
Rick menatap jengah ke arah meja nya, sekembalinya dari lantai atas demi membantu sang adik. Mejanya sudah dijejali oleh kotak makan siang juga beberapa bungkus roti, dan masih banyak lagi makanan ringan lainnya.
"Pak Rahmat ?" seru Rick memanggil OB yang kebetulan melintas tak jauh dari kubikel nya sambil menenteng alat pel.
"Ya, nak Rick? ada yang bisa bapak bantu bersih kan?" ujar nya segera menghampiri Rick. Mereka sudah cukup mengenal, sejak Rick pertama kali bekerja sebagai tukang foto kopi di perusahaan tersebut 3 tahun lalu. Rick sering makan siang bersama para ob dan og di pantry. Rick lebih suka membawa bekal yang dia buat sendiri, agar uang nya tidak terpakai banyak untuk membeli makanan jadi setiap hari.
"Ini, ada sedikit rejeki buat bapak sama teman-teman di belakang. Di bagi seadanya ya, pak." Rick menunjuk tumpukan makanan di atas meja nya. Rahmat menatap ragu, dia tau kemasan kotak tersebut adalah jajanan mahal. Rick yang paham arti diam nya Rahmat, mengumpul kan makanan tersebut jadi satu dalam wadah plastik yang ada di laci nya. Jangan tanya dari mana Rick mendapat kan nya. Rick selalu mengumpul kan bekas-bekas plastik tersebut di laci nya, agar ketika ada makanan yang mulai memenuhi meja nya. Dapat dia singkirkan dengan mudah dalam satu wadah, dan mengoper nya pada teman-teman nya di belakang.
Rick sudah sangat akrab dengan mereka, sulit bagi nya untuk tidak mengingat orang-orang yang selalu membantu nya, kala diri nya di berikan pekerjaan yang banyak untuk menyortir kembali, berkas yang sudah selesai dikerjakan hari itu. Itu kenapa Rick sering lembur, jika akhir dan awal bulan. Selain mengkopi berkas yang ada dan di bagikan ke divisi masing-masing, Rick juga bertugas menyimpan kembali berkas tersebut ke dalam map di gudang penyimpanan berkas.
"Ayo, bawa buat cemilan makan siang sama teman-teman yang lain pak. Rejeki pamali di tolak loh, nanti yang ngasih jatuh kepeleset." Seloroh Rick membuat seseorang di sudut ruangan memberengut kan wajah nya. Bagaimana bisa Rick menyumpahi nya walau tanpa sadar. Meski Rick sangat sadar saat mengatakan nya, dia tau ada sepasang telinga yang tengah menguping pembicaraan mereka.
"Aduh, bapak jadi tidak enak nih. Tiap hari setelah naik pangkat, nak Rick selalu mentraktir kami makanan mahal." Ujar nya meringis malu, namun tak urung tangan nya meraih pula plastik merah tersebut dari tangan Rick. Malu-malu mau judul nya, ya pak Rahmat ?
"Bapak bisa aja, di bawa atuh. Yang di kotak bekal kalau habis makan, si Lia suruh nyuciin terus narok aja di pantry, nanti di ambil ke sana." Ujar Rick seolah kotak makan tersebut milik nya. Pak Rahmat yang polos di usia nya yang tak lagi muda, hanya mengangguk saja. Setelah berbasa-basi dan mengucapkan banyak terimakasih entah untuk ke sekian kalinya. Pak Rahmat undur diri membawa alat pel nya serta plastik merah pemberian Rick ke belakang.
Rick duduk dengan lega, karena kini meja nya sudah bersih dari bibit-bibit masalah rumit rumah tangga. Dengan santai pria itu membuka laci bawah meja kerja nya yang sengaja dia kunci, lalu meraih tas ransel nya. Perlahan Rick mengeluarkan kotak bekal berwarna ungu dari dalam tas nya, bibir nya menyunggingkan senyum manis menatap kotak bekal tersebut.
__ADS_1
"Aku hanya akan makan makanan yang kau masak sayang, tenang saja, suami mu ini setia. Karena mendua itu penyakit hati yang tidak ada obat nya." Rick membuka kotak bekal nya, pria itu terlihat sedang mengucap kan doa syukur atas makanan yang akan dia santap. Kata amin mengakhiri kalimat doa penuh rasa syukur tersebut.
Saat akan menyuapi nasi ke dalam mulut nya, tepukan laknat membuat nasi di tangan Rick berhamburan. Pria itu terkejut bukan main, saat merasakan tangan seseorang menepuk pundak nya. Dengan wajah mengeras menahan marah, Rick menoleh ke samping. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah memuakkan Lisa, rekan satu divisi dengan nya. Dan kubikel wanita itu, persis berada di hadapan kubikel nya.
