
Makan malam keluarga tak terduga tersebut, berhasil membuat Rick memasang wajah dalam mode sedikit tak bersahabat. Niat hati masak dalam porsi yang banyak demi mempromosikan dagangan sang istri, keluarga tak di undang nya tiba-tiba datang menyerbu ruang makan sederhana di rumah nya.
"Kata orang kalau ngasih makan tamu itu pahala nya banyak, ya tidak sih? Bagaimana adik ipar ?" Zero melempar sepotong mie ke piring Jovan yang duduk persis di seberang meja berhadapan dengan nya.
"Kalau makan, makan saja. Makanan jangan di lempar-lempar begitu, nanti pahalanya jadi berkurang." Sindir Rick ketus. Jovan mengayun kan kaki nya di bawah meja, Zero terjengkit kaget namun berusaha bersikap biasa saja. Tatapan mata keduanya saling melempar pandangan permusuhan.
Setelah selesai makan, kini mereka tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Ukuran nya yang tidak terlalu besar, dan jumlah sofa yang hanya ada beberapa. Membuat para wanita memilih duduk di karpet di lantai. Tadi nya Rick akan protes saat istri nya hendak ikut duduk di karpet bersama sang ibu dan bibi nya. Namun tatapan mata Ana yang menyiratkan agar Rick mengijinkan nya. Membuat Rick mau tak mau menuruti nya saja.
"Kau yakin tidak ingin memegang perusahaan ? mengisi kursi direktur mungkin, apa salah nya. Kau harus mencoba berbaur dengan para pemimpin perusahaan, mengenal seluk beluk perusahaan dan belajar mengelola nya juga bersama adik mu. Menjadi CEO itu berat, CEO adalah otak dari sebuah perusahaan. kau bisa menyokong adikmu dari belakang dengan menjabat sebagai direktur." Nasihat Zero panjang lebar, dia tidak tau saja, jika hampir semua pekerjaan Bram di handle oleh otak cerdas Rick.
"Aku menjadi bagian apa saja di Perusahaan, bukan berarti aku lepas tangan pada adik ku. Aku punya cara sendiri untuk menyokong Bram, sekaligus mengenal seluk beluk perusahaan. Aku sudah hapal di luar kepala. Siapa saja dan perusahaan mana saja yang menjadi partner bisnis perusahaan." Ucap Rick santai, dia tidak ingin berdebat dengan paman nya, dia tau maksud paman nya baik.
"Dia bekerja sejak kelas 1 SMA, kalau saja kau lupa." Tukas Jovan mengingat kan, Zero menepuk keningnya sendiri. Kenapa dia bisa lupa, jika keponakan nya itu adalah pria mandiri. Pria irit dan sedikit perhitungan. Untuk itulah tidak heran, jika isi rekening nya menumpuk.
"Ah ya, Kenapa aku bisa lupa" ujar nya terlihat bodoh. "Jadi sekarang sudah naik pangkat, kok papi tidak di traktir apa gitu" celoteh Zero lupa diri.
"Lah itu, makanan yang papi makan? lupa, ? pada lari kemana itu laup pauk tadi," Sindir Rick tak ada habis-habisnya. Zero menggaruk tengkuknya kemudian menendang ujung kaki Jovan, pria itu pura-pura tak tau. Dia tidak ingin jadi korban mulut tajam putra nya lagi.
__ADS_1
"Kan tadi makan malam biasa, maksud papi, traktir di restoran mana kah. Ya tidak, adik ipar ?" dalih Zero meminta dukungan adik ipar laknat nya, sejak tadi Jovan pura-pura tak mendengar nya.
"Istri ku saja belum pernah aku ajak makan di restoran, lah, papi siapa? ngelunjak bener. Kami sedang berhemat, istri ku akan membuka rumah makan impian nya. Jadi aku harus ekstra menabung dan bekerja keras. Maaf pi, anda belum beruntung." Sengit Rick tak terima. Istri nya saja belum pernah makan enak dan masuk restoran. Lah, paman nya seenak jidat minta di traktir di restoran. Tidak bisa Yolanda!
