Beloved My Ana

Beloved My Ana
Si Gede Langganan Parkiran Pasar


__ADS_3

Rick tampak sangat bersemangat saat memarkirkan motor nya di parkiran pasar. Padahal baru dua kali ini diri nya masuk pasar, namun sudah membuat sang tukang parkir menghafalnya di luar kepala.


"Nak Rick ya? belanja lagi, kaya nya lagi banyak orderan nih." Goda sang tukang parkir merapikan posisi motor Rick. Motor gede itu tentu saja mencuri perhatian, belum pernah ada yang berbelanja ke pasar menggunakan motor mahal tersebut. Dan penampilan Rick yang seperti seorang eksekutif muda, tentu saja membuat banyak mata melirik nya. Terutama kaum hawa.


"Ya pak, puji Tuhan. Istri ku dapat banyak orderan buat besok." Balas Rick tersenyum sumringah. "Doain lancar ya pak" pinta Rick ramah.


"Siap nak Rick, semoga dilancarkan usaha nya, sukses selalu. Kalau udah buka warung makan sendiri, bapak di cari ya, siapa tau berguna buat jadi kurir." Ujar nya tersenyum lebar.


"Siap pak. Pasti itu, di tunggu aja info nya. Aku masuk dulu ke dalam, titip si gede di sini pak ya." Seloroh Rick berjalan masuk ke dalam pasar. Si tukang parkir yang bernama Salim tersebut mengacung kan kedua jari jempol nya.


Di sinilah Rick, pria itu tak segan melakukan tawar menawar dengan penjual. "Kok naik? kemarin gak segini loh harga nya bu?" tanya Rick heran, bukan nya apa, di tidak mungkin memotong dalam ukuran yang kecil. Meskipun di tambah dengan telur, tetap saja tidak konsisten menurut nya. Jika hari ini potongan lauk lebih besar, lalu besok nya lebih kecil. Pasti rekan kerja nya akan berpikir dia bermain curang. Mengurangi porsi di saat orderan mulai berdatangan.


"Emang naik mas, segini udah murah dari pada biasanya lebih mahal lagi." Ketus si penjual ayam tersebut jengkel.


"Ya sudah, aku nyari tempat lain saja kalau begitu." Rick yang dasar nya orang yang dingin kini mulai menunjukkan taring nya.


"Eh eh mas? mana bisa begitu, kan sudah milih tadi. Tidak boleh batal seenaknya dong." Omel si penjual ayam tak terima mendengar Rick akan membeli di tempat lain. Pasti akan ketahuan jika diri nya sengaja menaikkan harga jual karena melihat penampilan Rick yang terlihat berduit.


"Maaf, saya tidak jadi kalau harga nya tiba-tiba berubah drastis dari yang kemarin. Permisi!" Balas Rick tak kalah ketus.


"Dasar kere, tampang sama penampilan tidak sesuai sama isi kantong. Huh! Semoga dapat yang lebih mahal lagi, awas aja kalau balik kesini, tak naikin harga dua kali lipat." Cerocos si ibu tersebut kesal. Rick pura-pura tidak dengar.


"Bumbu nya tidak sekalian mas? jadi tinggal masak aja." Tawar gadis penjual ayam tersebut tersenyum ramah.


"Tidak, terimakasih. Istri ku akan membuat bumbunya sendiri di rumah, lagi pula aku butuh dalam jumlah banyak. Segini pasti tidak akan cukup." Tolak Rick halus. Setelah membayar, Rick mulai masuk ke lapak penjual sayur untuk membeli beberapa bumbu, tidak lupa mampir mengambil pesanan kelapa parut nya. Kemarin Rick sudah meminta nomor ponsel si penjual kelapa parut tersebut.


