Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang

Berbagi Cinta : Cinta Yang Hilang
Ep 11


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Ceklek


Dinda keluar dari kamar dan menuju ke dapur karena perutnya sangat lapar, sedari pulang dari Makassar sampai tengah malam belum ada makanan yang masuk ke perut Dinda.


Dinda membuka kulkas dan mengolahnya, rasanya dia enggan untuk makan. Tetapi dia membutuhkan tenaga yang lebih banyak lagi untuk menghadapi hari-harinya kedepan.


Sesekali Dinda menerawang perjuangannya agar dapat bersama Aryo, tetapi sekarang hanya pengkhianatan yang dia dapat.


Aryo yang mendengar suara dari arah dapur perlahan bangun dari tidurnya, Aryo tidur di ruang tamu sedangkan Nanda kembali pulang kerumah yang lama. Karena Aryo tidak mau memperkeruh suasana.


Perlahan Aryo mendekat dan memeluk istrinya dari belakang dengan erat. Jika dulu Dinda sangat bahagia dengan perlakuan suaminya sekarang tapi sekarang hanya sakit hati yang dirasakan.


“Maaf.” Ucap Aryo lirih.


Dinda melepaskan pelukan Aryo dan menuju meja makan untuk makan, bagaimanapun Aryo masih suaminya. Dia membagi masakannya menjadi dua piring. Aryo yang melihat hal tersebut semakin merasa bersalah, luka yang dia torehkan ke istrinya terlalu dalam.


Mereka makan dengan diam tanpa ada yang bersuara. Sesekali Aryo memandang istrinya yang fokus pada makanannya.


Dinda bangkit dari duduknya dan menuju wastafel untuk mencuci piring, Aryo memandanginya dengan sendu dia dapat melihat pundak istrinya yang bergetar.


Dinda berjalan dengan cepat menuju kamar di ikuti oleh Aryo, pintu yang ingin di tutup di tahan oleh Aryo.


“Menyingkirlah.” Ucap Dinda dingin.

__ADS_1


“Mari kita berbicara sayang.” Jawab Aryo dengan tangannya menahan pintu.


“Apalagi yang perlu kita bicarakan?” kata Dinda.


“Mari kita masuk dulu, kita duduk aku akan jelaskan kepadamu yank.” Ucap Aryo dengan nada memohon.


----


Saat ini Aryo dan Dinda sudah duduk di meja makan dengan saling berhadapan.


“Maafkan aku yank, aku tidak bermakhsud mengkhianatimu dan pernikahan kita.” Ucap Aryo dengan menggenggam kedua tangan Dinda dengan erat.


“Pada kenyataannya kamu sudah mengkhianati keduanya mas.” Jawab Dinda.


“Maafkan aku Dinda, aku benar-benar yang bersalah disini. Karena semua berawal dari kesalahanku.” Jawab Aryo yang mencoba menjelaskan ke istri pertamanya tersebut.


“Aku hanya ingin bertanggung jawab Dinda, aku sudah merebut kesucian Nanda.” Jawab Aryo dengan sedikit menaikkan volume suaranya.


“Ah, makhsudmu kalian menikmati kegiatan panas kalian?” Jawab Dinda tak kalah sengit.


Aryo mengucap wajahnya dengan kasar dan menjambak rambut belakangnya dengan kasar.


“Sayang aku mohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu.” Ucap Aryo yang sudah putus asa.


“Bicaralah.” Jawab Dinda dengan tenang dan dingin.

__ADS_1


“Aku kenal Dinda lewat media sosial, awalnya aku dan dia hanya teman mengobrol di chat, yang kita obrolkan tidak jauh dari kesehatan. Karena kita sama-sama dari bidang kesehatan. Hingga akhirnya setelah kita menikah hampir satu bulan, Nanda liburan semester ke Bandung. Awalnya aku hanya memenuhi keinginannya yang ingin bertemu denganku, kami mengobrol hingga waktu hampir sore dan aku ingin segera pulang kerumah. Tetapi saat itu hujan lebat dan aku berencana untuk menunggu sedikit reda. Entah bagaimana aku terbangun dengan Nanda disampingku yang sudah menangis, aku bingung dan aku tidak benar-benar ingat apa yang sudah aku alami. Aku melihat ada bercak darah di sprei, bsar kemungkinan aku telah merenggut keperawanan Nanda. Untuk menunjukkan rasa bertanggung jawabku, aku menikahinya secara sirih. Hingga kemarin ketika kamu pergi ke Makassar, Nanda menunjukkan bahwa dia hamil. Aku sungguh minta maaf sayang.” Ucap Aryo yang sudah bersujud di depan Dinda.


“Berdirilah mas, tak elok kepala keluarga seperti itu.” Ucap Dinda seraya menyentuh pundak suaminya.


“Berapa usia kandungan Nanda?” sambung Dinda


“Lima minggu.” Jawab Aryo yang menundukkan kepalanya.


“Bawa Nanda kemari, aku akan menerimanya. Bagaimanapun bayi yang didalam kandungannya adalah anakmu, darah dagingmu. Aku tidak ingin menjadi orang jahat.” Jawab Dinda dengan lapang dada, dia mencoba berdamai dengan keadaan. Entah bagaimana kedepannya, akan tetap dia hadapi meskipun berujung perceraian.


“Benarkah kamu menerima mereka sayang?” Tanya Aryo yang langsung mengangkat kepalanya dan menatap dalam mata istrinya.


“Apa disaat seperti ini aku akan bercanda mas?” Jawan Dinda yang sedikt jengkel dengan suaminya.


“Terima kasih sayangku.” Aryo langsung bangkit dan memeluk erat istrinya, entah terbuat dari apa hati istrinya itu. Dia mau tinggal satu atap dengan madunya, tanpa disadari air mata Aryo dan Dinda menetes dengan cepat mereka menghapusnya.


--


Up lagi teman-teman, hari libur kerja ini.


jangan lupa beri dukungan kalian.


mungkin feelnya kurang ya temen2, zuzur aku orangnya bar-bar 😂😂 membawakan tokoh yang legowo itu susah.


Gak suka aja sama perempuan yang selalu mengalah gitu, hehehe.

__ADS_1


kalau kalian termasuk perempuan yang bagaimana nih?


Like, komen, dan jadikan salah satu favorit kalian.


__ADS_2