"Apa kau tidak lihat kalau aku sedang makan?" seru Rick tak peduli pada siapa diri nya berbicara. Lisa terlihat ketakutan, Rick yang pendiam, tak dia sangka, bisa membentak nya sedemikian rupa.
"Ma maaf, aku pikir kau belum akan makan tadi" cicit nya berkilah. Nada suaranya sedikit bergetar menahan tangis.
"Alasan saja! apa kau tidak bisa melihat bagaimana gesture orang yang sedang makan atau sedang ingin di ajak bercanda." Suara keras Rick kembali menggema, dan mengundang perhatian rekan kerja yang lain. Mereka baru saja selesai makan siang di kantin perusahaan.
"Eh, si anak baru kenapa marah-marah sama si Lisa?" bisik seorang pria bertanya pada rekan nya.
"Aku cuma nanya loh, tidak tau ya sudah. Kenapa kau mesti menjawab ku pakai urat nadi begitu. Dasar Dora " ejek Vino kesal, apa memang salah nya. Hanya bertanya bukan, kenapa si Dora harus semarah itu.
"Dora, Dora! sekali lagi kau memanggilku Dora, jangan harap aku akan membantu mu lembur lagi. Kerjakan saja tugasmu sesuai tupoksi masing-masing!" balas Yodra semakin jutek. Wanita itu kemudian duduk dengan kasar di kursi nya yang persis ada di samping kubikel Rick. Kubikel mereka terdapat 4 meja yang saling berhadapan, namun di batasi oleh pembatas kaca setinggi dada orang dewasa.
"Maaf Rick, aku benar-benar tidak tau tadi. Aku tidak sengaja, maaf kan aku" ujar Lisa memelas, agar Rick bisa melunak pada nya. Rasa malu akibat di benak oleh Rick, membuat Lisa ingin menghilangkan diri nya segera.
__ADS_1
"Pergilah. Jangan mengotori meja ku lagi dengan sampah!" tegas Rick tanpa perasaan. Lisa semakin pias, seisi divisi mereka tau, jika dirinya yang paling sering menaruh makanan di meja Rick. Tak ingin meladeni mulut tajam pria dingin itu, Lisa memilih duduk kembali ke kubikel nya. Vino pura-pura sibuk dengan komputer nya, meski diri nya tidak sedang mengerjakan apapun.
Rick melanjutkan makan nya tanpa peduli jam istirahat telah usai. Pria itu makan dengan lahap masakan lezat buatan sang istri. Yodra melirik isi bekal Rick dari balik kaca mata nya. Hampir sama seperti kemarin, hanya saja kali ini ayam goreng penyet sambal terasi. Tercium aroma menyengat menggugah selera dari arah meja Rick, namun pria itu tetap cuek. Seolah hanya diri nya sendiri yang berada di sana.
Yodra memberanikan diri untuk berbicara pada tembok es di samping nya itu. "Enak banget bekal nya pak Rick. Buatan istri memang tidak ada dua nya, pak ya?" ucap Yodra basa basi. Vino dan Lisa melotot mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Yodra. Mereka yakin gadis culun itu sebentar lagi akan di bentak habis sama seperti Lisa tadi.
Rick menoleh, mulut nya masih sibuk mengunyah, namun tetap menjawab Yodra dengan anggukan mantap.
"Masakan istri ku memang selalu enak, lain kali aku akan membagi nya pada mu. Kau akan ketagihan kalau sudah mencoba nya sekali, istri ku dulu menjual nasi kuning juga jajanan pasar. Rasa nya sangat enak," puji Rick memamerkan keahlian sang istri tanpa malu.
Yodra melongo, bukan perkara istri nya Rick penjual nasi kuning. Namun untuk pertama kalinya, Rick berbicara panjang seperti itu.
"Kenapa? tidak percaya ?" tanya Rick yang baru selesai meneguk air minum nya.
Yodra salah tingkah dengan pertanyaan Rick, " bukan begitu, aku hanya pangling, kau berbicara panjang hari ini. Biasa hanya oke, terimakasih, siap, beres" Yodra meniru kan kata yang sering di ucapkan oleh Rick pada nya maupun rekan kerja yang lain.
Rick terkekeh pelan, mendengar kalimat jujur keluar dari mulut Yodra. "Bisa aja, aku ke belakang dulu, mau nyuci ini. Kalau ada yang nyari, bilang aku ke belakang." Balas Rick sekaligus menitipkan pesan. Dia khawatir sang adik akan menyuruh orang memanggil nya lagi jika otak dangkal adiknya masih belum mampu memahami isi berkas yang dia pelajari.
__ADS_1
"Siap, beres!" ucap Yodra meniru kan kata yang sering Rick ucap kan. Rick tersenyum geli kemudian bergegas menuju pantry. Vino segera menghampiri meja Yodra dengan tatapan penuh selidik.