak, teman dari kampung. Ada dua sih tapi..." ucap putri sedikit tak enak hati, diri nya terkesan melunjak.


"Boleh deh, dua-duanya aja kalo gitu. Kita juga setiap hari banyak pesanan selain melayani pelanggan langsung. Bim? tidak punya teman yang mau kerja di sini juga, sekalian yang bisa jadi kurir. Kau kan jadi tidak keteteran sendiri ngantar pesanan." Tukas Ana menatap Bimo yang terlihat tengah berpikir.


"Ada deh kaya nya, cowok. Kemarin nanya kerjaan di sini, cuma aku bilang lagi belum butuh karyawan. Bisa nyopir juga tu anak, biasalah mantan sopir busway." Ujar Bimo tersenyum nyengir.


"Cowok tulen tapi kan, Bim?" sela Putri dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Yang ini tulen, kau boleh mencoba nya kalau masih ragu." Ucap Bimo menaik turun kan alis nya pada Putri, menggoda teman nya. Putri mendelik mendengar kalimat janggal keluar dari mulut pria melambai di samping nya itu.


"Enak aja main coba-coba, emang nya minyak telon." Ketus Putri kesal. Gadis itu melempar serbet yang baru saja dia gunakan untuk mengelap meja ke wajah mulus Bimo.


"Iyuuhhhh...ini kotoor tsaayy.." seru Bimo balas melempar Putri namun gadis itu dengan gesit mengelak. Keuntungan mempunyai postur tubuh yang mini size, bergerak bebas tanpa hambatan.


Ana hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah kedua karyawan nya itu. Lumayan menghibur di kala sedang tidak ada pengunjung. Namun kondisi itu tak berlangsung lama, karena kurang dari 10 menit saja pelanggan sudah mulai berjubel kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maaf mami sayang, papi beneren lupa..sumpah! bukan nya tidak ingat." Rengek Zero menggelayuti kaki sang istri yang tengah duduk di sofa dalam mode kesal maksimal. Bagaimana tidak, Zero melupakan janji akan menjemput nya ke salon, dan membuat nya menunggu hingga dua jam Sampai mati bosan.


"Ya sudah, bangun ih mami gerah." Tukas Delia akhir nya dengan nada pasrah. Percuma saja, suami nya itu tidak akan memahami kode apapun yang dia berikan jika tidak berbicara secara langsung. Tidak mungkin kan, dia mengatakan jika ke depan nya dia meminta untuk keluar rumah dengan mobil sendiri. Bisa-bisa kepala Zero akan mengeluar kan tanduk, atau paling tidak suami nya itu akan sibuk mengintili nya ketimbang pergi bekerja.


Mendengar kalimat sang istri Zero mendongak kan kepala nya, posisi nya kini tengah duduk bersimpuh sambil memeluk kaki sang istri yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Pria itu bahkan tidak peduli dengan keberadaan sang ibu di sana. Sejak tadi ibu mertua Delia sudah gatal sekali ingin melempar putra nya itu dengan vas bunga.


"Benar sayang? ah, mami memang yang terbaik. Makasih mami sayang, besok-besok papi janji tidak akan lupa lagi. Papi bersumpah atas nama mommy, beneran." Ungkap Zero terlihat senang sambil mengajak dua jari membentuk huruf V, tapi tidak dengan sang ibu. Wanita itu terlihat geram dengan ucapan sang anak, sebuah timpukan kotak tisu melayang ke kepala pria 41 tahun itu. Untung saja kotak tisu tersebut terbuat dari bahan dus. Zero mengusap kepala nya kemudian menoleh pada sang ibu dengan cengiran khas, yang membuat ibu nya ingin muntah darah melihat nya.

__ADS_1


"Dasar anak durhaka, bersumpah kok pake nama orang tua. Anak tidak ada akhlak kau ini.." hardik sang ibu melempar bantal sofa ke arah putra nya, namun Zero dengan sigap mengelak. Zero bangun dari posisi nya lalu duduk di samping sang istri dengan perasaan lega.


Bukan nya Zero tidak paham apa yang istri nya ingin kan. Dia hanya pura-pura bodoh agar Delia tidak punya celah untuk bisa bepergian seorang diri. Big no! Dia tak akan mengijin kan nya.


"Mommy sama anak sendiri suka julid ih, lihat sayang.." adu Zero dengan nada meminta perhatian, namun Delia malah memberikan delikan tak enak di pandang. Zero mengusap lengan sang istri agar kemarahan sang istri berkurang. Bisa gawat jika kedua wanita kesayangan nya itu bersatu melawan nya di saat bersamaan. Pertahanan Zero bisa runtuh total.


Bagi kebanyakan pria atau suami mungkin hal sepele membiarkan istri mereka bepergian seorang diri. Bagi Zero adalah suatu persoalan besar. Bagi nya membiarkan Delia bebas pergi kemana saja tanpa diri nya, sama saja memberi celah pada pria lain untuk mendekati sang istri. Membayangkan nya saja, kepala Zero sudah berdenyut-denyut tak karuan apa lagi bila sampai terjadi.


"Lain kali pergi sama mommy aja, Del. Cuma ke salon atau belanja aja mah, Zero jangan keterlaluan lah. Masa sama mommy juga tidak boleh sih, suka sebel mommy." Dengus sang ibu dengan wajah kesal, namun matanya menatap iba pada sang menantu.


Zero mencebik mendengar ucapan sang ibu. "Mom, jangan menghasut istri ku." Sahut Zero mengingat kan. Dia khawatir Delia akan lebih menuruti sang ibu nanti nya, bisa bahaya kan ?


"Kau ini istri terus-terusan di kekang ini itu, untung saja Delia penurut. Kalau mom nih ya, udah tidak bakal betah sejak kemarin-kemarin." Tukas sang ibu membuat Zero melotot sempurna.


"Istri ku memang penurut, Delia kan mencintai ku. Benar kan sayang?" bela Zero menatap sang istri dengan wajah memelas. Delia menghembuskan nafas kasar, lalu mengangguk pelan agar suami nya tak lagi merengek.


Senyum jumawa Zero perlihatkan pada sang ibu seolah sedang mengatakan, jika istri nya baik-baik saja dengan segala aturan dan keposesifan nya selama ini. Ibu dan anak itu saling melempar tatapan tak enak, jika Zero dengan wajah penuh kemenangan. Sedang kan sang ibu dengan wajah kesal maksimal.

__ADS_1


Note : mohon maaf jika alur nya masih belum cukup memuaskan, othor masih belum bisa fokus pada karya. Fokus othor masih seputar si bungsu. Sekali lagi mohon doa nya🙏🙏


Terimakasih sebelumnya, atas atensi kalian semua. Othor sayang kalian🥰🥰


__ADS_2