"Ck! pelit banget siih! Turunan siapa tuh?" oceh Zero melempar pertanyaan ke arah Jovan. Jovan hanya mengendikkan bahunya acuh. Rick memang berbeda, dari sekian ekor anak nya, hanya Rick yang sedikit hemat dalam pengeluaran. Bahkan rela bersusah-susah bekerja sebagai pesuruh di perusahaan ayah nya sendiri selama bertahun-tahun sejak usia 15 tahun. Entah salah pupuk atau bagaimana, perasaan saat menabur benih. Semuanya bibit unggul.
"Sayang? cape ya, istirahat yuk, udah malam. Besok kan harus bangun subuh buat masak, kali-kali aja lauk nya kurang jadi masih sempat nambah pake telur." Zero dan Jovan saling melempar pandangan, mereka tau Rick sedang menyindir mereka berdua. Zero dan Jovan makan malam seperti porsi makan siang bahkan lebih. Rick sampai menyindir, jika ada kuli bangunan ikut makan malam di rumah nya. Anak nya itu benar-benar, entah irit apa pelit sih. Gumam kedua nya dalam hati.
Joi dan Delia sudah biasa dengan sikap Rick yang ceplas ceplos, tetap cuek melanjutkan obrolan dengan sang menantu kesayangan. Hingga suara Rick mengingat kan istri nya untuk beristirahat, baru lah kedua nya sadar, jika menantu mereka harus banyak-banyak istirahat. Bukan perkara besok bangun subuh atau tidak, namun karena gadis itu belum sepenuhnya pulih.
"Istirahat aja sayang, mimi juga mau balik. Maklum, pasukan mimi, adik-adik kalian agak riweh semenjak pawang nya sold out." Kelakar Joi membuat air muka Rick merenggut kesal.
Sepulang nya para tamu tak di undang tersebut, kini Rick dan Ana tengah berbaring sambil berpelukan. Lebih tepatnya Rick yang tengah berbaring seperti bayi di pelukan Ana. Pelukan Ana adalah tempat ternyaman setelah pelukan sang ibu.
"Besok mau di bangunin jam berapa, yang?" tanya Rick sambil melukis abstrak di perut dang istri. Sudah sebulan menikah, namun Rick masih belum menyentuh Ana, bukan tanpa alasan. Dia ingin istri pulih sempurna, sekaligus dia punya rencana bulan madu di pulau nenek nya yang merupakan hadiah dari sang kakek, Justin. Nama Justin tak pernah mati dalam keluarga mereka, setiap anak cucu diperkenalkan, jika Justin juga merupakan kakek mereka. Saat kecil mungkin itu hal biasa, namun saat mereka mulai beranjak remaja. Mereka mulai memahami konteks dua kakek yang mereka miliki. Bahkan Poto pernikahan sang nenek dan kakek Justin mereka, masih terpajang indah di rumah besar mendiang kakek dan nenek buyut mereka. Dan semua itu atas ide Daniel.
"Jam 5, soalnya cuma bikin nasi nya aja. Ayamnya kan udah di goreng setengah matang tadi, tinggal panasin sama bumbu nya aja." Sahut Ana masih setia memijit pelan kepala suami nya.
__ADS_1
"Memang dulu suka bangun jam berapa, soal nya sayang dulu sering terlihat mengantuk kalau di sekolah." Tanya Rick penasaran.
"Jam setengah 4, kan bikin wade nya banyak macam, pasti makan waktu, dari ngadon sampe masak nya. Belum lagi bikin nasi kuning, untung nya cuma make telur. Jadi gak seribet kaya pake ayam. Trus make tungku kayu jika belum mampu beli tabung, kalau pas kayu nya agak basah, api nya susah nyala. Kudu di tiup mulu kaya yang hubby lihat waktu itu. Karena aku lupa mengangkat nya ketika hujan turun, kayu itu baru aku ambil dari hutan belakang rumah. Masih agak basah, jadi aku jemur. Eh malah kehujanan" kekeh Ana, tak sedikit pun terdengar keluhan di dalam paparan kisah nya.
