Beloved My Ana

Beloved My Ana
Sepenggal Kisah End


__ADS_3

"Ini nak, sini nenek bantu kau duduk bersandar." Setelah duduk bersandar di dinding bambu, kedua nya mulai makan bersama. Rupa nya si nenek juga belum makan malam. Diam-diam si nenek senang melihat bagaimana wanita itu makan dengan begitu lahap, dia bahkan rela mengatakan sudah kenyang agar jatah nya bisa di berikan untuk tamunya tersebut.


"Makasih nek, ini enak sekali. Terutama yang di dalam cobek ini." Tunjuk nya dengan wajah sumringah.


"Makan lah, nenek sudah kenyang. Tadi sebelum kau bangun, nenek sudah makan separuh nya." Dusta si nenek sambil tersenyum.


Selesai makan, mereka mengobrol. Di nenek membuat kan minuman dari semacam batang kayu yang bernama bajakah. Air nya berwarna sedikit kemerahan seperti teh, dan di beri tambahan gula aren buatan si nenek sendiri agar terasa manis.


"Minum ini, insya allah ini bisa menjadi obat juga selain bisa untuk di jadikan minuman santap." Ujar si nenek yang rupa nya seorang wanita muslim.


"Namamu siapa nak? nama nenek mbok Tun. Orang sini biasa panggilnya seperti itu. Mbok tinggal sendirian, suami mbok sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Anak-anak merantau ke kota dan tidak pernah kembali sudah bertahun-tahun ini. Nenek tidak heran, kehidupan nenek yang begini lah yang membuat mereka enggan kembali. Meski sekedar menjenguk nenek sesekali. Nenek tidak masalah juga tidak marah, yang penting mereka sehat-sehat saja dikota. Itu sudah cukup bagi nenek." Papar si nenek tentang sepenggal kisah hidup nya.


"Nama ku Ira nek, aku punya dua orang anak dan sekarang sedang hamil 3 bulan. Suami ku ingin melenyap kan janinku karena menganggap aku telah berselingkuh darinya. Aku di kurung juga di siksa, terakhir kami kabur namun malah di celakai oleh orang suruhan suamiku. Kedua anak jatuh ke dalam jurang bersama mobil yang meledak waktu itu..." Ira tergugu menahan sesak di dadanya, saat menceritakan kisahnya pada mbok Tun.


"Sabar nak, tabahkan hati mu. Allah akan membalas perbuatan orang-orang jahat itu setimpal dengan apa yang seharusnya mereka terima. Nenek menemukan di bawah bukit dekat sungai. Nenek pikir kau sudah tak bernafas, namun saat nenek periksa tubuhmu masih hangat. Nenek membawamu kemari dengan menyeretmu diatas kain jarik. Maaf jika tubuhmu saat ini sakit semua. Nenek tidak kuat menggendong mu. Di ujung desa, ada beberapa pemuda tengah berkumpul di pos masuk desa. Mereka nenek mintai tolong untuk mengangkat mu ke mobil pick up yang kebetulan ada di sana." Cerita nenek tentang bagaimana kronologi Ira bisa ada di pondok nya.


Ira menetes kan air matanya kembali, dia bersyukur bertemu orang sebaik mbok Tun.

__ADS_1


"Terimakasih nek, aku tidak tau jika tidak ada nenek. Mungkin aku sudah benar-benar tidak bernyawa di sana. Terkahir yang aku ingat, seseorang memukuli tengkuk ku dengan sangat keras. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Bayangan kedua anakku yang terjatuh ke dalam jurang masih membekas dalam ingatan ku bahkan saat aku hampir tak sadar." Kenang Ira terisak pelan. Hatinya sangat sakit mengingat kekejaman sang suami.


"Sekarang istirahat lah, besok pagi nenek akan memanggil bidan desa untuk memeriksa kondisi janinmu. Semoga baik-baik saja." Doa mbok Tun tulus.


flashback end


"Nura harus tetap sekolah nak, mama akan merasa sangat senang jika bisa melihat mu memakai seragam sekolah. Pasti semakin cantik. Masalah biaya dadakan saat sekolah nanti, biar mama pikirkan. Kita masih punya kebun, mama juga masih kuat bekerja di kebun teh pak kades, puji Tuhan rejeki akan selalu ada jika kita berusaha. Mau ya sayang ?" bujuk sang ibu dengan tatapan memohon.


Nura akhirnya mengangguk setuju, walau hati nya masih sulit bekerja sama. Dia khawatir biaya dadakan akan membuat ibu nya bekerja bagai kuda. Dia hanya memiliki sang ibu, dia tak ingin kehilangan ibunya juga setelah kehidupan kedua kakak nya. Ira sudah menceritakan semuanya, bagaimana bisa mereka berakhir di sana.


"Aku heran deh, sama si Ira. Sudah tau hidup nya pas-pasan begitu. Malah anak nya mau di masukin sekolah segala, mana ke sekolah negeri favorit lagi. Punya otak tidak sih tu orang..." Terdengar suara gibahan didepan sebuah warung, ibu-ibu julid yang tak terima mendengar berita jika Nura akan masuk SMP Negeri favorit tahun ini.


