Beloved My Ana

Beloved My Ana
Sesi curhat


__ADS_3

Davin cengar cengir saat melihat Rick bersenandung kecil di teras belakang.


"Lagi bahagia nih kaya nya..." celoteh Davin sok tau dengan gaya tengil yang menyebalkan. Lalu duduk di kursi rotan dengan posisi paling nyaman menurut nya.


"Sok tau!" ketus Rick tanpa menoleh. Mata nya masih asyik menatap gulungan ombak yang hari ini tiba-tiba terlihat sangat indah di mata nya.


"Wuihhh... pagi-pagi udah ngegas aja. Porseling nya jangan lupa di netralin dulu, tar nabrak karang kan otw modar." Ledek Davin masih dalam mode jahil seperti biasa nya.


"Dorrr!! kaget tidak? kaget dong.." Sentak Vino mengaget kan kedua pria yang terlihat tidak sedang mengobrol cantik tersebut.


"Pada ngobrolin apa nih...mau rencanain diving? boleh, aku mau. Kebetulan aku liat di lantai atas banyak banget kebutuhan menyelam." Cerocos Aby menimpali, air muka Rick sudah mulai terlihat tidak enak untuk di lihat. Pria itu pasti kesal karena kaget akibat ulah Vino tadi.


"Terserah. Aku tidak suka diving. Sebelum make peralatan, di cek dulu. Soal nya sudah lama tidak di pakai. Nanti aku telpon orang yang biasa pandu nyelam kalo keluarga ku lagi liburan ke sini." Ujar Rick panjang lebar. Dia tak ingin salah satu teman nya celaka karena kecerobohan mereka sendiri. Ini liburan nya, dan dia tidak ingin teman-teman laknat itu merusak nya.


"Gampang mah itu. Tar aku cek dulu, sisa nya biar orang yang ahli nya yang bagian finishing pengecekan nya. Biar lebih yakin kalau aman buat di pake." Sambung Aby nampak semakin bersemangat.


Sementara di dapur, Lisa dan Yodra sibuk membantu Ana membuat sarapan. Tak ingin Rick kembali melontar kan kalimat-kalimat pedas level akhir, Lisa merelakan kuku indah nya berlumuran amis nya aroma ikan. Selain itu ada bibi yang kebetulan memang tinggal di sana bersama suami nya untuk menjaga dan merawat villa tersebut.

__ADS_1


"Udah kak, kalau tidak kuat biarin aku aja tar yang lanjutin. Rick jangan di dengarin, emang biasa suka gitu. Sama mami papi aja suka nyablas kalo ngomong. Terlalu jujur dia, suka atau tidak suka nya. Jangan di masukin ke hati ya kak..." Ujar Ana tak enak hati. Dia dapat melihat bagaimana cara Lisa memegang ikan yang hanya tinggal di cuci, dengan cara yang jauh dari kata terbiasa dengan urusan dapur.


"Udah tidak apa-apa dek, sekalian kakak kau belajar masak. Kali aja pas udah bisa masak, jodoh otw menjemput ku menuju pelaminan." Sahut Lisa terkikik geli, mendengar ucapan nya. Melihat bagaimana sang adik begitu bahagia dengan pernikahan nya. Lisa pun mulai berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria. Bukan hanya datang lalu pergi tanpa penjelasan.


"Boleh deh kalo itu alasan nya. Aku setuju. Jadi perempuan itu, setinggi-tingginya pendidikan, kalau urusan dapur nya mines. Nilai akademik setinggi apa pun, tidak akan mampu menyaingi nya." Nasihat Ana bijak tanpa menyudutkan kedua wanita yang kini ikut berkutat bersama nya di dapur tersebut.


"Kau benar, ibu ku selalu mengeluh jika aku pulang kampung. Pantas saja tidak ada pria yang mau melamar mu, kau terlalu pemalas,masak saja tidak tau. Dan bla bla bla.." Yodra meniru perkataan sang ibu dengan lancar. "Aku sampai hampir diare mendengar kalimat itu terus menerus." Kesal Yodra mengundang tawa Lisa dan Ana. Bibi pun terkikik geli mendengar ucapan teman dari majikan nya itu.


