Beloved My Ana

Beloved My Ana
Serba Mahal


__ADS_3

"Khemmm" deheman Jovan membuat atensi mereka teralihkan.


"Mimi, didi?" ucap Ana girang "baru datang ?" Ana menyalami kedua mertua nya, Rick hanya mencium pipi sang ibu karena tangannya masih aroma amis.


"Didi gak di cium juga" sela Jovan sewot, Rick berbalik menempelkan pipinya ke pipi sang ayah. Jovan merengut kesal "tadi mimi loh di cium, bukan cuma ditempelin pipi doang" protes nya tak terima.


Rick melengos pura-pura tidak dengar "kacang panjang nya bibi aja yang buat, aku tidak tau cara mengiris nya." Ucap Rick membawa sebaskom sedang kacang panjang ke wastafel untuk di cuci.


"Biar mimi aja, malam ini sekalian kami mau numpang makan malam." Sela Joi cepat, wanita itu segera meraih baskom dari tangan sang anak. Rick mendengus mendengar kalimat seenak nya yang keluar dari mulut sang ibu.


"Ini aku buat untuk di bawa ke kantor, bukan untuk ngasih makan mimi sama didi." Omel Rick protes.


"Dasar anak durhaka. Mau? jadi maling udang?" sewot Jovan tak terima.


"Malin Kundang kali, makanya sesekali bacain anak nya dongeng, biar pengetahuan nya luas." Skak! Jovan nampak terdiam, tak tau lagi harus membalas perkataan pedas putranya sendiri. Benar memang, dirinya selalu banyak alasan jika sudah waktunya anak-anak tidur dan minta di dongeng kan.


Jovan sering tertidur di kamar anak-anak nya jika sudah begitu, dan saat terbangun, pria itu akan uring-uringan sendiri jika terbangun tanpa ada sang istri di samping nya. Bucin gila itu akan merenggut sepanjang hari karena masalah sepele tersebut.


"Wah wah wah!" Seruan seseorang dari arah ruang tamu membuat Jovan menoleh, mata nya menyorot tajam ke arah tamu tak di undang tersebut.


"Ck! ngapain Maghrib-maghrib sudah kemari. Bukan waktu nya bertamu" ketus Jovan melampiaskan rasa kesal nya pada Zero.


Zero menatap adik iparnya meminta penjelasan akan sikap tidak sopan adik ipar laknat nya tersebut. Joi hanya mengendikkan bahunya acuh.


"Cih, kau ini kenapa. Aku datang dalam damai, kenapa langsung kau ajak perang sih. Lagi M apa gimana?" Decih Zero melewati tubuh Jovan menuju dapur kotor dimana Joi, Rick dan Ana tengah sibuk.


"Wah, makan besar nih. Tau aja kalau papi Zero mau datang " ujar Zero cengengesan, Rick mendelik ke arah paman tak tau malu nya itu.


"Dari mana? kok tiba-tiba udah ke sini aja." Tanya Joi yang masih sibuk mengiris tipis kacang panjang di tangan nya.

__ADS_1


"Dari acara ulang tahun pernikahan rekan kerja, di adain di tempat wisata memancing gitu. Makanya baru pulang jam segini, eh pas di jalan tiba-tiba kepikiran mau mampir ke sini. Jadi nya langsung mutar arah." Jelas Zero panjang lebar.


"Sendirian ? tumben kak Delia tidak di ajak serta." Balas Joi tiba-tiba. Zero memucat, bagaimana bisa dia melupakan sang istri di dalam mobil nya tadi.


flashback


"Wangi banget, padahal masih di parkiran udah kecium aja aroma bumbu dari dalam." Celoteh Zero yang baru saja memarkir kan mobilnya di halaman yang tak jauh dari arah jendela ruang makan. Kaca mobil nya memang sengaja di turunkan, karena Delia ingin menikmati senja Sepenjang perjalanan mereka pulang.


"Ya, kaya aroma bumbu nasi kuning deh ini." Timpal Delia bersemangat. Zero langsung keluar tanpa menunggu sang istri, saat sudah mencapai teras tanpa menoleh pria itu langsung menekan tombol kunci mobil nya. Tanpa tau, jika sang istri masih merapikan bawaan nya di dalam mobil.


flashback off


Zero ngos-ngosan sampai ke mobil, setelah tombol lock terbuka, pria itu mendapat kan pelototan tajam dari sang istri. Zero segera mengikis jarak antara mereka, dengan hati ketar ketir pria bucin itu memeluk istrinya sambil terus mengumandangkan kata maaf berkali-kali.


"Bisa-bisa nya ya, istri terkunci di dalam mobil tidak sadar, untung saja jendela nya belum tertutup rapat. Kalau tidak, besok alamat papi sudah jadi duda. Pasti suka kan, niat memang mau celakai istri nya yang sudah tua ini." Sungut Delia mendorong tubuh suaminya, namun Zero tetap tak mau melepaskan pelukannya.


"Mami ih, ngomong nya serem amat. Papi tidak suka, awas aja ngomong gitu lagi. Mami aku kasih melendung lagi baru kapok" ancam Zero Membuat Delia memutar matanya jengah. Sungguh ancaman yang menguntungkan diri sendiri batin kesal.


"Ya ya, papi lepas nih. Tapi bilang kalau mami udah maafin papi, baru papi beneran lepasin." Ujar Zero ngotot. Delia menghela nafas berat, mengahadapi sikap kekanakan suaminya.