Rick semakin kagum juga merasa sesak mengingat bagaimana perjuangan sang istri sejak terakhir ibu nya berpulang setelah ayah nya. Hidup dalam kesulitan, tak ada satu pun keluarga yang mau menampung nya. Bahkan sekedar menengok nya pun tidak ada.
"Sekarang sudah ada aku, manfaatkan suami mu ini sayang. Aku akan merasa bahagia jika di setiap kesulitan mu, aku selalu di libat kan. Jangan sungkan, aku ini suami mu, belahan jiwa mu. Aku tidak suka kau menutupi sesuatu hanya karena tidak enak pada ku. Jika menginginkan sesuatu, katakan pada ku. Aku mungkin terlihat pelit di mata mu, itu hanya berlaku untuk orang lain saja, tapi tidak dengan mu. Aku bekerja keras agar istri ku tidak kekurangan apapun, meski masih jauh dari kata mewah seperti istri-istri pria lain di luar sana. Aku hanya bisa menafkahi mu seada nya, gajih ku belum mampu membelikan barang-barang limited edition setiap saat ada keluaran terbaru. Tapi jika sesekali, aku masih sanggup. Katakan saja pada ku, jangan memendam keinginan mu. Aku jadi merasa tidak berguna " papar Rick mengingat kan kembali istri tidak enakkan nya tersebut.
Ana tersentuh setiap kali mendengar kalimat bijak suami nya.
"Aku tidak butuh tas, sepatu, baju atau apapun yang mahal. Cukup kita bisa beli beras saja, juga membayar bi Sidah dan pak Tono. Itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin yang lain lagi, aku hanya butuh suami yang setia pada ku dan tak pernah bosan dengan masakan rumahan setiap hari. Dan juga, penampilan kampungan ku ini." Tutur Ana penuh pengertian. Hidup nya sudah lebih dari cukup, tinggal di rumah yang tidak perlu khawatir jika hujan turun. Atau saat ada angin kencang. Rumah lama Ana selalu menyalurkan air sampai hujan reda dari atap rumah, dan angin akan membuat dinding triplek rumah Ana mengeluarkan suara yang sangat menggangu, bahkan bisa sampai terlepas jika terlalu kencang
Di rumah suami nya, apa lagi yang dia cari. Suami yang sangat mencintai nya, melakukan segalanya untuk diri nya. Ana sudah sangat bersyukur atas nikmat hidup nya. Kemurahan Tuhan sangat luar biasa. Tak habis kalimat syukur dia panjat kan.
"Kalau semua wanita di dunia ini berpikir sepertimu, mungkin para suami di luar sana tidak akan sibuk bergosip di sela jam kerja mereka. Bagaimana pusing nya mereka menghadapi sikap gengsi dan boros para istri demi memenuhi tuntutan hidup mewah dan tak tersaingi." Tukas Rick. Dia benar-benar beruntung, istri nya begitu dewasa dalam pemikiran juga sikap.
"Bobo ya, besok bangunin aku juga kalau sayang sudah bangun duluan. Kita kerjain bareng-bareng, ajari aku cara bungkus nasi yang rapi. Agar aku bisa pamer pada teman-teman di kantor, kalau aku juga ikut andil dalam membantu istri ku." Ucap Rick bersemangat, tidak ada rasa malu terlintas di pikiran nya. Dia tidak sedang mencuri, hanya berusaha menjadi suami siaga dan panutan, itu saja.
__ADS_1
"Siap my hubby " ujar Ana, kedua terkekeh lucu, sebelum tidur, seperti biasa Ana dan Rick tak lupa melafalkan kalimat-kalimat syukur dan doa atas rejeki dan nafas hidup yang Tuhan berikan.