"Ibu mu benar, umur mu sudah berapa.. seharusnya umur segini minimal kau harus sudah punya pacar. Kenapa tidak pacaran dengan Vino saja, ku lihat dia selalu menempel pada mu seperti lintah belakangan ini. Kalian juga terlihat cocok menurut ku." Terang Lisa memapar kan pendapat nya. Padahal dia sendiri belum memiliki seorang kekasih.


"Cocok apa nya. Vino itu pria menyebalkan, setiap hari selalu saja mengganggu ku. Apa kau tau, aku gagal kencan buta dengan seorang pria yang ku kenal di Instagram. Vino membalas DM pria itu dengan mengatakan jika aku adalah janda anak lima. Bukan kah itu menyebal kan. Pria bodoh itu pun langsung percaya dan menolak bertemu dengan ku." Keluh Yodra menggebu-gebu. Lisa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita konyol tersebut.


"Itu karena dia menyukai mu bodoh! dasar tidak peka. Vino cemburu pada mu, maka nya dia menggagalkan kencan mu dengan pria lain." Tukas Lisa memukul keras bahu Yodra hingga gadis itu meringis ngilu.


"Sakit tau...kasar banget sih. Vino itu menyukai mu, selama ini aku hanya di jadikan sebagai objek untuk berkeluh kesah tentang mu." Ketus Yodra tanpa sadar telah memperlihatkan sisi kecemburuan nya. Ana tersenyum samar melihat perdebatan dia wanita yang kini menjadi teman akrab nya tersebut.


"Vino itu hanya terobsesi padaku. Tapi yang aku lihat sekarang, Vino lebih sering mengintili mu kemana-mana. Artinya pria bodoh itu sudah sadar akan perasaan nya pada mu." Jelas Lisa mengurangi kadar prasangka di pikiran Yodra.

__ADS_1


Dia pun mulai menyukai seseorang di circle pertemanan mereka. Hanya saja diri nya cukup tau diri, selama ini image buruk melekat pada nya sebagai wanita yang "nakal". Dia sadari itu, penampilan nya yang kerap mengundang tatapan genit para pria memang sudah tak terelakkan lagi.


"Masa sih! kaya tidak yakin ini.." ucap Yodra sok acuh padahal hati nya bersorak senang.


"Terserah! jika salah satu dari kalian terlalu lama memendam dan datang pesaing baru. Jangan salah kan siapa-siapa, paham!" Ujar Lisa mengingat kan.


"Kak Lisa benar kak. Kalau di pendam terlalu lama perasaan pun bisa basi. Ya tidak kak?" timpal Ana meminta persetujuan sang kakak. Keduanya tersenyum laknat melihat kecemasan di wajah Yodra.


"Aishhh! kalian jahat..." ujar Yodra panik sendiri. Lalu memeluk bahu Ana menutup raut malu di wajah nya. Terlihat jelas jika dirinya sangat menyukai Vino.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sidharta bergeming di meja kerja nya. Sebuah fakta membuat nya hampir terserang stroke mendadak. Ana dan Lukas adalah anak kandung nya. Tangannya masih bergetar memegang kertas hasil tes DNA kedua nya.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini, harus nya aku mencari kebenaran tentang kecelakaan itu tanpa mengikuti kesimpulan penyidik begitu saja. 15 tahun aku membesar kan ular di dalam rumah mewah ku, lalu putri ku sendiri hidup belasan tahun dalam kekurangan yang menyakitkan." Sidharta mengusap wajah nya kasar, air mata nya tak berhenti mengalir memikirkan kedua anak nya yang pasti akan sangat membencinya setelah ini.


"Maaf kan papa nak, papa bodoh. Begitu saja percaya pada perkataan orang lain tanpa menyelidiki realita yang ada." Sidharta tergugu sambil meremas kuat dada nya yang terasa sangat sesak.

__ADS_1


flashback


__ADS_2