"Ya ya, aku juga heran. Apa dia tidak mikir, jika sekolah itu butuh biaya. Ujung-ujungnya kan kita juga yang nyumbang, huh!" sambung si ibu lain.


"Kalau aku sih ogah, walaupun ada bu kades datang ke rumah. Ya aku pura-pura aja lagi tidak punya uang. Enak bener, hidup kok di sumbangi mulu. Ngaku janda, curiga aku tuh, kalau si Ira itu perempuan tidak benar. Makanya sampai terdampar di desa sini, benar tidak ibu-ibu..." lanjut nya mengompori.


"Benar bu, kasian mendiang mbok Tun nampung wanita tidak bener." Suara-suara sumbang saling bersahutan untuk menggibah kehidupan Ira dan putri nya. dan itu bukan lah hal baru di desa tersebut. Ira sering di tuduh menggoda suami mereka, meski Ira bahkan tidak mengenali siapa-siapa saja suami ibu-ibu tersebut.

__ADS_1


"Wah! ibu-ibu cantik ini, pagi-pagi mulut nya udah lancar bener tebar benih-benih fitnahan. Hati-hati loh bu ibu, sekarang sudah ada undang-undang nya. Barang siapa menebar berita hoax, penjara nya 10 sampai 15 tahun loh bu ibu. Ngeri tidak tuh, tar bapak-bapak nya pada kawin lagi pas ibu ibu sedang mondok ria di hotel pordeo." Ujar salah seorang istri pejabat desa tersebut sambil terkikik lucu, dia tergabung dalam kelompok ibu PKK bersama bu Romlah dan kawan-kawan.


"Eh? bu Titin. Mana ada seperti itu, ya tidak ibu-ibu. Tadi kami hanya antusias saja, si Nura bisa sekolah juga akhirnya. Kita ikut senang ya kaan ?" balas seorang wanita terlihat panik. Titin meski paling muda di jajaran para ibu-ibu PKK, namun mulut nya lah yang paling di takuti oleh ibu-ibu julid tersebut. Wanita itu selalu membayar tunai kata-kata nyelekit pada warga lain jika dirinya kebetulan ada di sana. Kalimat nya selalu menohok tepat sasaran.


"Ah masa? kok aku denger nya malah kebalik nya ya? apa telingaku sudah mulai bermasalah atau bagaimana. Padahal aku ini masih muda lo dari ibu-ibu ini...masa ya pendengaran udah mulai terganggu sih." Sergahnya tersenyum miring. Senyum mengejek seperti biasanya, usia selalu dia bawa jika berhadapan dengan lawan yang lebih tua dari nya. Sekedar sebagai pengingat, jika usia seseorang tidak menentu kan sikap orang tersebut bisa ikut dewasa dan bijak.


Para penggibah tersebut mulai merasakan situasi tak nyaman, karena kehadiran istri sekretaris desa bermulut tajam tersebut. Satu persatu pamit undur diri dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Titin tertawa puas setelah kepergian para ibu-ibu julid itu.


"Mbak Titin memang hebat, ada guna nya mulut cabe rawit mu itu." Ujar sang ibu pemilik warung memuji.


"Ah ibu bisa aja, aku hanya bekerja sesuai porsi saja. sisa nya tergantung hukum alam." Ujarnya merendah. "Ah, sampe lupa. Aku beli sembako seperti biasa ya. Sarden besar 5 kaleng, mie instan 10 bungkus, beras 10 liter sama minyak goreng 2 liter sama telur 10 butir. Langsung dipaketkan dus ya, antar ke rumah Ira, aku tidak sempat ke sana. Mau cek keadaan Bu Ida, dengar-dengar lagi sakit tapi tidak punya biaya ke rumah sakit. Padahal sudah di urus kan BPJS, itu suami nya bagaimana sih. Istri sakit malah di simpan di kamar kaya nyimpen sayur. Suka heran sama suami yang begitu." Omel Titin kesal.


"Ya aku denger juga begitu, suami ku bilang. Pak Rahmat takut ada biaya tambahan di rumah sakit, jadi nya biarkan di rumah saja." Adu si pemilik warung mulai ke versi gibah tanpa mereka sadari.


"Itu pak Rahmat suka amnesia, padahal sudah beberapa kali berobat ke rumah sakit mana pernah ada biaya tambahan. Suka ngadi-ngadi beliau itu, gemes aku jadi nya pengen tak masukin mesin kejut listrik biar sadar." Sambung Titin dengan kedua tangan terlihat geregetan ingin mencekik seseorang.


Kedua wanita itu mulai terlibat obrolan seputar pak Rahmat yang kikir dan istri nya yang malang. Begitu lah kehidupan, ada-ada saja polah tingkah nya. Seperti Titin dan anggota PKK lainnya, mereka berusaha merubah pola kerja anggota lama yang acuh terhadap warga. Meski kadang harus merogoh kocek pribadi, asalkan bisa membantu warga nya. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2