"Ya ya, mami maafin. Udah, lepasin dulu. Gerah, aku mau numpang mandi, ada mobil Jovan. Pasti ada Joi di dalam" Zero melepaskan pelukannya berganti dengan rangkulan posesif seperti biasanya.


"Loh kak, gimana ceritanya bisa sampe ketinggalan di mobil " ledek Joi membuat bola mata Zero hampir melompat keluar. Adik ipar nya ini, benar-benar tidak tau situasi.


"Kenapa kau melotot pada istri ku!" seru Jovan tak terima.


"Ck! Ana, mami mau numpang mandi, gerah katanya. Kamar tamu kosong kan?" Zero mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Kosong pi, make aja. Baju mami kaya nya ada di lemari, Ana susun di rak yang ada tulisan namanya masing-masing." Jelas Ana. Karena sering menengok keadaan Ana dan menginap, jadi nya pakaian mereka ada yang sengaja di tinggal di sana. Dan Ana yang kreatif, memberikan label nama pada setiap rak pakaian tersebut.

__ADS_1


"Oke, kami ke kamar dulu. Papi juga Tiba-tiba gerah" ucap Zero penuh maksud terselubung. Jovan mencibir melihat tingkah ipar laknat nya itu.


"Jangan mesum, sebentar lagi makan malam." Sela Jovan memperingati, Zero menulikan telinganya, pria itu merangkul sang istri menuju kamar tamu tanpa peduli tatapan jengah orang dibelakang nya.


"Cih! kenapa tidak langsung pulang saja ke rumahnya." Oceh Jovan membuat Joi geleng-geleng kepala. Suami nya sedang berpuasa wajib, itu lah alasan kenapa emosi nya mudah sekali terpancing saat melihat pasangan lain bermesraan.


"Didi kalau tidak ikut membantu, mendingan nunggu di ruang tengah sambil nonton berita kesehatan atau apa." Saran Rick tanpa menoleh pada ayah nya. Tangan nya sibuk meniris kan mie yang baru saja selesai dia rebus.


"Didi juga mau bantu, nonton berita bikin pusing." Tolak Jovan menghampiri sang istri. "Mau di bantuin apa, mi?" tanya Jovan basa basi. Tangan usilnya mematah-matahkan kacang panjang di dalam wadah nya.


"Didi kalau cuma mau ganggu, mending jangan ikut nimbrung di dapur deh. Itu mahal loh aku beli, didi mana paham urusan begituan." Omel Rick saat matanya tak sengaja melihat tangan jahil sang ayah mulai berulah.


"Cih, seperti kau tau saja!" Balas Jovan tak terima.


"Jelas lah aku tau, itu semua aku yang beli di pasar tadi." Joi hampir saja memotong jari telunjuk nya akibat syok mendengar penuturan sang anak. Rick masuk pasar? Jovan pun tak kalah terkejutnya.


"Ini beneran Rick yang belenja, An?" tanya Joi memastikan, jika telinga nya masih lah berfungsi dengan baik.


"Benar, mi. Ini semuanya Rick yang belanjakan. Aku malah tidak tau kalau bakal mau masak-masak kaya gini." Ucap Ana membenarkan perkataan suaminya.


"Mimi salut nak, kau banyak berubah setelah bersama Ana. Begitu lah kalau namanya jodoh pemberian yang di atas, pasti akan mengarah kan pasangan masing-masing ke arah yang lebih baik." Puji Joi menatap anak menatu nya bergantian. Rasa kagum nya pada pasangan muda tersebut menyentuh relung hati nya paling dalam.


Rick dan Ana sama-sama masih belia, namun kedua nya mampu bersikap dan bertindak dewasa melebihi usia nya. Beda dengan nya dulu, dirinya memang masih muda, namun suaminya sudah cukup dewasa dan matang secara usia. Namun lihatlah, masih sampai sekarang sikap suaminya masih saja menyebalkan.


"Didi juga mengarah kan mini ke jalan yang baik, bukti nya mimi sudah tidak hobby memancing dan berkelakuan seperti laki-laki lagi semenjak bersama didi." Sela Jovan tak mau kalah saing dengan sang anak.


"Ya ya, terimakasih didi sayang, sudah mengarah kan mimi ke jalan yang lebih baik." pungkas Joi menatap penuh makna pada sang suami. Jovan meringis melihat tatapan istri nya.


"Ini telur nya mau di kupas tidak, biar didi bantu." Alih nya cepat. Agar situasi kembali aman dan damai.

__ADS_1


"Awas, jangan sampe hancur. Telur juga mahal, aku cuma kukus 60 biji saja." Ucap Rick memperingat kan, Jovan memberengut mendengar kalimat putra nya yang tak jauh-jauh dari kata mahal. Jovan merasa gagal menjadi seorang ayah, kesuksesan nya tidak membuat Rick tumbuh menjadi anak yang manja dan suka hura-hura. Harusnya dia senang, namun melihat bagaimana anaknya itu selalu berhemat sejak kelas 1 SMA. Jovan menjadi sangat malu pada dirinya sendiri, selesai kuliah pun, dia tidak memiliki tabungan lebih dari 200rb setelah diisi oleh kedua orang tuanya. Uang itu dia pakai untuk bersenang-senang bersama para sahabat nya juga para wanita.


"Ya ya, ini didi pelan-pelan. Udah kaya moles porselen nih, biar mulus kaya bokong bayi." Balas Jovan sekenanya.


__ADS_2