Saat Rick melewati penjual ayam pertama yang dia singgahi, Rick sengaja melambat kan langkah nya. Diri nya di bantu oleh buruh panggul dari dalam pasar, karena ada 1 plastik besar berisi ayam, juga satu dus besar berisi keperluan untuk bumbu juga ada sedikit sayuran dan buah. Tak lupa seplastik ukuran sedang berisi parutan kelapa.

__ADS_1


"Beratnya nih ayam, untung dapat yang harganya manusiawi. Udah gitu dapat bonus ceker lagi, lumayan buat sayur SOP." Selentingan ucapan menjengkelkan Rick membuat si penjual ayam tadi terlihat emosi sendiri.


"Di bonusin ceker aja seneng. Dasar tidak modal, penampilan sama isi kantong tidak seimbang, kere!" Dengus si ibu dengan suara ketus. Rick tertawa devil dalam hati nya saat melihat reaksi si ibu tersebut.


"Emang enak tidak ada yang beli" gumam Rick sambil berlalu, namun masih bisa terdengar oleh si ibu.


"Situ aja yang tidak mampu beli," perang argumen tersebut membuat hati kecil Rick tertawa ngakak. Seperti bukan diri nya saja. Ternyata begini jiwa seorang pria ketika sudah menikah, banyak hal yang berubah, termasuk sikap nya.


"Makasih ya mas, nih buat beli jajan untuk anak-anak" Rick memberikan uang 50rb pada kuli panggul tersebut, yang seharusnya cukup 5 sampai 10 rb saja.


"Saya tidak punya angsulan mas, ada ini tapi tidak cukup." Ucap si pria tak enak, lalu menghitung recehan yang dia punya. "12 rb aja mas, sisa nya besok bagaimana?" Wajah nya menatap penuh harap pada Rick, pasal nya uang itu mau di pakai untuk beli beras. Jadi biarlah besok dia mencicil sisa angsulan nya.


"Bawa aja mas, itu aku tidak minta di angsul. Bawa buat beli jajan anaknya mas. " Ujar Rick mulai memakai helm nya. Dus sudah terikat rapi oleh si kuli panggul dijok belakang nya.


"Alhamdulillah ya Allah..." ucap nya penuh syukur. Pasal nya sebelum berangkat tadi pagi, di rumah hanya ada sekitar 1 genggam beras di ember tampung.


"Nih pak, makasih udah jagain si gede." Kekeh Rick membuat kedua pria paruh baya itu tertawa pelan. Rick juga memberikan jumlah uang yang sama dengan yang dia berikan pada si buruh panggul. Membuat keduanya merasa senang juga bersyukur bertemu orang baik seperti Rick. Tak habis mereka berucap doa, agar usaha yang di jalani Rick dan istri nya berjalan lancar dan sukses.


Sesampainya di rumah, pak Tono membantu Rick menurunkan barang belanjaan majikan nya.


"Banyak orderan nih kaya nya pak?" Ujar Tono ikut bersemangat mengangkat hingga ke dalam rumah.


"Ya pak Tono, puji Tuhan banyak yang mesen." Balas Rick tersenyum bangga, pak Tono pun ikut senang mendengar nya. "Ibu mana pak Tono?" Rick celingukan mencari keberadaan istri nya.


"Di kebun belakang, lagi nyiram tanaman sama bi Sidah."


"Oh, ini tolong taruh di wastafel dulu ya pak, aku mau mandi dulu. Istri ku kalau masuk tolong jangan di biarkan angkat berat-berat. Ini berat soalnya, tolong langsung di bongkar aja biar nanti tinggal di pilih sendiri sama ibu." Titah Rick sopan. Tono mengangguk patuh, lalu membongkar dus besar merk air mineral botol besar tersebut. Begitu pun plastik ayam tadi, langsung di taruh di bak wastafel.

__ADS_1


"Ton? Kok di mari? itu ayam lagi ya, wah ibu banyak orderan nih. Semangat jadi nya bibi kalo gini, biar tidak banyak santai nya sambil nonton Drakor, tapi gajih lancar jaya masuk buku tabungan." Kekeh bi Sidah cengengesan.


"Alah, itu mah memang kau saja yang suka nonton, bukan karena ibu yang ngajak. Hayo, ngaku?" Tuduh Tono meledek Bi Sidah. Wanita 30an itu mesen-mesem sendiri mendengar tuduhan tepat sasaran dari Tono.


Ana tertawa geli mendengar perdebatan art juga penjaga rumah nya. Kedua nya sering berdebat untuk hal-hal kecil, meski Ana tau jika itu salah satu cara mereka untuk berkomunikasi agar semakin dekat.


"Bapak mana pak Tono ?" sela Ana di tengah perdebatan menghibur hati tersebut.


"Katanya mau mandi dulu Bu, terus ini sudah pak Tono bongkar biar ibu tidak angkat-angkat berat. Begitu pesan nya bapak sebelum naik ke atas." Dengan lancar Tono menyampaikan ultimatum sang majikan pria terhadap istri tercinta nya.


"Berat dari mana nya, isi nya paling juga bumbu sama sayur. Ada-ada saja" ujar Ana terkikik lucu. Jangan kan baru satu dus penuh bumbu, beras 25 kilo pun pernah diri nya pikul dari dalam pasar menuju sepeda butut nya.


"Itu berat sayang, jangan ngeyel." Suara intrupsi Rick dari arah tangga membuat Ana reflek menoleh, begitu juga bi Sidah dan pak Tono.


"Pak Tono bantu aku bersihin ayam, bisa? tapi di depan sibuk tidak ?" Tanya Rick sembari mencium kening sang istri.


"Tidak sibuk pak, tadi abis main catur aja sama kang Wisman satpam tetangga sebelah. Bersihin bisa pak, kalo motong bi Sidah aja. Takutnya malah ancur tidak berbentuk kalau saya yang motong." Balas Tono cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.


"Aman pak, aku yang motong, pak Tono bantu bersihin aja biar cepat." Tukas Rick membuat Tono lega. Pria 37 tahun tersebut memang tidak berpengalaman urusan dapur dan sejenisnya. Karena sejak usianya menginjak remaja, dirinya sudah bekerja kasar di sawah tetangga demi menopang ekonomi keluarga. Lalu sejak usia 17 tahun, ikut bekerja di kota di bawa salah satu kerabat mbok Darmi, ke rumah keluarga besar mendiang Reegan. Dan sekarang diri nya dan bi Sidah di oper ke sana oleh cucu tuan Keenan.


"Sayang, aku ada beli kelapa parut. Coba di cek dulu, cukup tidak. Soalnya pesanan rendang nya ada 17 bungkus, nasi kuning 20 bungkus." Seru Rick dari arah dapur kotor di belakang.


Ana mulai membongkar semua belanjaan sang suami, lalu menghitung kemungkinan kekurangan nya. Dan beruntung nya, semua bahan nya cukup.


"Cukup by, aman ini mah. Pinter banget suami ku ini soal ginian, jadi tidak perlu repot-repot lagi masuk pasar desak-desakan sama ibu-ibu rempong." Kekeh Ana. Dia mulai membayangkan, bagaimana seru nya sang suami berdesakan diantara para ibu-ibu di sana. Pasti wajah sangar suami nya, akan membuat orang-orang segan sekaligus takut pada nya.


"Ya dong, suami nya siapa dulu." Sahut Rick bangga. Pak Tono yang tengah membantu Rick membersihkan bulu-bulu halus ayam tersebut hanya tersenyum simpul. Dia senang bisa bekerja di keluarga yang selalu mengutamakan kasih sayang dan pengertian diantara pasangan nya.

__ADS_1


"Jangan senyum-senyum sendiri pak Tono, nanti kemasukan roh ayam. Bi Sidah bisa ilfil sama pak Tono." Tegur Rick melempar candaan, kedua nya kemudian tergelak mentertawakan kekonyolan tersebut.


__ADS_2